
Seusai melakukan aktifitas bercocok tanam ditempat yang memicu sensasi baru bagi pasangan pengatin baru itu, mereka pun akhirnya menuntaskannya dengan mandi wajib bersama.
Merasa sudah selesai dengan kegiatan mandinya, kemudian mereka melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, menunaikan empat rokaatnya dengan berjamaah didalam kamarnya.
Doa kebaikan mereka panjatkan bersama sebelum benar-benar beranjak dari tempat mereka curhat dengan Tuhan. Selesai Resty melepas mukenahnya, wanita itu langsung beranjak ke meja rias untuk merapihkan rambutnya. Disusul kemudian Alex turut berdiri dibelakangnya.
"Yang tadi makasih ya?" ucap Alex sambil membubuhi kecupan sayang dipucuk kepala Resty.
Resty hanya menatap pantulan wajah mereka dari cermin, menyunggingkan senyum hangatnya kepada pria yang berhasil membuatnya tidak bisa berkata tidak. Jujur saja, meski masih terasa ngilunya saat ninuninu, tetapi nikmatnya lebih aduhai. Apalagi tipe suaminya itu termasuk orang yang tidak seenaknya sendiri dalam bercinta, ia lebih mengutamakan kenyamanan dan kepuasan Resty dulu sebelum kemudian memuaskan diri sendiri.
"Sini aku bantu keringkan?" Alex mengambil hairdryer dari laci nakas, lalu membantu Resty untuk mengeringkan rambut panjangnya yang sedikit basah.
"Sayang, aku lupa nggak bawa foundation," seru Resty tiba-tiba.
"Nggak usah make up kamu tetap cantik kok," balas Alex yang masih belum paham maksud Resty.
"Bukan buat bedak Sayang..." Resty sedikit menekan pada kalimat sayang yang ia ucapkan.
"Eh, salah ya?" Alex nyengir kuda. Tetapi pergerakan tangannya terus lihai menyisiri rambut Resty dengan jari-jarinya yang perlahan mulai kering.
"Gimana nanti kalau aku ketemu mama Sisil trus ini nggak ketutup. Malu Sayang..."
Resty menunjuk lehernya sendiri, dimana disitu masih kentara sekali bekas tanda kepemilikan yang dibuat Alex semalam.
Alex meletakkan haidryer itu ke atas nakas. Lalu menatap wajah Resty dari pantulan kaca cermin itu cukup lama. Pria itu mulai berpikir sejenak, membayangkan andai posisi itu ada pada dirinya dan sedang berada di rumah mertua, pasti akan malu juga.
"Kalo dipakein bedak aja emang nggak bisa?" Alex mulai jongkok, memutar tubuh Resty agar saling berhadapan dengannya.
"Bisa, cuma masih kelihatan. Hasilnya nggak maksimal kayak kalau pake foundation," jelas Resty, mulai galau sendiri, tak kuat menanggung malu jika harus kepergok mertua banyak tanda merah itu di lehernya. Padahal ketahuan pun tidak masalah, toh mereka sudah pasangan halal kan?
"Iya deh maaf.." Alex meraih tangan Resty lalu mengecup tekapak tangan itu cukup lama.
"Lain kali aku nggak buat disitu. Tapi disini, disini, disini, disini, boleh kan?" Tunjuk Alex pada area tubuh milik istrinya yang menjadi tempat favoritnya. Bahkan jari telunjuknya itu sengaja menggelitik, membuat Resty bergeliat kegelian juga dengan tawa kecilnya yang keluar.
"Duh, pingin aku gemesin lagi deh." Alex mengecup sekilas paha bening Resty, karena memang saat ini wanita itu hanya mengenakan hot pants dengan atasan kaos milik Alex.
"Eits, jangan mulai deh!" Resty menyingkirkan tangan Alex dari pahanya.
__ADS_1
"Jangan mulai deh..." Alex menirukan lagi perkataan Resty dengan mulut mencebik.
"Perasaan barusan ada yang bilang, Aah... Aah... nikmat sayang, teruskan sayang, Aah.... Aah..."
Ptakk!
Satu jentikan tangan Resty mendarat di bibir Alex yang suka ngomong tanpa filter.
"Fitnah! Aku nggak pernah ngomong kayak gitu."
Tetapi Alex hanya menyeringai dan mengulang lagi suara dessahan yang kadang Resty suka kelepasan mengeluarkannya.
"Aaaaah.... Alex! Diem nggak!"
