
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari, Alex kembali tiba di rumahnya. Selama diperjalanan itu Sisil tetap diam, sama sekali tak mau mengeluarkan suaranya. Sedangkan Kenzo meski merasa agak jenuh, tetap mengimbangi mood istrinya yang sedang tidak baik.
Berbeda dengan yang dilakukan Alex. Pria itu selama perjalanan terus sibuk saling chatting dengan Resty. Ungkapan rasa keduanya yang sedang galau sama-sama tercurahkan lewat saling berbalas pesan.
Hingga sampai mereka masuk ke rumah itu, Sisil langsung beranjak masuk begitu saja ke kamarnya. Sengaja meninggalkan Kenzo dan Alex yang menatapnya dengan entah.
Sekali lagi Kenzo merangkul pundak anaknya dengan penuh kasih. Pria itu lebih banyak diam kepada anaknya. Tetapi sebenarnya ia sedang mencari solusi terbaik agar sama-sama tidak melukai perasaan istri dan anaknya. Kemudian Kenzo pun menyusul istrinya ke kamarnya.
Alex masih mematung di ruang keluarga itu. Matanya menatap nyalang ke seluruh ruang rumahnya yang tidak ada perubahan apapun meski sempat tidak ditempati sebulan lamanya. Bahkan sebelum masuk tadi Alex juga sempat melihat beberapa kendaraan yang biasa dipakainya tetap ada di garasi halaman depan. Meski ingin bertanya bagaimana cara kedua orangtuanya mengatasi masalah perusahaan kemarin, tetapi karena suasana tidak memungkinkan, terpaksa Alex menekan rasa penasarannya itu.
"Selamat datang kembali, Den Alex..." Bibi Siti, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Alex menyambutnya riang.
Sekilas Alex tercengang melihat wanita paruh baya yang sedari Alex kecil telah bekerja di rumahnya itu tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya.
"Bi Siti kapan datang?" tanya Alex.
"Datang dari mana maksudnya? Bibi nggak pernah pulang kok, Den." balasnya, yang membuat pria itu mendadak bingung.
"Kan rumah ini--" Alex tak jadi melanjutkan bicaranya.
Mendadak ia curiga dengan mama papanya. Dari pada terus penasaran, maka Alex pun segera beranjak dan bermaksud akan menemui mama papanya ke kamarnya. Tetapi langkah itu terhenti sebatas depan pintu kamar kedua orangtuanya, setelah samar-samar ia mendengar perdebatan sengit dari kedua orangtuanya.
"Kita bisa batalkan rencana itu." seru Sisil, sudah tekad bulat dengan keputusannya.
"Kamu tidak kasihan Alex?"
Sisil bergeming. Suatu pertanyaan yang sangat sulit ia jawab. Tentu ia sangat menyayangi Alex melebihi apapun. Akan tetapi untuk berbesanan dengan Tommy, wanita itu masih sangat sulit menerimanya.
Sisil tidak pernah masalah dengan pilihan Alex kepada Resty, sebab gadis itu memang terkesan baik untuk Alex. Andai saja Resty bukan anak dari Bella, wanita yang pernah menjadi penghalang hubungannya dengan Tommy, mungkin Sisil masih mau mempertimbangkannya lagi.
"Apa karena dia anaknya Tommy, kamu tidak mau melanjutkan ini?" tanya Kenzo, sangat ingin tahu apa alasan penolakan itu.
__ADS_1
Sebenarnya sebelum bertanya itu, sudut hati kecil Kenzo sudah perih duluan. Jawaban yang menjelaskan kalau Sisil masih belum move on dengan Tommy, mendadak Kenzo tak mau mendengar jawaban seperti itu.
"Kenapa kamu diam, Sil?" Kenzo terus mengusik jawabannya.
"Kamu ingin aku menjawab apa? Aku sudah mengatakan kalau aku tidak mau melanjutkan rencana itu. Apakah masih kurang jelas?"
"Aku ingin kamu jujur. Apakah kamu masih menyukai Tommy?"
Deg.
Alex yang sengaja menguping perdebatan kedua orangtuanya itu sangat kaget saat mendengar pertanyaan dari papanya itu. Dulu Alex memang sudah pernah dengar tentang mamanya yang masih kesulitan melupakan seseorang masalalunya dari tante Ara. Akan tetapi ia tidak pernah menyangka jika orang itu adalah Tommy, papanya Resty. Seperti mimpi, tapi ini nyata. Pria itupun mendadak semakin galau akan nasib percintaannya dengan Resty.
