Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 33


__ADS_3

"Apa maksudnya?"


"Syukur dia bilang?"


"Apa berarti papa Resty memang nggak senang aku deketin Resty?"


Aaaarrrrrgh.......


Batin Alex menjerit frustasi. Sebuah kata syukur yang terucap dari papa Resty benar benar membuatnya salah paham. Dan otomatis membuat nyalinya seketika menciut untuk lanjut mendekati Resty yang sudah setahap meningkat semakin dekat dengan jangkauannya.


Gusar. Resah. Bimbang. Galau. Semua rasa itu bercampur aduk menjadi satu dengan kesedihan hatinya yang terpaksa patah diawal pendekatan. Rasanya masih sulit, tapi ia harus sadar diri dengan kalimat syukur yang diucapkan papa Resty itu.


"Makan malam sudah ready...."


Suara Ika berhasil memecahkan lamunan Alex yang sudah kemana-mana. Dan Tommy hanya menanggapi Ika dengan senyum tipisnya.


Tak lama kemudian semua menu yang telah dimasak oleh tiga wanita dirumah itu sudah tertata rapi di meja makan. Tinggal menunggu mengeksekusinya dengan lahap.


Terlihat Resty dengan sayangnya mengambilkan nasi dan juga lauk kesukaan papanya. Gadis itu sudah biasa melakukan hal itu. Bagai sudah melengkapi pengganti sosok mamanya yang seharusnya melayani itu kepada papanya.


Setelah Resty juga sudah mengisi piringnya dengan menu yang ia pilih, kini giliran kedua teman Resty yang bergantian memasukkan menu masakan yang akan mereka makan. Ika sangat bersemangat menawarkan masakan yang ia masak kepada Tommy untuk mencicipinya juga. Berbeda hal dengan yang dirasa Alex saat ini. Perut yang semula lapar seketika terasa kenyang. Oleh sebab kondisi hati dan perasaannya yang mengenyangkan pikiran.


"Gimana, enak nggak, Om?" tanya Ika, begitu Tommy selesai mencicipi kari ikan yang dimasaknya.


Tommy mengangguk mengiyakan. Nyatanya gadis sesusia anaknya itu memang pandai memasak. Dan kebetulan sekali rempah rempah yang menjadi pelengkapnya terasa cocok dilidahnya.


Ika tersenyum girang. Sudut bibirnya tertarik lebar seiring pengorbanannya yang tidak sia-sia.


"Kalo suka, besok-besok aku buatkan lagi, Om." ucapnya penuh semangat.


"Tunggu deh. Dalam rangka apa nih?" selidik Resty, tiba - tiba mencium gelagat mencurigakan dari sahabatnya itu.


"Dalam rangka saling berbagi lah." sahut Ika, masih dengan mode santai tetapi sebenarnya hatinya bersorak kegirangan melihat Tommy menambah porsi kari ikan ke piringnya.


"Aku nggak yakin." Resty menatap lekat kepada Ika.


Yang ditatap dengan santainya malah kembali menyuap nasi kedalam mulutnya. Sedang matanya melirik kepada Alex yang seperti tak berselera makan.

__ADS_1


"Sayurnya nggak enak ya, Lex? Padahal Resty yang masak itu loh." seru Ika, yang seketika Alex tergeragap oleh pertanyaannya.


"E-e... Enak kok. Beneran." jawabnya jujur. Memang oseng sayur kangkung yang dimakan rasanya enak, hanya pikiran kalutnya itu yang membuat tak berselera.


"Ika!" Resty merasa sebal sendiri karena sepertinya sahabatnya itu sedang menghindari pertanyaannya.


"Kamu nggak lagi naksir papaku kan?" tanyanya tanpa filter lagi, saat Ika kembali menoleh kepadanya.


Uhuk... Uhuk...


Bersamaan Tommy dan Alex tersedak makanan, setelah mendengar pertanyaan Resty yang diluar dugaan mereka.


Ika merotasi kedua bola matanya. Berpikir sejenak walau sebenarnya perasaannya sudah ada jawaban, hanya tidak mungkin ia mengaku jujur sekarang. Apalagi saat ini semua mata itu sedang menyorot menunggu jawabannya, hingga muncul rasa malu dan takut ketahuan sedang naksir sama papa sahabatnya sendiri.


"Sudah lah. Ayo makan lagi." ajak Tommy, membuat suasana seperti tidak sedang membahas apa-apa. Walau sebenarnya ia juga sedikit geli membayangkan andai benar gadis seusia anaknya itu benar-benar sedang naksir dirinya.


Lalu kemudian mereka melanjutkan aktifitas makan malam itu dengan hening.


"Om, Resty, Ika. Aku pamit pulang." ucap Alex, setelah mereka selesai makan bersama dan sedang duduk bersantai diruang tengah.


"Keburu amat. Tugasnya gimana?" tanya Ika.


Mulut Ika membulat bersamaan dengan bola matanya yang berbahasa kagum padanya. Alex yang dikenal kang bolos di kelas, dapat dengan mudah mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan berkelompok hanya seorang diri.


"Makasih ya..." Resty turut bersuara.


Dan Alex hanya menanggapinya dengan senyum kecilnya. Entah Resty berkata terimakasih itu karena sudah mengerjakan tugasnya atau hanya sekedar basa basi saja, pria itu hanya ingin segera keluar dari rumah Resty. Rasanya berlama-lama disini akan membuatnya terus mengingat perkataan papa Resty tadi.


