Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 107


__ADS_3

Tommy dan Ika masih berada dalam lift yang membawa mereka turun ke lantai bawah. Gadis itu seketika membisu dengan kondisi hati yang berdebar tak menentu. Suhu tubuhnya mendadak panas dingin begitu mendapati tatapan mata Tommy yang bagai menghunus tepat ke jantung hati.


Pria itu masih betah mengungkung tubuh Ika didinding lift itu. Seperti menemukan mainan menyenangkan tiap kali melihat sorot mata Ika yang terus berusaha menghindar dari tatapannya, yang berhasil membuat gadis itu bersemu merah. Hingga kemudian pintu lift itu terbuka, barulah Tommy memposisikan diri kembali biasa, kemudian keluar dari lift itu, disusul Ika yang mengekorinya dengan perasaan yang sudah tak menentu.


Saat mereka berdua sudah berada di basemen perusahaan itu, dan ketika Tommy sudah membukakan pintu mobilnya untuk Ika, gadis itu tidak segera masuk. Mendadak ia teringat dengan Resty. Bagaimana dengan sahabatnya itu jika nanti tahu dengan yang terjadi saat ini?


"Masuklah," seru Tommy.


"Om serius mau ke rumahku?" tanyanya, inhin meyakinkan lagi.


"Kapan aku pernah bohong?" Tommy balik bertanya.


Ika hanya memberengut. Antara siap tidak siap untuk mempertemukan Tommy dengan orangtuanya, tetapi sebenarnya sangat mau jika nanti akan bersanding dengan pria pujaannya itu.


"Apa nggak sebaiknya Om nggak bicarakan ini dulu sama Resty?" tanyanya kemudian.


Tommy terdiam sejenak. Sebenarnya hal seperti ini memang harus dibicarakan dulu dengan anak semata wayangnya itu, tetapi jika ingat kalau Resty pernah akan menjodohkannya dengan Ika saat itu, Tommy rasa Resty tidak akan keberatan. Walau akan tahu belakangan, setelah Tommy bertemu dengan kedua orangtua Ika dulu pastinya.


"Resty sudah setuju," ujarnya sangat yakin.


"Yang bener, Om?" sorot mata Ika sedikit mengerling senang.


Tommy mengangguk meyakinkan. Bahkan pria itu memberanikan diri memegang pundak Ika untuk kemudian menuntunnya masuk ke mobilnya.


Tommy sudah duduk dibelakang kemudinya, bersiap akan melajukannya menuju rumah Ika. Sekilas ia melirik kepada gadisnya yang duduk resah dan terus menatap lurus ke depan. Perlahan pria itu mendekat kepada Ika. Seketika gadis itu semakin resah saja.


"Jangan lupa pake sabuknya. Gugup boleh, tapi jangan lupakan keselamatan juga," ujarnya sangat santai, sembari membantu memasankan sabuk pengaman pada Ika.


Aroma khas pria itu berhembus bagai menggoda iman. Wangi tubuhnya seketika menyeruak, hingga mampu membuat gadis yang sudah dicandu asmara itu terlena semakin menjadi. Menghirup dalam-dalam wewangian yang seketika bisa menjadi aroma teraphy baginya, begitu tenang, terhanyut damai, hingga mata itu terpejam terlena.


Tommy menyeringai tipis begitu melihat gadis itu memejamkan matanya. Diam-diam ia juga memperhatikan wajah Ika lebih lekat, selagi gadis itu memejamkan mata. Garis wajah yang begitu manis. Pipi mulus nan lembut, juga bibir yang merona merah khas cherry.

__ADS_1


Gelenyar aneh itu tiba-tiba muncul seakan mendorong tubuhnya untuk melakukan sesuatu, tetapi lekas pria itu mundur teratur, demi menjaga godaan iman yang meresahkan didepan mata.


"Jangan tidur." Tommy sengaja mencubit kecil hidung mancung Ika.


Seketika Ika mengerjab kaget. Dan langsung memalingkan wajahnya keluar kaca. Merasa sangat malu sendiri, sembari mengumpat sesal dalam hati.


Akhirnya mobil itu melaju juga. Roda kokohnya menggelinding pesat menuju rumah Ika. Selama perjalanan itu Ika sibuk dengan ponselnya, mungkin ia sedang memberi kabar kepada kedua orangtuanya mengenai kedatangan Tommy bersamanya saat ini.


"Orangtua kamu ada di rumah kan?" tanya Tommy kemudian.


