Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 62


__ADS_3

"Res, ini aku!"


Gadis itu seketika membulatkan matanya, tercengang bercampur kaget dengan sosok pria yang rupanya adalah Alex.


"Kamu?"


"Iya, ini aku." Alex meyakinkan.


Resty mundur perlahan. Bukannya tidak percaya, tetapi lebih ke rasa tidak menyangka kenapa pria itu bisa berada di rumah ini juga.


Cukup lama gadis itu membungkam, tetapi tatapan keduanya masih saling bertautan. Saling menatap tajam penuh tanya. Juga ditambah suguhan menggoda dari pakaian yang dikenakan Resty sekarang.


Alex melepas jaket yang kebetulan ia pakai, karena bertugas menjaga diluar rumah cuacanya lumayan dingin bila di malam hari. Langkah kakinya mendekat kepada Resty, tetapi pandangan matanya perlahan berpaling ke samping. Sungguh dua titik pucuk gunung itu seketika membuat tubuhnya bergetar entah. Meresahkan naluri kelelakiannya yang seketika bergejolak tanpa permisi.


Resty sendiri masih belum paham kenapa pria itu memalingkan wajah darinya. Ia hanya tertegun tanpa bisa bergerak, karena tubuhnya sudah mentok bersandar di meja dapur.


Hingga pada Alex menutupi tubuh bagian depan Resty, barulah gadis itu menyadari akan kekonyolannya berpakaian seperti itu didepan Alex.


Wajahnya langsung tertunduk menatap dadanya sendiri. Merutuki diri yang sangat bodoh hingga terlupa dengan penampilannya sekarang. Sedang degup jantungnya mulai berdetak kencang, efek terlanjur malu hingga tak kuasa untuk sekedar mengangkat wajahnya lagi.


Andai ada cermin didepannya, bisa dipastikan wajah gadis itu sudah memerah bak kepiting rebus. Panas dingin tiba-tiba merubah suhu tubuhnya. Sungguh teramat malu yang Resty rasa sekarang. Andai saja ada keajaiban, ingin rasanya gadis itu bisa tiba-tiba menghilang dari tempat itu. Tak bisa membayangkan lagi bagaimana tadi pikiran Alex saat melihatnya seperti ini.


"Memalukan!" batinnya menggerutu kesal.


"Maaf, aku takut kamu kedinginan." ucap Alex hanya sebagai alasan, agar Resty bisa sedikit enjoy dan tidak kikuk seperti sekarang.


Resty tak menyahut. Kepalang malu membuat mulutnya bagai terkunci rapat untuk sekedar membalas ucapannya. Tak kuat hati menahan malu, akhirnya Resty pergi begitu saja. Melangkah cepat menuju kamarnya lagi, meninggalkan Alex yang terus memandanginya hingga sampai gadis itu telah benar-benar masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Astaga......"


"Huft.... Huft..... Huft....."


Mulut pria itu terus-terusan mengeluarkan nafasnya yang sedari tadi terasa menyesakkan. Menahan diri agar tidak teegoda oleh suguhan menggiurkan itu, tentu teramat sulit bagi pria normal seperti Alex.


Apalagi yang dilihatnya itu ialah bagian tersembunyi dari gadis yang selama ini dicintainya. Siapa yang tidak tergoda coba? Padahal sebelumnya Alex tak pernah seperti ini, meski sering disuguhkan body terbuka saat bersama dengan Donita dulu.


Bibir tipis Alex tersungging manis. Teringat lagi dengan suguhan pemandangan langka dari Resty. Anggap saja ini rejeki nomploknya malam ini. Andai tadi ia tidak masuk ke dapur untuk menaruh piring kotor yang tadi ditinggal Ayu di pos jaga, mungkin Alex tidak akan mendapat kejutan tak terduga ini.


Sejenak Alex berpikir lagi. Keberadaannya disini sudah terlanjur diketahui oleh Resty. Tinggal ia siap-siap mengarang jawaban saja, andai besok Resty menanyainya kenapa bisa berada disini. Setelah merasa menemukan jawaban yang pas, lalu Alex keluar lagi menuju pos jaga didepan.


