
"Aaaaah..... Mas..."
Ika mendessah bergetar saat sesuatu yang basah itu keluar. Rasanya bagai terbang tinggi ke awan, terbuai oleh nikmatnya pelepasan yang dirasakannya barusan.
Sedangkan Tommy hanya menyeringai puas memandangnya. Wajah ayu istrinya itu bertambah menggairahkan mana kala sedang on.
"Cantik. Sekssi, By. Aku suka." Tommy kembali memagut bibir ranum istrinya cukup brutal.
Lantas wanita itu hanya tersipu malu, saat keduanya melepas pagutannya untuk menghirup nafasnya yang tersengal. Tiba-tiba saja Ika juga ingin melihat suaminya itu mendessah-desah seperti dirinya barusan. Sengaja ia mendorong dada berotot suaminya itu, agar kemudian bisa dengan mudah dirinya berbalik posisi.
Saat ini wanita bertubuh polos itu sudah berada diatas tubuh suaminya. Sesaat mereka saling bertatapan cukup dalam. Memandangi suguhan pemandangan yang menggoda mata seorang Tommy. Membuat pria itu tak kuasa membiarkan dua buah kenyal itu menganggur begitu saja.
Tangan pria itu mulai bekerja lagi dengan sangat seduktif. Meremmas buah kenyal itu dengan sentuhannya yang lembut. Memainkan dua titik coklat itu dengan ujung lidahnya. Yang alhasil bukan pria itu yang mendessah, melainkan Ika lah yang kembali terbuai oleh perlakuan suaminya yang sungguh sangat mampu membuatnya mengerang berulang-ulang.
Kali ini Ika tidak mau kalah lagi. Ia harus berhasil membuat suaminya itu terika-ika dengan dirinya. Maka ia pun menarik tengkuk Tommy untuk memudahkannya memagut bibir suaminya itu dengan belitan lidahnya yang bergerak nakal. Tak cukup disitu, wanita itu juga mulai memainkan lidahnya pada dua titik kecil pada dada bidang suaminya. Mengulumnya dengan lembut, membuat Tommy seketika menekan kepala Ika agar lebih dalam lagi.
"Kamu nakal sekali, By," ucap Tommy dengan suaranya yang semakin berat.
Nafas pria itu tersengal bercampur dessahannya yang keluar begitu saja. Perlakuan istri kecilnya itu sungguh diluar dugaan. Ia kira menikahi wanita yang tak pernah menikah akan sedikit jaim dan malu-malu kucing. Rupanya hal itu berbalik dari perlakuan Ika yang saat ini sudah berpindah menciumi perutnya hingga terhenti hanya sebatas pusar.
"By, kenapa kamu pintar sekali?" tanya Tommy, saat istrinya itu berhenti sejenak dari adegannya yang memuaskan.
"Mas suka nggak?" Ika balik tanya. Membuat senyum Tommy seketika melengkung dan wanita itu lagi-lagi memagut bibirnya dengan level yang bertambah hot.
Perlahan Tommy mengangkat bahu Ika untuk kemudian menuntun tubuh molek itu berada dalam pangkuannya. Hal itu memantapkan keduanya untuk bisa melakukannya lebih dalam lagi.
"Kamu tambah pintar, By," tutur Tommy lagi.
"Apapun demi kepuasan Mas akan aku lakukan," balas Ika sejujurnya.
Tommy menyeringai tipis. "Terus terang sama aku, apa kamu ada pengalaman sebelumnya?"
Ika langsung menggeleng kepala. Tetapi kerutan tipis di kening Tommy menandakan jik ia butuh jawaban pasti.
"Mas buktikan sendiri setelah ini."
"Aaaargh..."
Mulut Tommy seketika mengerang saat dengan sengaja Ika meremmas kecil tongkat kehidupannya tanpa sungkan.
__ADS_1
"Hem, sudah berani pegang-pegang ya?"
Mereka kembali berpagutan cukup lama. Tentunya dengan gerakan tangan nakal Ika yang dengan beraninya mengusap-usap pusaka milik suaminya itu. Walau masih dari balik celananya pastinya.
Pria itu menuntun tubuh istrinya untuk telentang kembali. Setelah itu giliran tangan Tommy yang bergerilya liar pada lembah kenikmatan surgawinya itu. Memainkan satu jarinya pada sesuatu yang telah basah. Membuat istrinya itu menggeliat seketika.
Tak disangka rupanya pria itu juga mendaratkan kecupannya pada ladang kenikmatan itu. Memainkan ujung lidahnya dengan tanpa rasa jijik. Membuat ruangan kedap suara itu seketika ramai oleh lenguhan suara manja Ika yang kembali terbawa terbang ke nirwana.
