
Pagi sudah kembali menyapa. Alex bangun dari tidurnya dengan sangat riang. Walau pria itu memang hanya tidur tiga jam saja, tepatnya selepas melaksanakan sholat subuh baru pria itu tidur tadi.
Saat ini ia bangun karena memang waktunya sarapan pagi, dan bibi Siti yang membangunkannya ke kamar. Setelah pria itu selesai membersihkan badannya, ia pun lekas keluar kamar untuk bergabung sarapan bersama kedua orangtuanya.
Sepintas pria itu tercengang melihat penampilan kedua orangtuanya yang cukup berbeda. Papanya yang biasanya sudah berpakaian resmi siap ke kantor, kali ini hanya berpenampilan kasual namun terlihat tetap rapi dan elegan. Sedangkan mamanya pun demikian. Sebuah tas kecil yang berada didekat mamanya menandakan jika setelah ini kemungkinan orangtuanya itu akan keluar bersama. Entah itu kemana.
"Papa nggak ngantor?" tanyanya, sedikit basa basi tapi sebenarnya kepo.
Kenzo hanya menggeleng. Kedua orangtua Alex itu terkesan acuh dengan anaknya sambil terus menikmati sarapannya. Alex pun sebenarnya merasa pias dibegitukan, tetapi menang karena ulahnya juga, yang kemudian ia hanya pasrah dan ikut menikmati sarapannya dengan sedikit minat.
Setelah selesai sarapan, Sisil segera beranjak. Ia lebih dulu pergi dan duduk di ruang tamu. Sedangkan Kenzo hanya menatap dalam kepada anaknya.
"Lekas kau ganti baju. Papa tunggu didepan," titahnya kemudian.
Alex masih bergeming. Sebenarnya ia tak paham kenapa harus mengganti pakaiannya. Memang mau kemana coba?
"Cepat lah, Lex." serunya menegaskan.
"Tapi mau kemana, Pa?" tanyanya penasaran.
"Kalau tidak mau ya sudah, nggak perlu diajak. Lagian ini cuma lamaran kecil, cukup kita saja yang datang nggak masalah kan?" Tiba-tiba Sisil ikut berucap. Walau terkesan sedikit ketus, tetapi Alex sangat senang saat mendengar kata lamaran.
"Pa, Ma, jadi-- Kita mau ke rumah Resty?" tanyanya berbinar.
"Siapa bilang?"
"Jadi maksud lamaran kecil itu--"
"Kita mau menjodohkanmu dengan perempuan lain." ucap Sisil sekenanya.
Deg.
"Nggak mungkin!" batin Alex mulai resah.
__ADS_1
Sekilas Kenzo terkekeh kecil melihat reaksi anaknya yang tiba-tiba pucat. Rupa-rupanya mereka sengaja ngeprank putranya itu. Demi membalas kejengkelannya kepada Alex yang ketahuan berbohong berkata telah nikah siri dengan Resty.
"Papa mama nggak serius kan?" Alex meneliti satu persatu kepada kedua orangtuanya.
"Kami serius." ucap Sisil.
"Tapi kenapa harus menjodohkanku dengan perempuan lain? Aku sudah menikah sama Resty. Dia itu istriku, Pa, Ma." Meski hal itu sebatas bohongan, demi dapat dipercaya tentu Alex harus mendramatisir keadaan sesedih mungkin.
"Berhenti halu kamu." sergah Kenzo. Juga sedikit memberi timpukan kecil dilengan anaknya itu.
"Berani berbohong kepada orangtua, sudah kebelet kawin kau, hah?" Tak puas menimpuk, Sisil menambah jeweran kecil ditelinga Alex.
"Aduh... Aduh... Ini maksudnya apa? Aku nggak ngerti." Alex menggeser sedikit menjauh dari mamanya, selepas tangan mamanya berhenti menjewer telinganya.
Kenzo dan Sisil tahu kalau Alex berbohong mengenai nikah siri dari Ziyyan. Setelah tak sengaja melihat postingan Ziyyan saat keluar bersama kemarin yang diunggah oleh Ziyyan subuh tadi, Sisil langsung menanyakannya. Karena di foto itu juga ada Alex dan Sisil, yang besar kemungkinan Ziyyan pasti tahu jika Alex dan Resty menikah siri, yang ternyata semua itu hanya akal modus Alex saja.
