
Alex beserta kedua orangtuanya tengah duduk di ruang keluarga. Mereka masih saling diam dengan tatapan mata yang saling tanya. Sedangkan Sisil lebih kentara gelisahnya, tetapi masih belum mau membuka mulut untuk segera mencerca apa yang menjadi uneg-unegnya itu kepada Alex.
"Ehem." Kenzo sengaja berdeham sedikit nyaring. Yang seketika atensi keduanya menoleh kepadanya.
"Lex, istrimu itu sakit apa?" tanyanya to the poin.
"Hanya masuk angin biasa, Pa," jawab Alex seadanya.
"Yakin hanya masuk angin biasa?" Sisil ikut bersuara.
Alex menatap heran kepada mamanya. "Maksudnya apa ini?" batinnya bertanya-tanya, seketika curiga dengan raut mamanya yang syarat mencurigakan.
"Mama kamu itu takut kalau Resty muntah-muntah itu karena hamil," terang Kenzo yang membuat Alex seketika tergelak.
"Iya. Bisa jadi kan?"
"Mama? Atas dasar apa mama nuduh Resty hamil?" Alex mulai bertanya heran.
"Bisa jadi waktu kegerebeg di gubuk itu kamu sudah begituan dulu sama Resty." Sisil mengatakannya begitu santai.
"Astaghfirullah!" Alex mengucapkannya dengan helaan nafasnya yang panjang.
"Nggak usah nyebut. Mending terus terang saja sama kita." Sisil melirik kepada suaminya, yang rupanya pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala kepada istrinya.
"Resty nggak hamil, Ma. Dia hanya masuk angin," terang Alex sekali lagi.
Sisil hanya diam. Tetapi sorot matanya masih menandakan jika ia tidak sepenuhnya percaya dengan pengakuan anaknya itu.
"Kalau masih nggak percaya, ayo kita panggil dokter Hasan buat periksain Resty sekarang," tantang Alex sambil menyalakan ponselnya hendak menghubungi dokter langganan keluarganya untuk datang saat ini juga.
Kenzo mengangguk, isyarat setuju dengan usulan anaknya itu agar masalah ini segera terpecahkan. Sedangkan mimik wajah Sisil saat ini masih terlihat murung, sebab dari kedua lelaki itu sepertinya tidak ada yang mempercayai kecurigaannya.
Setelah selesai menghubungi dokter Hasan dan berjanji akan datang kurang lebih perkiraan setengah jam lagi, mereka akhirnya hanya tinggal menunggu dengan sabar bagaimana diagnosanya nanti.
Sambil menunggu kedatangan dokter Hasan Alex memilih kembali ke kamar. Ia jadi kepikiran istrinya yang tadi tidak mau ditinggal lama-lama olehnya. Dilihatnya ketika sampai di kamar rupanya istrinya itu sudah tertidur pulas. Pria itu mendekat sambil duduk ditepian ranjangnya. Menatap penuh iba kepada istrinya itu karena telah disangka hamil duluan oleh mamanya. Sekilas pria itu mengecup keningnya cukup lama, sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk kemudian menunaikan empat rokaatnya yang sudah masuk waktunya.
__ADS_1
Selesai menunaikan kewajiban sholatnya, Alex melepas kain sarung yang sedari tadi ia pakai, menggantinya dengan celana rumahan yang enak dipakai. Tak berselang lama dokter Hasan pun datang lebih cepat dari perkiraan. Kenzo dan Sisil ikut menemani juga saat dokter Hasan akan memeriksa keadaan Resty saat ini.
Resty yang semula tertidur akhirnya terbangun setelah mendapati keadaan kamarnya sedikit ramai. Rupanya sudah ada dokter pria yang siap akan memeriksanya.
"Permisi ya, saya periksa dulu bagaimana kondisinya," sapa dokter itu begitu ramah. Sembari menempelkan stetoskop itu pada bagian dada dan perut Resty.
Alex senantiasa duduk menemani Resty disampingnya, sambil tersenyum memberi semangat kalau setelah ini pasti akan baik-baik saja. Sedangkan raut wajah Sisil terlihat ketar-ketir, takut apa yang menjadi prasangkanya itu tepat dugaan. Dan Kenzo sendiri terlihat lebih tenang seperti sebelumnya.
"Perutnya masih mual?" tanya dokter Hasan.
Resty menggeleng.
"Kalau ditekan begini perih nggak?"
Resty menggeleng lagi.
Dokter Hasan tersenyum tipis. Lalu ia menuliskan resep obat untuk Resty. Setelah selesai menulisnya ia menyerahkan lembaran resep obat itu kepada Alex.
