
Alex dan Resty duduk dengan wajah tertunduk di rumah pria yang mereka tahu sebagai ketua RT setempat. Beruntungnya Alex dan Resty tidak jadi dibawa ke kantor dusun seperti yang pria bertubuh besar itu katakan tadi. Meski begitu tetap saja mereka berasa disidang walau bukan didepan umum.
Seorang wanita berusia hampir empat puluh tahunan keluar sambil membawa dua gelas teh hangat untuk disuguhkan kepada Alex dan Resty. Dalam ruangan itu hanya ada mereka berlima. Alex dan Resty, pak RT dan istri, juga seorang pria satunya tadi yang rupanya bertugas sebagai penjaga keamanan di kampung ini.
"Silahkan diminum dulu tehnya." Wanita itu mempersilahkan Alex dan Resty agar meminum tehnya.
Mereka tak langsung mengambilnya. Lebih ke rasa canggung bercampur takut yang mereka rasa, hingga melupakan tubuhnya yang kedinginan yang membutuhkan minuman hangat saat ini juga.
"Silahkan. Selagi saya belum interogasi kalian sampai malam." seru pak RT, terdengar slow tetapi arti kalimatnya sangat mencekam bagi mereka.
Kemudian Alex dan Resty sama-sama meminum teh hangat itu sedikit demi sedikit. Tentu dengan perasaan yang sulit dijelaskan lagi.
Setelah dirasa kondisi mereka sedikit menghangat, barulah pak RT itu mengulas senyum, tetapi senyum devil bagi mereka.
"Coba jelaskan sedang apa kalian di gubuk itu?" tanyanya, entah sudah ke berapa kalinya mereka tadi menanyakan hal yang sama.
"Seperti yang saya bilang tadi, Pak. Kami kehujanan. Motor kehabisan bensin. Berhubung ada gubuk itu kita berteduh. Karena kami kira gubuk itu ada orangnya didalam." jelas Alex, tetap konsisten dengan yang dijelaskannya tadi.
"Dan karena tidak ada orangnya jadi kalian masuk begitu saja?" Pria yang satunya ikut bertanya, tetapi nada bicaranya lebih meninggi dibanding gaya bicara pak RT yang terlihat lebih sabar tetapi beraura dingin.
Alex diam. Wajahnya tertunduk menatap lantai keramik rumah itu. Dalam hal ini Alex memang salah. Masuk ke rumah orang, entah itu kosong sekalipun, memang tidak dibenarkan.
"Sudah lah pak RT. Langsung giring ke kantor dusun saja mereka. Kalau cuma dibiarkan disini mereka nggak bakal jera. Entar akan muncul pelaku lain lagi, karena pak RT tidak mau tegas sama mereka!" Pria itu langsung geram. Diamnya Alex ia anggap sebagai pengakuan.
"Lagian kamu bisa-bisanya masih muda begini mau jadi P*SK. Cih!" Pria itu berkata sengit sambil menatap tajam kepada Resty.
"Tunggu! Bapak ngomong apa?!" Alex mulai naik pitam, hingga ia sampai berdiri ditempat saking geramnya kepada pria itu.
"Kalau bukan P*SK trus apa?"
Kaki Alex sudah maju selangkah, bersiap memberinya tonjokan super agar tidak menuduh Resty sembarangan. Andai tidak segera ditahan oleh pak RT, mungkin bisa lain urusan ceritanya.
Jangan tanya bagaimana Resty saat ini. Gadis itu sedari tadi tak berani mengangkat wajahnya. Derai airmatanya perlahan tumpah. Perasaan kacau dan akan diamuk oleh eyang Asih sepulangnya nanti, sudah terbayang nyata didepan mata. Apalagi saat mendengar tuduhan dari pria petugas keamanan itu yang sangat menohok ke ulu hati.
__ADS_1
"Tolong jangan saling emosi dulu. Tujuan kita disini untuk menanyakan, bukan menuduh. Jika memang tidak seperti yang dituduhkan, kami butuh bukti. Tetapi jika kalian tidak bisa membuktikan, terpaksa kami bawa kalian ke kantor dusun untuk kami serahkan langsung ke kepala desa kami. Jika sudah ada di sana, mohon maaf, saya pribadi sudah tidak bisa bantu." tutur pak RT itu penuh kebijakan.
"Bapak memang tidak menuduh. Dia yang asal tuduh!" Alex menunjuk kepada pria bertubuh tegap itu.
