
Alex tiba di rumah setelah lewat dari tengah malam. Ia mengendap masuk ke rumahnya, berharap tidak membangunkan orang rumah karena kedatangannya. Tetapi langkah kakinya terpaksa terhenti setelah menjumpai kedua orangtuanya duduk menunggunya di ruang keluarga.
"Sudah puas perginya?" Sisil langsung mencercanya.
Alex tak menjawab. Sorot matanya memperhatikan kedua orangtuanya yang berusaha menahan sabar karenanya.
"Duduk sini, Lex. Kita harus bicara." seru Kenzo, nada suaranya terdengar lebih kalem namun tegas dibanding dengan Sisil yang kentara kesal kepada sang anak.
Pria itu sebenarnya ingin menolak, karena memang tubuhnya terasa lelah dan ingin beristirahat secepatnya. Tetapi mau tidak mau ia harus menurut, demi tatapan mata kedua orangtuanya yang tidak mengenakkan.
"Coba jelaskan, kenapa kamu pergi dari rumah tanpa pamit. Niat kabur atau apa?" Kenzo mulai menanyainya, setelah Alex sudah duduk berseberangan di sofa itu.
"Maaf, Pa." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Jalan ampuh yang memudahkan menyelesaikan masalah adalah bilang maaf, walau kesannya sedikit pecundang karena tak berani mengutarakan alasan perginya itu.
Kenzo mendengus nafasnya panjang. Sedangkan Sisil tetap bergeming, tetapi tatapan matanya tidak berpaling ke lainnya. Tetap mengarah tajam kepada anak semata wayangnya.
"Kamu sukses bikin orangtua panik dan bingung. Pergi dengan sengaja tidak membawa hape. Kalau memang mau kabur kenapa masih balik ke rumah? Puas-puaskan sana diluar. Biasakan saja kalau ada masalah kabur terus. Apakah seorang lelaki seperti itu, Lex? Papa rasa tidak. Kamu terlalu pecundang menghadapi masalah kamu." Kenzo berkata panjang lebar, namun ia masih berusaha tidak membentak kepada anaknya.
Alex tertunduk. Hatinya sedikit tersentil dengan ucapan papanya yang jika disimak memang benar. Dirinya terlalu memberontak sehingga pantas dikatakan seperti anak kecil oleh orangtuanya.
"Dasar anak bandel!" Sisil akhirnya bersuara lagi, dengan mengumpat kesal kepada asnak lelakinya itu.
Kenzo langsung melirik kepada istrinya. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan sang istri, juga menggeleng kecil kepadanya, sebagai peringatan untuk ia tidak mengumpat apa-apa lagi kepada sang anak.
Sesaat Sisil mendengus nafas kesalnya, mencoba lebih menekan kesabarannya kepada Alex.
"Aku rasa anak kita tertukar, Ken." ucapnya lagi, yang berhasil membuat Alex mengangkat wajahnya, merasa heran bercampur kaget dengan ucapan mamanya itu.
"Dia lebih pantas menjadi anaknya Tommy."
__ADS_1
"Hah?!" Alex langsung terperangah tak percaya.
Sedangkan Kenzo hanya bisa mendengus nafasnya, sudah menduga kalau istrinya itu akan mengatakan itu kepada Alex.
"Kamu tahu kan bagaimana Tommy muda dulu, Ken? Seharusnya Resty lah yang menjadi anak kita. Aku juga heran, kenapa Tommy bisa memiliki anak semanis dia. Tidak seperti anak kita. Huft!"
Alex masih terperangah mendengar sambil menyimak arti ucapan mamanya itu. Jika mengakui Resty lebih manis darinya, apa itu berarti mamanya sudah menyukai gadis itu?
Lagi-lagi Kenzo menarik nafas panjangnya. Ia jadi gemas sendiri istrinya itu selalu menyamakan sang anak mirip peringai Tommy selama perdebatan tadi pagi dengannya. Tetapi meski begitu sama sekali ia tidak cemburu walau Sisil menyebut nama Tommy didepannya, sebab sang istri sudah bisa meyakinkannya bahwa ia sama sekali tidak memiliki sisa rasa apapun kepada mantan pacarnya itu.
"Kalau begitu, ayo kita tukar anak saja." Kenzo sengaja menimpali ocehan istrinya dengan menyeimbanginya.
"Kalian apa-apaan sih? Memang aku barang yang bisa ditukar?" Alex mulai bersuara dengan nada protes.
