Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 44


__ADS_3

Alex masih berada di perjalanan menuju rumah Ziana. Gadis itu sedari tadi terus saja mengoceh mengenai misi menjadi comblang antara kakaknya bersama Mayra, teman sekelas yang menurutnya paling anteng dan pasti alim dibanding dirinya yang sedikit petakilan. Sedangkan Alex yang hanya menjadi pendengar, sesekali turut menimpali seperlunya.


Hingga sampai pada didaerah jalanan yang sedikit sepi, tidak sengaja Alex melihat Resty yang berdiam diri ditepi jalan. Disebelah gadis itu ada mobilnya, dan bisa jadi ada masalah dengan mobil yang dibawanya itu.


Seketika Alex menepikan mobilnya juga, merasa kasihan melihat Resty yang seperti sedang kebingungan.


"Kenapa, Bang?" tanya Ziana, saat Alex sudah bersiap keluar dari mobilnya.


"Tunggu sebentar ya.."


Kemudian Alex keluar dan segera mendekat kepada Resty.


Ziana ikut menoleh ke arah Alex pergi. Dilihatnya pria itu sedang menghampiri seorang gadis yang mungkin sedang membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu ia pun tidak begitu mempermasalahkan, meskipun rasanya sudah ingin segera rebahan di rumah.


"Kenapa, Res?"


Sapaan Alex membuat Resty cukup terkesiap. Meski sedikit lega karena akhirnya ada yang datang menolongnya, tetapi ia tidak menduga saja kalau orang itu adalah Alex. Apakah dunia ini hanya selebar daun kelor? Dari sekian banyak manusia yang berlalu lalang kenapa harus dia lagi?


Resty hanya tersenyum kikuk saat Alex lebih mendekat kepadanya.


"Mogok." sahut Resty, singkat dan jelas.


"Kayaknya mobil kamu yang ini memang agak nggak beres deh. Perasaan bukannya mobil ini yang kapan itu mau diservice sama sopir kamu itu."


Resty hanya mengangguk kecil.


Alex mengitari mobil itu. Lalu ia mulai menyincingkan lengan bajunya berniat untuk membantu mengecek bagian mesin mana yang bermasalah.


"Biar aku cek dulu ya?" seru Alex.


"Mmm.... Sebelumnya makasih, Lex. Tapi apa tidak merepotkan?"


Alex menggeleng. Senyum kecilnya terbit dari sudut bibirnya. Perkara otomotif pria itu sedikit mengerti. Cuma yang membuatnya menjadi senang saat ini karena ia bisa membantu gadisnya disaat waktu yang tepat. Bisa dikatakan sebagai superhero dadakan buat Resty tentunya.


Belum juga Alex mengecek mesin mana yang bermasalah, hanya sempat membuka kap depan mobil itu, terdengar suara Ziana melengking menyeru namanya.


"Bang Alex..." panggilnya, masih dari dalam mobil, hanya menongolkan kepalanya lewat pintu mobil yang dibuka kacanya.


Alex dan Resty sama-sama menoleh kepada gadis yang sudah bermuka masam. Saking senangnya sampai-sampai pria itu lupa kalau sedang membawa Ziana juga.


"Duh!" Alex menepuk keningnya sendiri.

__ADS_1


Kondisi Ziana yang sedang tidak baik sudah pasti ingin segera tiba di rumah untuk istirahat.


"Aku ke sana dulu, Res.." ucap Alex, sambil menunjuk kepada Ziana.


Resty hanya bisa mengangguk. Tatapannya terus menyorot kepada gadis yang dibawa Alex saat ini. Meski muncul rasa penasaran tentang siapa gadis itu, akan tetapi Resty memilih memendamnya saja.


"Lama ya, Bang?" Ziana langsung bertanya, tapi juga melirik kepada Resty yang kebetulan juga sedang menatapnya.


"Belum sempat ngecek tadi." sahut Alex.


"Emang dia siapa sih, Bang?"


"Temanku di kampus. Teman sekelas juga."


"Teman hatiku juga." Untuk kata yang satu ini hanya batin Alex yang bersuara.


"Ooh..." Ziana manggut-manggut paham.


"Kamu tunggu bentaran dulu ya? Kasihan temanku itu. Mana cewek lagi." pinta Alex kepada Ziana.


"Bang Alex nggak sekalian modusin dia kan? Biasanya cowok mah sering gitu kalo ketemu cewek bening lagi butuh pertolongan." tebak Ziana, yang membuat Alex tergelak saat mendengarnya.


"Iiih.... Kecil-kecil ngomongnya kayak sudah pakar saja." Alex mengacak gemas puncak rambut Ziana.


