Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 103


__ADS_3

Ika masih ternganga sama sekali tak percaya, walau sudah mendengar sendiri Resty mengaku jika Alex lah calon suaminya itu. Gadis itu benar-benar tak habis pikir jika Resty akan kepincut cinta berandal kampus itu. Berulangkali otaknya mencoba mengerti jika rasa cinta itu memang bisa buta, tetapi kenapa jatuhnya kepada Alex coba?


"Kok bisa?" tanyanya, masih benar-benar heran.


"Sudah garis dari Tuhan," seloroh Alex tiba-tiba.


"Pasti kamu yang maksa kan?" Ika main tuduh kepada Alex. Pria itu selain terkenal nggak baiknya di kampus, tentu akan ada pemaksaan juga demi bisa mendapatkan keinginannya itu menurut Ika.


Sudah terlanjur berimage jelek dimata Ika, sehingga sulit baginya berprasangka baik kepada Alex.


"Maksa apaan?" Alex sedikit nyolot. Rasanya ia memang tak bisa baik-baik saja kepada sahabat kekasihnya itu. Selalu menyebalkan dimatanya.


"Sudah. Nggak usah begini dong." Resty menyentak lengan Alex, agar berdamai terlebih dulu. Tidak ikut terpancing meladeni tuduhan Ika yang memang salah dugaan.


Alex langsung menurut. Sebenarnya ia masa bodo mau dituduh apapun sama Ika. Yang terpenting sekarang Ika sudah tahu kalau dirinya lah calon suami Resty. Yang mau tak mau tetap akan sering bertemu, itu pun jika Ika masih mau bersahabat dengan Resty.


"Aku nggak percaya." Ika masih menggeleng kepala belum yakin.


"Terserah!" seloroh Alex lagi.


"Yuk, Sayang. Kita musti cepet, papa nggak ngijinin kita pulang kemaleman kan?" Alex sengaja memamerkan kemesraannya didepan Ika, bertujuan supaya gadis itu semakin percaya.


Resty mengangguk kecil sembari tersenyum manis kepada Alex. Pria itu lantas menuntun tangan Resty untuk ia lingkarkan dilengannya. Dan setelah itu beranjak keluar kelas, untuk segera pergi ke suatu tempat yang rencana Alex akan membawa Resty ke sana saat ini juga.


"Astaga! Cobaan macam apa lagi ini? Masa iya aku akan memiliki mantu si Alex rese itu." gumam Ika, setelah hanya memandangi Alex dan Resty keluar dari kelas itu.


Gadis itu memang tak bisa move on menyukai papa sahabatnya. Makanya sampai timbul bayangan jika Alex akan menjadi menantunya juga. Padahal antara dirinya dengan papanya Resty saja masih abu-abu, alias belum ada kemajuan selain sudah saling menyimpan nomor telpon masing-masing.


"Tolong tetap begini, Yang." pinta Alex, saat Resty mencoba melepas tangannya dari genggaman tangan Alex.


Saat ini mereka berdua tengah berjalan santai menyusuri koridor kampus menuju parkiran. Tentu saja perbuatan mereka menjadi tontonan mahasiswa lain. Pro dan kontra dari tanggapan mereka-mereka yang kebetulan melihatnya terdengar jelas seketika itu. Tetapi Alex dan Resty memilih tidak menghiraukan dan menganggapnya sebatas angin lalu saja.


Hingga sampai mereka sudah tiba di parkiran khusus kendaraan para mahasiswa, sorot keduanya dibuat kaget dengan keberadaan Donita yang sengaja menunggu Alex dengan berdiri tepat disamping motor Alex terparkir.


Resty tertegun sesaat, tetapi lekas tersadar karena Alex menarik tangannya. Pria itu memasang muka cuek kepada Donita. Dengan santainya mengambil helm miliknya untuk ia pakaikan kepada Resty.


Saat Alex akan memasang helm untuknya sendiri, Donita menarik tangannya tanpa sungkan.


"Kita harus bicara, Lex." ujarnya seketika.


Alex dan Resty sama-sama saling melempar tatapan entah. Tetapi melihat raut wajah Donita sepertinya memang serius. Apalagi seketika itu Alex teringat ucapan Ryan padanya saat belum masuk kelas tadi.

__ADS_1


"Bicara disini saja," sahutnya tanpa minat.


Donita menghentak nafas kasarnya. Bergantian menatap aneh kepada Alex dan Resty.


"Aku pinjam Alex sebentar, boleh?" Donita bertanya kepada Resty.


Resty tetap bergeming. Sepertinya Donita sudah tahu kalau antara dirinya dan Alex ada sebuah hubungan dekat.


"Nggak usah basa-basi, Ta. Kalau memang ada yang mau dibicarakan langsung saja." Alex menyela lagi.


"Oke!" Wanita itu kembali menghela nafas beratnya.


"Tapi apa kamu siap mendengarnya?" Malah Donita balik bertanya kepada Resty, dengan sorot matanya yang benar-benar misterius.


Resty hanya tersenyum getir menanggapinya. Baginya apa yang akan disampaikan Donita itu pasti masalah Alex. Tetapi jika kemudian Donita menabuh genderang akan merebut Alex darinya, Resty tak akan tinggal diam untuk mempertahankan Alex tetap menjadi miliknya seutuhnya.


