Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 114


__ADS_3

"By, aku pergi dulu," pamit Tommy begitu sudah berpakaian lengkap bersiap pergi ke kantor polisi yang tadi menghubunginya.


"Aku pingin ikut, Mas." Ika menggamit lengan Tommy, merengek sedikit manja agar suaminya itu mau membawanya pergi juga.


"Tidak usah, By. Kamu di rumah saja. Begitu urusan ini selesai aku langsung pulang," ujar Tommy.


Ika mendengus pasrah. Meski ingin ikut, tetapi ia harus belajar menurut pada suaminya itu. Padahal ia juga sangat khawatir tentang keadaan Resty yang mereka berdua masih tidak tahu apa penyebabnya Resty bisa berada di kantor polisi itu.


"Sudah jangan cemberut. Aku pamit ya?" Tommy membelai pipi Ika dengan lembut.


Ika mengangguk pelan, tetapi masih tiada senyum yang terbit darinya.


"Kok masih manyun sih? Entar itunya kita lanjut setelah aku pulang. Kamu tunggu saja, siapkan tenaga buat setelah ini," ucap pria itu begitu gamblang sehingga berhasil membuat Ika menyorot tajam padanya, sekaligus mendaratkan cubitan gemasnya di lengan kekarnya itu.


"Apaan sih, Mas? Nggak usah bahas itu deh." Mendadak pipi Ika merona panas, malu akut pastinya.


Tommy menyeringai tipis. Sekali lagi pria itu mengecup kening Ika, sebelum kemudian beranjak menuju pintu untuk keluar dari kamar.


"Mas, tunggu dulu." Ika mencegahnya lagi, saat mereka sudah berada diambang pintu kamar.


Tommy menurut. Istrinya itu berlari kecil menuju lemari untuk mengambil jaket agar bisa dipakai oleh Tommy.


"Pakai ini," ucapnya sambil memberikan jaket yang diambilnya itu kepada Tommy.


"Nggak perlu, By. Nggak dingin juga. Yang ada tubuhku sekarang panas, kepala pening, gegara harus berhenti tengah jalan. Pokoknya harus lanjut sepulang aku."


Ika menghela nafas panjangnya, sangat gemas dengan suaminya yang rupanya bisa sangat mesum jika sudah terlanjur diberi jatah olehnya walau tak bisa tuntas malam ini.


"Ya ampun, Mas... Kamu nih bahas itu mulu. Iya, setelah ini puas-puasin, kalau perlu sampai pagi sekalian." balas Ika, sok-sokan menantang sampai pagi padahal tadi saja ketakutan melihat benda keramat suaminya.


"Beneran loh, By. Jangan tidur loh, tunggu aku pulang." Tommy langsung tersenyum lebar.


Ika mengangguk ragu, tetapi kemudian ia membantu memakaikan jaket itu pada tubuh Tommy.


"By, agak gerah nih." Pria itu terlihat agak tidak nyaman dengan jaket yang dipakainya. Apalagi ia juga tidak terbiasa mengenakan jaket, walau sedang musim hujan sekalipun.


"Dipake aja, Mas. Ini demi kebaikan kamu juga."


"Duh, senengnya diperhatiin istri cantikku ini." Tommy menoel dagu Ika.


"Sudah cepet berangkat sana. Malah ngegombal terus."

__ADS_1


Kemudian Tommy beranjak turun dari undakan tangga penghubung ke lantai bawah, begitu pun dengan Ika yang masih menemaninya hingga sampai pintu utama rumah itu.


"By, tapi jaket ini milik siapa? Kok tiba-tiba ada di lemari kamu? Jangan bilang ini punya mantan pacar kamu?" Belum apa-apa Tommy sudah cemburu duluan.


Ika merotasi bola matanya agak jengah. "Bukan, Mas. Jaket itu masih baru, belum pernah kepake sama siapapun," jelasnya.


"Buat apa kamu punya jaket cowok begini?"


"Buat kamu."


Tommy tercengang sejenak.


"Jaket itu sudah lama aku belinya. Pinginnya aku kasi ke kamu, tapi nggak pernah jadi. Takut ditolak sama kamu," jelas Ika apa adanya.


Senyum lebar Tommy kembali terbit. Seakan terlupa jika saat ini sedang ditunggu Resty di kantor polisi.


"Duh, jadi nggak pengen pergi, tapi harus pergi. Lagian kenapa sih Resty bisa ada di kantor polisi?" Kemudian Tommy membuka pintu mobilnya sedikit malas.


"Makanya cepat pergi biar tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi ingat, jaketnya jangan sampai dilepas loh, Mas." Ika memperingatkan agak memaksa.


"Atau kalau kamu ingin semua orang tahu hasil karyaku di leher kamu ya lepas aja nggak papa," selorohnya lagi, yang spontan membuat Tommy tercengang seketika.