"Mas.... Mas..."
Wanita itu menarik rambut Tommy, tetapi tidak untuk menyudahinya, melainkan agar semakin dalam lagi melakukan aksinya itu.
"Mas, aku sudah nggak kuat. Pingin--"
Ika tak jadi melanjutkan perkataannya. Terlampau malu jika harus jujur gawang miliknya sudah ingin dibobol.
Tommy menyudahi aksinya. Ia merangkak ke atas, mendekat pada wajah istrinya yang sudah merona.
"Nggak mau kenalan sama punya Mas dulu?" ucapnya sambil mengerlingkan mata.
Ika mengerutkan kening. Kenalan yang mana lagi coba?
"Aaah!!"
"Hem, masih takut? Tadi aja sudah berani pegang-pegang."
"Mas mau minta apa dari aku? Jangan bilang Mas pingin aku ngemmut itu--"
Tommy langsung terkekeh. Istrinya itu sangat tanggap dengan keinginannya. Tetapi sejujurnya ia tak akan memaksanya, kalau memang istrinya itu tidak berkenan melakukannya.
"Kalau itu nanti saja, kalau sudah terbiasa. Hehe..."
Ika menepuk gemas pada lengan suaminya. Obrolan kecil itu setidaknya mampu mencairkan perasaan gugup Ika sebelum di unboxing.
"By..."
"Hem?"
"Sudah boleh?"
__ADS_1
Ika hanya mengangguk bercampur malu.
"Kalau ngerasa nggak nyaman nanti bilang."
Ika mengangguk lagi.
Senyum Tommy kembali terulas manis. Lantas pria itu mendaratkan kecupan hangatnya pada kening Ika, sebelum kemudian menodongkan rudalnya pada titik lembah yang akan diterobos nya.
"Bismillah..," gumamnya pelan.
Perlahan sedikit mendorong dan terus mendorong lembah yang begitu sempit itu.
Wanita itu menggigit kecil bibir bawahnya dengan mencengkram pada sprei, saat sesuatu yang masih asing itu berusaha menerobos masuk pada lembah pertahanannya. Dan seketika dapat menghela nafasnya saat suaminya itu menarik lagi rudal miliknya yang sudah setengah jalan.
Nafas Ika terdengar memburu. Tetapi tidak menyembunyikan rasa sakit yang berusaha ia tahan dari aura matanya.
"Apa masih mau lanjut, By?" tanya Tommy. Mendadak merasa kasihan melihat istrinya harus menitikkan airmata demi menyerahkan krperawanannya.
"Bukankah ini sudah wajar? Semua yang masih virgin, pasti akan begini awalnya. Aku pasrah, Mas. Kamu halal menyentuhku semaumu. Lakukan sekarang, agar aku bisa menjadi istri yang seutuhnya untukmu."
Tommy melengkungkan senyumnya lagi. Jujur, ini adalah pengalaman pertamanya membobol gawang perawan. Keperjakaan nya dulu terenggut oleh wanita yang sudah tidak ori. Jadi harap maklum jika Tommy merasa cemas sendiri demi melihat sulitnya masuk ke lembah itu hingga harus mengeluarkan darah segar yang menempel pada ujung pusakanya.
"Baiklah. Terimakasih, Sayang." Tommy mencium sekilas pada bibir istrinya.
Lalu kembali rudal itu mengarah pada sasarannya. Perjuangan yang cukup melelahkan tergantikan dengan senyum kepuasan mana kala miliknya itu sudah berhasil masuk hingga terasa mentok ke ujung.
"Aaah.... Punyamu sempit sekali, By."
Tommy terus saja memompa dengan gerakan pelan tetapi sangat membuatnya terlena dan terbuai. Rasanya sangat menggigit dan nikmat.
"Aaaah.... Aaaah...."
"Aaaah.... Aaaah...."
Dessah panjang itu terus keluar dari bibir Ika. Membuat Tommy tergerak untuk sedikit mempercepat gerakannya. Karena memang sesuatu yang terpendam itu sudah tidak tahan untuk dikeluarkan.
Semakin cepat dan semakin cepat. Lalu sesuatu yang hangat kental itu menyembur dari tempatnya. Menyirami ladang istrinya dengan bibit unggulnya. Seketika ambruk menjatuhkan badan tepat diatas tubuh lemas istrinya yang sudah penuh dengan keringat, saat cairan putih itu sudah terlepas tuntas.
Cup.
__ADS_1
"Terimakasih, By."
*