
Resty dan Ziyyan masih berada diperjalanan menuju rumah Resty. Selama itu mereka terlibat obrolan kecil yang membuat keduanya bertambah kenal satu sama lain. Gadis itu tidak salah memilih jika Ziyyan memang hanya pantas ia anggap sebagai kakak. Pria itu begitu penyabar dan tentu bisa mengayomi kepada yang lebih muda.
Ziyyan sendiri juga tidak menyesali telah menyepakati rencana perjodohan ini akan berakhir. Ia pun juga telah mempersiapkan kata-kata yang tepat yang akan ia sampaikan kepada papanya Resty. Jika untuk menyampaikan kepada ayahnya sendiri, Ziyyan tidak begitu memusingkan. Sebab Zayn pernah berkata jika ia tidak akan memaksa rencana ini bila Ziyyan tidak berkenan melanjutkannya.
Belum juga mereka sampai di rumah Resty, ponsel gadis itu berdering. Muncul nama Ika yang sedang menghubunginya.
"Hallo, Ka." sapa Resty.
"Resty, kamu dimana?" Terdengar suara Ika yang begitu panik.
"Mm, dijalan." Resty melirik kecil pada Ziyyan yang terlihat anteng memutar kemudinya.
"Papa kamu, Res."
Ika masih bersuara sedikit gemetar, merasa bingung bercampur panik saat tadi tak sengaja mendapati Tommy jatuh pingsan di loby hotel saat ia tengah mengantar teman lamanya yang menginap disana.
"Papa? Papaku kenapa, Ka?" Resty ikut panik.
Sekilas Ziyyan menoleh kepada Resty. Ia juga merasa risau saat mendengar Resty panik menanyakan perihal papanya.
"Papa kamu aku bawa ke rumah sakit. Tadi aku ketemu papa kamu di hotel."
"Kamu ngapain ketemu papa aku di hotel?" Suara Resty mulai meninggi. Bukan berniat membentak, lebih merasa kaget saja saat mendengar kata hotel.
Sampai-sampai Ika yang mendengarnya sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga, akibat suara Resty yang memekik bagai mau mencekik.
"His! Dengerin aku dulu kenapa? Jangan main tuduh dulu sama teman sendiri? Sebel!" Ika ikutan sewot.
Resty tak menyahut apa-apa.
"Om Tommy kenapa, Res?" tanya Ziyyan penasaran.
Resty hanya menggeleng.
"Resty, cepetan kamu ke rumah sakit Husada. Aku tunggu, nggak pake lama." ucap Ika, sebelum akhirnya sambungan telpon itu terputus.
"Kak," suara Resty sudah mulai gemetar.
Ziyyan menoleh lagi. Raut gadis itu kentara sangat gelisah. Membuat Ziyyan ikut merasa cemas akan apa yang sebenarnya terjadi dengannya sekarang.
Pria itu segera menepikan mobilnya, begitu melihat Resty mulai menitikkan air mata.
"Kenapa menangis?" tanyanya khawatir.
"Papa, Kak." sahutnya, masih dengan derai air mata yang sudah tak terbendung.
"Apa yang terjadi sama om Tommy, Res?"
Resty bergeming. Derai air matanya semakin deras mengalir, membuat pipi itu benar-benar basah olehnya.
Ziyyan langsung membawa Resty ke dalam pelukannya. Merasa kasihan dengan kondisi gadis piatu yang selama ini hanya hidup berdua dengan papanya.
__ADS_1
Tangan kokoh itu mengusap lembut kepala Resty yang bersandar didada bidangnya. Mencoba memberinya rasa tenang dan ketegaran dengan apa yang terjadi dengannya.
"Sekarang om Tommy dimana? Ayo kita susul."
Ziyyan melepas pelukannya.
"Rumah sakit Husada, Kak." sahutnya, sambil mengusap bersih pipinya yang telah basah.
"Oke, kita kesana. Kamu tenang ya, jangan menangis begitu didepan om Tommy. Biar beliau tidak semakin drop lihat kamu seperti ini."
Resty mengangguk kecil. Sudah seperti seorang adik yang menurut saja apa kata kakaknya. Walau sebenarnya kepanikan itu tidak bisa di kesampingkan, tetapi ada benarnya juga ucapan Ziyyan.
Semoga saja tidak terjadi hal yang fatal dengan Tommy. Doa harapan itu yang selalu tersemat dihati Resty dan Ziyyan, saat mereka kembali melajukan perjalanan, memutar arah menuju rumah sakit Husada.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit yang dituju. Resty langsung turun dari mobil, saat Ziyyan menghentikannya tepat di depan pintu utama masuk rumah sakit.
Sementara Ziyyan memarkirkan mobilnya di fasilitas parkiran yang ada di rumah sakit itu. Dan Resty langsung menuju kamar tempat papanya dirawat, setelah tadi Ika memberinya nomor kamar tersebut.
Resty langsung masuk begitu saja, tanpa mengetuk terlebih dahulu, begitu menemukan nomor kamar yang dicarinya.
Terlihat papanya yang masih tidak sadarkan diri terbaring diatas brangkar, dengan selang infus yang terpasang ditangannya.