Ika terkekeh kecil. Sedikit puas telah berhasil menciptakan hasil karyanya di leher suaminya dengan sangat jelas. Hingga kemudian Tommy mulai masuk me mobilnya dan melajukannya untuk keluar dari halaman rumah itu, barulah Ika masuk lagi ke rumah dan segera beranjak ke kamarnya lagi.


Tommy tiba di kantor polisi itu saat jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Rupanya di sana juga ada kedua besannya, Sisil dan Kenzo yang sudah datang lebih awal.


"Mereka didalam," ucap Sisil, saat Tommy sudah berada bersama mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tommy bertanya.


Sisil mendengus nafas panjangnya. Kenzo pun sama.


"Kena razia," jelas Kenzo kemudian.


"Astaga..." Tommy menepuk keningnya sendiri.


Lalu kemudian ikut masuk ke ruangan dimana saat ini Resty dan Alex berada. Begitu wali dari Alex dan Resty sama-sama datang, urusan kedua anak mereka pun lekas selesai, tentunya dengan syarat yang bisa menjamin agar keduanya tak lagi mengulangi perbuatan tak senonoh itu ditempat umum.


Saat ini mereka semua sudah berada di parkiran kantor polisi itu. Sedari keluar dari ruangan tadi, Sisil tak pernah melepas jaweran kecilnya di telinga Alex. Sungguh sangat gemas yang dirasanya saat ini. Setelah cukup lama tidak pernah dipanggil lagi oleh pihak kampus karena ulah badung Alex, sekali dipanggil lagi malah urusannya sama polisi.


"Aduh aduh, Ma... Sakit nih, berhentiin, Ma. Pliis..."

__ADS_1


Alex sampai mengaduh kesakitan akibat Sisil masih terus menjewernya sangat gemas.


"Biarin. Biar tahu rasa!" ucap Sisil.


"Lepasin, Ma. Malu nih dilihatin sama bapak-bapak polisi."


"Harusnya yang lebih malu itu mama. Kamu nih ya... Iiiih.... pingin tak bejek-bejek aja biar jadi perkedel goreng sekalian."


Alex mengusap daun telinganya yang terasa agak panas saat mamanya itu mau melepas jewerannya. Pria itu kemudian hanya terdiam saja, tetapi matanya masih sempat mencuri pandang kepada kekasihnya yang sedari tadi terus mogok bicara padanya saat terkena razia dadakan tadi.


Sisil melangkah mendekat kepada Kenzo dan Tommy yang terlibat perbincangan lebih serius. Sepertinya mereka membahas sesuatu yang amat penting, dari pada kejadian memalukan yang menimpa anak mereka malam ini.


Sedangkan Alex juga ikut merapat kepada Rssty yang masih saja membungkam, bahkan gadis itu sampai melengos membuang muka saat Alex sudah bersejajar disampingnya lagi.


"Sayang, maaf... Sudah bikin kamu bete begini. Aku pun sebenarnya juga bete kenapa harus apes kena razia sialan itu," ujarnya sambil berusaha meraih tangan Resty untuk ia genggam.


Perlahan Resty menarik tangannya itu, lalu melipat kedua tangannya sebatas dada.


"Duh, beneran marah nih!" batin Alex mengumpat sesal karena atas perbuatannya itu mereka bisa berada disini.


Sekali lagi Alex ingin menarik tangan Resty, tetapi segera ditepis oleh gadis itu.


"Jangan sentuh aku. Kamu harus belajar nahan diri. Tunggu dua minggu lagi, setelah kita halal," sergah Resty, sedikit menekan nada bicaranya begitu ada pada kata halal.


"Hah? Pegang tangan kamu aja nggak boleh?" Alex tercengang tak percaya.


Resty mengangguk mantap.


"Duh... bisa ditawar nggak hukumannya? Masa iya cuma pegang tangan juga nggak boleh?"


"Mending kita nggak usah saling ketemu aja sekalian, sampai waktunya kita menikah. Lebih aman." ucap Resty sekenanya.


"Duh, nggak bisa, Sayang. Jangan dong... Iya, iya, aku janji nggak bakal macem-macem lagi. Janji!" Alex sampai mengangkat kedua jarinya membentuk V.


Sedangkan ditempat orangtua mereka saling berdiskusi saat ini, mereka telah memutuskan untuk mencari dalang siapa sebenarnya orang yang telah menyebarkan berita terciduknya Alex dan Resty ini hingga sampai masuk diberita viral atas nama kedua anak pengusaha ternama tertangkap razia karena berbuat asusila dipinggir jalanan ibu kota.


Tommy dan Kenzo sama-sama mengepal tangan erat, emosi keduanya sama-sama tersulut oleh ulah orang tidak bertanggung jawab yang telah menyebarkan rumor itu secepat ini.


Siapakah orang itu?


*

__ADS_1


__ADS_2