
"Aaaaah....."
Resty mendesah geli saat sesuatu yang kenyal itu menghisap dilehernya. Ia ingin memberontak, tetapi tertahan oleh kenikmatan yang diberikan kekasihnya itu.
Hingga gadis itu menahan desahannya dengan menggigit kecil bibir bawahnya, pria itu semakin liar tak terkendali. Meninggalkan banyak bintang kemerlapan dileher jenjang Resty, begitu terlena oleh kondisi yang mendukung keduanya.
Sentuhan tangan Alex tak mau diam. Bagai semakin ingin tahu yang lebih dari kekasihnya, perlahan tangan itu singgah di gundukan kenyal milik gadisnya itu.
Seketika Resty terhenyak. Sesuatu yang menegangkan melebihi tersengat listrik, saat tangan nakal itu meremmas lembut bola kenyal miliknya.
"Hentikan, Lex!" Resty menyingkirkan tangan Alex dari dadanya.
Alex menurut. Mereka saling bertatapan lagi. Sorot mata penuh gairah terpampang jelas dimata elang pria itu. Berbalik dengan sorot mata Resty yang dihimpit rasa takut akan bertindak melebihi batas.
"Kita sudah melebihi batas." Resty memalingkan wajahnya. Tangannya merapikan pakaiannya yang sempat terbuka sedikit dibagian perutnya.
Alex menghembus nafas sepenuh dada. Bersyukur ia masih diberi peringatan agar tidak berbuat melebihi batas aturan agama. Akui pria itu sedikit khilaf. Hingga tertarik melukis bintang merah dileher putih gadisnya yang meninggalkan banyak jejak hasil karya nakalnya.
Perlahan kepala Alex tertunduk menatap alas yang mereka pakai. Rasa sesal memang selalu datang diakhir. Melihat wajah Resty yang berpaling darinya, membuatnya merasa sangat bersalah kepadanya.
"Maafin aku, Res.." ucapnya pelan.
Gadis itu hanya bergeming. Sepenuhnya itu bukan salah Alex. Ia juga menikmati sentuhan itu tadi. Ia terdiam karena sedang mengatur alur nafasnya saja, agar lekas normal seperti biasa setelah sempat membuncah oleh kabut gairah yang dicipta kekasihnya itu.
Berpaling wajah bukan karena sudah benci atas kelakuan Alex padanya. Tetapi sekedar menghindari tatapan mata dari kekasihnya, karena sejujurnya Resty teramat malu untuk menatapnya lagi.
"Sayang," Alex memberanikan diri menyentuh tangan Resty.
"Maaf. Aku tadi khilaf, terbawa suasana." ucapnya lagi penuh sesal.
"Hem," Resty hanya bergumam samar.
Dalam hati ia sudah memaafkan, hanya tiba-tiba terlalu kelu untuk menjawab permintaan maafnya.
Mendapati sahutan Resty walau hanya bergumam, Alex kembali benafas lega. Pria itu sedikit bergeser memberi jarak duduk dengan Resty. Mereka masih saling terdiam, sama-sama merenung dengan apa yang sudah terjadi dengan mereka.
Dalam keheningan itu samar-samar terdengar langkah kaki dari luar gubuk itu. Sorot mata keduanya langsung panik. Apalagi baru saja mereka habis berbuat begituan, menambah rasa gugup takut akan kegerebek oleh warga sekitar.
__ADS_1
Brak.
Pintu terbuka dengan kasar. Berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap besar menyorot tajam kepada Alex dan Resty dengan berkacak pinggang.
"Ngapain kalian disini!" tanyanya dengan nada tinggi.
"Numpang berteduh, Pak." Alex menjawab seadanya.
"Cih, alasan!" Pria asing itu tak langsung percaya.
Entah datang dari mana pria itu sehingga tahu keberadaan mereka di gubuk ini. Sedang tatapan matanya terlalu mengintimidasi kepada arah tubuh Resty.
"Pak RT!" Teriak pria tersebut sambil menoleh ke arah luar.
"Pak RT?"
Resty dan Alex sama-sama bergumam resah. Jika benar diluar sana ada pak RT yang dipanggil pria itu, maka tamatlah riwayat mereka.
Tak lama setelah itu muncul seorang pria lagi dan langsung berdiri sejajar dengan pria tadi yang hanya berdiri diambang pintu saja.
Alex dan Resty sebagai tertuduh sama-sama terperangah kaget.
"Tidak, Pak! Kami berani sumpah tidak ngapa-ngapain disini." Alex segera memberi pembelaan.
