Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 56


__ADS_3

Resty melihat papa Tommy sedang menerima telpon saat ia sudah masuk ke rumahnya. Dilihat dari gaya bicaranya seperti sedang membahas hal serius yang kemungkinan masalah dengan kantor.


Gadis itu beranjak mendekat, karena ingin menunggu sambil lalu melanjutkan membahas tentang mama baru. Tetapi belum juga Resty ikut duduk, papanya menghentikan sejenak bicaranya dengan seseorang yang di telponnya itu.


"Kamu tidur lah, papa masih ada urusan." ujar Tommy.


Mendengar begitu tentu Resty langsung paham jika papanya sedang tak ingin diganggu. Mungkin memang suatu hal yang genting, tetapi tetap membuat Resty khawatir karena papanya itu baru saja pulih. Takut takut nanti kondisinya akan kembali buruk.


Lalu kemudian Resty pun menuruti kemauan papanya. Melangkah menuju kamar walau hati ikut cemas dan penasaran.


"Jadi itu hanya kabar hoax?" lanjut Tommy, dengan sekretaris yang sedang menghubunginya.


"Iya, Pak. Saya sudah menyuruh beberapa orang kepercayaan kita untuk mengusut penyebab utama masalah ACP Group, tetapi semua mengatakan kondisi perusahaan itu baik-baik saja. Soal bapak Kenzo yang sulit ditemukan itu bukan menghilang. Tetapi saya mendengar kabar dari orang suruhan kita kalau beliau berada di luar negeri untuk membuka bisnis di sana." terang sang sekretaris.


Tommy hanya bisa menghela nafas lega begitu mendengar penjelasan dari sekretarisnya itu. Memang setelah mendengar kabar dari info yang beredar jika perusahaan milik Sisil sedang mengalami masalah, ia pun sengaja mencari tahu kebenarannya. Bukan hanya sebatas ingin tahu, tetapi karena ia ingin menawarkan kerjasama yang mungkin bisa membantu perusahaan yang bernama ACP Group itu.


Setulus hati ia ingin menawarkan bantuan itu bukan karena adanya Sisil. Melainkan lebih ke rasa empati antar sesama pengusaha. Apalagi yang santer didengar jika seluruh aset milik Sisil dan suami harus disita oleh pihak Bank, tentu membuatnya semakin terenyuh dan tak bisa membayangkan andai hal itu ikut terjadi padanya juga.


"Syukurlah kalau memang begitu kabarnya." ujar Tommy kemudian.

__ADS_1


"Iya, Pak. Nanti bila ada info terbaru lagi akan segera saya sampaikan."


"Baiklah." Lalu akhirnya Tommy menyudahi sambungan telponnya.


Pria itu lekas beranjak masuk ke kamarnya setelah merasa butuh rebahan. Sesaat setelah ia sudah duduk ditepi ranjangnya, tangannya meraih sebuah foto yang berada diatas nakas, membuka bingkainya, lalu mengambil satu foto lagi yang sengaja ia sembunyikan di sana.


Matanya menatap entah pada sebuah foto lama yang masih ia simpan rapi. Bukan foto mantan istrinya yang ia lihat, melainkan foto seseorang dijaman dahulu yang pernah menjadi bagian hatinya yang sangat sulit ia lupakan.


"Aku sangat lega, Sil. Paling tidak keadaan kamu sama Kenzo baik-baik saja." ucapnya, berbicara sendiri hanya dengan sebuah foto.


"Walau masih penasaran apa tujuanmu menyebarkan rumor tentang perusahaanmu, tetapi aku yakin kamu pasti merencanakan sesuatu yang terbaik kan?"


Tommy tersenyum sendiri, sedang sudut matanya sudah mengembun. Seketika teringat kembali tentang kenangan pertemuan terakhir bersama Sisil yang terpaksa berakhir menyakitkan.


Walau sebenarnya ia menjadi satu-satunya orang yang tidak terima kenyataan Sisil sudah menikah, beruntungnya dia masih bisa menahan diri dari julukan pebinor.


Dan begitu Bella menyadari jika Tommy masih teramat mencintai Sisil, ia pun akhirnya meminta bercerai. Tetapi semua itu tak semudah dibayangkan. Ikatan pernikahan yang sudah resmi bercerai itu rupanya menyisakan satu benih cinta yang terlahir ke dunia. Satu bulan setelah resmi bercerai Bella mengandung lagi. Karena memang satu hari sebelum Sisil mengajukan perceraian mereka melewati one night, sebagai permintaan terakhir Bella kepada Tommy.


Tetapi akhirnya nasib buruk dialami Bella pasca melahirkan Resty. Tommy yang sama sekali tidak tahu jika Bella mengandung lagi benih darinya, tentu sangat kaget saat diberi kabar jika Bella meninggal dunia satu jam setelah melahirkan Resty.

__ADS_1


Awalnya sempat ragu jika bayi itu adalah anaknya. Tetapi setelah melalui tes DNA saat itu juga, rupanya bayi piatu itu memanglah anaknya.


Dan saat itu pula Tommy menangis histeris sejadi-jadinya disamping jenazah Bella. Merutuki diri yang teramat egois kepada Bella. Sehingga menyia-nyiakan perempuan yang mau mengandung anaknya walau tanpa balasan cinta darinya.


Pilihan untuk mengasuh Resty seorang diri adalah keputusannya sendiri. Dan saat itu pula lah Tommy menutup hatinya kepada wanita manapun, walau tak sedikit yang datang menggoda agar bisa dipersunting dan menjadi ibu sambung bagi anak tunggalnya.


"Seandainya suatu hari nanti kita bertemu lagi, maukah kamu memaafkanku, Sil?"


Tangan Tommy turut mengusap wajah Sisil lewat foto yang dipegangnya. Ia teringat jika beberapa minggu kemarin ia tak sengaja bertemu dengan Kenzo. Tetapi karena memang sudah menjadi bagian masa lalunya, mereka berdua memilih berdamai dan menganggap masa lalu hanya sebuah kenangan yang harus segera dibuang.


Saat bertemu itu Tommy dan Kenzo sempat saling berbicara sebentar. Menanyai kabar masing-masing, tak jauh dari hal menanyakan istri dan anak. Sayangnya karena pada saat itu mereka sama-sama sibuk, membuat obrolan mereka terpaksa selesai walau masih banyak yang ingin ia dengar kabar lain dari mereka.


"Anakku cewek, Sil. Dia manis dan kalem. Sengaja ku didik dia lembut biar tidak sepertiku saat kuliah dulu."


Tommy masih terlena berbicara sendiri dengan foto itu. Dan sesekali terkekeh sendiri saat teringat kembali bagaimana ia saat masa muda dahulu. Beruntung sekali ia memiliki anak gadis. Andai punya anak cowok, mungkin akan berwatak sebelas dua belas sepertinya saat masa muda dulu.


"Anak kamu apa, Sil? Cowok apa cewek? Kalau cewek pasti akan kayak kamu ya? Kalau pun cowok, pasti jadi anak yang berlaku baik seperti kamu."


Tanpa disadari rupanya sedari tadi seseorang mengintipnya lewat celah pintu kamar Tommy yang dibuka sedikit oleh Resty. Turut merasa prihatin saat menduga jika papanya itu sedih sambil melihat foto karena tidak bisa move on dengan istrinya.

__ADS_1


Andai Resty tahu jika papanya itu sangat sulit terlepas dari kisah masa lalunya, tentu ia tidak akan memaksa menjodohkan Tommy dengan Ika. Karena jika tetap dipaksa, dikhawatirkan yang menjadi korban perasaan adalah Ika.


*


__ADS_2