Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 97


__ADS_3

Resty dan Alex masih betah duduk berdua di gazebo taman rumah Resty. Sedari tadi mereka terlibat obrolan romantis tentang keduanya, yang sama sekali tiada menduga jika kisah mereka akan berubah jalan secepat ini.


Dari yang semula saling cuek, tetapi sering diusili oleh ketiga teman rese Alex, yang kemudian menjadi dekat karena terus disangka sebagai biang kerok rusaknya mobil Resty, yang akhirnya cinta itu tumbuh perlahan dan semakin berkembang antara keduanya. Alih-alih mau pacaran lama, rupanya kedua orangtua mereka sepakat menginginkan hubungan yang lebih serius lagi. Dan jadilah pernikahan itu direncanakan. Sungguh kalau sudah garis jodoh, maka semuanya akan dimudahkan.


"Kamu suka nggak sama cincin ini?" Alex masih menggenggam tangan Resty, juga menatap cincin pengikat pertunangan itu di jari manis Resty.


Resty mengangguk, juga dengan tersenyum simpul. "Ini pemberian mama kamu. Tentu ini sangat spesial buat aku," ujarnya, memang merasa sangat bahagia menerima hal spesial pemberian mama mertuanya itu.


"Tapi itu bukan dari aku. Padahal aku berencana mau pilihkan kamu cincin sesuai mau kamu. Coba mama papa bilang kalau hari ini ada acara kasi cincin segala, pasti aku tunda. Tunggu yang dari aku saja ya..."


Pria itu merasa kurang afdol saja jika masih belum memberikan cincin pemberiannya sendiri sebagai pengikat pertunangan ini. Sebagai lelaki ia merasa harus menyiapkan semuanya, dengan uangnya sendiri, baik dalam hal pertunangan apalagi pernikahan nanti.


Memang Alex hanya seorang mahasiswa yang tidak bekerja. Tetapi bisnis dari orangtuanya dimana salah satunya telah menjadi saham miliknya, dari itu Alex mendapatkan pundi-pundi penghasilan.


"Aku nggak perlu cincin kamu." Perlahan Resty merebahkan kepalanya dipundak Alex.


"Asal kamu selalu ada buat aku, walau apapun yang terjadi kelak, aku sudah senang. Cincin itu kan ibarat simbolis saja, ada nggak papa, nggak ada ya nggak papa." lanjutnya, masih betah merebah manja dipundak kekasihnya itu.


Alex menghembus nafas lega. Walau apapun kata Resty, tetap ia akan membelikan cincin darinya secepat mungkin. Pria itu menggenggam tangan Resty semakin erat, sambil mengira-ngira ukuran dari jari manis kekasihnya itu.


"Sumpah nggak nyangka banget, tiba-tiba tiga minggu lagi kita mau menikah. Rasanya ini seperti mimpi, aku sampai nggak mau bangun takut besok berubah cerita." seru Alex.


"Walau ini mendadak, tapi ini bukan mimpi, Casu." Resty mencapit gemas pipi Alex.


"Casu?" Alex memandang aneh dengan sebutan Resty padanya.


"Iya, calon suami." Gadis itu sampai bersemu merah saat menjelaskan arti sebutannya itu.


Spontan Alex terkekeh geli. Sebutan itu aneh bin lucu menurutnya.


"Jelek amat sih, Yang? Casu? Haha...."

__ADS_1


"Sengaja aku jelekin, biar kamu nggak tambah terbang entar." selorohnya, gadis itu pun ikut terkekeh heran sendiri kenapa bisa muncul sebutan itu untuk Alex.


"Ganti, ganti, Yang, aku nggak suka."


"Nggak mau. Suka suka aku lah. Weeek..." Gadis itu sampai menjulurkan lidahnya, demi maksimal memancing kekesalan Alex.


Bukan terpancing kesal, pria itu malah bertambah gemas dengannya. Saat gadis itu masih asyik menjulurkan lidahnya, pria itu mengambil kesempatan untuk meluumatnya dengan cepat. Yang tentu membuat Resty terpaku seketika, saat indra perasa itu membungkam dengan sempurna dan menari indah didalamnya.


Alex tak mau berhenti meski tangan gadisnya perlahan mendorong dibahunya. Seakan menuntut balasan, pria itu semakin liar dengan menahan tengkuk gadisnya agar pagutannya semakin dalam.


