
"Resty!"
Suara Ika memanggil, saat Alex dan Resty berjalan menuju ruang kelas mereka.
Mereka berdua sama-sama berbalik badan, terlihat Ika sedang berlari kecil menghampiri mereka.
"Kesiangan, Mak? Beruntung masih nggak telat?" Alex menyapa. Tatapan mata Ika seketika melirik jengah. Apa-apaan memanggilnya Emmak?
"Eh, sini kamu." Ika langsung menarik tangan Resty yang berada dalam genggaman tangan Alex.
Resty bergeser sedikit jauh setelah diseret sedikit paksa oleh Ika. Dan Alex hanya bisa melongo melihatnya, tanpa bisa kepoin apa yang yang mereka bahas sehingga harus berjauhan darinya.
"Ada apa?" tanya Resty sedikit panik demi melihat wajah Ika yang serius amat.
Ika tak segera menjawab. Terlihat ia mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan, tetapi tarikan tangannya terus mengajak Resty menjauh dari Alex.
Saat merasa sudah mulai normal alur nafasnya, Ika pun menghentikan sejenak langkahnya. Melihat lagi ke belakang, dimana rupanya Alex masih diam ditempat sambil memandangi mereka.
Seketika Ika terkekeh sendiri melihat Alex yang mirip orang kecolongan. Membuat Resty bertambah heran dengan polah Ika hari ini.
"Tuh, coba perhatiin deh suami kamu," seru Ika, menyuruh Resty untuk melihat Alex.
Resty pun ikut melihat. Sesaat Alex mengangkat dagunya pertanda ada apa, tetapi Resty langsung menggeleng kecil isyarat tidak tahu.
Bukannya Alex tidak bisa mengganggu urusan Resty dan Ika. Tetapi pria itu sedang berusaha menghargai keberadaan Ika yang notabene adalah ibu mertuanya juga. Siapa tahu memang ada urusan penting yang bersifat rahasia yang akan dibahas Ika menurutnya.
Dan Ika semakin terkekeh saja, bahkan sampai sedikit terpingkal-pingkal sendiri sambil memegangi perutnya.
"Lucu banget sih suami kamu. Dikasi apa sih kok bisa nurut gitu, nggak ngerempongin urusan kita?" ucap Ika, sembari menuntun Resty untuk duduk sejenak di kursi panjang yang ada tak jauh dari mereka.
Resty tak menyahut. Ia terlampau kepo dengan apa yang ingin dibicarakan mama tirinya itu, sehingga harus berjauhan dari Alex.
Terlihat Alex melangkah mendekat ke arah mereka.
"Baru juga diomongin, sekarang otw kemari. Hadeeuh..." Ika bergumam agak jengah. Bukan membenci keberadaan Alex, tetapi lebih ke butuh waktu privasi karena memang ada yang ingin Ika bicarakan dengan Resty. Dan ini hanya urusan cewek.
"Sayang," Alex menyapa saat dirinya sudah berada didepan Resty.
Resty berdiri dari duduknya, tetapi segera dituntun oleh Alex untuk duduk lagi.
"Aku masuk kelas dulu ya? Ngobrolnya jangan lama-lama, lima menit lagi sudah masuk kelas," ujar Alex apa adanya.
Resty hanya mengangguk. Apalagi saat dengan sengaja Alex mengasak lembut pucuk kepalanya sebelum pergi, berhasil membuat Ika terperangah melihatnya.
__ADS_1
"Res, emang sudah berhasil unboxing ya?" seloroh Ika to the poin, saat Alex sudah beranjak jauh darinya.
"Apaan sih!" Seketika pipi Resty merona memerah. Membahas hal seperti itu masih sangat malu baginya. Mungkin jika asalnya Resty adalah gadis liar, hal seperti itu sudah tentu tak ada batas sungkan.
"Diem berarti sudah nih," tebak Ika.
"Ciyeee.... Ciyeee...." Ika sengaja menyenggol lengan Resty dengan sikutnya.
"Emang kamu sendiri masih belum?" Resty bertanya balik, yang otomatis membuat Ika terdiam, tetapi kemudian menggeleng kepalanya sambil terkekeh kecil.
"Astaga!" Resty menyorot tak percaya kepada Ika.
"Lagi palang merah, Bestie." Ika menjelaskan.
"Ya ampun, kasihan amat papa."
Lalu mereka berdua sama-sama tertawa. Merasa lucu saja, ketika menyadari yang diobrolnya malah masalah bobol membobol gawang.
"Oh ya, tadi kamu mau ngomong apa? Penting amat sampe nyeret aku kesini?" Resty kembali bertanya.
Ika hanya menggeleng. "Sudah nggak ada."