Perlahan pria itu beranjak seorang diri, tanpa ada Resty atau Ika yang mengantarnya keluar. Langkah kakinya terlihat gontai tak bersemangat. Sesuatu yang mengganjal pikirannya itu telah menjadi penyebabnya. Mungkin lebih baik Resty harus tahu dengan isi hatinya, dan secepatnya ia harus mengutarakan perasaannya itu. Selepas itu Alex akan menyerahkan semuanya dengan takdirnya sendiri.


Huft. Alex menghembus nafas beratnya dengan kasar. Sekelibat bayangan Donita tiba tiba terlintas dibenaknya. Dan memang seharusnya ia menyelesaikan urusannya dengan Donita dulu. Semua kejadian ini seperti teguran buatnya bahwa ia tidak boleh rakus dalam urusan hati.


Kalau jodoh tak akan kemana. Sebuah kata itu tiba tiba terbesit dibenaknya. Membuatnya sedikit lega dengan mencoba menyerahkan semua itu pada sang pengatur nasib.


***


Suasana di rumah Alex malam ini sedang mencekam. Bukan karena pertikaian antara kedua orangtuanya, tetapi tentang kabar buruk mengenai bisnis perusahaannya yang sepertinya sedang ada yang mensabotase hingga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

__ADS_1


Kenzo duduk termenung diruang keluarga itu dengan wajah lesu. Pria itu tidak menyangka bahwa ada salah satu pegawainya yang telah menghianati kepercayaannya. Meski sang pelaku masih belum fix, namun kecurigaan pada satu nama sudah dikantongnya rapat-rapat. Dan akan segera terbongkar setelah bukti itu berhasil dikumpulkan.


Sedangkan Sisil sedari tadi hanya bisa duduk menemaninya. Dengan berada didekatnya mungkin akan sedikit membantu mengurangi beban pikiran suaminya itu. Dan jika nanti masih belum juga terkumpul bukti, maka sementara waktu Kenzo dan Sisil harus rela melepaskan sebagian fasilitasnya. Demi menutupi agar tidak terjadi pailit dengan perusahaannya.


"Lebih baik Alex harus tahu ini." ucap Sisil. Merasa tak seharusnya merahasiakan hal sebesar ini dari anaknya yang terbilang sudah dewasa.


Kenzo menghembus nafas beratnya. Kepalanya menggeleng pelan pertanda tidak setuju. Sebenarnya usulan istrinya itu tidaklah buruk, hanya saja yang membuatnya takut ialah andai Alex tak mau menerima kabar buruk ini.


"Mungkin kita bisa ambil semua fasilitas milik Alex. Kalau pun ia menolak, kita harus memaksanya. Syukur syukur dia mau berubah setelah ini."


"Jangan, Sil. Bagaimana pun aku tidak mau Alex ikut susah dengan masalah ini."


Kenzo yang sebenarnya sangat sayang kepada anak tunggalnya, hingga rela berkorban apapun demi kebutuhan finansial Alex dan juga keluarga.


"Aku mau Alex lekas berubah. Mungkin ini juga cara Tuhan memberi kita masalah seperti ini agar Alex bisa merenung. Dia sering bikin ulah di kampus, tapi tetap aman karena dukungan kita lewat belakang."


Kenzo terlihat berpikir dengan ucapan Sisil. Akui, Kenzo terlampau memanjakan Alex dengan cara yang sebenarnya tidak baik. Dengan uang, apapun itu bisa dibeli, termasuk masalah Alex yang sering bolos di kampus.


"Trus ide kamu yang bagaimana yang bisa buat Alex berubah dengan sendirinya?" Kenzo akhirnya pasrah dengan usulan Sisil. Apalagi hal ini sudah mendesak yang harus segera terselesaikan dalam waktu dekat.


Terlihat Sisil menghela nafasnya sebentar, sebelum akhirnya ia mengungkapkan ide darinya yang semoga saja suaminya itu akan setuju.


"Kita berdua ke Jepang. Dan Alex tidak harus ikut kita."


"Kamu berencana meninggalkan Alex sendirian disini? Yang benar saja, Sil." Kenzo langsung menyela omongan Sisil yang belum selesai.


"Tidak. Alex akan aku titipkan sama Ara. Nanti dia yang urus semuanya."


"Kamu yakin?" tanyanya, setelah sempat terdiam sejenak.


Sisil mengangguk sangat meyakinkan. Upayanya tidak mengajak Alex ke negara asal keluarga papanya itu agar Kenzo bisa dengan fokus menangani masalah perusahaan. Dan satu-satunya cara yang lebih ampuh lagi ialah ia harus rela menggadaikan rumah ini. Walau sementara waktu harus numpang hidup di negeri orang, tetapi Sisil bisa menerima hal itu. Ia sangat yakin bagaimana kemampuan Kenzo. Cepat atau lambat semua masalah ini pasti bisa diselesaikan oleh suaminya itu.


"Baiklah." sahutnya pasrah.


"Ternyata Tuhan mempermudah urusanku dengan Donita." batin Alex bersuara.


Ia yang tak sengaja mendengar obrolan intim kedua orangtuanya, bagai menemukan ide cemerlang untuk bisa lepas dari Donita. Ia sangat yakin Donita tidak akan mau bersama dengan lelaki bangkrut sepertinya. Sepintas senyum tipisnya menyungging puas, lalu setelah itu ia masuk menyapa kedua orangtuanya yang sedang berada diruang tengah, setelah sedari tadi ia hanya menguping melalui ruangan yang tak jauh dari keberadaan kedua orangtuanya.

__ADS_1


*


__ADS_2