
Alex masih enjoy duduk di pos keamanan rumahnya bersama security yang sedang berjaga. Setelah menerima telpon dari mamanya tadi, rupanya pria itu langsung pulang. Kembali bolos mengikuti makul hari ini.
Obrolan yang terkesan hanya basa basi rupanya ada sesuatu yang telah direncanakan oleh Alex. Selain ia sudah tahu jika security nya itu berasal dari daerah kampung yang cukup terkenal dengan wisata alamnya, maka dari itu Alex berencana akan mengunjunginya suatu saat nanti.
Dari dulu Alex memang tidak pernah menjaga jarak dengan para pekerjanya di rumah. Pria yang terkenal badung di kampusnya akan berbeda sikap jika sedang berada di rumah. Sama sekali ia tidak pernah menganggap asisten rumahnya sebagai pelayannya. Ia akan bersikap sewajarnya dengan juga menganggapnya sebagai bagian dari keluarganya.
"Kalau memang den Alex mau main-main ke rumah, nanti jangan lupa kabari dulu ya, Den." ucap Saleh, nama security yang turut cuti bekerja selama kondisi majikannya belum stabil.
"Siap, Pak. Pasti aku telpon dulu kok." jawabnya, karena memang sudah saling bertukar nomor telpon.
"Tapi setelah ini bapak mau kerja apa?"
Pria itu merasa kepikiran dengan nasib para pekerjanya yang terpaksa harus cuti dulu dalam waktu yang tidak tentu.
"Alhamdulillah sudah dapat, Den. Tapi dasarnya jadi security disana ya jadi tukang jaga rumah juga. Tukang jaga sebelumnya mau balik kampung dulu, katanya mau nemenin istrinya melahirkan. Makanya bapak diminta ganti jaga selama dia pulang kampung."
"Rumah kosong maksudnya?"
"Bukan. Bangunan rumah besar dan tua di tetangga kampung sebelah. Ada penghuninya, sudah nenek-nenek yang tinggal sendiri." terang pak Saleh.
"Apa mungkin nenek itu saudagar kaya di kampung itu, Pak?"
"Bisa dibilang begitu lah. Kenapa, Den?" Pak Saleh mulai curiga dengan rentetan pertanyaan dari anak majikannya itu.
"Pak, kalau disana butuh pekerja lagi telpon aku ya?"
"Buat apa, Den?"
"Mau ikut kerja juga lah, Pak."
"Hah? Serius, Den?"
Alex mengangguk yakin.
"Dua minggu entar aku libur kuliah. Masa iya cuma mau numpang di rumah tante Ara. Aku nggak mau jadi nambah beban ke orang lain." Alex mengatakannya penuh semangat.
"Kalau cuma mau kerja, cari disini kan juga bisa, Den. Orang cakep kayak den Alex pasti gampang lah cari kerja di kota."
"Tapi aku maunya kerja jauh, kayak yang di kampung bapak itu."
Pak Saleh menghela nafasnya. Menatap sendu pada anak majikannya yang dari keinginannya kerja jauh mungkin karena ingin menyembunyikan diri. Biar bagaimana pun tentu pak Saleh merasa tidak tega dengan ujian yang menimpa majikannya. Maka akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya sembari merangkul pundak Alex memberinya dukungan dan semangat.
"Nanti bapak coba tanya kalau bapak sudah kerja disana." ujarnya kemudian.
"Makasih ya, Pak." Alex tersenyum girang.
__ADS_1
"Tapi bapak rahasiakan tentang ini ya? Aku nggak mau nambah beban pikiran mereka." pinta Alex, setelah melihat mobil milik tantenya datang.
Pak Saleh mengangguk kecil, lantas segera beranjak untuk membukakan pagar rumah itu agar mobil milik Ara bisa masuk ke pelataran rumah.
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan teras rumah. Dilihatnya satu persatu penumpang mobil itu mulai turun, tak terkecuali Ziyyan.
Alex yang melihat abangnya sudah kembali datang dari sekolahnya di luar negeri, ia pun turut berhambur mendekatinya.
"Bang Ziyyan," sapanya sambil menepuk pundaknya.
Ziyyan menoleh. "Hei..."
Mereka pun saling berpelukan sebentar. Melepas rasa rindu yang bertahun tahun tidak saling berjumpa.
"Wah, makin gede nih otot." Ziyyan sengaja meninju pelan otot perut Alex, lengan kekar Alex pun tak luput ditimpuknya juga.
"Rajin olah raga lah, Bang." sahut Alex jumawa.
Mereka pun saling terkekeh. Saling melempar tatapan keakraban antara dua bersaudara itu.
"Lex, sudah siap belum?" tanya Ara, memastikan semua barang yang akan dibawa Alex untuk tinggal di rumahnya sudah siap dikemas.
"Sudah, Tante." jawabnya, berpura-pura semangat padahal dalam hati sudah mati semangat.
"Yakin sudah nggak ada yang ketinggalan?"
"Kalau begitu tunggu apa lagi. Ayo kita siap-siap sekarang." ajak Ara seketika.
