Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 39


__ADS_3

Alex masih kesulitan merangkai kata-kata agar tidak terkesan seperti yang dinyatakan Ika yang pertama. Tetapi mustahil juga ia menceritakan bagaimana awal mula hubungannya dengan Donita, sebab itu sudah menjadi sejarah hidupnya yang harus terbakar hangus dari kehidupan.


Drrrt.... Drrrrt....


"Handphone kamu bunyi, Lex." tunjuk Resty, saat tak kunjung mendapatkan penjelasan apa-apa dari Alex.


Pria itu meraih ponselnya. Sebuah nama yang tertera dari panggilan tersebut membuatnya kembali berbinar seketika.


"Hai, Sayang.." sapa Sisil, begitu Alex menerima panggilan videonya.


"Hai juga, Ma. Papa dimana?" balasnya, seakan sejenak terlupa dengan masalahnya dengan Resty, berganti dengan saling menyapa kangen, padahal baru semalam berpisah.


Sedari kecil Alex sudah sering ditinggal pergi bisnis oleh kedua orangtuanya. Tetapi ditinggal kali ini tentu lah berbeda, membuat perasaan sedikit mellow jadinya.


"Papa lagi kerja."


Kamera dari mama Alex mengarah kepada seorang pria yang terlihat serius berkutat didepan layar laptopnya. Pria itu hanya menoleh sekilas sambil melempar senyum hangatnya, lalu kembali berpusat pada kesibukannya lagi.


"Kamu lagi di kampus?" tanya Sisil lagi.


"Iya, Ma." Alex sengaja mengarahkan kameranya ke sekitarnya, tak luput wajah Resty juga ikut terekam.


"Eh, ada Resty juga ya?" suara Sisil terdengar senang.


"Lex, mama mau ngomong sama Resty." pintanya seketika.


Alex menoleh kepada Resty. Gadis itu terlihat sedikit kebingungan sendiri dibuatnya. Merasa terjebak dengan situasi yang sebenarnya antara dia dan Alex tidak begitu dekat.


Dengan terpaksa akhirnya Resty menerima ponsel yang diberikan Alex. Lalu memasang senyum kecilnya kepada wanita yang juga tersenyum kepadanya.


"Hai, Resty..." sapa Sisil.


"Iya, Tante." Resty menjawab gugup.


"Tante titip Alex ya?" ucapnya seketika, membuat Resty muncul tanda tanya.


"Titip?"

__ADS_1


Resty sedikit melirik kepada Alex. Tetapi pria itu malah sedang membuang pandangannya ke depan. Seperti tatapan kosong yang dirasa Resty saat tak sengaja memperhatikan sorot mata itu.


"Iya, Res. Tante sama om ada urusan penting di Jepang. Dia kami tinggal sendiri. Semoga kamu tetap betah ya berteman sama Alex."


"Ee... Ma. Sudah dulu ya, aku harus masuk kelas." Alex segera mengambil alih ponsel yang dipegang Resty, lalu tanpa mengulur waktu segera menyudahi panggilan itu begitu saja.


"Sorry, Res. Aku pergi dulu." ujarnya, yang kemudian langsung pergi begitu saja.


Resty hanya bisa menatap kepergian pria itu tanpa bisa berucap apa-apa lagi. Langkah kakinya terlihat tergesa-gesa, padahal jam masuk kelas masih sekitar setengah jam lagi.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama dia?" batin Resty mulai menaruh curiga. Pria yang biasanya terlihat usil dan rese saat ini berubah sedikit pendiam. Apalagi setelah barusan ketika bertelponan dengan mamanya, raut tak biasa itu begitu kentara padanya.


"Ehem.... Ehem...."


Ika sengaja berdeham sambil menyikut lengannya kepada Resty.


"Jadi sama mamanya Alex memang sudah saling kenal nih?" ledeknya seketika.


Resty hanya bergeming. Mau mengelak pun sahabatnya melihat sendiri kejadian barusan. Untuk mengaku jujur rasanya terlalu malu. Apalagi saat mama Alex awal-awal sempat menduganya sebagai kekasih Alex.


"Ka, liburan entar kamu mau kemana?" Resty sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Sok paham!" Resty membuang mukanya lurus ke depan.


