Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 161


__ADS_3

Siang ini keadaan di rumah baru milik Alex dan Resty terlihat lebih ramai dari biasanya. Bergantian para kerabat dan teman-teman yang di undang pada acara tasyakuran yang di adakan di rumah itu mulai berdatangan.


Yang datang di awal pada siang ini adalah pasangan papa Tommy dan Ika. Wanita muda yang tak lama lagi akan bergelar menjadi oma itu turut riweh membantu acara pada siang ini. Sedangkan mama Sisil dan papa Kenzo sudah dari semalam menginap di rumah Alex. Demi bisa membantu segala keperluan yang di butuhkan.


Seorang asisten rumah tangga yang sengaja di pekerjakan di rumah itu turut berperan andil di dalamnya.


Waktu merambat semakin cepat. Tibalah acara pengajian itu di mulai. Pertama yang di baca adalah pembacaan sholawat yang di pimpin oleh sekelompok pemuda yang bergabung dalam team sholawat itu. Di lanjut pembacaan ayat suci Al-qur'an dan kemudian ada sedikit wejangan dari ustadz yang sengaja di undang pada acara itu. Kemudian acara itu di tutup dengan do'a tepat setelah kumandang adzan ashar berbunyi.


Segera seluruh tamu undangan menikmati makanan yang telah di sediakan. Tak lupa keluarga itu juga mengundang beberapa anak yatim piatu dari panti asuhan untuk sekedar berbagi rejeki dengan mereka. Rasanya sangat bersyukur sekali acara tasyakuran yang di gelar ini berjalan dengan lancar dan penuh khidmat.


"Selamat ya, Lex, Resty." Seorang perempuan muda yang di ketahui adalah pacar Cello memberi ucapan selamat kepada Alex dan Resty.


"Terimakasih sudah mau datang," sambut Resty pada perempuan itu.


"Ehem! Lunas ya hutang kita," seloroh Cello menganggap sebagai hutang bila datang ke acara ini tidak bawa pasangan seperti permintaan Alex waktu itu.


Alex dan Resty hanya tersenyum riang.


"Kapan nih, buruan di halalin, kawin itu nikmat, Cel," bisik Alex pas pada kalimat terakhirnya. Tetapi masih juga bisa di dengar oleh Resty dan pacar Cello yang bernama Ratu.


"Hehe.... Kawinnya memang nikmat, nikahnya yang aku masih agak nggak siap," balas Cello sambil cengengesan.


"Di jalani sambil di nikmati setiap prosesnya. InsyaAllah di mudahkan jalannya oleh Allah. Dah buruan, sebelum setan bisikin yang sesat."


"Duh, memang kalo sudah calon bapak bahasanya beda ya. Jiwa wibawanya mulai muncul."


Alex terkekeh saja. Sebenarnya ia sendiri tidak yakin kenapa bisa sok bijak seperti itu. Tetapi kehidupan itu memang harus terus belajar lebih baik dan lebih baik lagi.


"Oh, ya, Ryan mana? Kok nggak datang?" Resty ikut bertanya.


"Iya nih, mana nggak ada kasi kabar lagi." Alex mengecek ponselnya lagi, berharap ada kabar dari Ryan mengapa ia tidak datang siang ini. Tetapi ternyata tak ada satu pesan pun yang ia terima dari Ryan.


"Ada ngabarin kamu nggak, Cel?" Alex bertanya kepada Cello.


"E... E... Itu--"

__ADS_1


Cello ikut-ikutan mengecek ponselnya juga. Padahal sebenarnya ia tahu saat ini Ryan di mana.


Tadi siang sebenarnya mereka bertiga berangkat bersama. Cello berboncengan dengan pacarnya, sedangkan Ryan hanya berangkat seorang diri. Tetapi di tengah perjalanan mereka tak sengaja melihat Varo di seberang jalan. Meski jarak mereka cukup jauh, tetapi Cello dan Ryan yakin itu adalah Varo.


Mereka bertiga memilih putar arah demi bisa membuntuti ke mana Varo pergi. Tetapi mungkin karena Varo menyadari jika ia tengah di ikuti, pria itu malah semakin mengencangkan laju motornya. Jadilah jalanan di siang itu seperti lapangan sirkuit bagi mereka. Saling kejar mengejar dengan kecepatan di luar batas. Sehingga terpaksa Cello berhenti lebih dulu setelah Ratu terus-terusan protes dan mengancamnya putus kalau Cello tidak mau menghentikan aksi yang membahayakan itu.


