Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 37


__ADS_3

Resty sudah merebahkan diri diatas kasur empuknya. Niat hati ingin segera tidur, apalah daya obrolan mengenai tentang perjodohan itu terus memutar dibenaknya. Padahal malam sudah semakin larut.


Sejatinya ia sudah pernah bertemu dengan calon lelaki pilihan papanya itu, meski pertemuan itu sekitar tujuh tahun yang lalu. Saat itu dirinya masih baru masuk sekolah menengah kelas 7, sedangkan lelaki bernama Ziyyan itu sudah SMA kelas 12.


Seingatnya saat itu Ziyyan memang sudah cakep dengan tipe cowok kalem. Tidak terbayang lagi bagaimana jadinya Ziyyan yang sekarang. Semoga saja tetap sama atau malah bertambah keren. Tak terasa senyum tipis itu terukir dibibir Resty, turut membayangkan bagaimana Ziyyan yang sudah tumbuh dewasa.


Dan tiba tiba saja senyum tipis itu memudar tatkala ia teringat tentang sosok mamanya Ziyyan. Entah mengapa saat dulu mereka bertemu itu mamanya Ziyyan menatap sedikit berbeda kepadanya. Meski tidak mengatakan dengan perkataan dan perbuatan, tetapi bahasa matanya masih bisa ditebak jika mamanya Ziyyan seperti sedikit ada sensi dengannya.


Ah, semoga saja itu hanya perasaan Resty saja. Semoga setelah ini, setelah papanya mengatur pertemuannya dengan Ziyyan yang kemungkinan besar akan kembali bertemu dengan mamanya Ziyyan lagi, semoga semuanya sudah baik baik saja.


Hingga tak terasa denting jam sudah menunjukkan lebih dari pertengahan malam, namun mata itu masih belum kunjung mengantuk. Wajar saja jika hal itu sangat menyita pikirannya, sebab selama ini Resty memang tidak pernah dekat dengan lelaki manapun. Kecuali memang selama beberapa hari ini sedang didekati oleh Alex.


Bicara tentang Alex, tiba tiba saja ia jadi teringat lagi tentang kejadian saat itu. Meski hanya sekedar ciuman pipi, tapi nyatanya gadis itu sering tiba tiba merasa ada yang aneh dengan dirinya tiap teringat hal itu. Entah mungkin sekedar rasa baper, atau bisa saja sudah terjerat oleh cinta berandal kampus itu. Yang pasti hingga malam semakin merangkak naik, gadis itu semakin tersita oleh semua kejadian dengannya dan Alex.


"Oh, Tuhan.... Apa yang sebenarnya terjadi sama aku sih? Kenapa dia nggak mau pergi dari otakku. Padahal dia usilnya kan nggak ketulungan banget. Sumpah! Otakku sudah mulai error nih."


Resty berbicara sendiri sambil terus menatap langit langit kamar. Sesekali kedua kakinya turut dihentakkan ke kasur, merasa sebal dengan diri sendiri. Yang ada semakin berusaha dibuang dari pikiran, nyatanya bayangan pria itu semakin menari-nari dibenaknya.


Hingga akhirnya gadis itu terlelap sendiri, masih dengan posisi wajahnya yang tertutup bantal, setelah sekian menit berperang dengan pikirannya yang tiba tiba penuh tentang Alex.


***


Sedangkan keadaan di airport, tempat Alex melepas kepergian kedua orangtuanya yang sudah terbang landas beberapa menit yang lalu ke Jepang. Pria itu tak langsung kembali pulang. Saat ini ia tidak sedang sendiri, ada Aurora dan juga Zayn yang turut menemani Alex, sekalian untuk menjemputnya agar bisa kumpul dengannya selama urusan kedua orangtuanya belum selesai.


"Mari kita pulang, Lex." sapa Ara, setelah dirasa sudah cukup berada disana.


Alex mengangguk lemas. Sangat kentara jika saat ini pria itu begitu sedih. Ditinggalkan orangtua pergi karena suatu masalah yang tidak pernah diinginkan tentu siapapun akan merasa kehilangan.


Meski selama ini ia tahu jika kedua orangtuanya bukanlah seperti orangtua pada umumnya, yang selalu berlagak baik-baik saja didepan Alex padahal hatinya sedang tidak baik baik saja. Entahlah, apa sebenarnya yang membuat mereka terus bertahan selain hanya dengan alasan anak. Mungkinkah benih cinta itu sudah muncul, hingga membuat mereka sulit melepaskan diri, meski nyatanya cinta itu terlalu lambat datangnya dengan harus dilalui dua puluh tahun lebih lamanya.


