
Pagi sudah kembali menyapa. Resty terbangun dengan kondisi tubuh lebih baik. Saat membuka matanya rupanya suaminya itu tengah memandanginya dengan ulasan senyum yang mengembang.
"Pagi istri tersayang," sapanya sangat romantis, serta menempelkan bibirnya pada kening Resty cukup lama.
"Pagi suamiku." Resty membalasnya saat suaminya itu sudah selesai menciumnya.
"Gimana, masih nggak enak? Masih agak pusing? Mual?" cercanya penuh perhatian.
Resty menggeleng yakin dengan senyumnya yang merekah.
"Dah, yuk bangun, trus sholat, habis itu jogging sebentar diluar mau?" ajak Alex penuh semangat.
"Mager. Punggungku berasa agak pegel-pegel. Mau tiduran lagi habis ini," ucapnya. Apalagi jadwal masuk kuliah cukup siang, membuat Resty ingin merebah manja di kasur sepagian ini.
"Hem, ya udah. Dari pada cuma tiduran, boleh dong minta tolong nidurin si Jaka." ucap Alex mendadak memeluk Resty lebih erat lagi.
"Jaka?" Resty mendorong dada Alex, dengan tatapannya yang tak paham siapa Jaka.
Alex hanya mengangguk, tetapi sorot matanya cukup mencurigakan buat Resty.
"Jaka siapa sih, Yang?" tanyanya cukup penasaran.
"Jaka ini, Sayang..."
Tanpa ragu Alex menarik tangan Resty untuk menyentuh pusaka miliknya yang mulai mengeras.
"Ah!!!" Resty terjengkit kaget dengan teriakan kecilnya. Tangannya ia tarik begitu saja sambil kemudian beranjak duduk. Menatap resah pada suaminya yang hanya menyeringai kepadanya.
"Kok kaget gitu, Yang?" Alex masih tiduran, bahkan kali ini tangannya melingkar erat di pinggang Resty. Sesekali mengusap manja di paha istrinya cukup seduktif.
Resty tak menyahut apa-apa. Ia memang cukup kaget dibegitukan oleh suami usilnya itu. Meski sudah beberapa kali ninuninu dengan suaminya itu tetapi ia tidak pernah memegang langsung pusaka milik suaminya itu. Baru kali ini lah ia memegangnya. Itu pun karena tidak sengaja.
"Pantas saja masih suka perih." Resty membatin. Ia melirik telapak tangannya. Baru sadar jika milik suaminya itu lebih gede dari genggaman tangannya kalau lagi on.
"Sayang...." Alex berpindah posisi dengan meletakkan kepalanya dipangkuan Resty.
"Cuma sebentar aja. Lima belas menit aja," rengeknya sambil sengaja mengusel-ngusel di perut Resty.
"Nggak boleh, Sayang..." Resty menolaknya cukup berani.
Alex mengangkat wajahnya menatap wajah Resty. Sedikit kecewa pastinya. Tetapi memang harus sadar waktu kalau dirinya saja masih belum melaksanakan kewajiban dua rokaatnya sudah minta jatah duluan.
"Aku masih belum KB. Jadi sebelum aku minum pilnya, jangan harap dapat jatah. Haha..." Resty tergelak begitu saja, sangat gemas melihat wajah suaminya yang langsung manyun.
"Ayo sholat. Pagi begini baiknya kita curhat sama Tuhan." Resty mengangkat kepala suaminya dari pahanya cukup pelan.
__ADS_1
Lalu setelah itu wanita itu turun dari ranjangnya beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan Alex masih belum beranjak juga dari kasurnya. Berulangkali mencoba mengatur ritme nafasnya yang sedikit bergemuruh akibat mendadak on sepagi ini. Setelah cukup bisa menguasai diri, ia pun segera menyusul Resty ke kamar mandi.
Dua rokaat itu mereka tunaikan bersama-sama lagi. Doa kebaikan selalu mereka panjatkan dengan khusyuk sebelum mereka beranjak dari sajadah masing-masing.
Dan benar saja, Resty kembali lagi ke kasurnya. Merebah dengan manja di sana. Sedangkan Alex sendiri setelah mengganti sarungnya dengan celana rumahan lagi beranjak keluar kamar.
Pria itu pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Di sana rupanya juga ada mamanya yang sedang menyeduh kopi untuk papanya.
"Kamu mau mama buatkan kopi juga, Lex?" sapa Sisil.
"Boleh, Ma."
"Resty gimana keadaannya?" tanyanya setelah melihat tidak ada menantunya itu turut keluar kamar.
"Sudah membaik sih, cuma katanya masih berasa pegal-pegal punggungnya."
"Dipijitin dong, Lex." Kenzo ikut nimbrung. Pria itu kemudian mengambil kopi yang dibuatkan Sisil lalu membawanya ke meja makan.
"Maunya sih gitu, tapi--" Alex hanya menggaruk-garuk kepalanya, tak jadi meneruskan perkataannya yang cukup konyol bila didengar kedua orangtuanya.