Melihat Alex dan Resty sama-sama terdiam, Donita menyeringai tipis. Wanita itu telah bertekad bulat dengan keputusannya yang ini, meski apa yang akan diakunya itu sebuah kebohongan yang ia harap akan berjalan mulus nantinya.


"Aku hamil," akunya santai.


Alex dan Resty sama-sama menganga saat mendengarnya. Wanita itu tanpa malu mengakui kehamilannya didepan mereka berdua. Apa tujuannya coba? Jangan bilang kalau Donita hamil oleh Alex? Tiba-tiba saja muncul pikiran buruk itu dibenak Resty. Hingga membuat gadis itu menyorot entah pada kekasihnya, seakan menuntut sebuah penjelasan darinya.


"Hamil?" Alex bertanya memastikan.


Alex kembali menggenggam tangan Resty dengan erat, mencoba meyakinkan getar hati gadisnya yang mulai meragu kepadanya.


"Hamil sama siapa?" Resty pun ikut bertanya. Sebenarnya ia sendiri tak siap untuk mendengarkan jawabannya, tetapi dari pada penasaran tentu harus ditanya.


Donita menyeringai lagi. Sepertinya wanita itu tidak ada khawatir apa-apa meski statusnya kini tengah hamil diluar nikah.


"Ayo Sayang, kita pergi saja," ajak Alex, setelah melihat Donita tak lekas menjawab pertanyaan Resty.


"Setidaknya mulai saat ini kalian harus lebih sopan kepadaku." Donita bersuara lagi.


Resty menoleh heran, pun demikian dengan Alex.


"Janin diperutku ini adik kalian," akunya tiba-tiba.


Resty dan Alex semakin dibuat tak mengerti. Mereka berdua memilih bungkam, sambil menunggu pengakuan berikutnya dari wanita itu.


"Kalian nggak penasaran maksud omonganku?" tanyanya, terus memancing suasana keruh antara Alex dan Resty.

__ADS_1


"Ini adalah adik kamu, Res." Donita mengusap perut ratanya.


"Aku hamil sama papa kamu," akunya yang pasti bohong.


Setelah merasa tidak akan berhasil menjebak Alex karena itu tidak mungkin berhasil, maka Donita memilih banting setir lebih ekstrim. Demi terwujudnya mimpi sebagai nyonya tajir, Donita sampai rela mengaku-aku jika janin itu adalah karena Tommy. Duda kaya yang diam-diam sudah menjadi target kedua, setelah tahu Resty dekat dengan Alex.


Entah hal itu akan berhasil atau tidak, yang pasti Donita tetap akan senang bila melihat hubungan Alex dan Resty hancur karenanya.


Sedangkan Resty masih terdiam. Tentu ia sangat kaget. Tetapi tak semudah itu ia harus percaya pengakuan Donita itu.


"Jangan gila kamu, Ta! Nggak mungkin itu anaknya om Tommy." Alex dibuat geram sendiri.


"Mana buktinya kalau itu benar-benar anak papaku?" Sekuat hati Resty menanyakan itu, walau sebenarnya rasanya sudah ingin menangis saja.


"Tanyakan saja sama papamu." Donita menyahut santai.


Resty terdiam lagi. Pikirannya sudah benar-benar kacau. Ia sangat tidak percaya jika itu hasil ulah papanya.


"Oke!" Resty berusaha tenang.


"Kalau begitu ayo kita tes DNA. Jika itu memang anak papaku, pasti kamu berani kan?" tantang Resty, yang langsung mendapat respon anggukan setuju dari Alex.


Donita terdiam seketika. Tentu ia mulai resah. Wanita itu bahkan tidak kepikiran sampai kesitu. Betapa bodohnya nanti jika ketahuan ia sedang mengaku-ngaku saja.


"Kenapa diam saja?" Alex bertanya tak sabar.


"Hei, wanita edan!" Tetiba Ika muncul diantara mereka.


"Kamu jangan ngaku-ngaku ya hamil sama calon suami orang." Ika ikut menghardik kepada Donita.


Gadis itu tak sengaja mendengar obrolan mereka bertiga saat melintas di parkiran itu juga. Saat mendengar nama Tommy disebut, tentu membuatnya semakin kepo untuk menguping obrolan serius mereka.


Begitu mendengar pengakuan Donita itu, Ika pun juga tidak percaya begitu saja. Apalagi ini menyangkut masalah hatinya kepada om duda itu. Benar-benar harus diberi pelajaran tuh si Donita.


"Eh, apa urusanmu!" Donita tak kalah sengit membalas Ika.


"Ini menjadi urusanku. Karena kamu berani mengaku mengandung anak om Tommy."


"Kenapa kamu yang sewot? Resty saja nggak sewot kayak kamu!"


Ika maju selangkah lebih dekat kepada Donita. Membusungkan dadanya sedikit kepadanya, sembari beradu tatapan sengit antara keduanya.

__ADS_1


"Om Tommy itu calon suamiku." Ika mengatakannya dengan mantap, tanpa malu, tanpa peduli dengan Resty dan Alex yang kembali dibuat kaget atas kejadian hari ini.


*


__ADS_2