Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 91


__ADS_3

Alex dan Resty sudah tiba di apartemen milik saudara Alex yang Resty sendiri masih belum tahu siapa pemiliknya. Sebelum itu mereka berdua mampir ke mini market untuk membeli beberapa makanan instan juga minumannya, mengingat tadi kondisi kulkas milik abangnya Alex itu kosong.


Layaknya pemilik apartemennya, Alex dengan mudah masuk ke dalam apartemen itu. Karena sebelumnya abangnya itu juga berpesan jika ingin masuk tinggal ambil idcard miliknya pada petugas yang bekerja di lobi bawah.


"Abang kamu nggak ada?" Resty mulai was was saat tahu kalau hanya ada mereka berdua di apartemen itu.


"Masih keluar, bentar lagi pasti datang." Pria itu menyahut santai, sambil lalu menyalakan kompor untuk membuat spaghetti yang mereka beli tadi.


Resty menghela nafasnya mencoba lebih rileks dari pikiran kotornya yang sempat menggelitik ngeri. Perlahan ia mendekati kekasihnya itu saat melihat pria itu mulai mengenakan apron ditubuhnya.


"Yakin bisa buatnya?" Sebenarnya gadis itu tidak meragukan kemampuan Alex yang sedikit lebih pandai memasak dibanding dirinya, tetapi ia sekedar menggodanya saja demi menghilangkan keresahannya saat suasana menjadi hening.


Alex hanya tersenyum simpul menatap wajahnya. Pria itu juga mengambil satu apron lagi untuk ia pasangkan ke tubuh Resty.


Gadis itu sempat terhenyak bercampur gugup saat hembusan nafas kekasihnya itu terasa lebih dekat. Tatapannya yang menghunus tepat ke netra gadis itu membuat Resty semakin terkesima. Apalagi saat pria itu dengan sengaja mengikat tali apron itu dari depan tubuh Resty. Jadinya tubuh mereka saling terhimpit, tentu dengan degupan jantung mereka yang sebenarnya sudah diluar normal.


"Boleh minta dikit nggak?" sapa Alex, sengaja membisikkan suaranya ke telinga Resty, hingga membuat gadis itu seketika meremang resah.


Resty masih terpaku dalam pelukan kekasihnya itu. Tangannya yang kekar melingkar erat dipinggangnya yang seksi. Sesaat tatapan mereka saling beradu lebih dalam, hingga entah siapa yang memulai tiba-tiba indra perasa itu bersentuhan lagi.


Meski suasana seakan mendukung mereka untuk bermesraan, tetapi sepertinya alam belum mengijinkan. Saat tiba-tiba keduanya mencium bau sesuatu disekitarnya.


"Kyaaaaa..... Gosong!"


Keduanya saling memekik kaget saat tahu spaghetti yang mereka buat sudah hangus. Sesaat mereka hanya sama-sama terkekeh, seketika teringat kalau kejadian itu atas perbuatannya yang lalai.


"Yaah... Nggak jadi makan nih ceritanya." seru Resty, saat Alex mulai membersihkan kekacauan yang mereka lakukan itu.


"Santai aja, Yang. Kita bisa cari diluar entar. Tapi tunggu aku beresin ini dulu ya? Kalau abangku tahu aku bikin kacau dapurnya pasti ngomel dia."


Sebenarnya tadi saat berbelanja di minimarket, Alex sudah mengajak Resty makan di restoran yang tak jauh dari arah minimarket tadi. Tetapi urung lantaran Alex berubah pikiran sok-sokan mau beradegan romantis sambil memasak bersama pacar, namun kenyataan tak sesuai ekspektasi.


"Uhuk... Uhuk... Kalian apakan dapurku?" Tetiba suara seorang pria menyapa mereka dari arah belakang, sambil mengibaskan tangannya didepan hidung.


Alex dan Resty sama-sama menoleh ke arah suara itu. Pria itu langsung nyengir saja saat tahu yang menyapanya adalah abangnya. Sedangkan gadis itu seketika tercengang saat tahu jika yang menyapanya itu adalah Ziyyan.

__ADS_1


Ziyyan pun juga sama dengan Resty. Tanpa dijelaskan ia bisa tahu jika perempuan yang katanya pacar Alex itu pasti Resty, mantan calon tunangannya. Yang tiba-tiba mengusik pikirannya saat ini ialah apakah Alex tidak tahu siapa Resty bagi dirinya? Meski memang tidak pernah saling memiliki rasa, paling tidak setelah tahu jika Resty adalah mantan calon tunangannya apakah Alex mau menerima kenyataan ini?


"Sorry, Bang. Ini lagi aku beresin kok. Hehe..." Alex berkata sambil mengangkat jarinya membentuk V.


