Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 167


__ADS_3

Hingga malam menjelang rupanya Ika masih dingin terhadap Tommy. Padahal pria itu sudah menjelaskan semuanya perihal Sisil kepadanya. Hanya saja wanita itu masih sulit menerima kenyataan yang terjalin antara mereka sekarang, meski Tommy berkali-kali menegaskan jika tidak ada rasa apapun yang tersisa kepada ibu mertua Resty itu.


Dan Tommy juga sudah menjelaskan sebenarnya Kenzo juga sudah tahu lama tentang hal ini. Malah Kenzo sendiri yang berinisiatif melamar Resty untuk Alex dulu. Karena tahu bagaimana tidak enaknya gagal dengan seseorang yang di cintai, makanya mereka memutuskan agar anak mereka tidak merasakan apa yang pernah di rasakan oleh kedua orang tuanya dulu.


Malam sudah semakin petang. Saat ini Ika berbaring lebih dulu di kasur, mengabaikan Tommy yang sedari tadi menatap sendu kepadanya sambil duduk di tepi ranjang sebelah Ika berbaring.


"By, ayolah jangan diemin aku terus. Apa harus aku jelaskan lagi dari awal? Apa yang masih kamu ragukan dariku? Tolong bicara, tidak baik juga buat anak kita kalau kamu badmood kayak gini." Tommy berkata sambil mengelus mahkota istrinya penuh perhatian.


"Aku mau tidur, Mas," sahut Ika masih terkesan dingin, karena dari tadi wanita itu lebih banyak diamnya.


Tommy mendaratkan kecupan hangatnya di kening Ika. Wanita itu memejamkan matanya seiring kecupan sayang suaminya itu terlepas.


"Tidurlah," ucap Tommy sambil membelai pada pipi istrinya.


Mungkin lebih baik begini saja. Menunggu istrinya kembali seperti biasa dengan bersabar dan bersabar. Mungkin butuh waktu untuk menerima semuanya. Tetapi baru seharian saja di diami seperti itu rasanya Tommy sudah tidak betah.


Pria itu kemudian turut merebahkan diri di samping istrinya. Merapatkan tubuhnya untuk bisa memeluk tubuh istrinya seperti biasanya ketika mereka akan tidur. Hanya bedanya saat ini istrinya itu sedang memunggunginya, tetapi tidak masalah bagi Tommy selama istrinya tidak menolak di sentuh olehnya.


"Maafkan aku, By," ucap Tommy sambil menelusuk pada ceruk leher istrinya. Mencari kenyamanan dengan mencium aroma istrinya yang menenangkan.


Ika masih bergeming. Katakan saja ia sedikit egois. Tetapi sejujurnya ia sudah memaafkan suaminya itu.


Suara dengkuran halus perlahan terdengar dari Tommy. Seharian di diami dengan kondisi tubuhnya yang gampang oleng, bisa mudah terlelap begitu menemukan kenyamanan dengan memeluk sang istri. Berbeda dengan Ika yang sulit memejamkan matanya. Perutnya tiba-tiba merasa tidak nyaman, yang membuatnya bergerak gelisah hingga membangunkan Tommy yang sebenarnya sudah terlelap.


"Kenapa, By? Sepertinya kamu tidak nyaman?" tanya Tommy sambil membalik tubuh istrinya agar bisa telentang dengan nyaman.


Ika menggeleng kecil. Tetapi kerutan tipis di keningnya menandakan jika sebenarnya wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


Tommy memiringkan badannya sambil menopang kan tangannya di kepalanya. Menatap lekat wajah istrinya yang kentara gelisah.


"By, kamu bikin aku cemas. Kamu baik-baik saja kan?" Tangan pria itu menyentuh pipi Ika, memastikan suhu tubuhnya yang ternyata baik-baik saja.


Beralih tangan itu turun ke perut Ika. Mengusapnya dengan lembut. "Apa perutnya tidak enak?" tebak Tommy.


Ika menganggukkan kepalanya. Spontan Tommy bangun dan duduk di sebelah Ika.

__ADS_1


"Perut aku rasanya kram, Mas," tutur Ika akhirnya.


"Ayo kita ke rumah sakit, By. Kita periksa, takut ada apa-apa dengan kandungan kamu," ajak Tommy sambil menyingkap selimut dari tubuh Ika, bersiap menuntun Ika untuk turun dari kasurnya.


Tetapi Ika menggeleng.


"Jangan keras kepala, By. Ini demi kebaikan kamu. Aku takut ada apa-apa yang bisa fatal sama kamu." Tommy berkata sambil terus mengusap lembut pada perut Ika.


"Kita cari dokter lain, kalau kamu tidak mau periksa di rumah sakit yang tadi," usul Tommy menganggap istrinya bergeming karena tidak mau bertemu Jessy, dokter yang tadi memeriksa kandungannya.


"Sayang," sapa Tommy dengan lembut. Berharap istrinya itu mau menurut dengan ajakannya.


"Tidak usah ke dokter, Mas. Perutku sudah enakan?" ucap Ika sejujurnya.


"Serius?" Tommy nampak tak percaya, tetapi tangannya masih terus mengusap perut Ika.


Ika mengangguk. "Sepertinya anak kamu lagi pingin di elus, buktinya terasa nyaman dari tadi di elus-elus sama kamu," tutur Ika setelah di rasa membaik setelah di elus-elus perutnya.


