Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 76


__ADS_3

Setelah eyang Asih jadi menyuruh Alex untuk pergi ke warung guna membeli roti sayap yang dibutuhkan Resty, rupanya pria itu memilih pergi ke swalayan di kota. Sekalian ia ingin mengambil uang tunai dari satu-satunya kartu ATM yang ia punya.


Alex sudah masuk ke swalayan yang cukup laris di kota kecil itu. Pria itu langsung menuju rak tempat penjualan yang akan dibelinya. Setelah berada didepan susunan aneka pembalut dengan berbagai merk yang tersedia, tentu pria itu jadi kebingungan sendiri harus membeli yang mana. Andai saja ia tidak berbohong kepada eyang Asih kalau ia sudah tidak memiliki handphone, mungkin tidak akan serumit ini. Tinggal foto dan kirim, lalu akan tahu yang mana yang harus dibeli.


Sedangkan untuk bertanya ke orang-orang disekitar Alex terlalu malu, karena memang ini pengalaman pertamanya membeli benda khusus wanita itu. Bahkan sekarang saja pria itu sengaja menggunakan masker demi menutupi wajahnya, mengantisipasi jika nanti akan bertemu dengan orang-orang yang mengenalinya.


Alex masih mondar-mandir disekitar rak itu saja. Sedang ditangannya sudah menenteng keranjang belanja yang terisi penuh berbagai snack ringan yang sengaja ia beli untuk Resty. Sebab yang ia tahu gadisnya itu suka ngemil, karena teringat ketika bermain ke rumah Resty beberapa saat lalu.


Merasa menjadi perhatian sebagian orang yang kebetulan berada disekitarnya Alex pun buru-buru mengambil asal yang ia yakini lumayan bagus, karena merk yang ia ambil itu sering seliweran di iklan TV.


Lalu pria itu segera mengantri di kasir dengan tertib. Disitu pula Alex masih menjadi bahan tontonan ciwi-ciwi yang kebetulan antri juga, pun kaum ibu-ibu yang tak kalah kepo hingga berani menepuk bahu Alex demi menelusuri kekepoannya.


"Buat siapa?" tanya seorang ibu berusia tanggung, sambil matanya sedikit mengerling melihat pembalut yang dibeli Alex.


Alex tersenyum kikuk, tetapi tentu tak terlihat oleh ibu itu karena terhalang masker yang dipakainya.


"Jadi ingat mantan pacar, lihat anak muda kayak kamu belanja gituan."


Alex tercengang sesaat. "Mantan pacar?" gumamnya kaget.


Dilihat dari usia ibu itu tak jauh beda dengan usia mamanya. Tetapi jika masih bicara mantan pacar, masa iya ibu itu masih demen pacaran?


"Jadi lelaki memang harusnya saling bantu. Nggak bakal turun pamor juga kan meski harus belanja gituan. Yang ada makin disayang sama pasangan." seru ibu itu.


Alex merespon hanya dengan anggukan kepala. Terlalu malas untuk balik menimpali, biar apa kata ibu itu saja mau bicara apa lagi dengannya.


Beruntungnya kini tiba giliran Alex di kasir itu. Segera Alex menurunkan barang belanjaannya, dan sang kasir hanya tersenyum simpul saat memegang roti sayap yang dibelinya itu.

__ADS_1


"Mbak," sapa Alex pada kasir itu.


"Mm-- Itu termasuk bagus kan, Mbak?" tanyanya. Sebenarnya malu, tetapi demi kebaikan harus bertanya dari pada nanti salah pilih.


"Maksudnya, Mas?"


"Aman dan bagus. Emm-- merknya Mbak."


Kasir itu kemudian tersenyum, karena baru paham apa yang dimaksud Alex.


"Ooh.... Ini!"


Alex semakin keki, saat kasir itu mengangkat pembalut itu didepannya.


"Sudah bagus kok, Mas. Nggak salah pilih. Buat siapa sih emang? Istri ya?"


"Masih jadi pacar saja sudah seperhatian begini. Mau dong daftar jadi calon istri.." celetuk kasir itu, yang tentunya hanya sekedar menggoda.


Alex memilih diam saja. Dalam hati ia mengamini semoga tetap bisa membagi perhatiannya dan juga berharap kelak hanya Resty lah yang menjadi pendamping hidupnya.


Tak lama setelah itu Alex segera menuju tempat parkir khusus roda dua, karena memang Alex pergi ke kota ini dengan menaiki motor tua yang katanya milik almarhum suami eyang Asih.