Perlahan gadis itu pun mulai mengikuti permainannya yang berangsur semakin lembut. Nikmat itu semakin dirasa keduanya, saat sambutan gadisnya mengimbangi kemauannya yang nackal. Hingga pagutan itu terpaksa berhenti saat dengan sengaja Resty menggigit kecil bibir bawah sang kekasih.


"Adduh..." Alex mengaduh perih.


"Rasain!" umpat Resty dalam hati.


"Jadi luka, Yang," Alex meraba bibirnya yang sedikit ada luka karena ulah Resty.


"Syukurin. Makanya jadi orang jangan mesum mulu." Walau sempat saling menikmati, tetapi sebenarnya Resty kesal sudah kecolongan kesekian kalinya oleh kekasihnya itu.


Resty memilih tak menimpali tuntutan meresahkan kekasihnya itu. Sebenarnya ia sendiri malu, kenapa bisa segila itu sampai menggigit bibir Alex, asal gemas saja. Bawaan PMS yang belum selesai, membuat hormonnya lebih tinggi hingga mudah gemas bila diganggu olehnya.


"Sayang, sini deh aku lihat bentar." Alex mengangkat dagu Resty.


Perlahan jarinya menghapus sisa saliva dibibir Resty dengan lembut. "Maaf, ya.." ujarnya, sok merasa bersalah padahal aslinya doyan.


Resty bergeming saja. Rasanya tak ada yang salah, toh sama-sama menikmati juga kan?


"Mm, kita masuk lagi yuk. Mungkin orangtua kita sudah menunggu lama didalam," ajak Resty, sembari meraih tangan Alex untuk ia gandeng.


Alex segera berdiri. Sebelumnya ia merapikan lagi pakaiannya agar tidak kentara jika sudah terjadi sesuatu diantara mereka.

__ADS_1


"Besok aku jemput kesini ya?" tanya Alex. Besok adalah hari pertama masuk kuliah lagi.


"Mm-- tunggu apa kata besok saja." balas Resty, yang dari kata itu sebenarnya ia merasa sedikit was was jika hubungannya akan terpublish di kampus selepas berangkat berdua dengan Alex.


"Oke lah." Alex langsung mengiyakan. Meski sebenarnya ia sedikit tersinggung karena Resty tak langsung mengiyakan. Tetapi menjadi lelaki yang tak banyak mengekang bukankah perempuan akan merasa nyaman?


Kemudian mereka melangkah bersama masuk ke rumah itu masih dengan saling bergandengan tangan. Suatu pemandangan yang membuat kedua orangtua turut bahagia, melihat anak-anaknya begitu sumringah. Semoga saja situasi ini tetap terjaga hingga hari-H tiba, sebab yang namanya ujian pra nikah itu pasti ada. Disadari atau tidak, sejatinya setiap manusia harus kuat menjalani setiap ujian.


"Mari kita pulang, Lex." ajak Kenzo, saat mereka sudah berkumpul lagi di ruangan yang semula.


Alex mengangguk patuh, walau dalam hati masih berat berpisah lagi dengan sang pujaan hati.


Saat pria itu menyalimi tangan papa mertua, sorot elang itu mengarah langsung ke bibir Alex yang terluka.


"Itu bibir kenapa?" tanyanya to the poin.


Alex terhenyak sesaat. Tidak mungkin juga ia menceritakan penyebab yang sesungguhnya, auto bakal ngamuk yang ada.


"Kejedot gazebo tadi, Pa." ujar Resty sekenanya.


Tommy menyorot tak percaya. Kenzo dan Sisil pun sampai turut mencermati bibir anaknya juga.


"Hiis... Kenapa tiba-tiba jadi menyeramkan begini? Berasa kayak jadi tersangka saja." Alex membatin resah.


Diliriknya sang gadis rupanya sedang terkekeh kecil, melihatnya kebingungan mencari alasan karena insiden bibirnya itu.


"Coba mama lihat, Lex." Sisil mencermati bibir Alex sambil memegangi dagunya.


Setelah menyadari itu bukan karena efek terbentur, Sisil sengaja menekannya dengan gemas.


"Waddooooh...."

__ADS_1


"Huh, dasar!"


*


__ADS_2