Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 136


__ADS_3

Meski masuk kuliah Alex dan Resty masih siang, tetapi rupanya mereka pamit dari rumah usai sarapan pagi tadi. Itu karena Resty masih harus pulang ke rumah dulu untuk mengganti pakaiannya, karena memang dari semalam ia hanya mengenakan kaos milik suaminya yang dipinjamkan kepadanya.


Ditengah perjalanan itu Alex melihat sebuah apotik. Mendadak ia menepi didepannya begitu saja.


"Mau ke apotik nggak?" tanyanya kemudian.


"Buat apa?" Resty masih tak paham.


"Beli pil KB," jawabnya sambil mengerling.


Seketika Resty merotasi bola matanya jengah. Suaminya itu sangat gercep sekali untuk membeli alat kontrasepsi khusus wanita itu.


"Kok natapnya gitu?" Alex bertanya gemas.


"Gercep amat! Nggak bisa nunda sehari atau dua hari aja gitu?" ucap Resty yang sebenarnya sudah tahu kalau suaminya akan langsung protes setelah ini.


"Wow nggak bisa!" Alex menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kepalaku sudah sering nyut-nyutan, Yang. Nahan itu terus nggak enak. Nyiksa banget!" serunya mulai mendrama sedih.


"Sebelumnya nggak gini kan? Sebelumnya kuat-kuat aja."


"Ya emang. Itu karena aku masih belum hilang keperjakaan. Setelah keperjakaanku diambil kamu, jadi nagih terus. Hehe..."


"Dih! Hilang keperjakaan? Kayak aku habis perkosa kamu aja." Resty terkekeh kecil mendengar ucapan suaminya yang tambah ngerres menurutnya.


"Tapi beneran deh, Yang. Aku begituan cuma sama kamu. Bener-bener kamu wanita yang pertama kali aku tiduri seumur hidupku," akunya jujur.


Resty tersenyum tipis saat mendengarnya. Meski tampilannya agak urakan dan pernah memiliki pacar seseksi Donita, tetapi setelah mendengar pengakuannya itu siapa yang tak bahagia coba.


"Sini aku peluk." Resty mendekat kepada Alex dengan merentangkan kedua tangannya.


Alex langsung menyambut pelukan istrinya itu. "Dalam rangka apa nih? Apa pertanda aku sudah boleh berkunjung?"


Resty melepas pelukannya begitu saja.


"Kamu ngomongnya itu terus," ucapnya masih sering risih kalau suaminya itu bahas begituan.


"Emang mau ngomong apalagi? Nyatanya kamu emang nagih dan menggigit. Bikin nggak bisa move on."


"Tauk ah! Sudah sana, kamu yang beli pilnya."

__ADS_1


"Hah, serius aku yang beli?" Alex terperangah tak percaya.


"Iya. Siapa yang mau, dia yang berangkat beli!" sergah Resty membuat Alex tidak punya pilihan lagi untuk menolaknya.


Meski berwajah merengut karena kepalang malu seorang lelaki membeli pil yang biasanya dikonsumsi oleh perempuan tetapi akhirnya Alex mau juga. Demi dapat jatah ninuninu dari istri tersayang.


Dan Resty hanya bisa terkekeh sendiri karena sukses menjaili suaminya. Apakah lelaki memang sering begitu kali ya? Bakalan nurut dan jinak asal kepuasan ranjangnya terpenuhi.


Didalam apotik itu Alex terlihat kebingungan, sehingga ditanya oleh salah satu pekerja disana lalu Alex pun menyebutkan maksud tujuannya itu.


Tak lama setelah itu seorang yang tadi melayani Alex datang lagi dengan membawa beberapa merk pil KB.


"Diantara ini yang paling bagus yang mana ya, Mbak?" tanya Alex sambil memperhatikan satu persatu merk pil pencegah kehamilan itu.


"Semuanya bagus, Mas. Masalah cocok nggak nya itu tergantung hormon tubuh masing-masing," ujar pegawai itu menjelaskan.


"Eh, ada nggak cocoknya juga ya, Mbak?"


"Iya, Mas. Contohnya yang sering dijumpai di lapangan biasanya masalah siklus menstruasi. Atau kadang juga ke kondisi tubuh, ada yang tambah gemuk ada juga yang tambah kurus. Ada juga yang sering mual setelah minum pil ini," jelasnya yang seketika reaksi Alex jadi begidik ngeri.