"Hem," Ziyyan menyahut dengan gumaman.


Sekilas matanya melirik kepada Resty yang terkesan acuh kepadanya, walau sebenarnya netra gadis itu kentara gugup saat harus bertemu lagi dengan orang yang pernah akan dijodohkan dengannya.


Setelah itu Ziyyan sengaja meninggalkan mereka dan kemudian masuk ke kamarnya.


"Dia abang kamu?" Resty bertanya hati-hati.


"Hem, dia abang sepupuku. Namanya Ziyyan." Alex memperkenalkannya. Tetapi kemudian ia lanjut membereskan dapur itu lagi.


Resty masih terdiam ditempat. Sorot matanya menatap nyalang pada pintu kamar Ziyyan yang tertutup rapat. Tiba-tiba gadis itu teringat jika ia memiliki nomor telpon Ziyyan. Hal ini harus segera disepakati bagaimana baiknya, agar tidak terjadi sesuatu yang diluar harapan.


Saat jari tangan gadis itu sibuk mengetik pesan yang akan ia kirim kepada Ziyyan, rupanya pria itu lebih dulu mengiriminya pesan singkat.


"Alex tahu nggak tentang bagaimana kita sebelumnya?"


"Belum. Tetapi semoga saja tidak akan tahu selamanya." balas Resty.


"Kalau begitu mari kita pura-pura berkenalan lagi setelah ini." ajak Ziyyan.


Resty membalas pesan pria itu hanya dengan gambar jempol yang berjejer banyak.


Hingga membuat Ziyyan tersenyum sendiri di kamarnya. Yang terpaksa harus melakoni drama didepan Alex, demi keamanan hubungan Resty dan Alex kedepannya.


Padahal sebenarnya Alex sudah tahu hal itu semua. Dan dengan mengajak Resty bermain di apartemen ini, sebenarnya tidak ada niat apa-apa selain hanya ingin memperkenalkan.


Tak lama setelah itu Ziyyan keluar dari kamarnya. Ia melangkah mendekat kepada Alex dan Resty yang masih belum beranjak dari tempatnya.


"Ehem," Ziyyan berdeham untuk mengalihkan perhatian mereka.


Saat posisi mereka bertiga saling berhadapan, Ziyyan dengan sengaja mengkode Alex untuk memperkenalkan dirinya kepada Resty.

__ADS_1


"Oh iya, Res. Kenalkan, ini abangku, bang Ziyyan."


Resty dan Ziyyan saling berjabat tangan. Sungguh drama yang mereka lakoni sekarang benar-benar totalitas didepan Alex.


"Mm-- Sebagai salam perkenalan, ijinkan aku untuk mentraktir kalian makan diluar." seru Ziyyan tiba-tiba.


"Boleh. Sekalian bisa pesan sesuka hati juga kan?"


Ziyyan langsung mengangguk setuju.


"Kalau begitu, lets go!"


Alex segera melepas apron yang dipakainya. Tak lupa ia juga membantu Resty melepas apron ditubuhnya.


"Sayang, aku boleh nggak ikut kan? Tiba-tiba badanku agak nggak enak. Aku mau cepat rebahan santai di kamar." Resty sedikit berbisik pelan dengan Alex.


"Setelah ini aku pasti langsung antar kamu pas didepan rumah kamu. Berhubung abangku yang mau traktir, ayo jangan buang kesempatan. Sekalian kita saling ngobrol ringan masalah hati ke hati."


Resty masih bergeming. Bahkan saat Ziyyan mendekatinya lagi, Resty masih mematung ditempat.


"Kamu menolak, maka satu restu dariku terpaksa menolak kamu juga." ucapnya samar-samar tapi masih terdengar ditelinga Resty.


Resty menelan salivanya gugup. Itu artinya saat ini Resty harus mau ikut mereka berdua untuk makan siang bersama.


Mereka bertiga akhirnya keluar dari apartemen itu dan secepatnya melangkah menuju basemen.


"Kita satu mobil saja, Lex. Sekalian irit BBM. Hehe... Makin rame berangkat bareng, makin seru kayaknya." Ziyyan membuka pintu mobilnya dan langsung duduk dibelakang kemudinya.


Sedangkan Alex hanya bisa menurut tanpa banyak protes. Saat ditengah-tengah perjalanan, tiba-tiba Ziyyan melewati jalan yang tak biasanya Alex dan Resty lewat disitu.


"Masih mau kemana nih, Bang?" tanyanya penasaran.


"Tunggu sebentar di sini. Aku mau menjemput calon istriku di sana." Tangan Ziyyan menunjuk ke sebuah asrama putri yang sudah berada diseberang jalan.


*

__ADS_1


__ADS_2