Bukan Alex namanya kalau ia langsung berhenti menjaili istrinya. Padahal wajah Resty saat ini kentara sedang memerah, entah itu marah atau sedang merona tak kuat menahan malu begitu diingatkan suara lacknat yang sangat memalukan bagi Resty.
Resty mulai beranjak. Memasukkan semua perlengkapan make up nya ke dalam tas kecil miliknya dengan tergesa-gesa. Membuat Alex seketika terjengkit kaget.
"Duh, marah beneran dia. Mampus!" rutuknya sendiri.
Resty tak menyahut. Ia malah beranjak lagi ke kamar mandi mengambil celana jeans miliknya dan lekas mengenakannya kembali.
"Kamu marah?" Alex mencekal lengan Resty.
Sungguh ekspresi wajah pria itu sangatlah gelisah. Ia tidak menyangka saja jika Resty akan marah dengan suatu hal yang sudah biasa untuk suami istri seperti mereka.
"Sayang maaf..."
Wajah Alex benar-benar panik sendiri. Yang awalnya Resty sedikit marah juga kepada suaminya itu, mendadak hilang setelah mendapati ekspresi suaminya yang menggemaskan menurutnya.
Resiko memiliki suami mantan ketua kang jail di kampus, sudah pasti dirinya pun akan sering dijaili juga saat suaminya itu lagi kumat resenya.
"Aku lapar," seru Resty kemudian.
Mendadak sudut bibir Alex tertarik membentuk senyuman riang. Rupanya istrinya itu tidak sedang marah. Pria itu pun akhirnya bisa bernafas lega.
"Ayo turun. Kita cari makanan dibawah." Alex segera menarik tangan Resty dalam genggamannya.
__ADS_1
"Tapi tunggu, aku mau pake bedak dulu." Resty belok lagi ke arah meja rias. Bukan wajahnya yang diolesi bedak, melainkan leher yang penuh tanda merah itu yang ia polesi hingga akhirnya menjadi sedikit samar.
"Sudah," ucap Resty sambil mulai berdiri lagi.
"Duh," Tetiba Resty mengaduh pelan saat tiba-tiba saja kepalanya terasa sedikit berputar.
"Kenapa, Yang?" Alex yang selesai melepas sarungnya mengganti dengan celana rumahan, tentu seketika panik melihat Resty yang memegangi kepalanya.
Resty hanya menggeleng begitu merasa sudah membaik lagi.
"Beneran nggak papa?" tanyanya lagi memastikan. Dan Resty mengangguk meyakinkan.
Kemudian mereka berdua akhirnya turun ke lantai bawah menuju dapur. Saat berada di ruang makan itu mereka berpapasan dengan Sisil yang baru pulang.
"Kalian kok nggak ngabari mama kalo mau kesini?"
"Tadi sekalian pulang dari kampus, Ma," terang Alex.
Kemudian mereka berdua bergantian menyalimi tangan Sisil, tak lupa wanita itu juga membubuhi ciuman sayang di pipi kedua anaknya itu.
"Untung mama lekas pulang. Kalau gitu mama akan telpon papamu biar cepat pulang juga."
Alex dan Resty hanya mengangguk setuju. Sisil pun hanya tersenyum sangat senang melihat anak dan menantunya itu terlihat sangat harmonis. Tetapi mendadak berubah heran setelah mencermati wajah Resty yang sedikit pucat.
"Kamu nggak papa kan, Res? Mama perhatikan wajahmu agak pucat."
Resty hanya menggeleng kecil. "Aku nggak papa, Ma. Wajahku kelihatan pucat mungkin karena nggak make up, nggak pake lipstik juga," jelasnya.
Sisil hanya manggut-manggut walau sebenarnya masih sedikit curiga.
"Ya sudah mama ke kamar dulu ya? Kalian malam ini menginap di sini kan?"
Alex dan Resty hanya saling memandang. Mereka belum punya jawaban pas untuk menjawabnya, walau sejujurnya Alex sangatlah ingin bermalam di rumahnya sendiri walau hanya sehari.
Pernikahan Alex dan Resty memang masih belum ada kesepakatan mereka akan tinggal dimana setelahnya. Kedua orangtua mereka menyerahkan keputusan itu kepada kedua anaknya. Senyamannya mau tinggal dimana saja. Asal tetap terus rukun, bahagia dan setia sampai mati, orangtua sudah cukup senang melihatnya.
*
__ADS_1