
Tommy dan Ika masih belum bisa terpejam walau malam sudah merambat semakin naik. Sedari tadi pasangan pengantin baru itu hanya berpelukan tanpa ada yang bisa terlelap walau sudah saling menghangatkan. Yang awalnya Tommy akan menceritakan kejadian yang menimpa Resty esok hari, jadilah pria itu bercerita malam itu juga sebagai pengisi waktu rasa kantuk yang belum hinggap.
Mendengarnya Ika turut prihatin juga merasa curiga sama halnya seperti yang dirasa Tommy. Walau ia telah mencurigai satu orang dibenaknya, tetapi ia tak mau gegabah dulu, yang nantinya hanya akan terkesan asal nuduh jika salah dugaan.
"Besok kamu kuliah, By?" tanya Tommy, tetap dengan posisinya membelai kepala Ika dalam dekapannya.
Ika mendongak menatap wajahnya sekilas. "Mas mengijinkan?" tanyanya, yang sebenarnya merasa malas untuk masuk kuliah besok. Rasanya pingin santai terus-terusan di rumah bersama suami tercinta.
"Tentu dong. Waktunya kuliah tetap kuliah, jangan coba-coba nakal." Tommy mencapit gemas hidung bangir Ika.
"Tapi Mas bilang Resty besok nggak boleh kuliah, aku jadi agak malas. Aku mau ambil cuti besok sehari boleh kan?"
Tommy menggeleng kepalanya, pertanda tidak setuju. "Cuti buat apa?"
"Katakan saja lagi sakit," ucap Ika santai sekali.
"Eh, kok malah bohong? Kalau entar sakit beneran gimana?"
"Nggak bohong kok, emang lagi sakit beneran. Punggungku aja nyeri kerasa agak kaku jadi nggak nyaman," selorohnya yang seketika membuat Tommy terkekeh gemas.
"Itu kan karena kamu lagi dapet aja, By. Pokoknya, aku pingin kamu tetap jadi mahasiswi yang rajin. Lagian besok-besok kamu juga bakal ambil cuti banyak," lanjutnya ambigu.
Ika mendongak lagi, meminta sedikit penjelasan dari perkataannya. Tetapi Tommy malah memberinya kecupan hangat di pipi istrinya itu.
Pria itu tersenyum manis sembari mengusap-usap perut rata Ika, membuat gadis itu terjengkit kaget dengan reaksinya yang memicu rasa geli-geli menggoda.
"Ada apa, Mas?" tanyanya penasaran.
Tommy tak segera menjawab. Sejujurnya ia gamang untuk mengungkapkannya. Mengingat dirinya sudah berumur, akankah Ika masih mau jika harus mengandung anaknya nanti?
"Stop, Mas. Kamu bikin aku geli deh." Ika menarik tangan Tommy dari perutnya, dengan tawa kecilnya khas orang kegelian.
Tommy tak tersinggung walau tangannya ditarik oleh Ika. Yang ada pria itu semakin merapatkan pelukannya, dengan membenamkan wajah sang istri hingga seperti mencium dadanya.
"Ayo tidur, By," ajaknya, diikuti anggukan kepala dari Ika.
"Besok aku mau pulang menemui Resty."
__ADS_1
"Aku ikut, Mas," Ika langsung menyambut senang.
Tommy hanya mengangguk. Biarlah rencana akan membawa Ika pulang ke rumahnya ia tahan dulu. Biar nanti istrinya itu sendiri yang memutuskan mau tinggal di mana. Selagi merasa nyaman dan tidak membuatnya berjauhan dengan Resty, Tommy akan terus ikut membersamainya kemanapun itu.
Hingga kemudian mereka pun terlelap dengan posisi yang sama-sama saling berpelukan erat dan begitu mesra.
*
Keesokan harinya, tepatnya suasana di rumah Alex, Kenzo dan Sisil sedang terlibat perbincangan serius mengenai putra semata wayangnya itu.
Pernikahan Alex dan Resty yang sejatinya akan digelar kurang dari dua minggu ini, rupanya Kenzo berencana untuk mempercepatnya menjadi esok lusa. Satu alasan kuat mengapa pria itu menginginkan hal itu secepatnya, yaitu agar citra baik keluarganya akan sedikit terbantu oleh kabar pernikahan Alex nanti.
Sejujurnya dengan skandal tersebarnya berita Alex kemarin itu, membuat Kenzo sedikit gelisah mengenai nasib perusahaannya setelah ini. Pastilah akan ada satu atau dua rekan bisnis yang akan memutus kontrak jika termakan oleh kasus yang masih diusut oleh Kenzo melalui anak buah kepercayaan untuk mengusut tuntas siapa dibalik pemilik akun yang menyebarkan berita itu.