Pria itu mundur perlahan dari depan kamar orangtuanya. Antara ingin menceritakan kegalauannya itu kepada sang kekasih, tetapi ia ragu dan mendadak takut kehilangannya. Biarlah semua ini Resty tidak mengetahuinya. Sebab bagaimana pun Alex telah bertekad akan terus bersamanya walau tanpa restu orangtua sekalipun.
Sedang suasana di kamar Sisil masih hening. Wanita itu terus menatap sengit kepada suaminya. Mendadak ada yang sesak memenuhi dadanya setelah mendengar pertanyaan Kenzo yang menurutnya hal itu tak patut untuk ditanyakan lagi.
"Huft!" Kenzo menghentak nafas kasarnya.
"Aku tidak menyukainya. Bahkan aku tidak tahu kapan rasa itu telah hilang. Tolong jangan pernah tanya ini lagi. Hatiku sakit, Ken. Karena ternyata kamu masih tidak mempercayaiku." Sisil berkata dengan kedua matanya yang sudah mengembun.
Kenzo membalik tubuhnya. Sesaat mereka sama-sama saling bertatapan cukup lama. Setelah kemudian berhambur saling memeluk dengan begitu erat. Seakan tak ada yang mau melepasnya lagi. Setelah sama-sama menyadari bahwa sebenarnya mereka saling mencintai walau datangnya rasa itu sangat lambat.
"Mari kita tidak saling egois lagi, Sil." Perlahan Kenzo melepas pelukannya. Jari lembutnya mengusap setitik airmata yang berhasil lolos dari sudut mata Sisil.
Kemudian Sisil pun mengangguk. Rasanya sudah tak pantas lagi diusia pernikahan mereka itu masih saling meninggikan emosi masing-masing.
"Sekarang ayo kita pikirkan bagaimana caranya agar Alex, satu-satunya anak kita merasa bahagia hidupnya." seru Kenzo.
"Aku tetap akan merestui Alex dengan Resty. Rasanya cukup kita saja yang gagal bersama dengan orang tercinta dulu." lanjutnya.
Kening Sisil mendadak berkerut saat mendengar kalimat terakhir suaminya itu.
__ADS_1
"Maksud kamu, dulu kamu juga sedang mencintai orang lain, tetapi terpaksa menikah denganku?" tanya Sisil, sesuai dengan yang ada dibenaknya.
Kenzo hanya tersenyum getir. Pria itu tidak menjawabnya, karena baginya itu hanya kisah masa lalu saja yang sudah terkubur dalam-dalam.
"Sudah, jangan bahas itu. Ayo kita fokus bahas Alex sama Resty." ujarnya mengalihkan.
Sisil memutar bola matanya jengah. Suaminya itu memang selalu curang tak mau menceritakan masa lalunya. Tak seperti dirinya yang ketahuan tentang masalalunya bersama Tommy dulu.
"Jadi kapan kita mau melamarkan Resty untuk Alex?" tanyanya lagi.
"Jujur, Ken. Sebenarnya aku suka sama Resty. Tetapi aku tiba-tiba ragu setelah tahu Resty itu anaknya Bella." Akhirnya Sisil mengungkapkan yang sebenarnya ia rasa.
"Tapi Resty itu dididik Tommy, bukan dengan Bella." ujar Kenzo. Sebenarnya dari dulu pria itu memang diam-diam mencari info tentang Tommy dan Bella.
"Asal kamu tahu, Resty itu anak kedua Tommy dengan Bella. Yang itu dulu sempat keguguran. Tetapi saat mengandung Resty, Tommy sudah bercerai dengan Bella. Lalu Bella meninggal setelah melahirkan Resty." Kenzo semakin menjelaskan.
Sisil mendengarkannya sambil menatap lekat kepada netra Kenzo. Hingga membuat pria itu menaruh curiga dengan tatapan tak biasanya itu.
"Atas dasar apa kamu kepoin hidup Tommy. Sampai sedetail gitu menjelaskannya?" tanyanya kemudian.
Sorot mata Kenzo mengerling nakal.
"Atas dasar karena aku terlalu mencintaimu. Sampai rela terluka demi menyerahkanmu kembali dengan Tommy, setelah tahu dia menduda sampai sekarang." terangnya, tanpa jaim lagi.
"Mm... Jadi terharu. Tapi sayangnya semua itu tidak mempan."
Setelah itu mereka kembali saling berpelukan dengan erat. Tanpa lagi menghiraukan deru motor diluar rumahnya yang keluar tanpa sepengetahuannya.
Readers, kira-kira siapa yang pergi ya?
*
__ADS_1