Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 52


__ADS_3

Resty pergi ke sebuah restoran yang disebut Ziyyan dengan menaiki taksi. Padahal seandainya ia mau bilang kepada Ziyyan kalau ia sedang tidak membawa mobil sendiri sudah pasti pria itu akan mau menjemputnya langsung ke kampus.


Antara merasa gugup dan tidak bersemangat bagai bercampur aduk menjadi satu. Gugup karena memang baru pertama ini akan bertemu langsung dengan pria pilihan papanya. Tidak semangat karena suasana hatinya sedang galau, masih kepikiran Alex yang tidak masuk kuliah hari ini.


Hingga sampai Resty sudah sampai di restoran itu, ia pun segera masuk mencari ciri-ciri pria yang Ziyyan sebutkan tadi. Pria yang sedang mengenakan kemeja warna navy dan sambil memainkan hape, juga hanya ada air mineral di mejanya, rupanya tengah duduk tepat dipinggir jendela. Begitu meyakini jika pria itu adalah yang dicarinya, maka Resty pun menghampirinya.


Gadis itu sengaja memelankan langkahnya agar bisa lebih seksama mencuri pandang pada Ziyyan yang tengah fokus memainkan ponselnya. Terkadang pria itu tersenyum-senyum sendiri, seperti sangat seru dengan sesuatu yang dilihatnya pada gawai yang dipegangnya itu. Hingga sama sekali tiada menyadari kalau Resty sudah berada tepat dibelakangnya.


Sepintas Resty melirik pada apa yang membuat pria itu cekikikan sendiri. Meski itu perbuatan yang tidak sopan, tetapi ia terlanjur penasaran. Rupanya Ziyyan tengah saling berbalas chat tapi entah sama siapa. Karena belum sempat Resty membaca nama yang sedang chat-an dengannya itu, Ziyyan keburu menyadari keberadaannya.


"Eh, kamu-- Resty?"


Ziyyan spontan beranjak berdiri, sambil mencermati wajah Resty.


Resty mengangguk kecil. Gadis itu langsung dibuat gugup ditatap seperti itu oleh Ziyyan. Padahal Ziyyan menatapnya begitu semata ingin memastikan agar tidak salah orang. Meski sudah tahu foto Resty melalui hapenya, tetapi bisa saja wujud aslinya ada perbedaan. Kemajuan ponsel yang semakin canggih bisa menipu banyak mata. Beruntungnya wujud gadis didepannya itu benar-benar bidadari cantik, asli tanpa filter.


"Aduh sorry, sampe lupa nggak nyuruh duduk." Ziyyan menarik kursi didepannya agar Resty duduk disana.


"Silahkan," ucapnya kalem.


"Makasih.." Resty membalas sambil menganggukkan kepalanya.


Lalu mereka pun duduk saling berhadapan. Sejenak mereka hanya saling diam. Resty sendiri tidak munafik jika pria yang akan dijodohkan dengannya itu adalah pria mapan dan menawan. Tampilannya yang sopan juga karakternya yang sudah dewasa itu seakan menambah nilai plus. Tetapi tetap saja tak membuat Resty terkesima dan berdebar-debar.


Tak lama setelah itu seorang waiters datang untuk menawarkan menu di restoran itu.


"Kamu mau makan apa?" tanya Ziyyan pada Resty yang kentara terlihat tak tenang dimatanya.


"Aku samain aja sama pesenan kamu." sahutnya, seakan buntu untuk memikirkan apa yang ingin dimakan. Jalan aman disamakan. Entah itu nanti cocok atau tidak dengan lidahnya sudah resiko sendiri.


"Serius? Kalau nanti nggak suka gimana?"


Resty hanya bergeming. Seakan tak mendengar pertanyaan Ziyyan sehingga abai untuk menjawabnya.


Ziyyan langsung paham dengan apa yang tengah dirasa gadis didepannya itu. Dijodohkan oleh orangtua itu memang ada senang dan sedihnya. Senang karena mungkin pilihan orangtuanya cocok. Sedih jika sedang memiliki hati untuk orang lain.


Dan sorot mata Resty menunjukkan kesedihan. Entah saat ini gadis itu sudah memiliki kekasih, atau memang merasa tak cocok saja dengannya, Ziyyan harus membicarakan hal ini. Agar nanti tidak akan beresiko melukai hati masing-masing.


Akhirnya waiters itu pergi setelah Ziyyan menyamakan menu milik Resty dengannya. Sekilas Ziyyan mencuri pandang lagi pada Resty. Raga gadis itu memang didepannya, tetapi tidak dengan jiwanya.


"Sebenarnya kita pernah bertemu, tapi itu lama sekali." Ziyyan membuka obrolannya.


"Iya, sekitar tujuh tahun yang lalu kayaknya."


"Pas itu kamu masih kecil, baru masuk SMP ya?"


Resty mengangguk saja.


"Nggak nyangka gedenya tambah cantik begini."


Seketika Resty mendongakkan wajahnya, memberanikan diri saling beradu tatap dengan Ziyyan.


"Nih orang langsung modus aja." batin Resty bersuara.

__ADS_1


"Kamu sudah punya pacar?"


Ziyyan tak mau basa basi. Ini perkara hati dan masa depannya. Tentu ia harus membicarakan ini diawal. Saling jujur adalah pondasi kokoh dalam sebuah ikatan.


Resty semakin melekatkan pandangan matanya. Semakin merasa entah dengan apa yang dimaksud dari pertanyaan Ziyyan, padahal sudah jelas saat ini mereka saling dijodohkan.


