
Ikrar pernikahan itu sukses diucapkan dengan lantang oleh Alex. Dengan sekali tarikan nafas pria itu dapat mengucapkan janji sucinya itu dengan khidmat. Perasaan gugup yang awalnya meliputi seluruh hatinya, seketika sirna setelah mendapati senyuman hangat dari seluruh keluarga yang turut hadir demi menjadi saksi dari acara pernikahan ini.
Semua kerabat dekat yang sengaja diundang dalam pernikahan mendadak ini, turut mengamini dengan khusyuk segala doa kebaikan yang dibacakan oleh seorang ustadz yang juga hadir di sana. Apalagi pasangan pengantin baru itu, mereka begitu khusyuk sembari menyelipkan beberapa doa kebaikan yang mereka pinta dalam hati demi kelanggengan hubungan mereka.
Merasa sangat bersyukur karena acara pernikahan ini dapat berjalan dengan lancar. Walau terkesan sangat sederhana karena dilakukan didalam rumah Resty, tetapi itu memang disengaja oleh Tommy dan Kenzo. Sebuah intrik yang sengaja diatur oleh Tommy dan Kenzo, membuat pernikahan ini terlaksana dengan sangat sederhana bagi seorang pengusaha seperti mereka.
Semua kerabat yang hadir sudah bisa menikmati hidangan yang disediakan ketika acara itu telah benar-benar usai. Ziyyan dan Mayra sengaja mendekat lebih dulu kepada pasangan pengantin baru itu.
"Ehem! Selamat nih. Btw, aku berasa kesalip tanpa pamit," seloroh Ziyyan kepada Alex dan Resty.
Alex dan Resty hanya sama-sama tersenyum. Sungguh masih tidak percaya jika saat ini mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
"Kak Ziyyan cepet nyusul makanya. Emang betah nunggu sampai Mayra lulus?" Resty ikut menimpali dengan menggoda Ziyyan agar segera ikutan nikah secara resmi seperti dirinya.
"Gimana, Hubby?" Ziyyan malah bertanya balik kepada Mayra, yang mana gadis itu sedari tadi hanya tertunduk malu lengkap dengan rona pipinya yang memerah.
Mendapati tiada respon apa-apa dari Mayra, Ziyyan pun hanya bisa tersenyum hangat sembari merangkul mesra gadis itu.
"Untuk gadis sholihah seperti Mayra, aku siap dan sabar menunggu sampai Hubbyku Mayra lulus sekolah." ucap Zayn, cukup mengerti bagaimana perasaan Mayra saat ini.
Gadis itu memang sedang merasa gelisah, takut-takut Ziyyan akan tergiur meresmikan pernikahannya secepat mungkin. Bukannya tidak siap atau tidak mencintai Ziyyan, tetapi Mayra hanya ingin melanjutkan sekolahnya hingga lulus tanpa ada gangguan apa-apa. Sesederhana itu keinginannya saat ini.
"Iya, aku percaya kalau kak Ziyyan memang bisa sabar," ucap Resty lagi.
"Nggak seperti yang disebelahmu itu kan?" Ziyyan langsung mengkode kepada Alex.
Dan Resty hanya bisa terkekeh kecil, tak bisa menanggapi apa-apa lagi, karena nyatanya memang begitu. Sedangkan Alex tetap terlihat santai walau dirinya menjadi bahan candaan saat ini. Pria itu terlalu sibuk mencermati dari kejauhan menu makanan yang tersaji di meja, sebab cacing perutnya yang memang sedang meronta menuntut minta diisi.
"Woi, bengong aja! Lihatin apaan sih?" Ziyyan sampai menepuk keras bahu Alex hingga pria itu seketika terjengkit kaget.
"Laper, Bang," akunya tanpa sungkan.
"Ya makan aja sana,"
__ADS_1
Alex bergeming. Tetapi Resty menatap iba pada kekasih halalnya itu. Sebenarnya gadis itu sangatlah ingin memulai kewajiban melayani suaminya itu saat ini, contohnya dengan mengambilkannya makanan. Tetapi dengan gaun kebaya yang ia pakai saat ini, membuat gadis itu malas bergerak efek nggak betah memakainya.
"Oh, ya.. Kita pamit pulang dulu, Lex, Res," seru Ziyyan.
