Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 99


__ADS_3

Resty melihat dengan mata kepala sendiri kekasihnya itu sedang digandeng mesra oleh perempuan lain yang notabene adalah mantan pacarnya. Sialnya lagi pria itu terlihat biasa saja meski digandeng begitu manjanya oleh wanita itu. Sudah pasti hati Resty sakit, cuma tidak mungkin ia melabraknya begitu saja walau betapa ingin ia lakukan sekarang.


Gadis itu sengaja mengikuti secara diam-diam dibelakang Alex dan Donita pergi. Rupanya mereka berdua berhenti di taman samping perpustakaan, dan Resty tetap mengintainya dari kejauhan.


Diam-diam Resty mengambil gambar mereka berdua, tepatnya saat Donita mulai merebahkan kepalanya dibahu Alex dengan sangat manja. Jangan ditanya lagi bagaimana hati Resty, sudah pasti kecewa tetapi masih berusaha menahannya sampai nanti ia memberikan bukti itu kepada Alex.


Menyaksikan itu membuat netranya tak terasa mengembun. Sekejap mengedipkan mata, mungkin airmata itu akan menetes dipipinya. Beruntungnya gadis itu masih menekan kesabaran dengan mencoba menghubungi kekasihnya itu lagi.


"Kamu dimana?" tanyanya, saat telponnya dijawab oleh Alex.


"Sudah di kampus." jawabnya. Beruntungnya jujur, entah pertanyaan berikutnya masih jujur apa tidak.


"Dimana? Kok aku nggak lihat."


"Kamu sekarang dimana?" Alex malah balik bertanya.


"Aku di kelas, udah dari tadi nungguin kamu." balasnya dusta.


"Tunggu bentar ya, aku masih ada urusan mendesak sama teman," akunya dengan santai.


Resty tersenyum getir saat mendengarnya. "Hem, okey!"


Gadis itu segera menyudahi telponnya, tetapi masih betah mengintai perilaku kekasihnya itu. Sungguh ia tidak menyangka jika Alex akan seperti ini kepadanya. Jika akhirnya cinta ini semenyakitkan begini, mungkin akan sedikit terobati andai kesepakatan menikah itu tidak pernah dibahas kemarin.


Semakin lama mengintai rasanya Resty sudah tidak tahan lagi. Ia pun segera pergi dari tempat persembunyiannya, dan entah mau kemana. Untuk kembali ke kelas rasanya sudah enggan. Gadis itu sangat butuh tempat privasi untuk meluapkan uneg-unegnya itu saat ini juga. Akankah pulang ke rumah itu lebih baik?


"Dari siapa, Yang?" Donita menanyakan siapa yang menelponnya itu. Sebab samar-samar wanita itu mendengar suara perempuan yang menelponnya, yang tentu membuatnya perasaannya kepo maksimal.


"Ck!" Alex berdecak geram. Sebenarnya ia sangat risih dipanggil sayang oleh wanita itu. Selain karena sudah mantan, tetapi memang sebelumnya tidak ada hal yang indah selama Alex bersamanya dulu.


"Ta! Plise deh jangan gini." Alex melepas tangan Donita dengan risih.


Sedari tadi mantan kekasihnya itu tiba-tiba sok baik lagi padanya. Dengan tanpa sungkan mengatakan jika ingin balikan lagi kepadanya. Tanpa dijelaskan Alex sudah tahu kenapa Donita bisa begini lagi. Mungkin kabar tentang perusahaannya yang sudah normal lagi, membuat Donita kehilangan malu mendekati Alex lagi.


"Nggak peduli! Sebelum kamu mau kita balik pacaran lagi kayak dulu." Donita tetap menolak. Lingkaran tangannya dilengan Alex semakin mengerat, pertanda tak akan melepas pria itu sampai kapanpun.

__ADS_1


"Kok jadi maksa gini sih!" Alex sangat kesal. Wajah tak ramahnya sudah kentara, tetapi wanita itu tetap mode cuek saja.


"Kalau nggak dipaksa kamu mana mau. Dulu saja kalau bukan aku yang mulai, kamu nggak mungkin mau." terangnya tanpa malu.


"Itu dulu, Ta." Sekali lagi Alex melepas tangan Donita dari lengannya.


"Dulu atau sekarang, bagiku kamu sama saja. Akan tetap menjadi milik aku seutuhnya." Bahkan dengan gesitnya wanita itu berhasil mendaratkan kecupan singkatnya dipipi Alex.


"Gila kamu!" Spontan Alex mengusap pipinya dengan tatapan risih kepada Donita.


Wanita itu hanya menyeringai tipis. Makin ditolak, rasanya semakin gemas saja ia kepada Alex.


"Sayang, plis lah... Mau ya?" rengeknya, tetapi kali ini tangannya mulai meraba nakal diarea paha Alex.