"Sudah nggak ada? Maksudnya? Nggak jadi ngomong?"
"Dasar gaje!" umpat Resty blak-blakan. Dan Ika hanya nyengir kuda sebagai balasannya.
"Awas aja kalau sudah giliran kamu yang kena, bakal aku cerca abis-abisan," Resty sok mengancam, padahal sebenarnya bukan tipe dia ngekepoin masalah begituan.
"Emang berani? Gini-gini aku Emmak kamu loh, Res." Ika langsung memakai jurus andalannya, yaitu mengatasnamakan ibu tiri yang juga patut disegani.
"Dih, sumpah nyesel aku! Kenapa harus punya Mak tiri yang omongannya suka gaje gini."
Sesaat Ika tertawa sedikit nyaring. Ia paham apa yang diucapkan Resty itu hanyalah candaan saja. Makanya ia tak ambil pusing meski Resty mengumpatnya didepan mata.
"Kuy lah, masuk kelas," ajak Ika, sambil lalu menarik tangan Resty.
Dan kemudian mereka pun kembali saling tersenyum riang. Dari seluruh penghuni kampus ini masih tidak ada yang tahu kalau Ika sudah menjadi mama sambung Resty, kecuali Alex. Donita pun juga belum tahu hal ini. Kedekatan antara duo bestie itu sudah lumrah dilihat oleh semua orang. Jadilah sama sekali tidak ada yang mencurigai kalau ternyata persahabatan mereka telah berubah alur menjadi emmak dan anak.
Saat mereka berdua sudah berada diambang pintu masuk kelas, Ika berhenti sejenak. Bunyi ponselnya yang berdering membuat Ika segera menjawabnya.
"Iya, Mas," sapanya begitu kalem.
"Oh ya, hati-hati di jalan. Kalau sudah selesai cepat pulang ya?"
__ADS_1
"Iya. Love you, miss you too..."
Ika menyudahi obrolannya. Dan Resty sendiri langsung paham siapa yang menelpon sahabatnya itu.
"Papa keluar kota lagi?" tanyanya sambil melangkah lagi masuk kelas dan menempati kursi mereka masing-masing.
Ika hanya mengangguk lemah. Sorot matanya berubah agak sendu, tetapi masih berusaha tersenyum didepan Resty.
"Papa sudah biasa gitu kali." Resty mencoba menenangkan kegalauan sahabatnya itu.
Ika mengangguk lagi. Ia sendiri sudah tahu bagaimana konsekuensi menikah dengan seorang pebisnis seperti Tommy, sebab ayahnya sendiri juga sering begitu, kerap kali keluar kota demi lancarnya perusahaan yang dipimpinnya itu.
"Berapa lama?"
"Katanya lima hari," sahutnya terdengar tak bergairah sama sekali.
"Wiiih... Lumayan lama tuh."
"Kenapa nggak coba susul saja, dari pada mukanya mendung gitu. Cakep enggak, jelek iya." Alex tiba-tiba ikut nimbrung dengan memberi solusi diawal, tetapi ujungnya malah mengejeknya.
"Dasar mantu nggak ada akhlak!" umpat Ika, sambil mencoba memukul lengan Alex menggunakan buku tebal yang dibawanya, tetapi gagal karena Alex lebih gesit bergerak.
"Loh, salah ya solusi dari aku?" tanyanya sok nggak nyadar kalau terang-terangan sudah mengejek Ika barusan.
Dan Resty hanya bisa terkekeh saja melihatnya. Suami dan sahabatnya itu memang selalu begitu, seperti tak pernah damai saja. Meski telah menjadi hubungan mertua dan menantu antara Alex dan Ika, nyatanya kedua manusia itu hanya respect sesaat, yang kembali akan saling mengumpat dan mengejek, tetapi tidak saling membenci, hanya merasa gemas saja.
Suasana seketika menjadi hening begitu dosen pengajar makul pertama telah masuk kelas. Alex pun segera menduduki tempatnya tepat bersebelahan dengan Resty. Selalu mencuri-curi kesempatan nakal disaat dosen itu mulai menerangkan materinya didepan.
"Sayang," Alex menyapa Resty dengan kerlingan matanya.
Resty memilih bergeming, walau suaminya itu kentara tidak fokus mendengarkan materi hari ini karena sibuk menggodanya sedari tadi.
"Ih, jijay!" Ika mengumpatnya cukup jelas di telinga Alex.
"Semoga mas Tommy nggak lebay begini entar," gumam Ika, bertambah jengah melihat Alex yang suka seenaknya dan tidak tahu tempat menurutnya.
"Alex!"
Suara menggelegar dosen yang terkenal killer itu memanggil Alex.
"Maju depan!"
Adduh biyuuuung.... Apes!
__ADS_1
*