
"Ada hubungan apa kamu sama dia?" tanya Donita mengintimidasi.
"Teman." sahut Alex, jelas dan singkat. Lalu ia pun kembali melangkah menuju mobilnya lagi karena saat ia keluar tadi lupa membawa tasnya.
Donita terus mengekor dibelakang Alex. Tentu dengan wajah yang sudah bertekuk masam karena bukan jawaban seperti itu saja yang ingin ia dengar.
"Alex." Wanita itu mencegah lengan Alex yang saat itu sudah akan membuka pintu mobilnya.
Alex menoleh malas. Ia pun berbalik saling berhadapan dengan Donita sambil menyenderkan punggungnya ke mobil.
"Kamu kenal sama dia sudah lama?" tanyanya lagi. Dan Alex hanya bisa mendengus kesal karena tak menyangka Donita akan membahas hal ini lagi.
"Aku sama dia teman sekelas."
"Tapi aku lihat kamu sudah sering keluar berdua sama dia." suara Donita mulai naik satu oktaf.
Alex berpikir sejenak. Jika memang selama ini Donita melihatnya sendiri, tentu ia akan langsung menegurnya secara langsung. Bahkan seingat Alex akhir-akhir ini Donita sering keluar kota karena pekerjaannya yang sebagai model. Kalau begitu, bisa jadi....
"Kamu memata-mataiku?" tanyanya mulai curiga.
Donita tersenyum getir, lalu kedua tangannya terlipat didepan dada. "Iya." jawabnya tegas.
Alex berdecak kesal, sambil lalu melengos ke arah sekitar. Sungguh ia sudah sangat ingin segera terlepas dari Donita. Bagaimana pun caranya, Alex sungguh ingin mengakhirinya dalam seminggu ini. Lihat saja nanti. Pasti Donita sendiri yang akan memilih pergi setelah nanti Alex melancarkan aksi nekatnya yang tiba-tiba saja muncul dibenaknya saat ini.
Alex memilih diam tanpa merespon pernyataan Donita yang mengakui sedang menyewa orang untuk mengawasinya. Biarlah Donita bertindak sesuka hatinya dulu, setelah ini Alex yakin Donita akan ilfil untuk sekedar berdekatan dengannya. Semoga saja rencana itu berhasil.
"Sudah?" tanya Alex, ambigu sekali bagi Donita.
"Sudah apanya?" Donita balik bertanya.
"Kalau sudah nggak ada yang mau dibahas, mending cepat masuk kelas sana." usirnya dengan cara halus, namun Donita masih betah berdiam diri.
"Ya sudah." Alex pun memilih masuk ke dalam mobilnya.
"Sayang, kamu mau kemana?" Donita menggedor kaca mobil itu setelah mendapati Alex menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
Alex terpaksa membuka kaca jendela mobilnya karena Donita sengaja menghalangi didepan.
"Kamu mau kemana sih?" tanya Donita, sudah dengan suara yang dibuat manja. Ia beranjak mendekat kepada Alex lagi.
"Mau pulang." sahut Alex sekenanya.
"Loh, bukannya ada kelas?"
"Sudah lewat. Gara-gara kamu."
Nyatanya memang benar. Karena perdebatan kecil itu terpaksa Alex bolos lagi karena memang sudah telat mengikuti kelas sekitar dua puluh menitan. Padahal sebelumnya ia sangat bersemangat mengikuti kelas pagi ini. Siapa lagi kalau bukan karena Resty yang menjadi moodbosternya.
"Aku ikut.." Donita beranjak akan mengitari mobil itu, tapi lengannya langsung dicekal oleh Alex.
"Nggak usah." tolak Alex.
"Aku malas ikut kelas. Pinginnya keluar berdua sama kamu. Boleh ya?" rengeknya semakin dibuat manja.
"Aku ada urusan lain, Ta."
"Kamu nggak asyik deh!" Mulut Donita sudah mulai mengerucut sebal. Tapi Alex benar-benar tak peduli itu.
"Sayang, itu apa?" tanyanya, begitu melihat kotak kue itu di kursi samping Alex duduk.
Alex melirik sekilas. "Titipan mama. Sudah ya.."