"Donita!" Alex mengeram sangat kesal. Tangannya mencengkram pergelangan tangan Donita, tak peduli wanita itu meringis kesakitan.


Donita balik menatapnya sengit. Seperti tak peduli tangannya yang mulai memerah akibat dicengkram begitu oleh Alex.


"Beri aku alasan yang kuat, selain alasan kalau kamu sudah punya perempuan lain." Donita menyilangkan pahanya, tentu dengan sengaja bergerak seduktif untuk memancing fokus Alex pada kaki beningnya itu.


Alex semakin mengeratkan cengkramannya ditangan Donita. Bukannya memohon dilepas, wanita itu malah menyunggingkan senyum nakalnya, mencoba menggoda dengan cara lain demi bisa menaklukkan Alex kedua kalinya. Tak lagi peduli sikon dimana mereka saat ini berada.


"Alex!" Donita mulai tersinggung dengan ucapannya.


"Ya. Semakin kamu begini, jangan salahkan aku kalau hilang respect sama kamu. Camkan itu, Ta!" ancamnya, tetapi itu memang yang dirasa Alex kepada Donita.


Sebenarnya Alex sendiri tak mau kasar dengan perempuan. Tetapi jika perempuannya tipe seperti Donita, rasa-rasanya mau disiksa sekalipun sepertinya tetap akan ngeyel.


Alex berdiri, lalu kemudian pergi begitu saja tanpa sudi menoleh lagi kepada Donita yang menatapnya nyalang. Wanita itu tentu sangat tertantang untuk bisa mendapatkan Alex lagi. Demi sebuah misi terselubung yang tak seharusnya Alex menanggung itu.


Pria itu lekas menuju kelasnya. Bayangan wajah sang kekasih sedari tadi melintas dibenaknya. Semoga saja kejadian tadi kekasihnya itu tidak tahu, bila ada yang tahu semoga saja hal itu akan dianggap biasa saja.


Suasana di kelas saat Alex tiba masih ramai seperti biasa. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas demi mencari keberadaan Resty. Tetapi yang ada ia hanya menjumpai Ika yang tengah ngobrol seru dengan yang lain.


"Ka." Alex menyapa sambil meraih bahu Ika.

__ADS_1


Ika menoleh heran. Tumben-tumbenan Alex menegurnya.


"Resty mana?" tanyanya langsung.


Ika mengangkat kedua bahunya isyarat entah. Lalu gadis itu kembali ngobrol dengan temannya.


Alex menggaruk kepalanya gusar. Mendadak pikirannya was was sendiri. Begini nih kalau sempat berbuat ulah dibelakang Resty, walau sebenarnya itu pun tidak disengaja olehnya.


"Masa nggak tahu sih, Ka?" Alex bertanya lagi.


"Beneran." Ika menyahut jengah.


"Apa nggak bilang mau kemana gitu, Ka?" Alex meraih bahu Ika lagi untuk menoleh kepadanya.


"Bawel amat sih kau!" Ika menangkis pelan tangan Alex dari bahunya.


"Tadi bilangnya mau ke toilet," lanjutnya, yang kemudian Alex langsung memutar arah hendak menyusulnya ke sana.


"Eh, Lex!" Ika menarik kaos hoddy yang dipakai Alex.


"Mau kemana kau?" tanyanya, cukup dibuat penasaran karena setelah tahu Resty dimana, pria itu main pergi saja.


"Susul Resty," jelasnya to the poin.


"Hah, ke toilet? Gila apa kau!"


Alex tak mempedulikan umpatan Ika. Ia segera melesat pergi ke toilet demi mencari Resty. Walau tidak bisa masuk ke dalamnya, tetapi pria itu betah menunggu didepan sambil bertanya kepada ciwi-ciwi yang keluar dari sana.


Pria itu bertambah gusar manakala semua yang keluar dari toilet khusus cewek itu mengaku tidak menjumpai Resty didalam. Sudah berulangkali Alex berusaha menelponnya, walau tersambung tetapi mengapa tidak dijawab oleh Resty. Hal itulah yang membuat Alex bertambah gamang.


Niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik terpaksa ditunda lagi sekarang, setelah Alex terpaksa bolos lagi demi mencari Resty ke rumahnya. Padahal sebelumnya pria itu sudah berjanji dalam hati akan rajin kuliah dan tidak akan main-main lagi, termasuk mengusili siapapun seperti sebelumnya.


"Lex, mau kemana?" tanya Cello, saat tak sengaja berpapasan dengannya di pintu utama keluar kampus.


Alex menghentikan sebentar laju motornya, membuka helm yang dipakainya, demi menyapa ketiga teman-temannya yang baru datang.

__ADS_1


"Sorry, aku cabut dulu." serunya singkat, lalu kemudian pergi lagi dengan membawa motornya keluar dari area kampus tercinta.


*


__ADS_2