"Keburu amat?" Alex bertanya.
"Karena sudah saatnya untuk mengantar Mayra ke asrama, mumpung belum telat," jelas Ziyyan.
"Duh, pasti kesiksa banget kalau aku jadi bang Ziyyan. Emang benar-benar tipe lelaki kuat nahan godaan." Batin Alex mulai bermonolog. Berkaca dengan dirinya sendiri, tentu jauh seratus delapan puluh derajat dirinya dengan Ziyyan yang sejenis makhluk penyabar dengan godaan iman.
"Baiklah, hati-hati di jalan, Bang."
"Mayra, lain kali kita keluar bareng lagi yuk?" usul Resty, merasa ingin lebih kenal dengan gadis itu setelah pernah keluar bersama kemarin.
"In sya Allah," sahutnya kalem. Lalu kemudian mereka berdua beranjak dari tempat itu.
Satu persatu kerabat yang datang bergantian berpamitan pulang. Juga dengan rombongan keluarga Alex yang ikutan pamit pulang.
"Bang Alex, baju gantinya tadi sudah aku titipin sama ibu itu," seru Ziana sambil menunjuk pada bibi Siti yang juga berada tak jauh dari tempat mereka.
"Resty, makan dulu yuk?" ajak Ika tiba-tiba. Sedangkan ditangannya sudah membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya dengan porsi yang lebih banyak sedikit, tetapi adanya dua sendok di piring itu membuat Resty paham apa tujuannya setelah ini.
"Iya, setelah ini," jawab Resty.
"Kamu Lex, nggak makan?" Ika menawari Alex.
"Aku-- setelah ini juga," balasnya, merasa tak enak sendiri jika harus makan sendiri walau sebenarnya perutnya sudah semakin meronta-ronta.
"Oke lah. Aku ke sana dulu ya?" pamit Ika akhirnya.
Alex dan Resty sama-sama melihat kemana Ika pergi. Tiba-tiba menjadi senyum-senyum sendiri, begitu menyaksikan Tommy dan Ika makan bersama dalam satu piring yang sama.
"Mereka so sweet sekali ya, Yang?" ucap Alex kepada Resty.
__ADS_1
Resty menimpalinya dengan senyum termanisnya.
"Kamu tadi juga lapar kan?"
Alex mengangguk dengan wajah dibuat sok melas. Pria itu sebelum berangkat tadi memang hanya terisi segelas air putih saja di perutnya. Efek gugup luar biasa sebelum menjalani akad nikah. Setelah rasa gugupnya itu hilang sudah wajar jika pria itu merasa kelaparan, apalagi beberapa menit lagi sudah waktunya makan siang.
"Aku ambilkan. Kamu mau aku ambilkan lauk apa?" Resty bertanya lagi.
"Sudah nggak perlu, Yang. Aku akan ambil sendiri," tolaknya halus.
"Tapi--"
Alex menggeleng kepala, pertanda tolong setuju lah.
"Aku perhatikan kamu kayaknya kurang nyaman sama pakaianmu." Sejujurnya sedari tadi pria itu melihat gerak gerik istrinya yang tidak tenang.
"Iya nih, pingin cepat ganti, gerah banget!"
"Ya udah, kamu cepetan ganti sana. Aku pun juga mau ganti baju setelah ini."
Resty langsung beranjak ke kamarnya. Sedangkan Alex mulai beranjak ke dekat meja makan untuk mengambil makanan yang tersedia hari ini.
Tak disangka rupanya pria itu ikut menyusul Resty ke kamar, setelah tiada berminat satu pun pilihan menu yang tersisa di sana.
Ceklek.
Pintu kamar Resty terbuka. Alex langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu sebelumnya. Sedangkan Resty sendiri saat ini sedang fokus dengan menatapi pantulan diri di cermin dengan wajah cemberutnya. Sedikit mengumpat sesal kenapa tidak memanggil mak Asnah saja barusan biar bisa membantunya melepas baju pengantinnya.
"Sini aku bantu lepas?" Tetiba Alex sudah muncul dari belakang Resty.
Yang membuatnya resah tatapan pria itu tak berpindah ke yang lain, begitu bahu mulus itu mulai terekspos sedikit.
Cup.
__ADS_1
*
Duuuh... Lanjutannya gimana ya kira-kira?