"Ada, Om," balasnya, tiba-tiba merasa canggung untuk bisa kembali santai kepada Tommy.


"Baiknya nanti aku bilang apa ya sama orangtua kamu?"


Ika hanya bergeming. Bukan tidak mau merespon, tetapi hatinya terlalu gugup untuk membalas pertanyaan dari Tommy yang menjurus ke arah yang lebih serius tentunya.


"Tapi kamu sendiri tetap panggil aku om," ucapnya lagi.


Ika melirik kecil kepada Tommy. Rupanya pria itu juga sedang meliriknya. Seketika itu Tommy menepikan mobilnya sejenak. Mendadak membuat degup jantung Ika semakin meletup-letup tak karuan.


"Loh, kok?"


"Makanya jawab dulu pertanyaan aku?"


"Pertanyaan yang mana?" Otak Ika mendadak ngeblank.


Tommy menatap netra hitam itu semakin dalam. Mendadak ia jadi gemas ingin mencubit pipi merona Ika yang membuatnya sangat senang.


"Ah, sudah lah." ucapnya pasrah, yang kemudian kembali melajukan mobilnya sedikit pelan dari sebelumnya.


Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai disebuah rumah yang masih terbilang kawasan elit milik Ika. Saat mereka berdua sudah turun dari mobilnya, diambang pintu rumah itu telah berdiri mama Ika yang memang menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


Mama Ika sempat berdecak kagum begitu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wujud pria duda yang ditaksir anaknya itu. Meski sudah beranak satu, jika parasnya masih keren seperti itu, siapa yang tidak akan naksir coba?


"Assalamu'alaikum, Ma..." ucap Ika, sambil kemudian menyalim takdzim.


Mama Ika menyambutnya hangat. "Wa'alaikum salam," balasnya.


"Mama, dia--" Ika melirik kepada Tommy yang berdiri disampingnya.


Mama Ika hanya mengangguk paham sambil tersenyum hangat menyambut kedatangan Tommy. Kemudian mereka berdua masuk ke rumah itu dan duduk di sofa besar yang ada di ruang tamu.


Tak lama kemudian sosok lelaki berumur keluar dari rumah itu. Begitu mata itu saling membentur, mereka sama-sama kaget.


"Loh, pak Ramdan?" Tommy sampai berdiri saking kagetnya.


"Tommy?" Pria bernama Ramdan itu mendekat. Tak lama kemudian mereka saling berpeluk erat melepas rindu karena memang sudah cukup lama mereka tidak pernah bertemu lagi.


"Ternyata kamu?" Pak Ramdan menepuk-nepuk bahu Tommy, menatap tak percaya ternyata kawan yang pernah menjadi partner bisnisnya itu adalah yang akan melamar Ika saat ini.


Tommy hanya tersenyum kikuk. Ia sangat mengenal siapa Ramdan. Sosok pengusaha yang begitu gigih dan juga baik hati. Yang juga banyak membantunya saat awal-awal Tommy menjalankan perusahaannya dulu.


"Duduk lah, Tom." Ramdan menuntun Tommy untuk duduk lagi.


Sedangkan Ika yang sedari tadi hanya menyaksikan, hanya bisa menatap heran mendapati Tommy dan papanya sudah saling akrab. Dan sang mama ikut merasa senang sekaligus pasrah. Apapun yang membuat anaknya nanti bahagia, ia akan terus mendukungnya. Selagi itu baik dan sudah jelas siapa yang dipilihnya itu.


Musnah sudah rencana akan menjodohkan Ika dengan pemuda yang diam-diam ia sudah siapkan untuk Ika. Jika kenyataannya yang datang duda keren yang menjamin seperti Tommy, mau pilih yang apa lagi coba? Bukannya matrealistis, tetapi sudah tahu bagaimana bibit bebet bobot Tommy yang sebenarnya. Yang tidak ada alasan lagi untuk bisa menolak niat baik Tommy itu.


"Kalau dari awal aku tahu jika anakku ini sukanya sama kamu, nggak usah pake acara lamaran lagi. Langsung nikah aja sekalian," seloroh Ramdan tiba-tiba.


*


Yap, akhirnya scene khusus Tommy dan Ika sudah selesai ya. Tetapi nanti bakal muncul lagi, selip-selip dikit lah...

__ADS_1


Yang sudah nggak sabar nunggu Resty dan Alex nikah, komen dong....


Atau apa masih nunggu undangan pernikahan mereka tersebar dulu nih?😀


__ADS_2