
Resty segera masuk ke kamarnya. Tubuhnya ia hempas begitu saja ke kasur, sedangkan isak tangisnya sudah memecah tak terbendung.
Sakit hati karena tak bisa jujur dengan perasaannya sendiri kepada Alex adalah puncak kesedihannya. Rasa sesak itu makin menyeruak tatkala teringat akan semua hal mengenai Alex.
Pria badung yang juga ketua dari geng The Fly yang terkenal sangat usil di kampus itu telah benar-benar sukses memenuhi seluruh hatinya. Meski tadi ia menolaknya, nyatanya itu hanya dibibir saja. Lubuk hati terdalamnya rupanya telah dihuni oleh pria bernama Alex.
Tetapi apa boleh dibuat. Hidupnya yang hanya berdua dengan papanya menjadi alasan terkuatnya untuk tidak mengecewakan rencana perjodohan itu. Meski ia tahu, ada hatinya yang harus ia korbankan. Semoga saja ia bisa menjalani kenyataan ini dengan baik-baik saja. Selagi hal itu bisa membahagiakan hati papanya, semua akan ia lakukan. Sebab ia sangat yakin, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Perlahan isak tangis itu sedikit mereda. Gadis itu seakan puas menumpahkan seluruh airmatanya saat ini seorang diri. Keadaan rumah yang sepi karena kebetulan Tommy belum pulang dari perjalanan diluar kota, membuatnya puas hati untuk menangis sejadinya.
Hingga perlahan mata itu mulai terpejam. Merasakan lelah hati dan juga perasaan, membuatnya kembali membuai mimpi yang akan berbeda bila terbangun nanti.
Sedangkan Alex sendiri selesai mengantar Resty pulang ia masih berputar-putar dijalanan tak tentu arah. Sepintas terlihat seperti pria tenang yang tiada kenapa-napa, nyatanya diam-diam hatinya menangis meratapi nasib yang tak berpihak baik padanya.
Selain karena hidup keluarganya yang sedang diuji, nasib percintaannya pun turut menjadi ujian kekuatan hati. Membuat pria itu seketika sadar diri, bahwa mungkin apa yang terjadi padanya adalah sebagian doa mereka yang pernah diusili.
Sejenak pria itu menepikan mobilnya ditempat yang dirasa sepi dan aman. Sebelum ia kembali pulang ke rumah tantenya itu, ia harus memastikan diri agar mereka tak mencurigai yang terjadi padanya saat ini.
Alex merogoh sakunya untuk melihat jam dilayar ponselnya. Rupanya waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Maka ia pun memutuskan untuk segera pulang. Mengingat dirinya yang sedang menumpang, ia pun harus tahu diri untuk tidak semena-mena datang dan pergi dari rumah itu.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Menggelindingkan roda-roda kokohnya menuju kediaman Om Zayn dan tante Ara. Hingga tak lama kemudian, dengan selamat mobil itu sudah masuk ke halaman luas rumah itu.
Alex lekas masuk ke rumah itu melalui pintu samping. Ia menduga pasti orang rumah itu sudah dikamar masing-masing. Nyatanya langkah itu terpaksa tertahan saat tak sengaja mendengar perdebatan antara Ara dan Zayn diruang kerjanya yang kebetulan pintunya tidak tertutup rapat.
Bukan maksud untuk menguping, tetapi setelah mendengar ada nama Resty disebut tentu Alex merasa penasaran. Maka diam-diam ia pun mencari tempat aman agar bisa leluasa mendengar perdebatan yang sepertinya sedikit menegang.
"Pokoknya aku nggak setuju, Mas." seru Ara, dengan suaranya yang meninggi.
"Kamu coba kenali dulu. Jangan langsung menganggap kalau Resty anaknya Bella akan sama dengan ibunya. Tidak, Sayang. Sedari kecil, bahkan dari Resty masih bayi merah, Tommy yang mengasuh dan mendidiknya sendiri." jelas Zayn, mencoba memberi pengertian positif mengenai calonnya Ziyyan itu.
"Tetep aja dia itu darah dagingnya Bella. Mas tahu sendiri kan bagaimana aku tidak suka sekali sama orang itu."
Ara mulai berpaling, membelakangi Zayn sambil melipat kedua tangan didada. Emosinya kembali bergemuruh tatkala teringat betapa banyak cerita menyakitkan dimasa lalu yang berhubungan dengan Bella. Apalagi semua itu juga berkaitan dengan Zayn. Itulah yang membuat Ara tak habis pikir suaminya itu main setuju menjodohkan dengan anak mantan rivalnya saat memperebutkan Zayn dulu.
"Sayang," Zayn menyapa Ara dengan merangkul kedua pundaknya dari belakang. Tetapi istrinya itu hanya bergeming.
