
"Mual lagi, Yang?" sapa Alex saat bertemu Resty yang hendak keluar dari kamar mandi.
Resty hanya mengangguk, sedikit malas mau ngomong efek mulut terasa hambar pagi-pagi sudah drama muntah-muntah.
"Kamu masuk aja dulu." Resty memberi ruang jarak agar suaminya itu masuk lebih dulu ke kamar mandi.
Alex menurut saja. Pria itu lantas masuk ke kamar mandi itu dengan perasaan gelisah. Kembali kepikiran dengan kondisi Resty yang kembali kambuh seperti kemarin.
Selang beberapa saat kemudian, Alex sudah selesai membersihkan diri dari hadas besarnya. Pria itu melihat Resty tengah berbaring lemah di kasurnya. Tetapi kemudian Resty beranjak bangun begitu melihat Alex sudah keluar dari kamar mandi.
"Kamu sholat dulu nggak pa-pa. Nggak usah nunggu aku, takut agak lama," ucap Resty sebelum kemudian masuk ke kamar mandi.
Alex masih menatap sendu pada sosok istrinya yang kentara lemah dan lemas. Hari ini juga Alex harus membawa Resty ke rumah sakit untuk berobat. Kondisinya yang riskan itu membuatnya selalu gelisah tak berkesudahan, andai masih belum tahu apa diagnosa yang sebenarnya.
Karena Resty sudah berpesan agar ia tidak usah menunggu untuk bisa berjamaah bersama, maka Alex memulai kewajiban dua rakaatnya itu seorang diri.
Sedangkan Resty sendiri tidak segera membersihkan diri di kamar mandi. Wanita itu masih betah berdiam diri didepan kaca wastafel sambil memandangi alat penguji kehamilan itu di tangannya. Memang saat masuk ke kamar mandi tadi, Resty menyembunyikan testpack itu dibalik bajunya agar tidak diketahui oleh Alex.
Lama berpikir seorang diri akhirnya memang harus di coba, agar segera menemukan titik terangnya. Dengan perasaan yang masih gamang, Resty pun mulai pipis. Begitu selesai ia mulai memasukkan benda pipih kecil itu pada wadah yang memang sudah disiapkan Resty sebelumnya.
Degup jantung wanita itu mulai berdesir resah. Walau sudah membangun mental agar tetap kuat apapun yang terjadi, yang namanya menguji testpack itu tetap terasa gugup luar biasa bagi Resty.
Tak menunggu waktu lama, dua garis merah itu telah muncul nyata. Wanita itu mengangkatnya. Melihatnya dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
"A--ku hamil...." serunya seorang diri dengan suara yang gemetar.
Tubuh wanita itu lemas dan jatuh bersimpuh di sudut ruangan berukuran empat kali tiga meter itu. Dalam diam wanita itu menangis sesenggukan. Sambil menekan perutnya yang saat ini sudah berisi benih cintanya dengan Alex.
Entah apa yang harus dilakukannya setelah ini. Sudut hatinya sedikit kecewa dengan diri sendiri. Sudah tahu belum siap, tetapi mengapa Tuhan menakdirkan nya ada di rahimnya saat ini.
Tok tok tok....
Suara ketukan pintu dari luar kamar mandi membuat tangis wanita itu berhenti seketika. Resty mengusap bersih air matanya, lalu berdiri sambil berkaca di wastafel itu.
"Sayang," sapa Alex dari balik pintu itu.
"Iya," sahut Resty sedikit mengeraskan suaranya.
"Kamu nggak pa-pa kan?"
Alex tentu khawatir, karena sedari tadi tidak ada tanda-tanda kegiatan apapun dari dalam kamar mandi itu.
"Aku nggak pa-pa," sahut Resty lagi.
Alex menghela nafas lega begitu mendengar Jawaban itu dari Resty.
"Sayang, jangan lama-lama di dalam. Nggak dingin apa?" Alex masih bertanya lagi.
"Iya, bentar lagi aku selesai kok."
"Kalau gitu aku ke bawah ya, mau buat kopi. Sayang mau aku bikinin nggak?"
__ADS_1
"Terserah kamu. Kalau diajak ngomong terus kapan aku selesai mandinya!"
Resty pura-pura menyalakan shower, agar suaminya itu percaya jika dirinya sedang bebersih badan. Dan benar saja, setelah itu Alex akhirnya pamit dan kemudian keluar dari kamarnya untuk bergegas ke dapur.
Di dapur, Alex bertemu dengan mak Asna yang sudah mulai berkutat dengan kesibukannya sebagai ART.
"Mau buat kopi ya, Mas?" sapa mak Asna yang sudah paham betul dengan kebiasaan Alex yang selalu membuat kopi sendiri tiap pagi.
"Iya, Mak. Mak Asna hari ini mau buat sarapan apa?"
"Nah itu mak bingung, Mas. Sepertinya dari kemarin mak perhatikan mbak Resty kurang sehat kan, kalau salah buat sarapan takutnya entar nggak kemakan. Mubadzir kan?"
Alex ikut berpikir sejenak. Sambil tangannya mulai sibuk meracik kopi dan gula ke dalam cangkir.
"Susu hangat campur madu enak kali ya, Mak?"
"Buat mbak Resty, Mas?"
Alex hanya mengangguk.
"Ya tentu enak dong, Mas."
Pria itu tersenyum sumringah.