Ditengah perjalanan pria itu berhenti sejenak di sebuah warung penjual nasi rames demi mengisi perutnya yang masih belum terisi semenjak berangkat dari rumah eyang tadi. Berhubung sangat lapar, maka tak butuh waktu lama pula untuk pria itu menghabiskan makanannya.


Lalu setelah itu Alex berencana kembali melanjutkan perjalanannya, tetapi tiba-tiba saja motor tua itu sulit menyala lagi. Merasa ada yang tidak beres dengan mesin motornya, pria itu menepikan motornya ke tempat yang lebih aman menurutnya. Dengan cermat meneliti bagian mesin mana yang bermasalah, hingga kemudian menemukan penyebab motor itu mogok karena harus ganti busi motor yang baru.


"Aah, sial! Disekitar sini bengkel dimana ya?" gerutunya seorang diri.

__ADS_1


Sambil kemudian bertanya ke orang-orang disekitar yang rupanya bengkel terdekat yang ditunjuk masih lumayan jauh bila ditempuh dengan jalan kaki.


***


Eyang Asih terlihat gelisah sambil duduk di pos jaga bersama Saleh, menunggu Alex yang tak kunjung datang. Andai saja Alex memiliki ponsel, mungkin wanita tua itu tidak akan secemas ini. Sedangkan Saleh masih terlihat biasa saja. Ia yakin jika Alex tidak akan pergi jauh, kecuali motor tuanya itu yang mungkin kenapa-napa, karena memang sering mogok.


"Saleh, aku tidak yakin kalau Alex tidak punya hape. Masa saking bangkrutnya hape aja sampe dijual? Hape itu kan penting. Siapa tahu nanti keluarganya mau menghubungi. Kalau sudah begini gimana? Cuma bikin cemas orang kan?"


Eyang Asih sungguh sangat mengkhawatirkan Alex, hingga kelewat cerewet saking cemasnya pada pria itu. Meski statusnya disini hanya sebatas pekerjanya, tetapi eyang Asih juga sudah menganggap Alex seperti bagian dari keluarganya juga.


Saleh hanya bergeming, meski sang majikan bertanya padanya. Sebenarnya ia juga heran kenapa Alex sengaja tidak mengaktifkan handphonenya, yang setahunya Alex masih memiliki handphone. Entah apa penyebab pasti Alex melakukan itu.


Sedangkan Kenzo dan Sisil, papa mama Alex, setiap hari terus menghubungi Saleh demi tahu bagaimana kondisi Alex sekarang. Berawal dari kebingungan kedua orangtua Alex dan juga dari Ara yang kesulitan menghubunginya, hingga akhirnya Sisil berinisiatif bertanya kepada Saleh yang ternyata Alex sedang bersama Saleh di kampungnya.


Saat pertama mendengar Alex disini ikut bekerja, sebagai orangtua tentu kaget. Tetapi demi efek positif yang Saleh ceritakan bahwa Alex semakin berubah lebih terarah setelah berada disini, maka Sisil dan Kenzo pun membiarkannya. Hingga sampai nanti tiba waktunya, barulah Sisil dan Kenzo berencana akan menyusul Alex kesana.


"Hei, Saleh. Aku mau tanya satu hal serius tentang Alex. Tolong jawab yang jujur, karena ini menyangkut dengan cucuku Resty."


Saleh menatap serius kepada eyang, sedikit gugup sambil menunggu apa yang akan ditanyakan oleh majikannya itu.


"Ceritakan padaku bagaimana Alex. Keluarga, perilakunya, semuanya tentang Alex. Karena aku tidak mau cucuku kecewa di kemudian hari. Lebih baik aku tahu dari awal, sebelum cucuku lebih jauh menyukainya."


Eyang Asih berkata begitu karena ia harus tahu semuanya yang menyangkut Alex. Disini pria itu memang berperilaku baik, siapa tahu diluaran sana malah sebaliknya. Apalagi jika teringat dengan nasib percintaan mamanya Resty semasa hidupnya, tentu eyang Asih sangat menginginkan Resty nanti hidup dengan lelaki yang benar-benar mencintainya.


*


Readersku... Maaf ya othor up nya sering gk tentu jadwalnya. Harap dimaklum, RL othor sangat-sangat sibuk😁✌

__ADS_1


Terimakasih buat yang masih setia menunggu kelanjutan novel ini. Othor berharap semoga kalian tetap sabar menunggu up othor sampai ending nanti🙏


__ADS_2