
"Kenapa kalian bisa barengan gitu tersedaknya?" Eyang Asih bertanya heran.
"Susah nelannya, Buk." sahut Alex, tentu hanya alasannya saja.
Seketika eyang Asih melirik kepada Resty yang sedang menghela nafas, tetapi tatapannya kentara sedang tak tenang.
"Kamu sakit tenggorokan? Jangan dibiarkan loh. Sebentar aku ambilkan obatnya di kamar, sepertinya aku pernah simpan obat kayak gejala kamu itu."
Eyang Asih pun segera beranjak ke kamar untuk mengambil obat yang dibutuhkan Alex. Sekarang hanya tinggal Resty dan Alex berdua saja diruang makan itu. Meski begitu keduanya masih saling diam, tak satu pun dari keduanya mau membuka mulut walau sekedar say hello saja.
Resty sendiri kembali menyibukkan diri sambil memakan sarapannya walau rasanya bagai sulit ditelan. Apalagi kali ini Alex menatapnya begitu lekat, membuat gadis itu semakin salah tingkah.
"Mas Deden, ibu Asih kemana?" tanya Ayu, yang seketika sudah muncul bersama pak Saleh dibelakangnya.
"Eh, e--e-- ke--"
Saking groginya karena ketika asyik-asyiknya menatap intens kepada Resty, hingga membuat Alex tergagap tak bisa menjawab dan hanya bisa menunjuk kamar eyang Asih dengan telunjuknya.
"Ooh..." Ayu ber-oh saja. Walau sebenarnya sedikit heran kenapa mas Dedennya itu berubah sedikit nervous saat berhadapan dengan Resty.
Tak lama setelah itu eyang Asih keluar dari kamarnya. Wajahnya terlihat sedikit kecewa, karena obat yang dicarinya rupanya tidak ada.
"Saleh, setelah ini minta tolong ke apotik ya? Belikan obat sakit tenggorokan." titahnya, sambil kemudian duduk lagi di kursi makan.
Saleh pun mengangguk patuh.
"Tidak usah, Buk. Sebenarnya tenggorokan saya tidak kenapa-napa." tolak Alex, semakin merasa tak enak diperlakukan demikian oleh eyang Asih.
"Beneran nggak sakit? Kamu jangan coba berbohong ya? Siapapun yang bekerja disini itu adalah tanggung jawabku. Jadi kalau sampai ada apa-apa sama kalian, setidaknya aku sudah membantu semampuku."
Mendengar eyang Asih sudah berbicara begitu, tentu Alex tak berani membantahnya lagi. Kemudian mereka semua berkumpul bersama dalam satu meja untuk menyantap sarapannya.
Sesekali Resty mencuri pandang kepada Alex, karena memang Ayu yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Alex terlihat banyak tingkah demi bisa mendapatkan perhatian Alex.
Merasa sedikit jengah dengan tontonan didepannya, Resty pun menyudahi sarapannya.
"Aku sudah selesai. Mm, Eyang, aku balik kamar dulu." Resty segera mendorong kursinya ke belakang lalu berdiri ditempat.
"Mau nambah tidur?" Eyang Asih langsung menebak sekenanya.
__ADS_1
Resty melirik sebal kepada eyangnya. Karena dengan dituduh begitu rasanya seperti ia menjadi cewek pemalas yang kerjaannya hanya bisa tidur.
"Nggak lah, Eyang." tampiknya sedikit jutek.
Lalu kemudian Resty pergi begitu saja dengan hentakan kakinya yang kentara kesal. Dan eyang Asih sendiri hanya bisa menatap heran kepada Resty yang tiba-tiba berubah jutek saja.
"Ayo habiskan sarapannya." ucapnya kemudian kepada ketiga pekerja rumahnya.
Tak lama setelah itu eyang Asih menyudahi sarapannya lebih dulu. Terlihat ia melangkah masuk ke kamarnya juga.
"Mas Deden mau Ayu buatkan teh jahe?" Gadis belia itu langsung beraksi ketika eyang Asih sudah benar-benar masuk ke kamarnya.
"Tidak usah, Yu." tolak Alex.
"Tapi teh jahe buatan Ayu mantap loh, Mas. Dijamin nanti kalau mas Deden minum teh jahe buatan Ayu, sakitnya bakalan langsung sembuh. Percaya deh." ucapnya jumawa.
Alex bergeming saja. Pikirannya memang sedang resah bercampur tubuh yang sedang kurang fit. Apalagi tadi ia sempat menangkap raut tak senang Resty saat dirinya ikut bergabung satu meja dengannya, tentu membuatnya semakin galau. Rasa cintanya kepada gadis itu sama sekali belum menghilang, bila perlu semakin berbunga setelah bertemu lagi dengan gadis pujaannya itu.
