Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 24


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Papa.."


Resty langsung menyalim takdzim kepada Tommy, begitu ia berpapasan dengan papanya diambang pintu masuk rumahnya.


"Wa'alaikum salam." Tommy menjawab sedikit datar. Ia memang sedang menunggu alasan jelas dari Resty yang pulang terlambat.


"Papa, maaf..." Resty langsung peka saat melihat mimik Tommy yang tak seperti biasanya.


"Tadi sepulang dari kampus aku mampir ke rumah teman dulu ambil mobil. Itu loh, Pa.. yang kemarin aku bilang ke Papa kalo mobilku ada yang isengin." jelas Resty.


"Jadi bukan ke rumah Ika kan?" tebak Tommy, yang otomatis Resty langsung nyengir bersalah.


"Maaf, aku janji nggak bakal gini lagi sama Papa." ucapnya sambil menundukkan kepala.


"Kamu ini." Tommy mencuil hidung bangir Resty.


"Janji jangan bohong lagi sama papa." Tommy mengasak lembut pucuk kepala Resty, dan gadis itu langsung tersenyum riang begitu mendapatkan maaf dari papanya.


Lalu mereka pun beriringan masuk ke rumahnya. Gadis itu terdiam sejenak saat mendapati meja makan yang sudah tersaji menu makan malam diatasnya.


"Kamu bersih bersih dulu sana. Trus kita makan bareng. Papa tunggu.." ucap Tommy.


Resty hanya bisa mengangguk kecil. Sebenarnya ia sudah kenyang dari rumah Alex, tapi untuk menolaknya rasanya sangat tak tega. Untuk berterus terang tidak mungkin. Takut nanti papanya akan banyak tanya, mengapa begini dan begitu.


Akhirnya Resty beranjak ke kamar untuk lekas membersihkan badan yang lumayan lengket. Sebelumnya ia menyambangi kaca riasnya dan bercermin disana. Memandangi diri dengan perasaan entah.


Cup.


Bluuusss.....


Diri Resty kembali meremang saat tiba tiba saja teringat tentang kejadian di rumah Alex. Sungguh ia benar benar tak bisa move on dari kejadian itu. Ini hanya sebuah kecupan di pipi, apalagi nanti jika bibirnya yang disambangi.

__ADS_1


"Aaah.... Menyebalkan! Kenapa harus dia sih yang ambil first kissku?" omel Resty sambil terus mengusap-usap pipi kanannya.


Degup jantungnya pun terasa tak normal, saat tiba tiba membayangkan bagaimana jika bertemu dengan Alex besok. Meski tadi ia yang meminta Alex untuk melupakan kejadian itu, sejatinya Resty sendiri tak semudah itu melupakannya.


"Huft.... Huft!"


Tarikan nafasnya yang berhembus kasar ia keluarkan berulang-ulang. Hingga sampai pada degup jantungnya dirasa kembali normal, maka ia pun segera beranjak menuju kamar mandi. Berendam dengan air dingin mungkin bisa sedikit merilekskan perasaannya yang seketika sulit dijelaskan.


***


Malam pun merambat naik. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Dimana sebagian orang memilih lekas beristirahat agar keesokannya bisa kembali bugar beraktifitas.


Namun tidak dengan keadaan didalam kamar kedua orang tua Alex. Mereka masih terjaga, rasa kantuk sepertinya belum menyapa pasangan suami istri itu. Apalagi saat papa Alex tiba tiba saja membuka obrolannya mengenai hadiah ulangtahun yang akan ia berikan kepada istrinya.


"Sisil," sapa papa Alex, saat istrinya itu hanya sibuk dengan Ipad yang dipegangnya.


"Hem.." Sisil hanya bergumam, tanpa mengalihkan fokusnya mengenai laporan yang ia baca di Ipad itu.


Sisil hanya tersenyum getir saat suaminya itu tetap terdiam, seperti tersirat sebuah keraguan darinya.


"Sudah lah. Lagian aku juga nggak berharap hadiah dari kamu. Itu tadi kamu pasti drama kan didepan Alex?" ucap Sisil. Ia dan Kenzo memang kerap melakoni drama didepan Alex, demi menjaga perasaan Alex, agar terlihat tetap harmonis didepan mata anak semata wayangnya itu.


"Aku rasa Alex sudah cukup dewasa. Sudah saatnya kita mengakhiri ini." ucap Kenzo, tatapannya beralih lurus menghadap depan, memalingkan wajahnya dari Sisil.