Dan Alex pun akhirnya melajukan mobilnya karena dirasa sudah aman untuk melajukannya. Terhindar dari Donita yang awalnya berdiri menghadangnya.
Wanita itu hanya bisa menatap nanar kepergian Alex. Rahangnya mengeras emosi. Dadanya bergemuruh penuh amarah teringat akan satu nama yang menjadi tersangka sebagai pengusik hubungannya dengan Alex.
"Beri dia pelajaran. Kalau perlu sampai dia malu dan keluar dari sini." Perintah Donita pada seseorang yang ia hubungi via telpon.
Lalu kemudian Donita tersenyum devil setelah orang tersebut menyetujui perintahnya.
"Awas saja! Kalau ini tidak berhasil, aku sendiri yang akan turun tangan. Tunggu saja, Resty!" gumam Donita, penuh dengan keamarahan dihatinya.
__ADS_1
Waktu berjalan begitu cepat. Saatnya Resty kembali pulang setelah hari ini mengikuti semua makul dengan tenang dan menyenangkan.
Sebelumnya ia dan Ika sudah berencana mengerjakan tugas kelompok hari ini dirumah Resty. Dua sahabat itu sangat berantusias untuk segera mengerjakan tugas kelompok hari ini. Dan lagi mereka tidak menyangka akan menjadi satu kelompok meski tadi namanya sudah diacak oleh sang dosen.
Hanya ada satu nama saja yang sebenarnya membuat mereka sedikit malas. Yaitu Alex. Tugas kelompok yang terdiri dari tiga orang, kenapa harus dengan Alex?
"Tuh anak emang sudah keseringan bolos, Res. Sudah lah, jangan ajak dia ikut gabung. Entar yang ada malah nggak asyik lagi." ucap Ika, disaat mereka sedang melangkah menuju tempat parkir.
"Sebenarnya aku juga males. Tapi ini kan tugas kelompok, Ka. Kalo cuma kita yang ngerjakan tugasnya, trus dia cuma terima matangnya, enak di dia dong..." Resty tak mau ambil rugi.
"Trus mau kamu Alex ikut gabung, gitu?"
Resty hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya. Lebih tepatnya sebenarnya ia juga bimbang. Antara dikerjakan berdua saja dengan Ika, cuma ia merasa tak adil jika Alex yang juga satu kelompok dengannya malah terima jadi.
"Kalau kita ajak Alex, rencananya mau dikerjakan dimana? Masih dirumah kamu atau dimana?" tanya Ika, pada akhirnya ia ikut pasrah.
"Referensi tempat yang asyik buat nongkrong dimana coba?" Resty berpikir sejenak.
"Yang tepat tuh cuma dirumah kamu, Res. Kalau masih mau cari referensi tempat, yang ada tugas kita nggak cepat kelar. Deadline nya lusa, Res. Bisa?"
Resty hanya menggaruk pipinya yang terbalut plester. Tugas kelompok ini memang lumayan sulit, makanya dikerjakan dengan berkelompok agar terasa lebih ringan.
"Ayuk lah... Malah kebanyakan mikir." Ika menarik lengan Resty begitu bersemangat.
Dan akhirnya Resty pun mengalah. Mumpung sahabatnya itu sedang semangat empat lima, lebih baik digunakan sebaik-baiknya.
Ika tersenyum kecil saat Resty mulai setuju dengan usulannya. Bayangan seseorang yang entah sejak kapan mengganggu pikirannya tiba tiba muncul kembali. Mungkinkah Ika....?
"Astaga! Siapa yang ngelakuin ini, Res?"
Resty dan Ika hanya bisa tertegun kaget saat sudah berdiri didepan mobil Resty yang sudah penuh coretan dengan cat pylox di kap mobil berwarna merah itu.
SEKALI AKU MEMULAI, SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN MENGHENTIKANNYA. CAMKAN ITU!
*
__ADS_1
Dukung terus karya othor dengan like dan komentarnya juga. Terus terang othor belakangan ini sedih karena nyaris nggak ada komentar masuk buat karya othor. Apa sedatar itukah cerita ini hingga nggak ada yang mau komentar? 😢