"Aku mau kita saling jujur. Sebelum memutuskan untuk mau melanjutkan rencana orangtua kita ini apa tidak."


"Kamu sendiri apa sudah punya pacar?" Resty balik bertanya.


"Tidak." Ziyyan langsung menjawab yakin.


"Tapi apa kamu ada seseorang yang diam-diam kamu suka? Contohnya-- Calon pacar."


Ziyyan menarik sudut bibirnya tipis.


"Aku nggak mau jawab. Kamu saja belum jawab pertanyaanku. Kamu punya pacar?"


Resty hanya menggeleng.


"Tapi kamu sedang tidak naksir orang kan?"


Resty memilih diam. Mulutnya terlalu kelu untuk mengaku mengenai hatinya yang memang dimiliki Alex seorang.


Ziyyan menjeda sebentar setelah waiters itu datang lagi sambil membawa makanan pesanannya. Setelah semua tersaji rapi, sang waiters pun segera pergi.


"Mari kita makan dulu." ajak Ziyyan, sudah siap memegang garpu dan pisau kecil untuk memotok steak panggang didepannya.


"Kamu setuju dengan perjodohan ini?" Seketika Resty bertanya.


"Aku hanya mengikuti alur. Tujuan bertemu kamu sekarang agar bisa saling kenal. Tetapi jika endingnya rupanya nggak ada kecocokan, mari kita bicarakan pada orangtua kita. Ini masalah hati, nggak harus selalu jadi korban selama kita mau memperjuangkan. Paham kan maksudku apa?"


"Memangnya kamu nggak sakit hati kalau aku nolak perjodohan ini?"


Ziyyan hanya mengulas senyum tipisnya. Mana mungkin ia akan merasa sakit hati ditolak Resty, sedang hatinya itu tidak merasakan getaran apa-apa kepada Resty.


"Ayo kita bicarakan ini sama orangtua kita." ucap Ziyyan, masih ambigu bagi Resty.


"Bicara?"


"Mengenai ini. Bukannya kamu keberatan sama perjodohan ini?" Ziyyan berkata tepat sasaran.


"Tunggu, tunggu." Resty mengangkat tangannya agar Ziyyan mau mendengarkan apa yang ingin ia katakan.


"Oke, aku mau ngomong jujur. Sebenarnya aku menyukai orang lain, dan memang ingin perjodohan ini batal. Tapi disini kenapa sepertinya aku yang dipojokkan? Seakan-akan hanya aku yang memiliki masalah keberatan karena menyukai orang lain."


"Aku tidak bermaksud mau memojokkanmu. Aku hanya ingin kita saling jujur dan ngomong kalau salah satu dari kita keberatan dengan ini."


"Memangnya kamu sendiri tidak keberatan dijodohkan sama aku?"


"Awalnya tidak. Tapi setelah lihat kamu menolak begini masa mau aku lanjutkan?"


"Fix! Berarti dia memang nggak menyukaiku." batin Resty bersorak senang.

__ADS_1


Karena jika Ziyyan menyukainya, tentu tak semudah itu Ziyyan akan mundur teratur dari perjodohan ini.


"Ayo kita makan." ajak Ziyyan kedua kalinya.


Resty pun hanya bisa mengangguk. Sudut hati kecilnya merasa lega karena bisa terlepas dari perjodohan yang sejatinya ia sendiri belum siap. Akan tetapi bagaimana caranya nanti ia akan membicarakan ini kepada papanya. Ia sangat takut keputusan ini akan sangat melukai perasaannya nanti.


"Kamu kesini naik apa?" tanya Ziyyan disela-sela menyantap makanannya.


"Tadi naik taksi."


"Aku antar pulang ya?"


Resty tak langsung menjawab.


"Sekalian aku bantu ngomong sama om Tommy."


Perlahan Resty mengangguk. Semoga saja nanti papanya itu akan menerima mengenai keputusan ini. Dan tetap terjalin ikatan baik dengan sahabat papanya itu walau rencana ini urung diwujudkan.


"Maaf ya..." ucap Resty sepenuh hati.


Ziyyan mengulas senyum termanisnya. "Nggak papa. Santai aja."


"Beneran?"


"Iya."


"Setelah ini nggak ada dendam kan?"


Ziyyan malah terkekeh mendengar pertanyaan Resty.


"Ya kalau kamu nggak keberatan aku anggap adik, ngapain harus dendam?"


"Adik?"


Ziyyan hanya mengangguk.


Dan Resty hanya bisa mengulas senyum kecilnya, sebagai jawaban ia tidak keberatan dianggap sebagai adik oleh Ziyyan.


"Oh ya, kamu sudah semester berapa?" Ziyyan membuka obrolan lainnya bersama Resty.


"Masih semester tiga."


"Wah, mending fokus kuliah dulu deh. Sepertinya tepat sekali kamu menolak perjodohan ini."


"Kakak sendiri ada rencana nikah secepatnya nggak? Secara tadi Kakak awalnya setuju tapi gagal karena aku batalin."


"Aku sih sedikasihnya saja. Kalau Tuhan lekas mempertemukanku dengan jodohku itu, ya mending langsung nikah. Pacarannya bisa sambung setelah nikah. Hehe..."


"Semoga Kakak lekas bertemu sama jodohnya. Semoga dapat yang terbaik dan cantik."


"Aamiin....." Keduanya sama sama berseru amin.


Mereka berdua kembali fokus menikmati makanan didepannya. Dan setelah itu selesai akhirnya Ziyyan dan Resty segera keluar dari restoran itu dan segera melanjutkan perjalanannya untuk mengantar Resty pulang.

__ADS_1


*


__ADS_2