Walau sebenarnya kesal telah dibohongi Alex, tetapi Kenzo dan Sisil memilih lekas berdamai. Mereka lantas berniat akan melamar Resty pagi ini juga, demi tiada lagi kebohongan berikutnya dari Alex.
"Cepat kau ganti baju, Lex. Atau kita batal saja ke rumah Resty. Siang nanti papa masih ada meeting sama klien." titah Kenzo kedua kalinya.
Buru-buru pria itu berlari kecil menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya agar lebih rapi dan modis. Sedangkan Kenzo dan Sisil hanya bisa menggeleng kepala heran saat mendapati anaknya selesai mengganti pakaiannya secepat kilat.
Setelah itu mereka semua masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh sopir baru pengganti pak Saleh. Lalu segera melaju pesat menuju rumah Resty.
"Terimakasih, Pa, Ma, sudah merestui aku sama Resty," ucap Alex, saat mereka masih dalam perjalanan menuju rumah Resty.
Kenzo hanya tersenyum simpul sebagai jawabannya, sedangkan Sisil lantas merangkulnya dengan penuh kasih.
"Maafkan mama, Lex. Mungkin sebelumnya kamu sempat salah paham sama mama, sampai kamu pergi kemarin. Tetapi apapun itu, mama harap kamu tidak perlu lagi menghiraukan hal itu. Mama sama papa percaya sama pilihan kamu. Resty memang gadis baik buat kamu. Tolong setelah ini kamu rubah sikap bandel kamu. Dewasa lah sedikit, Nak.."
Alex membalas rangkulan tangan mamanya. Senyum bahagia terpancar pada keluarga kecil itu.
Ting.
__ADS_1
Sebuah notif pesan masuk berbunyi dari hape Alex. Rupanya Resty yang sedang mengiriminya pesan.
"Sudah sampai mana, Yang?"
Alex tak langsung membalas pesan itu, ia lantas menunjukkannya kepada mamanya agar membacanya juga.
"Iya, dia sudah tahu kalau kita akan datang ke rumahnya. Tadi pagi papamu mengabari Tommy dulu." jelas Sisil.
Alex tersenyum riang. Lalu ia pun segera membalas pesan kekasihnya itu dan mengatakan jika sekurangnya sepuluh menit lagi mereka akan tiba.
Tak cukup disitu, kedua sejoli itu terus saling berbalas pesan romantis. Apalagi mengenai tujuan kedatangannya yang cukup membuat perasaan mereka deg-degan.
Hingga tak lama setelah itu, rombongan keluarga kecil Alex telah masuk ke pelataran rumah Tommy. Sesaat Sisil terpaku ditempat. Ia masih ingat kapan terakhir ia datang ke rumah ini beberapa tahun silam. Sebuah bangunan rumah besar yang hanya berubah warna, tapi cukup banyak kenangan pahit dan manis didalamnya.
Wanita itu menghela nafas beratnya, ia melakukannya berulang-ulang hingga benar-benar merasa plong didada. Lalu setelah itu Kenzo menarik tangannya dalam genggaman, saat melihat Tommy sudah berdiri menyambut kedatangan mereka diambang pintu utama rumahnya.
Biar bagaimana pun Kenzo akan memperlihatkan kepada Tommy jika ia bisa membahagiakan Sisil dan mempertahankannya. Bahkan jika teringat masalalunya yang pernah menjadi rival, saat ini hanya bisa terheran-heran saat takdir menjadikannya sebagai besan.
Alex melirik kecil kepada mamanya dan juga Tommy. Sempat merasa kagum, karena rupanya mereka bisa berdamai dengan masalalunya demi kebahagiaannya. Selepas ini Alex telah berjanji untuk tidak akan mengecewakan hati dan perasaan kedua orangtuanya. Karena mereka telah mengorbankan perasaannya itu demi kebahagiannya untuk bisa bersama Resty.
"Assalamualaikum.." sapa Kenzo dengan ramah.
"Wa'alaikum salam. Mari masuk.." ajak Tommy, kemudian mengarahkan tamu pentingnya itu untuk duduk di ruang tamu.
"Pagi, Om," sapa Alex, lalu menyaliminya dengan takdzim.
Tommy hanya tersenyum kecil, saat mendapati Alex begitu hormat kepadanya.
"Duduk lah, Lex," ucap Tommy.
"E-e.. Resty mana ya, Om?"
"Sabar dulu, sudah keburu amat ya?"
__ADS_1
*