__ADS_1
"Aku juga tidak memaksa Ziyyan untuk menerima ini. Ini kan masih rencana, jadi aku menyarankan Ziyyan untuk mengenalinya juga. Perkara anak kita mau dan suka, ya syukur. Kalaupun nanti tidak suka, kita bisa mengakhirinya dengan baik-baik. Aku yakin, Tommy pasti mengerti hal ini juga." ucap Zayn panjang lebar.
Ara mulai menghela nafasnya. Sekalipun siaminya itu tidak memaksakan perjodohan ini kepada Ziyyan, dalam hati sebenarnya ia berharap semoga rencana ini akan gagal.
"Aku mau tidur dulu, Mas." Ara menurunkan tangan Zayn yang sedang merangkulnya.
Sebenarnya masih dongkol, tetapi buat apa diperdebatkan lagi. Bukankah doa seorang ibu kepada anaknya lebih mujarab dan akan langsung tembus ke langit? Karena hal itulah Ara hanya bisa memasrahkan semuanya melalui keajaiban doanya.
"Sayang, sepertinya Alex belum pulang ya?" Zayn bertanya sambil mencegah pergelangan tangan Ara yang akan beranjak.
"Aku lihat dulu ke depan, Mas. Sepertinya setelah mengantar teman ceweknya--"
Ara terdiam sejenak. Ia tersadar jika nama teman cewek Alex ternyata sama dengan nama anaknya Tommy, Resty.
"Mas," Ara terkesiap sendiri menghadap suaminya lagi.
"Ada apa?" Zayn ikut panik melihat wajah istrinya begitu.
"Anaknya Tommy kuliah dimana? Sekarang seumuran siapa? Mas punya fotonya nggak?"
"Kuliah di Universitas X. Umurnya--"
"Mas ada fotonya nggak?"
Tangan Ara mulai menengadah didepan Zayn. Ia yakin suaminya itu pasti menyimpan foto anak gadis Tommy.
Zayn meraih ponselnya yang teronggok diatas meja kerjanya. Tangannya mulai berselancar mencari sebuah foto Resty yang memang ia simpan. Setelah menemukannya ia lekas menunjukkan foto itu kepada Ara.
"Ini?"
Tangan Ara membekap mulutnya yang menganga tak percaya. Foto itu sama persis dengan teman cewek Alex yang dikenalkan kepadanya tadi.
"Kenapa?" tanya Zayn, bertambah penasaran.
Ara hanya menggeleng-geleng saja.
__ADS_1
"Sayang, jangan bikin aku penasaran dong?"
"Mas, pliss... Jangan dilanjutkan. Stop mulai sekarang rencana kamu itu."
Zayn hanya berkerut kening saat mendengar ucapan Ara yang tidak dimengerti olehnya.
"Mas, ku mohon." Wajah Ara tampak lebih serius menatap kepada Zayn.
"Tapi kenapa dulu? Kamu begini setelah lihat foto Resty. Tolong jelaskan ada apa, Sayang?"
"Dia gebetannya Alex."
Saat berkata itu, Alex tidak begitu jelas mendengarnya. Karena memang Ara hanya membisikkan kepada Zayn.
"Ah, yang benar? Kamu tahu dari mana?"
"Baru tadi sore Alex bawa cewek itu ke sini. Aku tadi juga dikenalkan sama Alex. Dan namanya sama, Resty."
Deg.
Seketika Alex tertegun saat paham dengan obrolan om dan tantenya itu. Jadi Resty yang mereka sebut adalah Resty yang sama? Rupanya seseorang yang dijodohkan kepada Resty adalah Ziyyan, abang sepupunya sendiri.
"Mas, ku mohon cepat dibatalkan bagaimana pun caranya. Aku nggak mau hubungan Ziyyan dan Alex jadi rusak gara-gara anaknya Bella itu." sergah Ara, semakin yakin untuk memutuskan rencana suaminya itu.
Dan Zayn hanya bisa menghela nafas beratnya. Pikirannya sedang bermain, bagaimana cara menjelaskan kepada Tommy bahwasanya Resty adalah cewek gebetan Alex.
Alex segera beranjak begitu melihat Ara semakin mendekat ke arah pintu. Ia terpaksa kembali ke jalan yang semula, agar seperti orang yang baru pulang ke rumah.
"Alex, baru pulang, Sayang?" tanya Ara, setelah menjumpai Alex berjalan masuk dari pintu samping.
"Iya, Tante." Alex hanya menjawab singkat.
"Lekas tidur sana. Jangan lupa bersih-bersih badan dulu biar nyenyak tidurnya."
Alex hanya merespon dengan anggukan kepalanya, lalu secepatnya pergi menuju kamar yang memang ia tempati selama berada dirumah ini. Sejenak langkah itu tertahan saat melewati kamar Ziyyan. Entahlah, rasanya semua kejadian ini seperti sengaja mempermainkan perasaannya. Bersaing dengan saudara rasanya tidak mungkin. Sebab tadi saat Ziyyan mengatakan bahwa ia sedang dijodohkan, auranya seperti orang yang tidak melakukan dengan keterpaksaan.
__ADS_1
*