
Usai sarapan bersama Alex dan Resty langsung berangkat ke kampus dengan menaiki mobil. Keduanya terlibat obrolan random diselingi candaan membahas yang semalam dari Alex saat dalam perjalanan menuju kampus. Alhasil jadilah Alex mendapati cubitan gemas dari Resty dengan bertubi-tubi. Memang dasar Alex! Dia semakin senang menggoda istrinya setelah berhasil menjadi pembobol gawang pertama milik istrinya itu.
"Aduh, ampun deh, Yang. Berhenti dah," pinta Alex, merasa sedikit panas juga di lengan dan pinggangnya meski cubitan istrinya itu bernada cubitan sayang.
"Kamu sih!" Mulut Resty mengerucut sebal. Dan Alex hanya nyengir saja.
"Sayang, entar pulangnya mampir rumah ya?" ucap Alex lebih serius.
"Ada yang mau aku ambil di rumah," ucapnya lagi.
Resty hanya mengangguk setuju. Karena ia tahu suaminya itu hanya membawa sedikit pakaian kemarin.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di kampus tercinta. Pria itu segera turun dan kemudian mengitari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Resty. Bagai seorang pangeran menyambut sang putri, pria itu sedikit membungkuk dengan mengulurkan tangannya begitu pintu mobil itu terbuka sempurna.
Resty hanya tersenyum kecil menanggapinya. Walau terkesan agak lebay tetapi sejujurnya ia senang dibegitukan oleh Alex. Kemudian wanita itu menyambut uluran tangan Alex dan sontak saja langsung mencuri atensi para kacung Alex yang kebetulan melintas di sana.
"Ciyee.... Ciyee...." Koor dari ketiga bestie Alex.
"Ada yang mulai go public nih," seloroh Varo.
"Hooh, sepertinya sudah kepalang bucin si Alex." Ryan turut menimpali.
"Awas ada yang jeleus tuh diujung sono." Kali ini ucapan Cello membuat mereka sama-sama memandang ke arah Cello memandang.
Rupanya tak jauh dari tempat mereka saat ini ada Donita. Tatapan matanya terlihat syarat penuh kecewa, tetapi sudah tak mampu berbuat apa-apa. Setelah belakangan ini sering mendapat teror mengerikan dari seseorang misterius yang mengancamnya, jika masih berani mengusik Alex dan Resty.
Sebenarnya Donita tahu jika ancaman itu pasti dari salah satu orang hebat yang melindungi Alex dan Resty. Dan itu memang benar. Kenzo lah yang berani membayar orang suruhan untuk mengintai gerak-gerik Donita. Setelah Kenzo tahu siapa pelaku sebenarnya dibalik skandal kemarin, yang ternyata itu adalah ulah Donita.
Teror yang dilakukan oleh orang suruhan Kenzo itu benar-benar telah meresahkan ketenangan Donita. Bila perlu rasanya sudah mau stress saja. Apalagi tengah berbadan dua yang tentunya membutuhkan ketenangan lahir dan batin untuk kesehatan janin yang di kandungnya itu.
"Eh, eh, Donita sepertinya ke sini," seru Ryan. Yang otomatis membuat Alex mendadak jengah bercampur malas luar biasa untuk terlibat apapun dengan mantan pacarnya itu.
Sedangkan Resty semakin mengeratkan genggaman tangannya. Seakan sengaja mau pamer didepan Donita, kalau Alex adalah miliknya.
"Tetap disini, Yang," bisik Resty saat Alex akan beranjak ingin menghindari Donita.
__ADS_1
"Tapi kamu nggak papa?" tanyanya sangat mengkhawatirkan perasaan Resty, takut-takut istrinya itu akan mendapati sesuatu yang tak menyenangkan dari Donita.
Resty mengangguk yakin. Bahkan kepalanya sengaja ia sandarkan di bahu Alex dengan begitu manja, tersenyum penuh riang, saat Donita sudah berdiri dihadapan mereka.
Donita hanya menyeringai tipis, tanpa mau menyapa mereka yang kentara sedang pamer kemesraan. Lalu tatapannya itu seketika beralih kepada Varo.
"Aku perlu ngomong sama kamu, Va," ucapnya cukup jelas, yang seketika membuat semua yang ada disitu menyorot curiga kepada Varo.
Varo hanya bereaksi dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Tetapi kemudian pria itu menuruti kemauan Donita yang langsung beranjak begitu saja , begitu pun dengan Varo.