Tanpa berucap apa-apa Alex pun juga menyudahi sarapannya. Ia segera beranjak sambil membawa piring kotornya ke dapur. Disusul kemudian pak Saleh yang ikutan beranjak, menyusul kemana Alex pergi.
"Den Alex." sapanya setengah berbisik.
Alex menoleh. "Ada apa, Pak?"
"Masalah mbak Resty, Den." lanjutnya kemudian.
Alex hanya tersenyum getir. Sebenarnya ia juga sedang memikirkan alasan yang tepat tanpa membongkar aib keluarganya, andai nanti Resty menanyakan keberadaannya disini, apalagi dengan statusnya yang menjadi pekerja serabutan di rumah eyangnya Resty. Tetapi melihat tadi Resty acuh dan seperti tidak saling kenal, bisa jadi Resty juga tidak begitu peduli tentang kenapa bisa ia berada disini.
"Saya takut mbak Resty curiga trus nanya-nanya sama saya, Den." ucap Saleh, terlihat ikut gelisah.
"Kalau memang Resty nanya, pak Saleh langsung suruh tanya ke aku saja. Pak Saleh nggak perlu jawab, kalau Bapak nggak mau jawab." jawabnya, terlihat lebih tenang.
"Kalau Den Alex bilang begitu, ya sudah. Saya hanya takut saja, Den." serunya lagi.
Alex tersenyum lagi. Sebelah tangannya menepuk pundak pak Saleh, sedangkan lelaki paruh baya itu hanya tertunduk patuh didepannya.
"Bapak jangan begini." ucapnya, sambil mengomando pak Saleh agar mengangkat wajahnya.
"Sudah cukup namaku disini berubah jadi Deden gara-gara Bapak. Aku nggak mau ibu Asih curiga, kalau sampe tahu pak Saleh begini didepanku."
__ADS_1
Memang nama Alex berubah menjadi Deden karena kesalahpahaman Ayu. Meski eyang Asih sebenarnya sudah tahu kalau Deden bukan nama aslinya, tetapi masih beruntung eyang Asih tidak curiga dan hanya menganggap biasa saja.
"Mas Deden, biar Ayu saja yang cuci piringnya."
Tiba-tiba Ayu muncul dan mencegah Alex yang kebetulan sudah siap mencuci piring kotornya sendiri.
Kali ini Alex memilih menurut. Kepalanya yang semakin pusing efek kelamaan berdiri, membuatnya ingin segera rebahan di kamar.
Melihat wajah Alex yang bertambah pucat, pak Saleh pun sigap membantu. Merangkul bahu Alex penuh kasih, menuntunnya melangkah hingga sampai ke kamarnya.
"Den Alex istirahat saja. Ibu Asih pasti maklum kok, kalau Den Alex nggak bisa bantu kerja hari ini." ucap Saleh, saat akan beranjak dari kamar Alex.
Dan Alex hanya mengangguk. Kedua matanya langsung terpejam rapat, berasa tak kuat untuk membuka mata efek kepala yang mulai cenat cenut.
"Saya keluar, Den. Mau ke apotik dulu, suruh ibu tadi. Kalau butuh bantuan apa-apa, nanti saya pasrahkan sama Ayu ya Den?"
"Jangan, Pak." Alex langsung menolak tegas.
Bukan tanpa sebab ia begitu menjaga jarak dari Ayu. Selain memang hanya menganggap Ayu sebagai teman saja, tetapi sedikit meresahkan andai nanti Ayu yang mengurusnya.
Mendengar penolakan dari Alex, akhirnya pak Saleh keluar dari kamar berukuran lumayan lebar bagi seorang pekerja seperti Alex.
"Saleh," sapa eyang Asih, begitu melihat Saleh keluar dari kamar Alex.
"Ayo antar aku ke kebun." ajaknya seketika.
Saleh mengangguk patuh dan segera mengekor dibelakang eyang Asih yang sudah terlihat siap berangkat.
Pria itu segera mengeluarkan mobil milik majikannya dari dalam garasi. Dan begitu sudah siap berangkat, eyang Asih masuk ke mobil dan menempati tempat duduknya di jok tengah.
"Nggak jadi ke apotik, Buk?" tanya Saleh, saat mobil itu melesat keluar dari pekarangan rumah.
"Ah, iya ya." jawabnya sedikit kaget.
"Biar aku suruh Resty saja. Kalau nggak begini entar tuh anak malah tidur mulu kerjaannya." ucapnya lagi, sambil kemudian meraih ponselnya dan segera menghubungi Resty.
*
Maaf ya readers🙏 Othor kemarin libur up karena lagi sibuk di RL.
__ADS_1
Terus dukung karya othor yuk..
Like, komentar, vote, juga hadiah, othor mau loh😁