"Mak mau aku buatkan juga nggak?"
"Ah, jangan, Mas. Nggak perlu. Terima kasih," tolak mak Asna merasa sungkan jika harus dibuatkan minuman oleh menantu majikannya itu.
"Nggak pa-pa lah, Mak. Sekali-kali aku mau buatkan minuman spesial buat mak Asna."
"Waaah... Terima kasih mas Alex, ini merepotkan," ucap mak Asna sambil kemudian menerima segelas susu hangat itu dari tangan Alex.
"Tidak merepotkan, Mak. Di rumah ini mak Asna itu seperti ibuku. Jadi nggak usah sungkan-sungkan lagi ya, Mak."
Wanita berusia separuh abad itu tersenyum ramah. Bersyukur sekali memiliki keluarga majikan yang semuanya baik hati. Apalagi sosok pemuda seperti Alex yang tidak pernah sungkan ikut berkecimpung dalam dunia perdapuran.
Setelah meminum sedikit kopi hitam yang dibuatnya itu, Alex lantas pergi lagi ke kamarnya. Istrinya itu sampai sekarang tidak kunjung keluar dari kamar, membuat jiwa pria itu kembali cemas.
Dan benar saja, lagi-lagi Alex mendapati Resty tengah berbaring di kasurnya saat ia masuk lagi ke kamarnya.
Tanpa banyak tanya pria itu langsung menempelkan telapak tangannya di kening Resty, mencoba mengecek suhu badan istrinya itu. Begitu tahu kalau suhu tubuhnya tidak kenapa-napa, Alex memandangi wajah istrinya itu lekat-lekat.
"Aku nggak pa-pa," ucap Resty sebelum suaminya itu bertanya lebih dulu.
"Aku cuma lagi mager aja. Males mau ngapa-ngapain."
"Apa hari ini nggak mau masuk saja?"
Resty mengangguk lemas.
"Baiklah." Alex menghela nafasnya.
__ADS_1
"Nanti aku izinkan," ucapnya sambil membelai mahkota istrinya dan meninggalkan jejak sayang di kening Resty.
Resty memilih memejamkan mata. Dalam hati sebenarnya gelisah, antara berterus terang atau merahasiakannya dulu. Mengingat benihnya itu masih kecil dan rentan gugur, mungkin lebih baik tidak memberitahunya dulu agar tidak koar-koar.
Sambil menata hati agar lebih siap menerima kenyataan, akhirnya Resty memutuskan untuk tidak mengatakannya dulu. Apalagi ia juga menyimpan sedikit kesal pada wujud suaminya itu. Bisa-bisanya kebobolan ditengah dirinya sudah maksimal mencegahnya.
Semua ini fix salah Alex! Karena Resty jadi ingat jika sebelumnya mereka pernah melakukannya tanpa pengaman, saat awal-awal merasakan nikmatnya malam pertama itu. Yang membuatnya bertambah jengkel saat teringat dengan ekspresi suaminya yang seperti tidak merasa bersalah saat itu.
"Maaf, Sayang, lupa nggak make. Habisnya kamu secandu ini sih..."
Mendadak Resty terngiang-ngiang lagi akan ucapan Alex saat itu. Dan itu membuatnya seketika enggan berlama-lama melihat wajah suaminya. Entah kebarengan sama bawaan bayi atau memang karena Resty yang masih kecewa, wanita itu seketika langsung balik badan memunggungi suaminya.
"Eh, kamu kenapa lagi?" Alex bertanya heran, melihat raut Resty yang kentara tidak sedap dipandang.
"Keluar sana!" Resty menghedikkan bahunya karena tangan Alex saat ini sedang menyentuh bahunya.
"Loh?" Alex hanya bisa terperangah terheran-heran.
Menyadari mood istrinya lagi konslet, maka lebih baik Alex mengalah saja.
"Aku buatin susu, ada campuran madunya, diminum dong..." ucap Alex lagi, mencoba mengembalikan mood pagi ini sebaik mungkin.
"Nggak mau!" Resty langsung menolaknya.
"Beneran nggak mau?"
Resty tak menyahut lagi.
Tetapi Alex malah meletakkan susu itu diatas nakas. Siapa tahu nanti istrinya itu minat meminumnya.
"Sayang, hari ini mau sarapan apa?" tanya Alex lagi, terus bersabar dengan harapan istrinya itu bisa kembali fit seperti sebelumnya.
"Nggak minat! Males!"
Pria itu kali ini hanya bisa menghela nafas sepenuh dada. Istrinya itu begitu mengherankan pagi ini. Tanpa tahu penyebabnya tiba-tiba saja sudah mode bete bin ngambek.
"Ya sudah. Kalau begitu aku nggak mau sarapan juga," ucap Alex kemudian. Pura-pura merajuk.
Resty masih bergeming. Masih betah memunggungi Alex yang terlanjur resah dan gelisah.
"Sayang..."
Alex mendekatkan wajahnya, beradu pipi dengan pipi Resty.
"Kamu kenapa sih?" tanyanya mulai gemas.
Cup.
Cup.
Cup.
__ADS_1
Walau kecupan pria itu banyak bertandang di pipi Resty, tetapi tetap tak membuat wanita itu merubah posisi. Malah semakin merapatkan pejaman mata, sehingga membuat suaminya itu kembali terheran-heran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu.
*