Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 90


__ADS_3

Flashbaack


"Bang, ada di mana?"


Menjelang pagi Alex sengaja menghubungi Ziyyan saat ia butuh tempat untuk membersihkan badan, setelah semalam ia hanya merenung diri di sebuah masjid yang lumayan jauh dari jarak rumahnya.


Sebenarnya bisa saja Alex menumpang mandi di masjid itu, tetapi karena ia juga butuh pakaian bersih untuk ia kenakan, tiba-tiba saja ia teringat mau pinjam kepada abang sepupunya itu.


"Di apartemen, Lex." Ziyyan menyahut parau. Pria itu sebenarnya sedang terlelap dalam buaian, saat tiba-tiba ponselnya berdering karena panggilan telpon dari adik sepupunya itu.


Tetiba Alex mematikan begitu saja sambungan telponnya saat sudah tahu Ziyyan ada dimana. Beruntungnya abangnya itu saat ini tidak sedang berada di rumahnya, sebab jika Alex ke sana pasti tante Ara akan mengadu ke mamanya.


Pria itu segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju apartemen milik Ziyyan yang tak lama ini pria itu membelinya. Tepat saat adzan subuh berkumandang motor itu sudah terparkir di basemen apartemen cukup elite itu. Segera Alex melangkah menuju di mana apartemen Ziyyan berada.


Ziyyan segera membuka pintu apartemennya saat bel itu berbunyi. Terlihat Alex mulai cengengesan melihat wajah cemberut Ziyyan karena kedatangannya yang memang tak tahu aturan bertamu ke rumah orang.


"Hehe... Sorry, Bang. Aku nggak nganggu kan, sudah subuh juga," selorohnya yang lalu masuk begitu saja walau sang pemilik masih belum mempersilahkan masuk.


Ziyyan mendengus kesal. Tetapi ia tidak bisa marah kepadanya. Perasaan kangen karena lama tak bertemu membuatnya rela saja dengan kedatangan Alex yang cukup merusuh di apartemennya.


"Bang, kok isi kulkasnya kosong?"


Alex sudah membuka kulkas milik Ziyyan. Wajahnya seketika masam saat tahu tidak ada apa-apa di dalamnya, padahal perutnya sudah mulai sedikit lapar, beruntungnya masih bisa ditahan olehnya.


"Belum sempat belanja," sahutnya tak semangat.


Segera Ziyyan masuk ke kamar mandi dan membiarkan Alex berkutat sendiri di dapurnya. Tak lama setelah itu Ziyyan sudah selesai mencuci muka dengan air wudhu untuk kemudian melaksanakan kewajiban dua rokaatnya sebagai seorang muslim.


Alex masih duduk santai di kursi makan itu sambil menikmati kopi susu buatannya, saat Ziyyan datang menghampirinya karena sudah selesai dengan ibadahnya.


"Punya aku mana?" tanya Ziyyan setelah tahu Alex hanya buat kopi itu segelas saja.


"Eh, lupa, Bang." serunya yang seketika beranjak berdiri.


Ziyyan pikir Alex benar-benar akan membuatkannya, tetapi rupanya langkah Alex berbelok arah melewatinya.


"Setelah ini aku buatkan, Bang. Tunggu aku selesai bersujud dulu pada sang Ilahi," ujarnya, sok paling alim dan bijak, padahal aslinya mah tukang usil bin jail.


Ziyyan tercengang sesaat, tetapi ia hanya bisa tersenyum lega melihat perubahan Alex yang cukup baik setelah menghilang beberapa waktu kemarin.


"Bang," Alex menongolkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.


"Aku pinjem baju ganti dong," ucapnya tanpa sungkan.


Ziyyan pun segera mengambilkan pakaian miliknya tanpa banyak komentar. Setelah itu ia segera memberikannya kepada Alex.


"Bang, kalau mau masak, jangan lupa buat aku juga. Lapar nih."

__ADS_1


"Nggak ada bahan buat masak," balas Ziyyan apa adanya. Sebenarnya bisa delivery, tetapi karena berniat akan segera pulang ke rumah pagi ini juga, membuatnya malas pesan karena memang ingin sarapan di rumahnya.


"Mie instan masa nggak ada, Bang?"


Ziyyan hanya menggeleng.


"Buat apa di tempatin kalau cuma kosong melompong nggak ada makanan," protesnya sedikit kecewa.


"Kamu bertamu saja cerewet banget banyak maunya." Ziyyan dibuat gemas akan polah Alex.


"Cerewet kan karena sama Abang doang."


"Dah buruan sholat sana! Sudah hampir lewat waktu mengadu kepada sang Ilahi." Ziyyan berkata sedikit menekan.


"Astaghfirullah!" Lalu kemudian Alex menutup pintu kamar mandinya. Dan secepat kilat pria itu membersihkan badannya kemudian segera mengganti pakaiannya dengan yang bersih untuk kemudian melaksanakan ibadah dua rokaatnya yang sudah hampir telat.


Ziyyan hanya bisa memperhatikan dengan lekat, saat adik sepupunya itu begitu lama memanjatkan doanya pagi ini. Entah apa yang dimintanya. Terlihat pria itu begitu serius dengan bacaan doanya itu.