Alex pun terpaksa menuruti, walau sebenarnya terasa berat hati untuk meninggalkan rumahnya sendiri.
Tidak butuh waktu lama kini barang yang akan dibawa Alex sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Wajah pria itu terlihat sedikit sendu, meski Ziyyan sudah berusaha untuk terus menghiburnya.
Sebelumnya Alex berpamitan lebih dulu kepada asisten rumah yang masih berada disana. Tak luput juga dengan pak Saleh. Pria itu kembali menegaskan dengan kesepakatan yang sudah mereka obrolkan tadi. Hingga kemudian akhirnya Alex masuk ke mobil yang akan membawanya pergi ke rumah Aurora.
"Lex, sudah punya pacar belum?" goda Ziyyan, setelah mereka sudah berada dalam perjalanan.
Alex menanggapinya dengan tersenyum tipis. Bayangan Resty tiba-tiba saja kembali melintas indah dibenaknya.
"Ciyeee.... pasti sudah punya nih. Buktinya senyum senyum gitu."
"Bang Ziyyan sendiri sudah ada pacar belum?" Alex balik menggodanya juga.
Sepintas Ziyyan hanya melirik salah kepada bundanya yang kebetulan duduk didepan bersebelahan dengan pak sopir.
Rencana perjodohan yang diceritakan ayahnya, masih dirahasiakan dari bundanya. Dan karena itu membuat Ziyyan tidak berani berterus terang kalau besok ia dan calonnya itu sudah berjanji akan bertemu.
__ADS_1
"Entar aku ceritakan." bisiknya pada Alex.
"Ciyeee.... bang Ziyyan ternyata sudah ada pacar, Tan." Alex sengaja bersorak agar tantenya ikut merespon percakapan mereka.
Ara ikut menoleh ke belakang. Melihat dua pria yang saling menyikut, lengkap dengan gelak tawa dari keduanya.
Dengan begitu Ara hanya bisa bernafas lega. Kedatangan Ziyyan rupanya sangat membantu kesendirian Alex. Sedari kecil Ziyyan memang lebih akrab dengan Alex dibanding adiknya sendiri. Mungkin karena adiknya perempuan, yang tak bisa diajak main seru-seruan layaknya permainan para lelaki. Tetapi meski begitu rasa sayangnya sama sekali tak berkurang kepada adik perempuannya.
***
Resty kembali ke rumah dengan wajah lesu. Sama sekali tak ada gairah. Selama mengikuti makul tadi ia tak bisa fokus barang semenit pun. Wajah pria yang tadi siang mengungkapkan perasaannya itu telah sukses menguasai seluruh pikirannya saat ini.
Hingga sampai ia sudah merebahkan diri dikasurnya, masih saja bayangan Alex tak mau pergi dari alam pikirannya. Andai saja tak ada perjodohan itu, mungkin Resty tidak akan kepikiran seperti ini. Membuat perasaannya dilema besar. Antara ingin menolak perjodohan itu tetapi takut melukai hati papanya, padahal yang ia rasa saat ini pikirannya telah dipenuhi hanya tentang Alex.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamarnya berbunyi, seiring wajah papanya yang muncul dari balik pintu itu.
"Papa boleh masuk nggak?" sapa Tommy, diikuti anggukan kepala dari Resty.
Tommy melangkah masuk, lalu ikut duduk ditepi ranjang tempat Resty duduk sekarang.
"Papa sudah kirim nomor Ziyyan. Rencananya besok papa suruh Ziyyan temui kamu di kampus." tutur Tommy.
Resty tak menyahut apa-apa. Ia hanya sibuk berselancar dilayar ponselnya, melihat nomor kontak Ziyyan yang sudah dikirim oleh papanya.
Tommy mengusap pelan pucuk kepala Resty. Ia bisa melihat jelas wajah tak ceria dari anaknya itu. Akan tetapi ia masih akan berusaha dengan rencana perjodohan ini, selagi Resty belum berkata tidak dan jelas jelas sudah menolaknya.
"Papa keluar dulu. Jangan lupa setelah ini turun makan malam. Atau apa mending kita makan malam sekalian sama Ziyyan ya?"
Seketika Resty mendongak, juga dengan gelengan kepalanya yang berulang-ulang.
"Jangan keburu-buru napa, Pa?" ucapnya, sudah dengan mulutnya yang mengerucut.
Tommy hanya bisa terkekeh. Godaan kecilnya berhasil membuat anak gadisnya merespon percakapannya walau dengan wajah cemberut.
Tak lama Tommy kemudian keluar dari kamar Resty. Sedangkan gadis itu kembali risau sendiri. Tangannya kembali sibuk berselancar dilayar ponselnya. Diam-diam ia mulai kepo dengan wajah Ziyyan yang sekarang. Maka ia pun memencet foto Ziyyan yang terpasang di profil WhatsApp nya.
Bonus visual Ziyyan.
Semoga visualnya cocok sama reader semua. Kalau pun tidak cocok, boleh lah kembali berhalu dengan bayangan kalian.
*
__ADS_1
Readers... Kasi komentar dong, sepi amat nggak ada yang ninggalin komentarnya.😢