"Tapi takut kebablasan pastinya." Sisil ikut berbicara. Dan Alex langsung nyengir seketika.
Mereka bertiga akhirnya duduk bersama di ruang meja makan itu sembari menikmati kopi panas yang bisa menghangatkan badan dalam suasana dingin pagi ini.
"Resty biasanya kalau pagi suka minum apa, Lex?" tanya Sisil penuh perhatian.
"Biar mama bikinin teh madu mau kali ya?" usul Sisil karena melihat Alex kelamaan mikir.
"Boleh, Ma." Alex setuju saja, karena itu lumayan enak juga dinikmati dipagi hari seperti ini.
"Nanti kuliah jam berapa, Lex?" Kenzo ikut bertanya juga.
"Siang, Pa. Jam sebelas. Nanti tuh cuma ada satu kelas. Agak males sih sebenarnya," serunya sesuai isi hati.
"Kamu tuh kalo males terus kapan kelarnya kuliahnya."
Alex tak menimpalinya lagi, karena Sisil kembali kumpul dengan memberikan segelas teh madu spesial untuk Resty.
"Aku ke kamar lagi, Pa, Ma," pamit Alex sambil membawa teh yang dibuatkan mamanya itu.
Tinggal lah Kenzo dan Sisil. Sekilas mereka saling tatap sebentar.
"Ken, aku jadi pingin belikan Alex apartemen biar Alex sama Resty lebih nyaman kalau hanya tinggal berdua," ucap Sisil. Karena memang tinggal seatap dengan mertua itu tidak begitu nyaman biarpun sang mertua orang yang baik hati dan penyayang. Pengalamannya yang pernah tinggal dengan mertua walau sebentar saja, membuatnya teringat dengan yang pernah dirasakannya dulu. Mau apa-apa bawaannya agak sungkan.
"Sebenarnya aku juga kepikiran masalah itu," balas Kenzo langsung menyetujui usulan istrinya itu.
__ADS_1
"Nanti aku suruh Roni untuk cari apartemen yang enak buat mereka," lanjutnya sudah tekad bulat.
Sisil tersenyum lebar mendengarnya. Bukannya mereka tidak mau Alex dan Resty tinggal di rumah mereka yang terbilang mewah. Tetapi demi kemandirian dan juga kenyamanan pengantin baru itu tidak masalah buat mereka. Dan semoga saja nanti Alex ataupun Resty tidak tersinggung dengan yang direncanakannya itu.
Alex masuk lagi ke kamarnya. Tetapi sudah tidak menemukan istrinya itu di kasur. Sedangkan suara gemericik air terdengar dari arah dalam kamar mandi, kemungkinan Resty ada di sana.
Tiba-tiba saja ide jailnya muncul lagi. Sambil menyeringai nakal pria itu ikut masuk ke kamar mandi. Apalagi yang ia kehendaki selain bisa mandi bareng istrinya itu.
"Eh, Sayang!" Rupanya Resty segera sadar dengan kedatangan suaminya walau sudah mengendap-endap masuknya.
"Ngapain masuk sih?" tanyanya gemas sekali. Tetapi suaminya itu hanya nyengir bagai tak bersalah.
"Mau mandi bareng lah, Yang," balasnya sambil mulai membasahi tubuhnya.
Resty menatapnya cukup was-was. Terakhir kemarin suaminya itu iseng sekali ngajak indehoy di kamar mandi hingga membuatnya masuk angin.
"Sini, Yang, aku bantu bilas." Alex menawarkan diri suka rela.
"Nggak usah." Resty menolak tegas.
"Ya sudah." Pria itu kemudian membilas rambutnya sendiri.
Suasana cukup tegang bagi Resty, tetapi suaminya itu terlihat sangat tenang bagai tidak sedang ingin menerkam dirinya.
Hingga sampai pria itu selesai membersihkan diri, Resty masih betah mematung memandangi suaminya.
"Sayang, jangan kelamaan berendamnya. Kamu baru sembuh loh. Kalau masuk angin lagi aku yang ribet," ucap Alex membuat Resty seketika tersinggung dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Alex.
"Jadi kamu nggak ikhlas ngerawat aku?" sergah Resty seketika.
"Ikhlas dong." Alex menyahut sambil menyampirkan handuk ditubuhnya.
"Ikhlas apaan? Kamu aja bilang ribet tadi?"
"Maksudku ribet nahan diri biar nggak kegoda kamu, Resty." Alex membatin gemas.
"Duh, gemmes deh! Nggak paham-paham." Tiba-tiba Alex mendekat kepada Resty, menghimpitnya hingga mentok di dinding kamar mandi.
"Ka-kamu mau apa?"
Tanpa aba-aba Alex langsung cosplay menjadi bayi. Membuat Resty langsung tertegun melihat kelakuannya yang selalu meresahkan.
Plup.
"Aaah... Moodboster yang menyenangkan," serunya setelah puas bermain di puncak kembar milik istrinya itu.
__ADS_1
"Dasar mesum!"
*