Bergantian Cello menatap heran kepada Alex dan Ryan. Tetapi kedua sahabatnya itu saling menghedikkan bahu pertanda entah lah.
"Eh, Cel, Yan, aku ke kelas dulu ya?" pamit Alex tiba-tiba.
"Keburu amat." Cello langsung protes tak terima.
"Kita udah kangen pingin godain mangsa, Lex. Dihitung-hitung dah lama juga kita jadi anak alim. Hehe..." Ryan mulai memprovokasi.
Alex hanya menanggapi dengan tersenyum getir. Tetapi seketika itu Resty menyorotnya dengan tatapan yang penuh ancaman.
Spontan kedua kacung Alex itu bertepuk tangan. Bukan tepukan kagum dengan perkataannya, melainkan lebih ke mengejek karena tak percaya saja orang yang selama ini dianggap bos kang jail rupanya tengah mengajaknya insyaf.
"Widiiiih... Insyaf nih ceritanya?" seloroh Ryan.
"Belajar jadi manusia baik dan berguna antara sesama." Resty ikut menyela dengan perkataannya yang cukup menohok buat mereka bertiga.
"Assseeek.... Mantap nih quotesnya." Cello bertepuk tangan lagi.
Sejujurnya dalam hati Cello lah yang paling senang Alex bisa bersama dengan Resty. Dari sini saja buktinya Alex sudah banyak berubah lebih baik setelah mengenal Resty. Tanpa ia tahu kalau sebenarnya hubungan Alex dan Resty sudah lebih serius dengan sebuah ikatan pernikahan yang saat ini Alex masih merahasiakannya dari sahabatnya itu.
"Udah nih, kita harus masuk kelas dulu," Alex pamit lagi, setelah barusan melihat jarum jam di tangannya sudah mepet dengan jadwal makul pertama.
"Oyi, Lex. Semoga senantiasa jadi mahasiswa rajin deh."
Cello dan Ryan sama tertawa kecil. Masih merasa aneh saja dengan sikap Alex yang mendadak lebih kalem setelah liburan kemarin.
__ADS_1
"Eh, Res, jalanmu lucu amat." Ryan yang tak sengaja memperhatikan cara berjalan Resty langsung menegur tanpa filter.
Resty seketika menghentikan langkahnya, pun juga dengan Alex. Mereka berdua sama-sama menyorot tajam pada Varo si mulut ember. Beruntungnya Cello langsung menarik lengan Varo untuk menghindar dari tatapan mata Alex yang syarat penuh peringatan.
Saat Cello dan Varo sudah pergi, beralih Resty menyorot kesal pada Alex. Karena pria itulah dirinya jadi begini. Satu hentakan kakinya terdengar nyaring, pertanda wanita itu sangatlah kesal pada biang kerok kejadian ini.
"Sayang, emangnya punyaku kegedean ya sampe jalannya kelihatan aneh?"
"Aduuuh duh duh...." Seketika Alex mengaduh kesakitan saat Resty dengan sengaja mencubit pinggangnya sangat gemas.
"Perlu aku jawab, hem?" Resty berpindah mencubit gemas di lengan Alex.
"Sudah nggak perlu. Biar nanti aku ukur sendiri gedenya. Aduuh duh... ampun deh, Yang."
Resty melepas cubitannya. Karena memang saat ini mereka tengah menjadi tontonan orang-orang yang kebetulan lewat disekitar mereka.
"Sayang demennya KDRT terus. Bisa merah-merah nih..." Bahkan Alex dengan santainya membuka ujung kaos yang dipakainya, mengintip pinggang tempat favorit Resty mencubit yang memang benar sudah berwarna kemerahan.
"Tuh kan?" ucapnya lagi sok paling kena sial dan butuh dikasihani.
"Pokoknya itunya libur dulu. Titik!" ucap Resty, yang tentu saja Alex langsung paham apa maksudnya itu.
"Eh, nggak bisa dong. Nggak kasihan apa sama suami?"
"Kamu yang nggak kasihan sama aku. Rasanya masih ngilu, Lex. Masih untung jalanku nggak kayak bebek."
Alex langsung terkekeh sendiri mendengar perumpamaan yang disebut Resty.
"Iya deh, maaf. Jangan libur dong, Yang. Entar aku pijitin deh yang ngilu itu biar sembuh."
"Eh?"
Resty bertambah gemas saja dengan suaminya itu. Ia pun memilih beranjak lebih dulu saking gemasnya, dan Alex langsung menyusulnya berjalan beriringan sambil saling bergandengan tangan.
*
__ADS_1