
Dua hari pasca dirawat intensif di rumah sakit akhirnya Tommy sudah bisa kembali pulang. Selama di rumah sakit itu Resty sangat bersyukur karena memiliki orang-orang terkasih disekitarnya yang berkenan ikut menjaga Tommy walau tanpa ikatan persaudaraan.
Terlebih dengan Ika. Gadis itu hampir tak pernah absen selalu ikut menjaga dan menemani Resty, kecuali jika sedang berkepentingan ke kampus. Walau kadang tingkah Ika sering menimbulkan kecurigaan pada Resty mengenai perhatiannya kepada papanya, tetapi Resty masih mencoba berbaik sangka pada sahabatnya itu.
Hari ini juga bertepatan dengan dimulainya libur di kampus. Jadi sangat memungkinkan Resty untuk bisa mengontrol kesehatan papanya selama masa liburan ini. Bahkan rencana semula yang akan pergi berlibur ke rumah eyang Asih terpaksa batal. Oleh karena Resty yang tak mau meninggalkan papanya dan takut jika sewaktu-waktu papanya itu akan lalai dengan kesehatannya lagi.
Tommy sudah duduk sambil bersandar di papan ranjang di kamarnya. Resty masih sibuk membereskan barang bawaan dari rumah sakit, termasuk beberapa pakaian kotor dan yang lainnya. Sedangkan Ika yang kebetulan ikut mengantar saat Tommy pulang tadi, saat ini sedang berkecimpung di dapur bersama mak Asna untuk menyiapkan menu makan malam.
"Papa istirahat dulu ya, aku mau mandi dulu." ucap Resty sebelum meninggalkan Tommy di kamarnya.
Tommy hanya mengangguk. Sebenarnya ia sudah merasa fit dan sangat ingin beraktifitas bebas seperti biasanya. Dua hari hanya berbaring di rumah sakit rasanya bagai terkurung tanpa kebebasan. Meski sudah gatal ingin segera bergerak, tetapi ia menunggu anaknya keluar kamar terlebih dahulu. Karena setelah dirinya dirawat kemarin, Resty berubah menjadi sosok yang sangat over protektif kepadanya.
Melihat Resty sudah keluar dari kamarnya, Tommy segera turun dari ranjang untuk pindah duduk di balkon kamarnya. Tangannya membawa sebuah Ipad. Duduk bersantai sambil mengontrol pekerjaan di kantor setelah dua hari tidak bekerja.
Beruntungnya laporan di kantor menunjukkan hasil yang baik, hanya menemukan beberapa meeting penting yang tertunda dan harus segera di schedule ulang. Dan sang sekretaris pun juga sudah mengirim beberapa file penting yang memang harus dipantau olehnya dulu sebelum akhirnya ditindaklanjuti.
Ceklek.
Pintu kamarnya terbuka. Tommy kira yang datang lagi adalah anaknya, tetapi malah Ika yang muncul.
"Loh, Resty mana, Om?" tanya Ika masih berdiri diambang pintu.
Andai tahu kalau Resty tidak ada di kamar itu, tentu Ika tak akan berani datang ke kamar Tommy.
Tommy beranjak berdiri bermaksud menghampiri Ika, karena memang saat ini gadis itu sedang membawa sesuatu dinampannya.
Belum juga Tommy melangkahkan kakinya, tubuhnya kembali oleng dan terpaksa duduk lagi ditempat semula. Pria itu merasa tiba-tiba pusing dan jika dipaksa berjalan takut akan ambruk dan tentu akan mencemaskan orang rumah.
Ika meletakkan nampan berisi bubur kacang ijo itu di atas nakas. Segera ia lari kecil menghampiri Tommy yang sempat oleng. Tentu sangat khawatir yang dirasa Ika saat ini. Hingga membuatnya bergerak cepat dan seketika duduk bersejajar didepan lutut Tommy, sambil menatap sendu pada pria yang terkesiap karena ulahnya.
"Om nggak papa?" tanyanya, tatapannya menjurus tepat dinetra papa sahabatnya itu.
"Sedikit pusing," Tommy menyahut apa adanya.
"Lagian kenapa Om bisa duduk-duduk disini sih? Ini lagi, sudah tahu harus istirahat masih saja sibuk pegang Ipad."
Tanpa permisi Ika segera meraih Ipad itu dari tangan Tommy, lalu meletakkannya di meja disampingnya.
Tommy menurut saja, tanpa protes apa-apa walau kali ini diomeli oleh gadis asing yang dua hari belakangan ini ikut sibuk mengurusinya.
"Resty kemana, Om?" tanyanya sekali lagi.
Matanya ikut celingukan ke dalam kamar, siapa tahu Resty tadi lagi di kamar mandi.
__ADS_1
"Resty ke kamarnya, mau mandi katanya."
"Ck! Anak itu." Ika mulai mengerucutkan bibirnya. Tiba-tiba merasa sebal karena Resty meninggalkan papanya seorang diri.