"Eh, serius nanya nih. Kok bisa sih kamu kejatuhan cintanya Alex? Iiih.... Kalo aku sih amit-amit deh. Meski sebenarnya tampangnya keren juga, tapi masa iya mau jadi pacar ketua geng tukang jail seantero kampus tercinta ini. Apa kata dunia coba? Jangan diterima lah, Res. Masih banyak stok cowok yang lebih pas buat kamu. Jangan mau sama Alex." cerocos Ika, sudah seperti kereta lewat tanpa hambatan.


Resty kembali terdiam. Meski sahabatnya itu saat ini terkesan menjadi kompor bleduk yang selalu meletup-letup tiap membahas Alex, masih tak membuatnya hilang feeling kepada Alex.


Jujur, entah mengapa dilubuk hatinya yang paling dalam muncul rasa tenang saat kembali mencerna ungkapan rasa suka pria itu tadi. Apakah ini benar benar pertanda kalau sebenarnya ia juga suka dengan Alex?


Tetapi meski begitu tentu Resty tak mau gegabah dengan perasaan anehnya itu. Apalagi jika teringat lagi dengan pria lain yang sudah dipilihkan papanya untuknya. Atau apa lebih baik Resty jujur saja sama Alex, kalau sebenarnya dirinya sudah dijodohkan oleh papanya.


Dengan begitu pria itu tidak mungkin berharap lagi dengannya. Masih mending dari pada harus berkata tidak, dan mengakui perjodohan itu. Karena sebenarnya Resty sendiri sedikit tak tega mengatakan menolaknya, yang nyatanya hati kecilnya tidak keberatan dicintai oleh Alex.


"Woii! Mmm.... Ngelamun lagi?" Ika menyikut Resty lagi.


"Eh, kita ke kelas yuk?" Resty tiba tiba berdiri, menoleh sekilas kepada Ika yang masih betah duduk di rerumputan taman tempat mereka berada saat ini.

__ADS_1


Dan Ika hanya mencebik kesal. Menyadari bahwa sahabatnya itu memilih bungkam dari pertanyaannya yang sudah kepo maksimal.


Duo sahabat itu melangkah santai menuju ruang kelas mereka, masih dengan beragam pertanyaan yang dilontarkan Ika, yang nyatanya Resty tetap memilih tidak menggubrisnya sama sekali.


Hingga sampai pada Ika sudah semakin gemas dicueki seperti itu, gadis itu pun menahan lengan Resty untuk berhenti sejenak.


"Kamu dengerin nggak sih apa yang aku omongin? Perasaan dari tadi cuma dikacangin mulu. Sedih tahu!" Mulut Ika mengerucut sebal.


Resty terkekeh sendiri. Merasa lucu melihat wajah sahabatnya yang dibuat ngambek olehnya.


"Dari tadi kamu bawel sih. Nyerocos terus kayak emak-emak." sahut Resty pada akhirnya.


"Biarin kayak emak-emak. Gini-gini aku nih peduli sama kamu. Aku nggak mau kamu dapat pacar yang nggak baik, yang cuma beri pamor jelek sama cewek imut kayak kamu."


Saat berkata imut, Ika mencuil dagu Resty begitu gemas.


"Mmm.... Makasih sudah peduli sama aku. Jadi terharu deh dengernya." Beranjak Resty memeluk Ika.


"Dah lepasin, Res. Nggak usah lama-lama pelukannya. Mending dipeluk sama cowok nggak papa lama-lama." Ika melepas pelukannya.


"Cih! Kayak yang punya gebetan juga. Memang ada?" Resty mencebik sedikit meledek.


"Ada dong," Ika sedikit mengerling.


"Eh, siapa nih? Jadi kepo deh. Anak mana? Aku tahu orangnya nggak sih?"


Ika mengangguk.


"Aaah.... Siapa, Ka?" Resty mengguncang gemas bahu Ika.


"Rahasia."


Lalu kemudian Ika kembali melangkah cepat menuju kelas mereka, disusul Resty yang berhasil dibikin penasaran oleh siapa cowok yang diam-diam ditaksir sahabatnya itu.


Saat mereka berdua sudah duduk di kursi didalam kelas yang sudah sedikit ramai oleh penghuni kelas itu juga, akan tetapi Resty tidak menemukan keberadaan Alex. Padahal tadi pria itu berkata akan masuk kelas. Apakah bolos lagi? Tetapi dilihat dari auranya sebelum pergi tadi memang kentara sedang tidak baik baik saja.


Diam diam pria itu kembali berhasil memenuhi pikiran Resty. Kembali menari-nari indah dengan bayangannya yang semakin sulit dimusnahkan.

__ADS_1


*


__ADS_2