"Belinya di apotik depan saja. Istrimu ini cuma lagi masuk angin. Dibawa istirahat total pasti berangsur sembuh nanti," serunya yang tentu membuat Alex tersenyum sumringah mendengarnya.
"Aku bilang juga apa? Resty cuma masuk angin, bukan hamil," ucapnya tanpa peduli sedang ada dokter Hasan didekatnya.
"Ooh, jadi lagi berharap dapat cucu nih?" Dokter Hasan yang memang sudah akrab dengan keluarga Kenzo itu ikut menggoda.
"Hah?" Resty ternganga sendiri. Sekilas ia melirik kepada Alex meminta penjelasan, tetapi suaminya itu hanya berkedip isyarat tenang saja.
"Dia nih yang ngebet pingin punya cucu, Dok." Kenzo mengalihkan pembicaraan dengan asal menuduh kepada Sisil.
"Eh, kok aku?" Sisil melirik sengit kepada suaminya.
"Loh, emang kamu kan yang berharap Resty hamil."
"Itu kamu tadi yang bilang."
"Sudah! Sudah!" Alex ikut bersuara.
__ADS_1
"Kalau cuma mau cucu entar aku buatkan yang banyak. Papa Mama mau berapa cucu? Tapi tunggu Resty sembuh dulu bikinnya," selorohnya yang seketika membuat Resty mendelik gemas.
Sedangkan dokter Hasan hanya bisa terkekeh melihat keluarga Kenzo yang ribut gegara membahas cucu.
"Maafkan kita, Dok. Malah bikin keributan didepan Dokter." Alex berkata penuh bijak.
Dokter Hasan hanya mengangguk. Sebenarnya ia merasa bahagia melihat keluarga Kenzo terlihat lebih harmonis dari pada sebelumnya. Dokter Hasan adalah dokter langganan kedua orangtua Kenzo, jadi ia sedikit tahu banyak bagaimana kondisi keluarga Kenzo sebelumnya.
Setelah itu Kenzo turut mengantar dokter Hasan keluar dari kamar Alex. Tetapi Sisil masih belum beranjak dari tempatnya, malah kali ini wanita itu ikut duduk diteli ranjang samping Resty. Menatapnya penuh rasa salah, sembari membelai lengannya penuh kasih.
"Maafin mama ya?" ucapnya sendu.
"Mama sempat buruk sangka sama kalian."
Resty akhirnya paham mengapa keluarga suaminya itu sedari tadi menyorotnya gelisah. Rupanya tuduhan hamil duluan adalah pemicunya.
"Lain kali mama jangan asal tuduh lagi. Terus terang saja sama aku kalau mama pingin aku cepat punya anak," ucap Alex, sedikit memperingati agar mamanya tak main asal tuduh lagi kepadanya.
"Iya sih mama sudah pingin punya cucu dari kalian," akunya kemudian sembari mengusap lembut lengan Resty.
"Mama tadi tuh takut kalau Resty hamil duluan. Tapi setelah tahu ini cuma masuk angin, mama berharap setelah sembuh nanti kalian segera ngasi mama cucu. Tiga cucu." Sisil sampai mengangkat tiga jarinya begitu semangat.
"Waduh! Banyak amat, Ma?" Alex langsung tercengang tanpa melihat raut wajah Resty yang terlihat gelisah.
Siapa yang tidak gelisah setelah mendengar langsung ibu mertua begitu mengharapkannya cepat hamil. Sedangkan dirinya saja masih belum siap hamil. Sengaja Resty menyenggol samar tangan Alex berharap suaminya itu mau berterus terang kepada mamanya soal ketidaksiapannya memiliki anak secepat ini. Seperti yang pernah ia bilang tempo hari kepada suaminya itu.
Tetapi rupanya pria itu tidak langsung peka. Malah asyik melanjutkan obrolannya dengan sang mama.
"Kalau cuma satu jadinya nggak rame. Apalagi kalau entar gede bandelnya kayak kamu, duh, jadi pingin mama telan hidup-hidup kalau bisa."
"Eh, Mama, kejam amat sama anak sendiri."
Sisil tergelak sendiri demi melihat wajah murung Alex. Setelah itu ia pun berpamitan keluar agar menantunya itu bisa lekas istirahat.
"Lex, lekas beli obatnya. Jangan ganggu Resty dulu sampai dia benar-benar sembuh. Awas saja kamu bikin menantu mama sakit lagi," ucap Sisil lagi sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar Alex.
__ADS_1
*