Sesampainya di pos itu rupanya sudah ada pak Saleh yang sedang menunggunya. Mereka berdua mengisi malam panjangnya dengan saling bercerita. Mengarungi malam sepi dengan tubuh yang terasa mulai dingin karena angin malam ini kebetulan cukup kencang.


"Tumben nggak pake jaket, Den?" tanya Saleh, karena melihat Alex duduk sambil memeluk kakinya sendiri.


"Biar bapak ambilkan didalam. Taruh disebelah mana, Den?" Saleh sudah berdiri.


"Tidak usah, Pak." cegah Alex. Tidak mungkin ia membiarkan Saleh masuk ke dalam rumah. Karena mau dicari dimana pun jaket miliknya sedang ada di Resty.


"Loh, awas entar masuk angin loh, Den." Saleh memperingatinya.


"Aku bisa pakai ini. Pinjem ya, Pak?" Alex mengambil sarung milik Saleh yang kebetulan selalu disiapkan Saleh di pos itu.


Dan Saleh pun akhirnya hanya bisa mengangguk, walau sebenarnya sangat khawatir membiarkan anak majikannya itu hanya berselimut sarung dalam cuaca dingin seperti malam ini.


Sedangkan keadaan di kamar Resty saat ini, kedua mata itu sangat sulit terpejam lagi. Ingatan tentang kejadian barusan terus saja terngiang, bahkan bisa jadi akan menjadi kenangan konyol yang tak mungkin terlupakan dalam seumur hidupnya.

__ADS_1


Resah dan gelisah terus saja menghantui pikirannya. Disaat ia memutuskan berlibur disini karena memang ingin menenangkan pikiran, tetapi sepertinya hal itu sangat mustahil sekarang. Sebab si pengusik pikirannya itu rupanya juga ada disini, ditempat yang sama pula.


Kenapa dia bisa berada di sini, sedang apa dia di sini, sejak kapan dia ada di sini, semua pertanyaan itu terus merotasi benak Resty. Rasa penasarannya yang semakin tinggi itu membuatnya semakin kesulitan untuk melanjutkan tidur malamnya saat ini.


"Apa ada yang tidak aku tahu sebelum ini? Sebelumnya Alex tiba-tiba tidak ada kabar, tapi tiba-tiba saja dia ada di sini. Apa memang Alex kenal sama eyang Asih?"


Saat berargumen seorang diri, Resty tiba-tiba dibuat terhenyak oleh sekelibat prasangkanya yang muncul begitu saja dibenaknya.


"Apa karena ini eyang memaksaku secepatnya kesini? Padahal eyang sendiri juga tahu kalau papa baru pulih. Ada apa ini? Jangan sampai jawabannya karena ada Alex, dan eyang berencana akan--"


Resty tak kuasa melanjutkan argumennya sendiri. Ia malah menggeleng-gelengkan kepalanya agar praduganya itu tidak menjurus ke hal perjodohan lagi. Karena jujur, Resty mulai merasa tak enak feeling setelah bertemu dengan Alex barusan.


"Tunggu, apakah Alex adalah Deden nya Ayu?"


Resty beranjak menuju jendela kamar. Ia mengintip ke arah pos jaga, yang mana saat ini memang sedang ada dua orang yang menjaganya di sana.


"Ngapain Alex ikut-ikutan ngeronda bareng tukang jaga rumah ini?" gumamnya lagi.


"Ah, sudah lah. Bukan urusanku juga." ucapnya kemudian.


Lalu Resty kembali lagi ke kasur. Sebelum merebah ia mengambil jaket milik Alex yang kebetulan teronggok diatasnya. Tangannya mencengkram erat jaket itu, tercium aroma khas dari pria itu yang cukup lama Resty tak merasakannya belakangan ini. Aroma wewangian parfum yang biasa dikenakan Alex, diam-diam mampu menjadi obat penenang sehingga dapat membuai gadis itu untuk kembali melanjutkan mimpi panjangnya malam ini.


*


Jangan lupa dukung terus karya othor dengan cara like dan juga komentar ya...


See you next part🤗

__ADS_1


__ADS_2