Padahal Tommy hanya sakit biasa, tetapi tindakan Ika terkadang membuat Tommy merasa seperti dirawat oleh istri bawel tetapi perhatian.
Istri bawel?
Tommy menggeleng-geleng kepala begitu tersadar dengan pikirannya yang menganggap Ika adalah istri bawel. Tidak mungkin ia terbawa perasaan kepada Ika. Karena gadis itu masih seumuran dengan anaknya.
"Om, kenapa?" Ika semakin panik.
Saking paniknya hingga tidak tersadar Ika menyentuh paha Tommy dengan cengkraman tangannya.
Tommy tercengang sekejap.
"Astaghfirullah!" serunya tiba-tiba.
"Om pusing lagi? Mananya yang nggak enak, Om? Bilang ke aku, Om."
Tangan Ika sudah mengabsen hampir seluruh bagian tubuh Tommy. Tangan, dahi, pipi, hingga terakhir dadanya yang ia sentuh. Maksudnya ingin mengecek suhu tubuh Tommy, sehingga terlupa jika tindakannya itu sedikit menggeliatkan getar-getar itu pada diri Tommy.
Tommy mencegah tangan Ika yang sepertinya akan menjalar ke perut. Entah apa yang sebenarnya gadis itu ingin ketahui diperutnya. Mungkin takut masuk angin dan kemungkinan kembung.
Ika ikut tercengang, sedang tangan itu masih berada digenggaman tangan Tommy. Tatapan mereka saling beradu pandang, semakin dalam hingga tiada dari keduanya berpaling dahulu.
"Ika!"
Suara Resty yang tiba-tiba sudah berada di sana memecahkan tatapan keduanya.
Spontan Ika menarik tangannya yang sedang digenggam Tommy. Dan Tommy sendiri hanya terdiam dengan segenap pikirannya yang mengancang-ancang alasan logis mengenai keberadaannya bersama Ika di sini.
"Kalian ngapain berduaan disini?" tanyanya kemudian.
"E-e.. Papa--"
"Pacaran?"
"Hah?"
Ika dan Tommy sama-sama kaget saat dituduh memiliki hubungan pacar oleh Resty.
"Ngaku aja kenapa? Aku udah lihat kok kalau tadi kalian berpegangan tangan." cercanya lagi.
__ADS_1
"Itu tidak seperti yang kamu sangka, Res." Ika membela diri.
Resty menyorot aneh pada posisi Ika yang masih duduk menghadap lutut Tommy. Dari situ sudah bisa ditebak jika antara keduanya sudah saling akrab bahkan lebih intens.
Tommy mengerti tatapan Resty, makanya ia segera menuntun Ika dengan menyentuh kedua bahunya agar berdiri dan tidak duduk seperti tadi.
"Papa pusing, Res." keluh Tommy.
Sebenarnya hanya ingin mengalihkan agar anaknya itu tak lagi memperpanjang prasangkanya.
"Sini aku bantu, Om." Ika kembali menjadi garda terdepan untuk membantu Tommy.
Tommy diam saja saat Ika menuntunnya berjalan menuju kasur. Sedang Resty hanya berjalan mengikuti sambil menyorot curiga pada keduanya.
Tommy sudah duduk ditepi ranjang, dan Resty segera ikut duduk disampingnya.
"Kalau masih pusing, biar nanti makan malamnya aku bawa kesini ya, Pa?" ucap Resty.
Tommy hanya mengangguk. Bukan tak mau menyahut, tetapi memilih banyak diam agar anaknya itu tak banyak tanya mengenai hal yang tadi.
"Sebenarnya tadi aku kesini mau anter bubur kacang ijo ini buat, Om. Cuma melihat om tadi hampir oleng, sampe lupa ke tujuan datang kesini." jelas Ika. Kedua tangannya sudah membawa semangkuk burjo yang sudah berkurang hangatnya.
"Terimakasih, Ka." sahut Tommy.
"Sama-sama. Nanti dikomen ya Om, bagaimana rasa buburnya?" Ika menyodorkan bubur itu, dan Tommy segera meraihnya.
Pria itu segera mencicipi burjo yang katanya dibuat oleh Ika sendiri. Melihat dari caranya makan, sudah bisa ditebak jika bubur itu masih aman untuk dikonsumsi, alias tidak mengecewakan.
"Gimana, Om? Enak nggak?"
Tommy hanya mengangguk, sambil masih terus menyendokkan bubur itu ke mulut. Manis dan kentalnya pas di lidah, sehingga membuat Tommy berselera untuk menghabiskannya.
"Papa," sapa Resty.
"Hem,"
"Soal papa yang mau cari mama baru--"
Tommy terjeda sejenak. Masih dengan mulut yang penuh dengan burjo.
"Papa nggak usah bingung cari kemana-mana. Sudah ada kok yang siap menjaga papa, merawat papa, mencintai papa."
Lirikan mata Resty mengarah pada Ika yang kebetulan juga sedang menatapnya.
__ADS_1
Uhuk... Uhuk...
*