Sedangkan Resty saat ini hanya bisa tertunduk malu. Seharian ini gadis itu mendapat kesialan bertubi-tubi. Mulai dari insiden nyasar, kehujanan, hape yang tiba-tiba mati, ditambah tadi digigit draculla penghisap leher mulusnya.
"Apakah kamu pemilik motor diluar itu?" tanya pria yang dipanggil pak RT itu, dengan nada lebih sabar dibanding pria yang disebelahnya.
Alex mengangguk. Sungguh teledor ia meninggalkan motornya dipinggir jalan demi mencari tempat berteduh. Beruntungnya motor itu tidak hilang dicuri orang, sebab kalau sampai hilang beneran mungkin Alex akan langsung dipecat dari rumah eyang Asih. Karena motor itu adalah satu-satunya benda berharga peninggalan almarhum suami eyang Asih. Apalagi saat memakainya tadi Alex tidak ijin lebih dulu.
"Ayo kalian ikut kami!" Pria bertubuh tegap itu mengintrupsi agar Alex dan Resty mengikutinya.
"Kemana, Pak?" tanya Alex ragu-ragu.
"Ke kantor dusun."
"Hah!"
__ADS_1
***
Malam sudah merambat naik. Eyang Asih duduk gelisah ditemani Saleh yang juga duduk berseberangan dengannya. Kehilangan dua orang penghuni rumah yang pergi tanpa kabar, membuat wanita tua itu cemas tak terkira. Ditambah lagi ponsel milik cucunya itu tidak aktif untuk dihubungi, membuat pikirannya semakin kemana-mana.
"Pergi kemana mereka!"
Sorot mata wanita tua itu benar benar terdeteksi marah. Bahkan ia juga sudah berjanji akan memarahi Alex dan Resty saat pulang nanti.
"Saleh!" sapanya pada pria yang hanya tertunduk sedari tadi.
"Kamu sudah menghubungi orangtua Alex?"
"Sudah, Buk. Tapi tidak dijawab." jelas Saleh.
Eyang Asih mendengus kesal. Sepuluh menit yang lalu ia memang menyuruh Saleh untuk menghubungi kedua orangtua Alex agar mereka bisa pulang menemui anaknya disini. Dari awal ia memang berencana ingin menjalin ikatan baik yang lebih erat dengan keluarga Alex. Tetapi setelah menghilangnya mereka berdua itu, membuat eyang Asih semakin tak sabar untuk bertemu dengan mama papa Alex.
"Terus hubungi orang tua Alex itu, Saleh." titahnya sekali lagi.
Saleh tak lekas menghubungi mantan majikannya itu. Ia sendiri diliputi rasa penasaran tentang desakan eyang Asih memanggil kedua orang tua Alex untuk datang langsung ke rumah ini.
"Mm... Sebelumnya saya minta maaf, Buk, kalau apa yang saya tanyakan ini terkesan mencampuri. Kalau boleh tahu, apa tujuan utama Ibu menyuruh tuan Kenzo dan Nyonya Sisil ke rumah ini secepatnya?"
"Biar mereka segera menikahkan Resty sama Alex." tutur eyang, sesuai dengan apa yang ada dibenaknya belakangan ini.
"Hah?" Saleh tercengang seketika.
Ia tahu jika Alex dan Resty menjalin hubungan, tetapi masa iya hanya karena menghilang sehari ini tiba-tiba eyang berencana mau menikahkannya?
"Nggak usah kaget begitu. Aku akan lebih tenang kalau mereka berdua segera menikah. Sungguh aku selalu merasa tak nyaman dengan status mereka itu, Leh. Sudah sering aku memergoki mereka begitu mesra. Kalau dibiarkan nanti bisa muncul fitnah atas mereka." jelas eyang Asih.
Saleh hanya manggut-manggut setuju saat mendengar itikad baik majikannya itu. Maka akhirnya ia lebih memilih berkirim pesan kepada mama papa Alex. Dijamin nanti mama papa Alex akan terkaget-kaget saat membaca pesan singkat yang dikirim Saleh kepadanya.
"Tuan, Nyonya, segera pulang. Den Alex mau dinikahkan besok sama warga kampung."
Pesan singkat itu Saleh kirim kepada Kenzo dan Sisil. Entah bagaimana ekspresinya disana bila nanti mereka membaca pesan singkat dari Saleh mengenai kabar Alex yang sengaja didramatisir oleh Saleh.
*
__ADS_1