Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 34


__ADS_3

Pagi sudah menyapa. Alex segera menyusul ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarga. Dan kebetulan juga pagi ini ia masih harus merampungkan tugas kelompok kemarin, karena setelah itu ia sudah memiliki rencana bertemu dengan Donita.


Tak lupa Alex membawa beberapa benda penting yang perlu dibawa. Sebuah benda yang kemungkinan akan diminta oleh kedua orangtuanya, setelah semalam ia mendengar sendiri tentang rencana penarikan fasilitas miliknya oleh mama papanya.


"Selamat pagi, Sayang." sapa Sisil, begitu Alex sudah menarik kursi di meja makan itu.


"Selamat pagi, Ma, Pa." Alex turut menyapa kedua orangtuanya sambil lalu duduk dikursi tersebut.


"Rajin sekali hari ini. Ada janji ketemu sama someone ya?" goda Sisil, sambil memolesi roti dengan slai kacang untuk suaminya, Kenzo.


"Nggak ada, Ma." sahut Alex. Posisinya juga sedang melumuri roti dengan krim coklat kesukaannya.


"Mm, masa sih? Tapi kayaknya ada yang berubah deh." Sisil masih tak hentinya menggoda Alex yang memang tampilannya sudah ada sedikit perubahan.


Pria yang semula gemar mengenakan celana jeans yang sedikit robek dimana-mana, kali ini terlihat sedikit rapi dengan menanggalkan celana andalannya itu.


Tatanan rambutnya pun terlihat cukup rapi. Walau tidak dipotong, hanya masih mending terlihat selesai disisir, tak seperti biasanya yang selalu menyisir rambutnya hanya dengan jari tangan.


"Berubah apanya? Perasaan tetep ganteng deh.." Alex malah balik bercanda, khas dengan cengirannya yang kepedean.


"Iya deh, iya..."


Lantas Sisil melirik kepada Kenzo, seperti memberi kode untuk membicarakan perihal yang semalam.


Kenzo langsung paham tatapan mata istrinya itu. Tetapi ia memilih menunggu sampai dirinya dan juga Sisil dan Alex selesai sarapan.


Setelah beberapa menit sarapan pagi itu selesai, Kenzo mengintrupsi Alex untuk tetap duduk, setelah sebelumnya Alex sudah ingin beranjak.


"Ada yang ingin papa bicarakan, Lex." serunya, sudah dengan wajah serius.


"Ada apa, Pa?" tanyanya, pura-pura tidak tahu padahal sudah tahu apa yang ingin kedua orangtuanya itu sampaikan.


"Lusa, papa dan mama akan ke Jepang."


"Oh, silahkan." Alex menyahut tenang. Ia sudah tahu kalau ia akan ditinggal ke Jepang dan akan dititipkan ke tante Ara.


"Maaf kami tidak bisa mengajakmu. Dan sepertinya kami disana tidak tahu sampai kapan." Kenzo melirik tipis kepada Sisil. Dan wanita itu langsung mengusap punggung tangannya sebagai penyemangat perasaannya yang sedang gundah.


"Santai saja, Pa, Ma. Aku pasti baik-baik saja. Papa sama Mama tenang. Kalian bisa selesaikan masalah kantor tanpa harus memikirkan aku."

__ADS_1


Seketika sorot mata Sisil dan Kenzo menatap heran kepada Alex. Pikirnya dari mana Alex tahu kalau perusahaan sedang dalam masalah besar.


"Aku sudah tahu semuanya. Maaf, aku bukan niat menguping obrolan mama papa, cuma karena sepertinya gawat akhirnya kebablasan dan penasaran." ucap Alex.


Ia membongkar isi tasnya. Lalu mengeluarkan dua buah kunci mobil dan satu kunci motor. Beberapa kartu kredit juga kartu ATM turut ia serahkan kepada mama papanya.


"Jangan semuanya, Lex." Kenzo menyerahkan satu kartu ATM kepada Alex. Rasanya ia tak sampai hati meninggalkan anaknya tanpa pegangan uang sama sekali.


Alex tak langsung meraihnya. Sebenarnya ia masih ragu untuk menerimanya, cuma ia memang juga butuh itu. Walau mungkin isi saldonya tidak terlalu banyak seperti yang ada di kartu yang lain, cuma patut disyukuri dari pada tidak ada sama sekali.


"Ambil lah, Nak. Maafkan kami karena sudah membuat kamu jadi begini. Secepatnya mama dan papa akan datang lagi. Dan kita bisa berkumpul lagi dirumah ini." seru Sisil penuh iba.


Melihat anaknya yang ternyata bisa tegar dan mau menerima kondisi yang tak diharapkan ini, sedikit kelegaan menjalar dihatinya untuk meninggalkan anaknya seorang diri.


