
Resty dan Alex sudah tiba di rumah. Mereka disambut oleh Tommy dan Ika yang memang sengaja bermalam di rumah itu juga. Segera Resty beranjak ke ruang makan, karena sudah tidak sabar untuk menyantap soto sebagai sarapan paginya.
Sedangkan Tommy, Ika, dan Alex hanya bisa mengekor dibelakangnya dengan saling bertatap heran. Tumben saja wanita itu request makanan yang sebenarnya tidak begitu ia suka. Malah jika ada pilihan menu lain, biasanya Resty akan memilih makanan yang lain dari pada soto.
Mereka semua sudah duduk di kursi makan masing-masing. Hidangan kuah hangat berwarna kuning itu menjadi menu utama pagi ini. Resty sangat antusias sekali untuk segera menyantapnya. Bahkan wanita itu sengaja hanya menuang kuahnya saja ke mangkuknya, tanpa nasi, juga tanpa daging ataupun lainnya.
"Nggak pake nasi, Res?" tanya Tommy, bertambah heran melihat anaknya itu yang sedang meminum kuah kuning itu seperti sedang meminum es saja.
"Lebih seger gini, Pa," sahutnya dengan ekspresinya yang mulai riang.
Dan Alex hanya bisa memandanginya saja, tanpa ikut sarapan bareng karena sudah kenyang habis makan dua porsi buryam barusan.
"Kamu nggak makan, Lex?" Beralih Tommy bertanya kepada Alex.
"Tidak, Pa," sahutnya, tetapi kemudian dijelaskan alasannya oleh Resty.
"Dia sudah kenyang, Pa. Habis dua mangkuk bubur ayam barusan sebelum kesini."
Alex hanya mengangguk, meski terlihat jelas raut Tommy agak tak percaya dirinya mampu menghabiskan dua mangkuk buryam. Sesaat mereka kembali hening. Hanya menikmati sarapannya dan Alex sebagai penontonnya saja.
"Kenapa masih pagi begini kalian sudah chek out? Nggak betah? Atau fasilitas hotelnya nggak nyaman?" cerca Tommy sangat penasaran dengan kepulangan dua pengantin baru itu.
"Nyaman, Pa. Cuma--" Alex hanya melirik kepada Resty yang tengah menenggak air minum dengan cukup rakus.
Tommy ikutan melirik kepada Resty, pun juga dengan Ika. Sejujurnya mereka penasaran akan cerita pagi ini dari pasangan pengantin baru itu, sehingga membuat Resty tiba-tiba request soto dan itu harus ada. Tetapi setelah melihat wajah Alex yang seperti enggan bercerita, maka Tommy dan Ika hanya bisa menekan rasa penasarannya itu.
"Alhamdulillah..." seru Resty kemudian.
Kompak mereka bertiga menatap kepada Resty, tetapi yang ditatap tidak menyadarinya.
"Kayaknya harus mandi lagi nih," ujarnya sambil mengusap keringat yang membanjiri keningnya sehabis menikmati kuah soto yang lumayan hangat barusan.
"Sayang, aku ke kamar dulu ya?" Resty tiba-tiba berdiri ingin ke kamarnya.
Alex ikutan berdiri. "Aku juga," ucapnya.
Lalu mereka berdua pun akhirnya pergi masuk ke kamarnya.
"Mas, kamu merasa ada yang aneh nggak sama Resty?" tanya Ika, saat hanya tinggal mereka berdua di meja makan itu.
__ADS_1
Tommy hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya entah. Dan kemudian Tommy dan Ika pun kembali melanjutkan sarapan paginya yang masih sisa separuh di piringnya.
Tommy memang terlihat lebih santai dari biasanya. Sebab hari ini ia sengaja libur kerja sehari, demi bisa bersama istri tercinta ke sebuah tempat yang sudah dipesan oleh Tommy sebelum hari-H resepsi kemarin.
Sedangkan Alex dan Resty memang sedang mengambil cuti kuliah dua hari dari kemarin. Besok mereka akan sibuk lagi seperti biasanya.
Resty semakin mempercepat langkah kakinya saat sudah hampir tiba didepan pintu kamarnya. Buru-buru ia membuka pintu kamarnya itu lalu segera berlari ke arah kamar mandi di sana.
Alex pun ikut masuk ke kamar mandi. Ia yakin istrinya itu sedang tidak baik-baik saja, setelah tak sengaja memperhatikan ekspresinya seperti orang mau muntah.
Dan benar saja, Resty lagi-lagi menumpahkan isi perutnya lagi di kamar mandi itu. Kuah soto yang baru saja ia makan, seperti tidak diterima dengan baik oleh kondisi perutnya yang terasa mual luar biasa.
