Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 101


__ADS_3

Huweek.... Huweeek....


Donita memuntahkan segala isi perutnya yang tiba-tiba bergejolak tak tertahan. Beruntungnya saat ini wanita itu sedang seorang diri berada dalam toilet kampus, sebab jika ada satu orang pun yang tahu dirinya sedang begini sudah pasti akan timbul gosip miring yang bisa memicu hancurnya kariernya sebagai model.


Nyatanya hal itu memang bukanlah gosip lagi. Wanita itu memang tengah mengandung. Sialnya lagi lelaki yang menghamilinya itu lari dari tanggung jawabnya, dikarenakan lelaki yang pernah berkencan dengannya itu seseorang yang sudah berkeluarga.


Bahkan sebelumnya Donita sudah menerima kompensasi uang yang jumlahnya tidak sedikit dari lelaki itu. Sebagai pengganti tutup mulut atau bisa untuk biaya menggugurkannya yang sisanya masih akan banyak.


Tetapi setelah mendengar kabar tentang perusahaan Alex yang kembali stabil, akal liciknya pun mengarah pada mantan kekasihnya itu. Demi bisa menjadi seorang nyonya yang tajir, wanita itu rela melakukan apapun untuk meraihnya. Termasuk untuk menjebak Alex agar mau bertanggung jawab dengan kehamilannya itu.


Setelah putus dengan Alex beberapa saat lalu, Donita memang langsung dekat dengan seorang pengusaha ternama yang cukup tajir. Apalah daya nasib baik tak kunjung ia dapat. Apalagi setelah tahu dirinya berbadan dua, lelaki itu seakan membuangnya begitu saja. Sadar betul jika ia hanya sebatas pemuas nafsunya saja saat itu, kini Donita tidak mau bodoh lagi. Meski harus ditempuh dengan cara nekat sekalipun, asal keinginannya itu bisa terwujud, mengapa tidak?


Setelah dirasa mampu menstabilkan tubuhnya lagi, Donita keluar dari toilet itu dengan mengendap-endap. Kariernya sebagai model yang kebetulan sedang naik daun itu, tentu hal ini harus bisa dirahasiakan sebelum ia bisa meraih Alex lagi.


Karena seriusnya ia menoleh ke sekitar, hingga sampai ia menubruk tubuh seorang pria yang kebetulan lewat di sana tanpa sengaja.


"Aduh!" Donita mengaduh sakit. Kepalanya yang masih terasa pusing membuat tubuhnya sedikit oleng.


"Kamu nggak papa, Ta?" Pria itu adalah Ryan, salah satu teman karib Alex.


Donita menggeleng ragu. Sedang bibirnya saja kentara pucat sehabis muntah-muntah barusan.


"Tapi sepertinya kamu lagi nggak sehat." Ryan mencermati wajah Donita yang dirasa sedang tidak baik-baik saja.


Donita hanya tersenyum getir. Sesaat kemudian...


Huweek..


Wanita itu merasa mual lagi. Beruntungnya tak harus muntah didepan Ryan.


"Donita, kamu?" Ryan panik, tetapi sedikit curiga juga.


"Menjauh sedikit, Yan. Pliiss...," Donita mendorong pelan dada Ryan.


"Oh, okey!" Ryan mundur selangkah lagi.


Pria itu masih mencermati Donita dengan intens. Fix, wanita itu sedang tidak sehat. Cuma, kenapa ia jadi negatif thinking padanya? Ah, otak! Tolong jangan buruk sangka dulu.


"Mm, Ryan. Boleh minta tolong panggilkan Alex?"

__ADS_1


"What! Aku nggak salah dengar apa? Sejak kapan Donita agak kalem begini? Apa karena lagi sakit?" batin Ryan bermonolog heran.


"Kenapa nggak kamu telpon aja?" balasnya, karena sebenarnya Ryan juga tidak yakin Alex akan mau menemui Donita tanpa alasan urgent. Dulu saat pacaran saja memang Donita yang selalu aktif menemuinya terlebih dahulu.


"Dia selalu menghindar," kilahnya dusta. Donita tidak tahu saja jika nomor telponnya itu sudah diblokir oleh Alex.


Sesaat Ryan hanya menghela nafas sambil mengangkat kedua bahunya. "Kalau nyatanya begitu, aku bisa bantu apa. Kamu pasti tahu Alex bagaimana kan?"


Donita bergeming. Pikirannya sedang mencari akal lain demi bisa menjebak Alex dan secepatnya masalahnya itu terselesaikan dengan rapi.


Kemudian Donita beranjak begitu saja dari tempat itu. Langkahnya sedikit dipercepat untuk segera sampai di kelas Alex. Nyatanya saat wanita itu sampai di sana, yang dicari sedang tidak ada ditempat.


Merasa sudah mendesak untuk mencarikan bapak pengganti buat janinnya itu, Donita mencari Alex lagi ke seluruh tempat yang wanita itu sering melihat Alex nongkrong di sana.