Dan Alex hanya tersenyum ramah dengan anggukan kepalanya. Kartu itu pun terpaksa diambilnya lagi. Dalam hati ia sudah bertekad akan mencari pekerjaan sementara, selama libur menjelang ujian semester yang sudah akan dimulai beberapa hari lagi.


"Oh, Iya. Sementara kamu disini, mama sudah titipkan kamu sama tante Ara. Dia setuju. Apalagi besok katanya Ziyyan datang. Jadi kamu bisa ada teman belajar disana. Rajin-rajin ya, belajar dari abangmu itu."


"Bang Ziyyan balik, Ma?" Alex berbinar bahagia mendengarnya.


Sisil hanya mengangguk.


"Yes!" Soraknya lagi.


"Ma, Pa, Alex pamit." ucap Alex, setelah dirasa cukup mengobrolnya pagi ini.


"Belajar yang rajin. Papa sudah tidak bisa menyokong siapa-siapa lagi. Nasibmu sudah ada ditanganmu sendiri." seru Kenzo, membuat Alex terdiam sejenak, penasaran dengan maksud menyokong dari papanya itu.


"Kamu berangkat naik apa, Sayang?" Sisil menanyakannya karena memang Alex sudah menyerahkan semua kunci alat transportasinya kepada papanya.


"Gojek, Ma." sahutnya singkat.


Lalu kemudian menyalim takdzim kepada kedua orangtuanya. Setelahnya pergi menyusul keberadaan kang gojek yang sudah dipesannya dan sedang menunggu didepan pagar tinggi kediamannya.


"Mobilnya mana, Dek." sapa kang gojek kepada Alex, begitu ia sudah siap duduk di jok motornya.


"Nggak ada." balas Alex, sesantai mungkin.


Kang gojek itu tak lekas melajukan motornya. Sedari tadi matanya sibuk menyapu bersih ke arah rumah gedong yang mirip istana kepresidenan. Bisa aja kang gojek nih😄

__ADS_1


"Kamu bukan anak pemilik rumah ini, Dek?" tanyanya masih penasaran akut.


"Berarti bisa jadi kamu anak sopirnya ya, Dek?"


Waduh!


Alex memutar bola matanya dengan jengah. Ternyata jiwa kepo kang gojek yang dipesannya melebihi mak-mak komplek yang demen ghibah ( Kadang-kadang, nggak semuanya loh😁).


Pria itu melirik sekilas pada jam tangan di pergelangan tangannya. Andai waktunya tidak mepet, sudah pasti Alex akan membatalkan diantar kang gojek satu ini. Berhubung sekarang sudah urgent, maka terpaksa Alex meladeni kang gojek itu seperti orang bodoh saja.


"Jadi berangkat nggak, Pak?" seru Alex, mengintrupsinya sedikit jengkel.


"Eh, iya. Maaf ya.."


Kang gojek berjaket ijo itu pun akhirnya melajukan motornya sesuai arahan Alex. Masih dengan obrolannya yang tak selesai membahas tentang pemilik rumah besar itu.


"Kalo ada lowongan pekerjaan, tolong bilang ya, Dek. Adik bungsuku dirumah lagi nganggur. Pingin kerja tapi ijasahnya cuma SMP. Meski cuma jadi tukang kebun adikku pasti mau loh." tutur kang gojek itu ditengah-tengah perjalanan mengantar Alex ke arah kampus.


"Adik bapak suruh jadi tukang anter saya saja, Pak." usul Alex seketika.


"Jadi gojek juga?"


"Iya."


"Kalo cuma jadi pelanggan pribadi, saya juga bisa, Dek."


"Tapi saya nggak mau sama bapak."


"Loh, kenapa memangnya?"


"Bapak cerewet. Kayak mak-mak komplek. Kang kepo urusan orang." tentu umpatan ini hanya bersuara dalam hati Alex.


Walau sebenarnya ia merasa kesal dengan kang gojek ini, tetapi melihat usianya yang sudah lebih dari lima puluh tahunan tentu ia merasa iba juga. Diusianya yang sudah tak lagi muda seharusnya pekerjaan yang lebih aman tidak berada di jalanan seperti ini.


"Sudah sampai, Dek."


Motor yang ditumpangi Alex sudah berhenti disekitaran area kampus. Banyak sorot mata menatap curiga pada Alex yang datang ke kampus tidak seperti biasanya. Seperti menemukan pemandangan langka yang terjadi pada Alex.


Pria itu tetap acuh dengan sekitar. Setelah ia membayar ongkos gojek itu, ia terus beranjak dengan santainya memasuki area kampus yang terbilang cukup ramai.

__ADS_1


Hingga sama sekali ia tidak menyadari jika ternyata Donita juga mengetahui kedatangan Alex yang menaiki gojek. Bagai raja yang bisa turun derajat jika tetap membiarkan Alex begitu lagi. Maka Donita pun lekas menyusul Alex untuk membicarakannya agar tidak mengulangi perbuatannya yang bisa menurunkan kasta menurutnya.


*


__ADS_2