Alex ikut memijit dengan pelan pada punggung Resty. Merasa kasihan tetapi tidak tahu harus berbuat apa demi meringankan sakitnya Resty kecuali benar-benar harus dibawa periksa ke rumah sakit.
"Kamu harus periksa ke dokter. Dari semalam kamu sudah muntah-muntah terus. Aku beneran khawatir, Yang, takut kamu ada sakit apa-apa," ucap Alex begitu prihatin melihat wajah Resty yang sudah sedikit lebih pucat.
Wajar saja jika Resty akan selemah ini. Sebab perutnya memang hanya terisi kuah dan air minum saja sedari bangun tidur. Jadilah isi perutnya langsung kosong terkuras sehabis dimuntahkan.
Terlihat Resty mulai mengatur nafasnya. Menghelanya naik turun, lalu membuangnya keluar.
"Gimana? Mananya yang masih nggak enak?"
Alex terlihat berpikir sejenak. "Bisa jadi," sahutnya yang sebenarnya ia tidak mau menduga-duga sebelum memastikannya terlebih dulu ke dokter penyebab apa yang diderita istrinya itu.
Resty berjalan pelan keluar dari kamar mandi. Alex ikut bersama sambil merangkul pada pundaknya. Hingga akhirnya mereka sama-sama duduk di kursi kecil pada balkon kamar itu. Menghirup udara luar dengan menikmati langit biru yang terhampar luas nan elok.
"Mau makan apa?" tawar Alex kemudian. Kasihan juga melihat istrinya sehabis menguras isi perut tentunya sangat butuh asupan makanan yang mengeyangkan.
Resty menatap suaminya itu cukup lama.
"Makan rujak cingur, Yuk?" ajak Resty tiba-tiba.
"Hah? Dimana carinya coba?"
"Kali aja pesan on line ada."
Lalu Resty sibuk sendiri berselancar pada ponselnya demi mencari penjual makanan khas Jawa Timur itu yang mungkin bisa ia dapat dari sana.
"Nggak nyaman lah, Yang. Makan rujak cingur itu lebih nikmat kalo ditempatnya," protes Alex benar adanya.
__ADS_1
"Ayo kita cari. Kira-kira kamu tahu nggak dimana warung penjual rujak cingur?" Lagi-lagi Resty menarik sebelah tangan Alex agar pria itu lekas beranjak dari tempatnya.
"Nggak ada makanan yang lain apa?"
"Tidak ada!"
Alex hanya bisa menatap lurus pada istrinya yang sedang memilih pakaian bersih untuk kemudian mengganti dengan pakaiannya lebih santai.
"Ayuk, Yang...." Resty sampai gemas sendiri melihat suaminya yang masih diam di tempat.
"Sepertinya kamu bukan lagi sakit, tetapi lagi ngidam sih menurutku," terang Alex.
"Ngidam. Ngidam. Tadi kan sudah bilang, perutku begini karena pil nya nggak cocok," semprot Resty.
Alex langsung menghela nafasnya, menghembusnya berulang-ulang. Tetapi pada akhirnya milih nurut kemauan istri.
Kemudian mereka berdua segera memasuki mobilnya. Menyelusuri jalanan ibu kota sambil mencari orang penjual rujak cingur disepanjang jalanan itu, tetapi terus nihil. Hingga pada saat Resty menemukan sebuah apotik ditepi jalan lainnya ia meminta menepi sejenak, Alex pun langsung setuju tanpa banyak bicara lagi.
"Mending periksa, Yang, jangan asal beli pil sembarangan." ucap Alex memperingati sebelum Resty keluar dari mobilnya.
Tetapi wanita itu sepertinya tidak menghiraukan ucapan suaminya. Ia terus saja melangkah masuk ke toko penjual obat itu seperti tak ada beban.
"Mbak, mau nanya nih?" sapa Resty pada seorang pegawai apotik itu sambil memegang satu tablet pil penunda kehamilan itu ditangannya.
"Ini beda pil bentuk kecil sama yang agak besaran apa ya?" tanyanya sungguh sangat penasaran.
"Kalau yang kecil ini untuk diminum rutin setiap hari dan tepat waktu pada jamnya. Nanti kalau sudah nyampe ke pil yang besar, biasanya itu waktunya akan datang bulan," jelas pegawai itu.
"Tunggu, tunggu..."
Resty seperti sedang berpikir serius.
"Mbak, ini aku sudah nyampe ke yang besar, sampe mau habis pula. Tapi kok masih belum mens ya, Mbak?"
Pegawai toko itu tersenyum tipis.
"Bisa jadi Mbak nya hamil," sahutnya yang sudah pasti berhasil membuat mulut Resty menganga tak percaya.
"A--apa, Mbak? Hamil?"
__ADS_1
*