"Kalau Alex jadi menikah lusa, bagaimana dengan gedung yang sudah kita sewa? Biaya yang kita bayar itu tidak sedikit loh, Ken? Belum juga pihak WO nya?" Sisil bertanya sedikit menawar, siapa tahu jika diperingatkan tentang pengeluaran biaya yang terlanjur dikeluarkan dan sudah terbayar lunas, suaminya itu akan berubah pikiran.
Kenzo mengangguk yakin, helaan nafas darinya berhembus dengan kasar. Sudah tekad bulat dengan keputusannya, walau rasanya pernikahan yang digadang-gadang akan digelar dengan mewah terpaksa harus sederhana karena lusa acara itu harus sudah terlaksana.
Sisil turut menghela nafas sepenuh dada. Walau masih sangat shocked, setelah dipikir-pikir juga memang cara itu yang lebih baik. Apalagi anaknya itu rupanya termasuk tipekal makhluk nggak kuat menahan godaan iman, karena kejadian kegerebek ini sudah kedua kalinya yang dialami oleh Alex, oleh ulah cerobohnya Alex.
"Astaga! Ku kira kamu ngomong ini sudah dapat persetujuan dari Tommy, Jadi masih belum ngomong?"
Kenzo hanya mengangguk. "Rencananya setelah ini aku ngomong langsungnya, Sil."
"Kalau dia nggak setuju gimana? Secara dia juga sudah terlanjur menghabiskan biaya banyak buat semuanya?"
"Aku yakin Tommy pasti langsung setuju. Lagian tadi subuh aku sudah chat dia mengenai ini. Lihat saja setelah ini pasti telpon." Kenzo berkata sangat yakin.
Perbincangan mereka terjeda setelah bibi Siti muncul untuk mengatakan jika sarapan sudah siap. Mereka pun kemudian sama-sama beranjak ke ruang makan, bersamaan dengan Alex yang juga sedang turun dari undakan tangga.
"Pagi, Pa, Ma," sapanya, begitu mereka bertiga sudah sama-sama duduk di kursi meja makan.
"Pagi. Mau kuliah, Lex?" tanya Kenzo, setelah meneliti penampilan Alex yang sedikit rapi sambil mencangklong tas dipundaknya.
Alex mengangguk, sembari menikmati susu coklat hangat yang tersedia di meja makan itu.
"Hari ini nggak usah masuk dulu," ucap Sisil.
__ADS_1
"Emangnya kenapa, Ma?"
"Tumben nanya? Biasanya kamu kan mahasiswa paling demen bolos." Bukannya menjawab, Sisil malah mengoloknya dengan rasa yang bercampur gemas kepada anaknya yang nyaris nggak berhenti bikin ulah, entah itu di kampus, dan sekarang malah tentang percintaannya.
"Ah, Mama, anak sendiri sudah mau tobat malah disuruh bolos lagi."
Sisil memilih tak meresponnya, karena kebetulan ponsel milik Kenzo berdering.
"Tommy telpon, Sil," tuturnya memberitahukannya kepada Sisil, sesaat sebelum menjawab panggilan dari besannya itu.
Kenzo sengaja mengeraskan speaker telponnya karena Sisil yang meminta. Tentunya Alex pun juga bisa mendengar percakapan dari mertunya itu sepagi ini.
"Gimana, Tom?" Kenzo sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Tommy.
"Aku sih setuju saja. Lebih cepat lebih baik, akan jauh dari fitnah juga," jawab Tommy.
"Jadi ikut-ikutan kamu ya, Tom? Tiga hari langsung jadi. Hihihi..." Sisil ikut bersuara.
"Eh, ikutan yang apa dulu nih?" Tommy mendadak lemot, efek nggak dapat jatah semalam. Haha...
"Ya ampun... Dasar pengantin baru! Habis berapa ronde, Pak, sampai gitu aja masa nggak paham?" Sisil mulai menggodanya. Kedekatan yang pernah terjalin dimasa lalu, membuatnya kembali ada setelah menjadi besan.
Sedangkan Kenzo hanya menjadi pendengar yang mulai bergerak sedikit jengah bercampur nada cemburu darinya. Menyadari ada perubahan suasana dari suaminya itu, maka Sisil memilih diam sambil menikmati sarapan paginya.
"Syukurlah kalau kamu juga setuju, Tom." ucap Kenzo kemudian.
"Jadi sampai bertemu lusa. Semoga hari-H nanti lancar nggak ada hambatan apa-apa."
"Aamiin..." Bersamaan Tommy dan Sisil mengucapkannya.
"Emang Papa Mama lusa mau kemana?" tanya Alex cukup penasaran, setelah sambungan telpon antara papanya dan sang papa mertua telah usai.
*
Aduuh... Sorry ya Readersku🙏 Othor nggak bisa up dua hari kemarin. Selain RL yang padat merayap, ditambah kondisi othor yang kurang fit juga. Semoga kalian Readersku masih setia menunggu kelanjutan cerita ini ya...
Janlupa selalu budayakan like dan komentarnya (*Ini sangat penting buat othor😄)
__ADS_1