Sesaat mereka saling melempar tatapan sengit, akan tetapi lekas mereda ketika pak RT kembali mengintrupsi untuk tetap tenang.
"Sebenarnya tuduhan pak Slamet ini ada alasannya. Beliau saya tugaskan untuk menjaga keamanan, terlebih mengintai orang-orang yang berbuat hal tidak senonoh di gubuk kosong itu." ujar pak RT.
Lalu kemudian pak RT tersebut menceritakan semuanya. Bahwa ternyata gubuk kosong itu sering dimanfaatkan oleh para P*SK bersama pria hidung belangnya untuk bertransaksi di sana.
Penemuan motor yang ditinggal begitu saja oleh Alex, tentu membuat pak RT dan pria bernama Slamet itu mencurigai gubuk itu ada target yang memang mereka incar selama ini.
Pantas saja di gubuk itu tadi Alex menemukan selimut cukup wangi di sana. Ternyata oh ternyata...
"Jadi bisakah kalian memberi bukti kepada kami jika kalian bukan seperti itu?" tanya pak RT, setelah selesai menceritakannya.
"Bisa." Alex menyahut tegas.
"Kalau begitu tolong hubungi orangtua kalian."
"Bagaimana ini?" Batin Alex resah kembali.
"Nggak mungkin aku telpon papa. Bisa langsung kena hukuman dari papa nanti." Resty ikut membatin, juga merasa resah tak berkesudahan.
"Kenapa malah diam?" RT tersebut mulai curiga.
"Mm... Saya tidak punya hape, Pak. Jadi bagaimana saya mau menghubungi orangtua saya?" terang Alex.
"Aah, bohong itu! Pasti hanya alasan! Mana ada pemuda sekarang nggak punya hape!" Pak Slamet merasa emosi lagi.
"Itu kenyataan. Saya nggak bohong." Alex memberi pembelaan yang sebenarnya.
"Kalau kamu bagaimana?" RT itu balik bertanya kepada Resty.
__ADS_1
Resty tak menjawab, tetapi tangannya meraih hapenya dari kantong celananya lalu meletakkannya ke atas meja.
"Hape dia mati." Alex menjelaskan.
Tak mau membuang waktu pak RT tersebut mengambil hapenya sendiri dan meletakkannya ke atas meja itu juga.
"Hubungi orangtua kalian pake hape saya." ucapnya.
Sejenak Alex dan Resty terdiam lagi. Berusaha mencari alasan tepat untuk bisa lolos dari acara telpon keluarga.
"Kenapa diam lagi?"
"Jujur saya tidak hafal nomor orangtua saya." Dusta Alex.
Pak RT tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia segera menyuruh pak Slamet untuk mencharger ponsel milik Resty, agar masalah ini bisa cepat terselesaikan.
Disaat menunggu daya ponsel itu penuh, istri pak RT itu mendekati Resty. Ia mengajak Resty untuk mengganti pakaiannya yang basah agar tidak demam nanti. Karena sejak memperhatikannya tadi, wajah Resty terlihat pucat kedinginan.
Alex pun demikian. Ia disuruh pak RT tersebut untuk mengganti pakaiannya juga dengan yang bersih. Sungguh pasangan pak RT dan bu RT ini benar-benar orang baik dan bijaksana. Pantas saja mereka terpilih menjadi ketua RT, karena dari sikapnya terlihat jelas kalau mereka bisa mengayomi masyarakat dengan sabar dan tenang.
Resty dan Alex kembali ke ruang tamu, setelah sama-sama selesai membersihkan badan. Sekilas Alex tersenyum kecil saat melihat Resty memakai gamis yang dipinjami ibu RT tersebut. Terlihat aneh menempel ditubuh Resty, tetapi sejuk dipandang mata.
Beruntung saja pak RT tidak memberi pinjam Alex pakaian koko dan sarung. Sebab jika benar, mereka mendadak akan seperti pasangan ustadz mau pengajian.
Disaat mereka sudah duduk kembali di kursi panas tadi, tetiba seorang tamu berkunjung ke rumah ini.
Setelah menyerukan salam, tamu tersebut langsung tercengang saat melihat Alex juga berada disini.
"Loh, Deden. Ngapain disini?" tanyanya kepada Alex.
"Kamu kenal dia, Pri?" Pak RT balik bertanya.
"Ya kenal, pak RT. Deden ini kerja di rumah ibu Asih."
__ADS_1
*