"Papa..." Resty berhambur mendekat kepada papanya.
Ika menoleh tertegun. Bukan merasa bersalah karena melakukan kesalahan, lebih ke rasa gugup takut Resty menyadari jika ia memiliki rasa suka kepada papanya.
Memang Aneh, tetapi Ika tak menampik dengan perasaannya yang semakin jelas saat melihat dengan mata kepala sendiri saat Tommy pingsan tadi. Rasa takut kehilangan pria yang tak lagi muda itu, membuatnya keceplosan mengaku sebagai istrinya saat tadi orang-orang ditempat kejadian menanyakan hubungannya dengan Tommy.
"Makasih, Ka. Sudah bantu papa. Beruntungnya ketemu kamu." ucap Resty pada Ika.
Dan Ika hanya mengulas senyum kecilnya kepada Resty.
"Memangnya papa kamu kalau kemana-mana nggak pernah pakai sopir?" tanya Ika, karena memang saat kejadian tadi Tommy hanya seorang diri.
"Kadang-kadang sih. Tapi kalau tadi pagi memang nggak sama pak Benny. Papa tadi nganter aku ke kampus. Tadi pagi masih terlihat baik-baik saja." Resty menatap sedih pada papanya.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Ika yang beranjak membukakan pintu itu.
Terdapat seorang pria mapan berdiri dibalik pintu itu. Dan langsung masuk begitu saja, saat pintu itu sudah terbuka lebar.
Ika hanya bisa menatap aneh pada pria asing yang terlihat sudah akrab dengan Resty. Mungkin hanya kerabat. Begitulah Ika menepis kecurigaannya.
"Gimana om Tommy, Res?" tanya Ziyyan.
"Seperti yang kakak lihat." Resty menyahut lemah.
Ziyyan menghela nafasnya yang sempat tak beraturan, akibat ikut merasa panik dengan kondisi sahabat ayahnya itu.
"Mm, Resty." sapa Ika.
Resty dan Ziyyan sama-sama menoleh menatap Ika yang tengah menggamit tasnya.
__ADS_1
"Aku pamit pulang dulu ya?" serunya.
Merasa sudah ada dua orang yang akan menjaga Tommy, maka sebaiknya ia pamit pulang. Walau sebenarnya ia tak berat hati untuk ikut menjaga Tommy, tetapi ia harus bisa menahan diri.
"Terimakasih ya, Ka." ucap Resty lagi.
Ika mengangguk kecil.
Menatap sekilas pada papa Resty yang masih terlihat sangat pulas, mungkin efek obat yang masuk melalui cairan infusnya.
Tangannya tergerak tanpa permisi menyentuh selimut dari tubuh Tommy dan merapikannya hingga sebatas dada Tommy. Membuat Resty dan Ziyyan sama-sama tercengang melihat aksi Ika yang tentu menimbulkan tanda tanya besar dihatinya.
"Aku pulang, Res." pamitnya lagi.
"E-e... Iya, Ka." Resty terkesiap.
Setelah itu akhirnya Ika keluar dari ruangan itu. Dan rupanya Ziyyan pergi menyusulnya.
"Hei, Ka!" panggil Ziyyan.
Ika menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kepada pria yang tadi juga berada dikamar rawat Tommy.
"Sorry, aku Ziyyan." Pria itu mengulurkan tangannya, yang seketika langsung disambut oleh Ika.
Dan mereka berdua pun mulai memperkenalkan diri.
"Aku boleh minta tolong nggak?" tanya Ziyyan.
"Minta tolong soal apa?"
"Tolong bantu Resty jaga papanya. Dia pasti sendiri dan butuh teman." tutur Ziyyan.
"Loh, bukannya kamu juga kerabatnya?"
Ziyyan menggeleng dengan senyum yang mengembang.
"Aku kira kamu--"
"Tidak perlu tahu aku ini siapa. Aku cuma minta tolong itu. Bisa kan?"
Ika hanya mengangguk menurut. Dalam hati tersenyum riang bagai menemukan peluang besar untuk bisa merawat dan menjaga pria idamannya.
Ziyyan meminta begitu bukan karena tanpa alasan. Jika dirinya terlihat selalu ada saat nanti Tommy tersadar, sudah pasti Tommy akan mengira antara dirinya dan Resty akan berlanjut ke jenjang pertunangan.
Malam ini saja terpaksa urung berterus terang tentang apa yang ingin dikatakan kepada Tommy. Dan mungkin masih akan menunggu hingga nanti Tommy benar-benar stabil.
Ika kembali beranjak, pun juga dengan Ziyyan. Pria itu kembali masuk ke dalam kamar Tommy dirawat, untuk ikut berpamitan, walau sebenarnya tak tega meninggalkan Resty seorang diri.
Beruntungnya Resty sudah menghubungi mak Asna agar ikut menemaninya menjaga disini. Membuat Ziyyan merasa lega saat mendengarnya. Dan terpaksa Ziyyan masih berdiam diri sejenak, hingga kemudian mak Asna sudah tiba dan siap menemani Resty malam ini.
*
__ADS_1