"Lex, kau dimana?" Ryan segera menghubungi Alex setelah Donita menghilang dari pandangannya.


"Sudah di kelas?"


"Belum," sahut Alex. Saat ini ia sedang berada diparkiran kampus, sedang menunggu Resty datang.


"Donita cari kamu barusan," ucap Ryan.


"Dia sepertinya lagi sakit. Sempat mual-mual gitu didepanku barusan."


Alex hanya mendengarkan, walau sebenarnya tak berminat mendengar kabar wanita itu.


"Prediksiku sih, sepertinya dia lagi masuk janin." Ryan berkata dengan gamblangnya. Yang sebatas menjadi uneg-uneg akhirnya keluar juga dari mulutnya.


Alex terhenyak sesaat saat mendengarnya. Tetapi itu sudah bukan urusannya lagi. Sebab ia sudah putus dengan Donita sebelum liburan kemarin. Hanya saja mungkin ketiga teman se-gengnya itu masih belum tahu kabar itu.


Tut... tut.... tut....


Alex menyudahi telpon Ryan begitu saja, saat melihat Resty sudah datang. Kebetulan kekasihnya itu saat ini berangkat ke kampus diantar langsung oleh papanya.


Sedangkan ditempat lain, Ryan hanya mencebik kesal saat tahu Alex memutus panggilannya begitu saja. Padahal sebenarnya masih ada hal lain yang ingin ia katakan tentang Donita kepada Alex.


Alex berjalan mendekat kepada Resty sekaligus untuk menyapa calon papa mertuanya itu.


"Siang, Om," sapanya ramah, setelah sebelumnya menyalimi tangannya dengan takdzim.

__ADS_1


Tommy hanya mengangguk sembari tersenyum hangat kepadanya.


"Tumben Om ke kantor berangkat siang?" tanyanya, sebenarnya sedikit basa basi saja demi bisa mengakrabkan diri sama calon mertua.


"Iya, tadi masih ada hal lain yang harus aku urus bersama Resty juga," jawabnya. Entah itu urusan apa yang mereka bahas. Semoga saja sesuatu itu yang menyenangkan. Contoh wejangan pra nikah mungkin.


"Om, minta ijin nanti pulangnya mungkin agak malam. Soalnya aku berencana mengajak Resty keluar untuk persiapan--" Alex masih suka kelu untuk sekedar bilang kata pernikahan.


Tommy langsung paham. Kemudian ia pun mengangguk setuju.


"Sebelumnya terimakasih, Om." Alex langsung tersenyum lebar.


"Tapi selalu ingat pesanku itu. Jangan ada istilah dracu--"


"Itu tak akan terulang lagi kok, Om. Sumpah! Hehe..." Alex langsung menyela. Nyengir pertanda malu, karena Tommy selalu memperingatkannya untuk tidak mengulangi seperti peristiwa di gubuk itu.


Sedangkan Resty yang sedari tadi hanya mendengarkan obrolan mereka, tentu kembali malu dibuatnya. Kejadian itu sungguh tidak bisa ia lupakan begitu saja. Apalagi sang papa saat ini terang-terangan mengatakan hal itu didepan mereka berdua.


"Pa, aku pamit masuk kelas ya?" Resty meraih tangan Tommy kemudian menyaliminya. Jika tidak diputus sampai sini, bisa-bisa obrolan mereka akan menjurus ke insiden draculla itu lagi.


"Baiklah. Papa juga harus berangkat ke kantor." Tommy melirik jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan angka setengah sepuluh kurang.


"Hati-hati ya, Pa.."


"Hati-hati dijalan, Om.."


Mereka berdua sama-sama melambaikan tangan setelah Tommy melajukan mobilnya lagi. Lalu setelah itu Alex dan Resty berjalan beriringan menuju kelas mereka dengan rona yang sangat bahagia.


"Sayang, go publiknya kapan? Nggak enak nih jalan barengan gini tapi nggak bisa gandeng tangan kamu," seru Alex, karena memang saat ini mereka hanya berjalan beriringan layaknya teman biasa pada umumnya.


"Sabar, Casuku. Kalau kamu sabar, pasti aku tambah sayang deh sama kamu." Tentu saat membalas perkataan ini suara Resty sedikit pelan.


"Ah, ucapanmu bikin aku tambah meleyot deh. Tolong... Siapapun tolong... Aku sulit jalan nih, tubuhku tiba-tiba lemas nih.." Alex sedikit mendrama lebay, tetapi bisa membuat Resty terkekeh geli melihat aksinya itu.


Sedangkan dari kejauhan sana, dua pasang mata menatap mereka dengan sorot yang sangat tajam. Senyum devilnya terbesit disudut bibirnya. Melihat kenyataan Alex benar-benar telah dekat dengan Resty, membuat wanita itu memiliki cara lain yang lebih menghebohkan saat hal itu nanti dilancarkan olehnya.


"Kita lihat saja nanti!" gumamnya penuh ambisius.


Duh, kira-kira Donita mau buat ulah apa lagi ya?

__ADS_1


*


__ADS_2