Setelah Alex rampung melaksanakan ibadahnya, ia ikut duduk menemani Ziyyan di ruang tamu.


"Lama pergi dari rumah ternyata lagi cari hidayah?" seloroh Ziyyan yang sengaja pria itu lontarkan untuk menggoda Alex saja.


Alex memilih tak menyahut, tetapi bibirnya tersungging tipis kepada Ziyyan. Untuk istilah mendapat hidayah karena dirinya berubah rajin beribadah, Alex masih tak yakin. Karena akui, pria itu memang sudah tak lupa beribadah, tetapi maksiat juga masih jalan. Apa tidak Membagongkan?


"Bang, aku dengar Abang sudah mau nikah ya?" Alex mengalihkan obrolan paginya dengan mengkepoi masalah percintaan Ziyyan.


"Ada lah. Orang mana, Bang?"


"Nggak mau bilang sebelum kamu bilang siapa orang yang ngasi tahu kabar hoax itu."


"Kabar hoax? Nggak mungkin! Yang bilang ini dari sumber terpercaya orangnya."


Alex berucap dengan yakin. Karena memang ia tahu kabar itu dari Resty, yang mana gadis itu tahu dari papanya yang notabene sahabat karib dari ayahnya Ziyyan.


"Eh, kamu tumben-tumbenan main kesini? Subuh pula datangnya. Niat banget mau ganggu orang lagi tidur apa?"


"Mau numpang mandi aja, sekalian mau numpang makan nggak taunya zonk," balasnya kesal sendiri.


"Jangan bilang kamu lagi kabur dari rumah?" Selidik Ziyyan.


Melihat Alex yang tak merespon, maka Ziyyan meraih ponselnya berniat mau mengabari tante Sisil.


"Bang, jangan Bang, pliiss..." Alex berusaha meraih ponsel Ziyyan, saat tahu abangnya itu akan menghubungi mamanya.


"Jadi kamu beneran lagi kabur?" Ziyyan bertanya lagi, tetapi panggilannya itu urung ia lakukan.


Akhirnya Alex hanya bisa mengangguk lemah.

__ADS_1


"Ada masalah itu dihadapi, jangan lantas main pergi. Nggak bakal ada solusi yang baik, kalau kamu main kabur kayak bocah baru gede aja."


"Tujuan kamu pergi emang mau menuntut apa?" tanyanya memastikan.


"Rencananya sih mau ajak cewekku kawin lari, itu kalau mau," jawabnya dengan tenang.


"Astaga!" Ziyyan menggeleng kepala tak habis pikir dengan tujuan Alex pergi.


"Kamu terlibat cinta tanpa restu, Lex?" selidiknya bertambah kepo.


"Lebih dari itu, Bang. Masalah aku sama cewekku lebih pelik, tetapi aku tak bisa menceritakannya sama Abang. Intinya aku hanya ingin menggertak mama saja. Siapa tahu mama mau berubah pikiran," ujarnya penuh pembelaan diri.


"Dasar konyol!" Ziyyan melempar bantal kecil ke arah Alex.


"Kalau aku yang jadi cewek kamu, aku nggak bakal mau diajak kawin lari," ucapnya lagi.


"Atas dasar apa emang?"


"Lelaki yang gentle akan berusaha mengejar restu dari kedua belah pihak tanpa mencoreng nama baik keluarga masing-masing. Sepatutnya kamu harus memperjuangkan dulu, jangan lantas gegabah maupun putus asa."


Alex menyimak ucapan Ziyyan yang memang benar adanya.


"Dengan kamu berusaha dan terus meyakinkan orangtua kita, aku yakin suatu saat akan indah pada waktunya. Sambil terus berdoa sih. Jalur langit lebih ampuh, jadi jangan pernah ditinggal maupun terlupakan."


Sesaat senyum Alex mengembang lebar. Beruntung ia memiliki seorang abang yang mau menasehatinya di saat pikirannya sedang galau merana.


Tetiba ia jadi teringat, jika ia masih belum cerita siapa yang menjadi kekasihnya saat ini. Andai nanti ia jujur menyampaikan, semoga saja Ziyyan tidak marah maupun tersinggung kepadanya.


"Mau kemana, Lex?" tanya Ziyyan saat pria itu beranjak dari tempat duduknya.


"Mau main ke rumah cewekku, Bang," jawabnya sambil memasang jaketnya lagi.


"Sepagi ini? Jangan bilang kamu mau numpang makan di sana?"


"Iya itu kalau emang rejeki, pamali ditolak kan?"


Ziyyan hanya bisa menggelengkan kepalanya lagi.


"Entar aku kenalin cewekku sama Abang, tapi janji dulu jangan marah. Okey?"


"Marah buat apa? Nggak jelas kau!"


"Lihat aja entar." Alex sudah membuka pintunya bersiap keluar.


"Assalamu'alaikum!" ucapnya dengan lantang, sebelum kemudian pergi lagi untuk menemui kekasihnya di rumahnya.


*

__ADS_1


__ADS_2