"Iih, serem amat ya Mbak efek sampingnya."


"Mas, jadi beli nggak?" tegur pegawai itu.


"Eh, iya, jadi Mbak."


Walau sebenarnya ia sedikit kepikiran efek samping yang dikatakan oleh pegawai itu, tetapi dari pada nanti Resty salah paham kalau tak jadi dibelikan, hanya bermodal pasrah ia pun akhirnya memilih asal pil KB didepannya itu.


"Terimakasih ya, Mbak," ucap Alex saat sudah selesai membayarnya.


Pria itu lekas keluar untuk segera masik ke mobilnya lagi. Resty tersenyum manis saat suaminya itu sudah duduk disampingnya.


Tanpa bersuara wanita itu langsung menengadahkan sebelah tangannya, dan Alex langsung menyerahkan yang dibelinya itu kepada Resty.


Resty membaca aturan pakai yang tertera dibungkus pil itu dengan seksama. Tetapi Alex masih saja memandanginya dengan sendu.


"Serius mau pake itu, Yang?" tanya Alex mendadak kepikiran lagi.


Resty mengangguk mantap. "Cuma ini satu-satunya yang praktis buat mencegah kehamilan. Tinggal diminum rutin satu kali sehari doang. Apalagi obatnya kecil-kecil, jadi gampang nelannya."


"Apa kamu nggak takut sama efek sampingnya? Aku dengar pil KB itu banyak efek sampingnya juga loh, Yang." Alex masih berusaha membujuk istrinya itu agar urung mengkonsumsinya.

__ADS_1


"Atau kita konsultasi ke dokter saja, Yang. Biar tahu mana yang aman buat kamu pake," usulnya mencoba memberi solusi baik menurutnya, tetapi istrinya itu malah menggeleng kepala.


"In sya Allah ini aman," jawab Resty sudah yakin dengan pil yang dipegangnya itu. Apalagi yang dibeli suaminya itu lumayan terkenal dan terbukti ampuh untuk menunda kehamilan.


Dan Alex hanya bisa mendengus pasrah. Dalam hati ia hanya berharap semoga istrinya itu selalu sehat dan juga dijauhkan oleh efek samping yang dikatakan pegawai apotik itu tadi.


Lalu mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Resty. Setelah menempuh waktu hampir setengah jam lamanya akhirnya mereka tiba lagi di rumah mewah itu.


Resty segera menuju kamarnya. Rasanya ia ingin mandi lagi dan mengganti pakaiannya dengan yang lain. Sedangkan Alex hanya berbaring dengan nyaman sambil memainkan ponselnya saat istrinya itu masuk ke kamar mandi.


Saat sedang asyik berselancar di ponselnya itu, tiba-tiba muncul nama Cello terpajang dilayar ponselnya. Pria itu segera menggeser tombol hijau untuk menjawab telpon dari sahabatnya itu.


"Lex, ada kabar booming," ucap Cello begitu menggebu.


"Hem, apaan?" Alex menyahut agak malas. Lagian sejak kapan pula Cello jadi up date info terbaru. Yang setahunya Cello itu tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya.


"Tentang Donita."


"Huft!" Alex mendengus jengah.


"Kirain info apaan? Mending bahas yang lain aja, males banget kalau harus bahas cewek itu."


"Eh, tapi dengerin dulu. Donita buat konferensi pers masalah siapa bapak dari janinnya itu," jelas Cello lagi.


Mendadak Alex ikut was-was. Ia tentu takut dirinya akan dibawa-bawa dalam konferensi pers yang diadakannya itu.


"Kamu tahu nggak dimana Donita bakal konferensi pers?"


"Tahu."


"Tolong share lock."


"Mau apain kau?"


"Nggak ada." Lalu segera menyudahi obrolannya dengan sepihak. Tak lama setelah itu Resty akhirnya keluar dari kamar mandi. Melihat kondisi Alex yang sedang melamun, ia pun duduk berdekatan dengan Alex.


"Kenapa bete gitu sih wajahnya?" sapa Resty sambil memberinya moodboster hari ini dengan kecupannya di pipi Alex.


"Pliis... Jangan mancing deh, Yang "ucap Alex sambil kemudian menarik tengkuk Resty untuk memudahkannya menyesapi bibir kenyal nan ranum milik istrinya itu.


*

__ADS_1


__ADS_2