"Kamu nggak lagi bohong kan? Serius ini sudah nyaman beneran?"


Mungkin perutnya yang tidak nyaman suatu teguran bagi Ika untuk tidak terlalu stress yang akhirnya akan berdampak buruk dengan kandungannya. Anehnya obat dari penghilang rasa kram di perutnya itu cukup dengan usapan lembut suaminya.


"Tidur, Mas." Ika menepuk bantal di sebelahnya meminta Tommy tidur dan tidak mencemaskannya karena sudah merasa enakan.


Tommy menurut tanpa banyak bicara lagi. Wanita itu segera memeluk tubuh Tommy begitu sudah berbaring di sebelahnya. Tommy langsung menyambut dengan balas memeluknya.


"Maafkan aku ya, By," ucap Tommy saat netra itu saling bertautan.


Ika mengangguk pelan.


"Aku tidak bermaksud tidak jujur sama kamu. Aku menutupinya karena aku takut kamu akan meninggalkan aku setelah tahu ini."


Ika menempelkan jari telunjuknya di bibir Tommy. "Nggak usah di jelaskan lagi. Aku sudah memaafkan. Semua orang pernah memiliki masa lalu dengan orang lain. Aku percaya kamu, Mas. Dari semenjak aku menerima lamaran kamu, dari saat itu aku sudah menerima kamu, apa adanya kamu, dengan masa lalu kamu. Tidak heran kalau kamu punya beberapa mantan waktu muda dulu. Karena sudah om-om pun kamu tetap mempesona."


Tommy tersenyum lebar mendengar pengakuan istrinya itu. Bukan karena pujian di akhir kalimatnya, tetapi merasa bahagia karena istrinya sudah memaafkan dan tak lagi mendiaminya.

__ADS_1


"Terimakasih, By." Lalu Tommy mencium kening istrinya cukup lama.


"Aku juga minta maaf, Mas, karena sudah mengabaikan kamu seharian ini. Jujur aku kaget, tetapi apa gunanya memikirkan masa lalu kamu, sedangkan masa depan kamu itu aku dan anak-anak kita."


Tommy tersenyum riang sambil merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan hangatnya. Tak butuh waktu lama keduanya sama-sama terlelap masuk dalam buaian mimpi panjang mereka malam ini.


Keesokan paginya....


Ika terkesiap begitu Tommy tiba-tiba melepas tangannya yang sedang memeluk pinggangnya. Wanita itu melihat Tommy segera berlari ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya pagi ini.


Ika menyusul suaminya, dan langsung membantu memijiti tengkuknya agar terasa lebih nyaman. Setelah berangsur mereda, Tommy kembali lagi ke kasur untuk bisa berbaring lagi. Karena mendadak tubuhnya merasa aneh dan membuatnya malas untuk beraktifitas.


Sedangkan Ika yang tadi sempat keluar ke dapur untuk mengambilkan Tommy air minum hangat, kini sudah datang dan duduk di sebelah Tommy berbaring. Lalu menyerahkan air minum itu, dan Tommy meminumnya sedikit demi sedikit.


"Apa mungkin kamu kemarin salah makan, Mas?" tanya Ika sangat cemas.


Tommy menggeleng. Semakin ke sini ia semakin curiga jika kesehatan dirinya terganggu mungkin karena bawaan istrinya yang sedang mengandung. Karena ia juga pernah melihat kejadian seperti ini terjadi sama Zayn dulu.


"Kalau begitu aku telpon dokter datang ke sini."


Ika beranjak berdiri untuk mengambil ponselnya, tetapi langsung di cegah oleh Tommy.


"Tidak perlu, By. Nanti aku sehat lagi."


"Nggak usah keras kepala deh, Mas. Coba nurut sekali saja sama aku. Aku tuh khawatir banget sama kesehatan kamu. Lihat sekarang, pagi-pagi sudah muntah-muntah, belum lagi yang tiba-tiba ngerasa pusing."


"Ini cuma bawaan bayi," sahut Tommy namun tidak di mengerti oleh Ika.


"Apaan sih, Mas? Emang ada hubungannya? Aku yang hamil, kamu yang ngidam, gitu maksudnya?"


Tommy mengangguk mengiyakan. Seandainya bisa memilih, sebenarnya ia tidak mau tersiksa begini. Tiba-tiba mual, tiba-tiba pusing, selera makan juga berkurang. Dulu saja saat almarhum istrinya mengandung Resty, Tommy biasa saja. Tetapi sekarang berbeda. Mungkin pria itu sudah di takdirkan ikut menikmati setiap proses yang biasanya di rasakan oleh ibu hamil. Dan itu sungguh membuatnya tidak nyaman.


"Kalau ini beneran karena kamu ngidam, rasanya tidak adil," ucap Ika kemudian.


"Seharusnya aku yang ngidam, aku yang di manja-manja sama kamu. Kalau terbalik begini boro-boro kamu manjain aku, Mas. Aah... Nggak asyik!" protes Ika merasa tidak sesuai ekspektasinya, membayangkan bumil akan selalu di manja suami, tetapi sepertinya hal itu akan berbalik mengingat Tommy yang di landa ngidam.

__ADS_1


*


__ADS_2