Dan hanya Ryan lah yang terus mengejar ke mana perginya Varo. Tetapi sayangnya hingga saat ini Ryan belum juga memberi kabar. Apakah ia berhasil mengejar Varo atau tidak.


"Mungkin Ryan lagi ada kepentingan mendesak," kilah Cello kemudian.


"Bisa jadi. Tapi tumben aja dia nggak ada ngabarin kita."


"Tunggu sebentar lagi, siapa tahu setelah ini Ryan nyusul. Asal masih ada sisa makanan buat dia. Hehe..." Cello berhasil mengelabuhi Alex.


Setelah itu Resty pamit untuk mengambil makanan bersama Ratu. Bumil itu kali ini body nya lebih berisi, itu karena pola makannya yang mulai doyan dari pada saat awal-awal trimester kehamilannya dulu.


Sedangkan Alex dan Cello masih diam di tempat. Sekilas Cello melirik kepada Ratu, lalu pria itu juga mengirim pesan singkat pada kekasihnya itu untuk mencegah Resty agar tidak kembali ke sini. Itu karena Cello ingin menyampaikan kabar tentang Varo kepada Alex saat ini juga.


Begitu mendapat balasan oke dari Ratu, maka Cello pun akhirnya bisa mengobrol dengan serius kepada Alex.


Alex membulatkan kedua bola matanya. "Di mana?" tanyanya penasaran.


"Tadi di dekat trafic light jalan A. Yani."


Alex menoleh ke sekitar. Kemudian pria itu menuntun Cello untuk lebih menjauh dari keramaian di rumah itu.


"Tapi sepertinya Varo berubah, Lex," seru Cello lagi.


"Aku sama Ryan sempat ngejar, tetapi Varo menghindari kita. Sebenarnya Ryan tadi mau datang ke sini, kita berangkat bareng, berhubung dia penasaran jadi dia memutuskan mengejar Varo. Sorry, kalau aku bohong tentang Ryan barusan."


Alex mengangguk paham. Bagaimana pun Varo juga penting buat mereka. Sejujurnya tiga pria itu sangat merasa kehilangan sosok Varo. Apalagi setelah kasus yang menimpa keluarganya itu, seharusnya mereka lah yang menjadi support utama Varo. Tetapi sayangnya Varo terlanjur menghilang duluan.


Tak lama setelah itu ponsel Cello berdering, dan yang di tunggu-tunggu kabarnya akhirnya menelpon juga.


"Cel, tolong!" Suara Ryan terdengar panik.

__ADS_1


"Ada apa, Yan? Kamu di mana?" tanya Cello tak kalah panik.


"Aku sharelock. Tolong kamu cepetan ke sini. Ada masalah sama Varo."


"Oke! Oke!"


Lalu Cello mengakhiri telponnya. Raut wajah Alex juga sama paniknya dengan Cello.


"Aku harus menemui Ryan, Lex. Kamu tidak perlu ikut dulu. Nanti pasti aku kabarin," pamit Cello.


Alex mengangguk. Walau sebenarnya ia sangat ingin ikut, mengingat di rumahnya sedang ada acara yang tak mungkin ia tinggal, maka ia hanya bisa pasrah.


"Trus Ratu gimana?"


"Aku titip sini dulu. Nggak pa-pa kan?"


"Oke!"


Setelah itu Cello segera menghampiri Ratu yang asyik menikmati cemilan bersama Resty. Setelah berpamitan kepadanya, Cello segera keluar dari rumah itu. Hingga sampai lupa tidak berpamitan kepada orang tua Alex dan orang tua Resty.


"Si Cello mau ke mana, kayak lagi ada hal urgen aja," ucap Ika yang tiba-tiba ikut nimbrung bareng Resty dan Ratu.


"Tauk, tuh. Bikin kepo aja," sahut Resty.


*


Hai hai readersku tercinta....


Selain cerita ini othor punya dua novel on going yang lain yang juga butuh dukungan kalian. Buruan kepoin yuk...


Jangan lupa setelah mampir subscribe ya... Like, komentar, juga vote kalian othor tunggu loh...


Yuk buruan....


__ADS_1



__ADS_2