Alex pun hanya bisa terkekeh. Dari apa yang dikatakan Ziana itu semoga saja Resty tidak menganggapnya hanya modus.


"Bang, kenapa nggak hubungi montir saja sih? Kakiku pegel nih, pingin selonjoran dikasur rasanya."


"Trus temanku itu mau ku tinggal sendiri saja gitu? Jangan lah, kasihan." Alex menoleh kepada Resty lagi.


Terlihat gadis itu sedang sibuk dengan ponselnya. Entah siapa yang sedang ia hubungi itu.


"Kita ajak bareng, Bang. Mobilnya biarin disini, entar kan kang montirnya yang datang ngambil." Ziana mencoba memberi solusi.


"Mmm... Aku ngomong dulu deh sama dia." Alex pun menghampiri Resty lagi.


"Lex, aku sudah hubungi pak Benny. Beliau yang akan mengurus mobil ini. Kamu pergi saja nggak papa." ujar Resty, begitu Alex sudah berada didekatnya.


"Oh, gitu ya? Trus kamu nunggunya sendirian dong? Pak Benny nya lama nggak datangnya?"


Resty hanya mengangkat kedua bahunya, entah.

__ADS_1


Alex mendengus kasar. Sebenarnya ia sangat khawatir meninggalkan Resty sendiri ditempat yang lumayan sepi dilintasi pengendara mobil maupun motor. Yang sering lewat dijalan ini hanya mobil angkutan besar seperti truck dan bus antar provinsi.


"Kamu ikut aku saja ya?" ucap Alex pada akhirnya.


"Hah? Kemana?" Resty bertanya heran bercampur kaget.


"Aku antar kamu pulang. Bukannya sopir kamu yang mau urus mobil ini kan?"


Resty masih berpikir sejenak. Sebenarnya sebelum Alex datang tadi, ia merasa was was dan ketakutan sendiri. Sedangkan Benny yang ditunggunya masih belum tahu kapan sampainya ke sini.


"Gimana, Res? Aku khawatir nih sama kamu?"


Ceeileeeh.... Mulai keluar dikit nih modusnya.


"Mm, apa tidak apa-apa sama teman kamu yang di mobil itu?" Resty melirik sekilas ke arah mobil yang dibawa Alex.


"Nggak papa. Yang didalam tuh adik sepupuku, Res. Ayok?" ajak Alex. Sekarang pria itu malah mengulurkan tangannya.


Karena tak segera disambut, dengan nekat Alex meraih tangan Resty untuk digandengnya. Ziana yang kebetulan melihat itu hanya bisa mencebik saja. Tebakannya tak pernah meleset mengenai akal modus cowok.


Alex segera membukakan pintu bagian depan untuk Resty. Gadis itu sebenarnya merasa malu mendapat tatapan intim dari adik sepupu Alex yang duduk di kursi belakang, hanya karena lagi urgen ia pun berusaha cuek saja. Mengatur ritme jantung yang kembali tak stabil saat Alex sudah duduk disampingnya.


"Assalamu'alaikum calon kakak ipar..." sapa Ziana spontan.


Alex dan Resty sama-sama menoleh kepada Ziana yang sudah nyengir bagai tak bersalah. Meski Alex sendiri senang saat Ziana menyeru kalimat itu, tetapi bagaimana dengan Resty coba? Semoga saja Resty tidak terlalu menanggapi candaan Ziana yang sedikit kelewatan, walau sebenarnya diam-diam Alex mengamini ucapan Ziana itu.


"Dijawab dong, Kak. Menjawab salam itu hukumnya wajib." Ziana kembali bersuara, karena memang Resty hanya terbungkam sedari tadi. Lebih tepatnya sudah gugup bin dredeg.


"Wa'alaikum salam," sahutnya lembut.


"Aku, Zee. Bang Alex pasti sudah ngasi tahu dong siapa aku." gadis itu mengajak berkenalan sambil mengulurkan tangan kanannya.


Resty tersenyum sambil mengangguk kecil. "Aku Resty." sahutnya kemudian.


Sejenak dua gadis berbeda usia itu pun saling melempar senyum.


"Jalan, Bang. Malah diem dari tadi." Ziana menegur Alex yang hanya jadi pendengar sambil tak bosan mencuri pandang kepada Resty.


Kemudian Alex pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Ingat, fokus loh bang Alex. Jangan malah curi-curi pandang sama kak Resty."

__ADS_1


Aaah.... Andai saja tidak sedang menyetir, atau tidak ada Resty, mungkin Alex sudah menonyor mulut bawel Ziana yang suka ngomong sekenanya tanpa difilter itu.


*


__ADS_2