Kenzo terkekeh sinis, tetapi Sisil tetap bermuka masam. Demi apapun wanita itu teramat gemas dengan polah anaknya yang tak bisa bikin tenang.
"Sekarang jelaskan apa maksud foto ini, Lex?"
Diam-diam Alex menyeringai tipis. Apa yang menjadi idenya itu rupanya orangtuanya mulai terpancing.
"Menurut papa mama bagaimana?" Sengaja pria itu berbalik tanya, sekedar ingin memancing lebih dalam pendapat orangtuanya tentang foto itu.
"Papa tidak suka teka teki, Lex. Ayo kamu jelaskan!" sergah Kenzo.
"Jangan bilang kamu--" Sisil tak jadi melanjutkan praduganya. Ia teramat gamang, walau besar kemungkinan anaknya bisa senekat itu.
"Iya, aku sudah menikah sama Resty." ungkapnya tegas.
Sumpah demi apapun, Alex memang telah merencanakan hal itu setelah melihat Ziyyan menikah walau hanya siri. Meski terpaksa berbohong, paling tidak kabar ini akan mendesak kedua orangtuanya untuk bisa merestuinya dengan Resty. Persetan akan dianggap apapun, yang penting baginya restu itu harus didapatnya secepat mungkin.
__ADS_1
"Alex!!"
Sisil dan Kenzo sama-sama memekik kaget. Praduganya ternyata tepat. Mereka benar-benar tidak menyangka anaknya akan senekat itu, dan kurang sabar dalam menghadapi ujian percintaannya.
"Kami memang sudah menikah siri. Jadi tolong restui kami, Pa, Ma." ujarnya, sambil menundukkan kepala seakan benar-benar dengan perkataannya.
"Maaf, Pa, Ma, aku terpaksa berbohong. Aku sangat mencintai Resty. Aku tak peduli dengan masalalu kalian dengan om Tommy. Apapun akan aku lakukan demi bisa bersama Resty, walau harus mendustai kalian." Alex membatin sendu.
"Kenapa kamu gegabah sekali, Lex?" Kenzo jelas marah saat mendengar anaknya hanya menikah secara siri. Baginya pernikahan secara siri itu tidak menguatkan apa-apa, yang dirugikan pasti pihak perempuan, walau kenyataannya pernikahan itu juga diakui sah dalam hukum agama.
"Ken, lekas kau hubungi Tommy." seru Sisil. Ia juga tak kalah kecewa saat mendengar kata pernikahan siri.
Memang Ziyyan saat ini sedang menikah siri dengan Mayra, itu pun karena alasan yang masuk akal. Bahkan bisa dijamin kalau sampai sekarang Ziyyan tidak pernah menyentuh istri kecilnya itu. Karena memang kesepakatan bersama yang mereka pegang teguh. Tetapi untuk masalah Alex, Sisil meraguinya. Ia tidak yakin anaknya itu akan sebetah Ziyyan menahannya. Mengingat insiden draculla yang dilakukan Alex kepada Resty tempo hari.
"Buat apa, Pa, Ma?" Tentu Alex sangat panik, saat tahu papanya mendial nomor Tommy.
"Kau diam saja!" Sisil menahan lengan Alex, saat anaknya itu akan merebut ponsel yang dipegang papanya.
"Tapi tolong jangan halangi kami lagi. Aku sangat mencintai Resty, Ma, Pa." Alex memohon.
"Diam. Ini urusan orangtua." balas Sisil.
"Tidak aktif, Sil." Kenzo meletakkan ponselnya dengan lemas, saat mendapati sambungan telpon milik Tommy sedang tidak aktif.
"Sudah tahu jam berapa juga." gerutu Alex, sambil melirik jam didinding yang menunjukkan hampir pukul dua dini hari.
"Huh, dasar!" Sisil berdiri. Lalu ia pun segera beranjak dari tempat itu, disusul kemudian Kenzo mengekori langkahnya menuju kamar.
"Yes! Berhasil." Alex bersorak tertahan, setelah memastikan kedua orangtuanya masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Pria itu mengambil ponselnya di meja, memandangi foto dirinya dengan Resty yang sengaja diambil saat duduk diteras masjid tadi, yang ia jadikan bahan sebagai kabar bohongnya itu. Ia melangkah senang ke kamarnya, dengan senyum riang yang terus tersemat manis dibibirnya.
*