"Kita langsung ke rumah ya, Lex?" ajak Zayn, saat mereka bertiga sudah berada didalam mobil yang sudah dikemudikan oleh Hanung, pria yang masih menjadi asisten sekaligus sopir Zayn.

__ADS_1


"Aku masih mau mampir pulang ke rumah, Om. Masih ada barang yang mau aku bawa." jawabnya hanya sekedar alasan.


Nyatanya sebenarnya ia masih sedikit sungkan menumpang hidup dengan tantenya, meski keluarga dari tantenya itu tidak pernah beranggapan begitu.


"Mau ambil apa?" tanya Ara, yang kebetulan duduk bersebelahan dengannya.


Alex terlihat berpikir sendiri. Lama tak dijawab membuat Ara menemukan keputusan yang tepat menurutnya.


"Mas," sapanya kepada Zayn yang duduk didepannya, bersebelahan dengan sang sopir.


"Lebih baik kita bermalam di rumah Alex. Toh Ziyyan besok datang. Dari pada kita bolak balik ke airport lagi jemput Ziyyan? Gimana menurut kamu, Mas?" ucapnya, saat Zayn sudah menoleh kepadanya.


"Boleh," pria itu langsung setuju saja.


Lalu kemudian laju mobil itu mengarah ke jalan menuju rumah Alex. Tentu dengan kecepatan yang melaju sedang. Meski jalanan sudah terbilang agak sepi, namun bukan tidak akan ada resiko yang tidak diinginkan disuatu perjalanan.


Hampir satu jam mereka menempuh perjalanan, hingga kemudian mobil itu kini telah tiba didepan rumah Alex.


Pria itu lekas turun dari mobil dan melangkah begitu saja memasuki rumahnya. Sedangkan Ara dan Zayn hanya bisa menatapnya iba tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


"Good night, Alex." sapa Ara, dari lantai dasar, sambil menatap kepada Alex.


Alex menoleh sekilas. Senyum kecilnya terbit dari sudut bibirnya. "Good night juga, Tante, Om." balasnya, lalu kembali melangkah menuju kamar.


Ara dan Zayn masih mematung ditempatnya. Benar benar merasa kasihan dengan nasib anak sepupunya itu. Tetapi ujian setiap orang memang berbeda-beda. Bisa jadi setelah ini kedua orangtua Alex bisa mengambil hikmah dari cobaan ini. Siapa tahu setelah ini mereka bertambah dekat dan menjadikannya tak seperti keluarga palsu saja.


"Ayo kita istirahat, Sayang." ajak Zayn kepada Ara, setelah bibi Siti terlihat selesai beberes di kamar tamu rumah tersebut.


Ara mengangguk tanpa banyak komentar. Seharian beraktifitas membuat mereka ingin segera mengistirahatkan badan.


"Jadi nggak sabar pingin meluk Ziyyan, Mas. Rasanya kangeeen sekali."

__ADS_1


Wanita itu mengungkapkan rasa rindu kepada anaknya dengan merangkul erat dilengan Zayn.


"Besok sudah ketemu. Mending sekarang kamu peluk aku deh." Pria itu berkata sambil sedikit mengerling nakal kepada istrinya.


Dan Ara pun tentu mulai merasa waswas kepadanya.


"Sayang, jadi pingin nih..."


Pria berusia hampir separuh abad itu memang selalu romantis dengan istrinya. Usia boleh bertambah tua, tetapi masalah kebucinan pria itu nomor satu.


"Hiss.... Apaan sih, Mas. Nggak tahu sikon deh. Nggak sedih apa lihat ponakan kayak tadi? Malah mau enak enak." ucapnya, saat pria itu mulai mendusel bin mengendus dilengannya.


"Ayolah, Sayang. Mau ya... ya..? Mumpung nggak ada anak-anak nih.."


Zayn mulai mengunci pintu kamarnya. Lalu setelahnya mengekori Ara yang melangkah menuju kamar mandi.


"Sayang..." sapanya, hampir mirip seperti bocah ABG yang lagi kasmaran.


Ara menoleh sekilas.


"Mandi dulu, Mas."


*


Yang masih belum tahu bagaimana kisah Ara dan Zayn, silahkan langsung baca LOVE OF AURORA. Karena novel ini juga bagian dari novel sebelumnya.


Jangan lupa tetap semangati othor dengan cara seperti biasanya.


Like


Komentar

__ADS_1


Vote


Kopi, bunga, othor nggak nolak kok😅


__ADS_2