Sisil terdiam. Ia sangat paham maksud ucapan mengakhirinya itu adalah perceraian. Hanya yang mengganjal dihati Sisil ialah mengapa baru sekarang membahas ini. Bukankah dari awal Kenzo sudah tahu kalau Sisil belum segenap hati menerimanya. Jika akhirnya harus berakhir juga, mengapa tidak dari dulu Kenzo melepasnya.


Dan sekarang disaat Sisil belajar menerimanya, Kenzo malah mau mengakhiri rumah tangga yang telah mereka bina selama 22 tahun.


Demi menutupi perasaannya yang tiba tiba terasa sesak, Sisil mengalihkan fokusnya menatap layar Ipad nya lagi.


"Kemarin aku bertemu Tommy." ucap Kenzo, setelah beberapa saat mereka saling diam.

__ADS_1


Sisil tetap bergeming. Walau tak ditampik hatinya merasa kaget saat Kenzo mengatakan itu.


"Huh, Jodoh memang nggak ketemu ya.." tutur Kenzo, terasa ambigu sekali bagi Sisil.


"Sampai sekarang Tommy tetap menduda, Sil.."


"Apa sangkut pautnya Tommy yang masih duda sama kamu ngasi tahu aku tentang ini?" Sisil sudah merasa geram sendiri kepada Kenzo yang terkesan menancing emosinya.


"Ya... Siapa tahu kamu mau kembali sama dia." Kenzo berkata enteng sekali. Tanpa menghiraukan air muka Sisil yang merah padam.


"Gila kamu, Ken!"


Sisil membanting Ipad nya ke atas kasur, lalu ia pun melenggang pergi keluar kamar dan menutup pintu itu cukup keras.


Sedangkan Kenzo tetap ditempatnya. Menatap nyalang pada pintu kamar yang sudah tertutup sambil bersandar dipapan ranjang. Merutuki diri yang sampai hati membuat Sisil semarah ini. Padahal sebelumnya diantara mereka tak pernah seperti ini. Selalu terlihat damai meski hati tak saling cinta.


Tujuan Kenzo mengatakan itu tak lain karena ia ingin menebus kesalahannya yang dahulu. Saat awal-awal mengenal Sisil, ia sudah tahu jika istrinya itu sedang dekat dengan Tommy dan mereka saling mencintai. Hanya karena sebuah ambisinya yang meninggi hingga membuatnya tetap mau melanjutkan perjodohan itu meski tanpa adanya cinta dari Sisil kepadanya.


Dan disaat Kenzo sudah ingin melepasnya, karena memang keadaan Tommy yang mendukung, rupanya Sisil semarah itu. Pria itu berpikir lagi. Bagaimana caranya agar Sisil kembali bahagia dengan Tommy, agar tidak terus-terus mendrama pada semua orang. Karena sebenarnya Kenzo sudah lelah melakoni drama ini, harus pintar menutupi hatinya yang sebenarnya merasa sakit saat membayangkan menyerahkan Sisil kembali kepada Tommy nanti.


Angin malam berhembus sepoi merasuk hingga ke tulang sumsum. Sisil masih betah menyendiri di taman samping rumahnya. Bulir kristal itu terus menetes tanpa mau berhenti. Sakit dan sesak yang ia rasa. Seakan selama ini ia hanya menjadi mainan yang begitu bertemu dengan pemilik yang awal, maka ia dikembalikan lagi kepada pemilik tersebut.


Tommy. Nama pria itu sebenarnya sudah lama ia kubur dalam-dalam, meski harus tergali lagi setelah obrolan barusan. Susah payah Sisil melupakannya, dengan belajar menerima Kenzo sebagai suaminya. Meski harus memakan waktu hingga lebih dari dua puluh tahun lamanya, tetapi sama sekali tak ada keinginan Sisil untuk kembali kepada Tommy.


Apalagi jika teringat tentang peristiwa malam itu, saat Bella datang menemui Tommy memberitahu tentang kehamilannya. Disaat selangkah lagi Sisil akan berhasil mengakhiri pertunangannya dengan Kenzo. Semua kejadian itu tiba tiba saja kembali terngiang dalam memori ingatannya.


*Flashback on


Flashbacknya tunggu di part selanjutnya ya...☺


Yang pernah baca LOVE OF AURORA, pasti masih ingat dong sama kisah Tommy dan Sisil.

__ADS_1


See you next part😘


__ADS_2