Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 79


__ADS_3

Suasana di dapur pagi ini terlihat ramai dari biasanya. Duo sejoli yang sedang dimabuk cinta itu tengah memasak sarapan pagi ini sembari bercanda ria. Alex yang sedikit tahu cara memasak nasi goreng dari Ayu terlihat lihai menggoreng nasinya, sedangkan Resty berperan sebagai tukang ngerecok saja.


Tentu saja dapur yang semula rapi menjadi sedikit berantakan akibat ulah mereka. Akan tetapi setelahnya mereka kompak membersihkannya lagi agar seperti semula. Sedangkan eyang Asih pagi sekali tadi harus berangkat ke kebun bersama pak Saleh. Yang alhasil di rumah itu mereka berdua bebas membuat kacau didapur itu tanpa teguran dari siapapun.


"Coba cicip deh, nanti komen gimana rasanya." Alex menyendokkan nasi gorengnya ke mulut Resty, setelah mereka berdua saat ini duduk di kursi makan.


Resty menerima suapan dari Alex dengan senang. Sengaja mereka berdua makan sepiring berdua lagi. Selain menghemat piring kotor, rupanya makan berdua seperti ini sudah menjadi candu bagi mereka berkat semalam.


"Hmm... Enak, Yang." seru Resty dengan sorot mata berbinar.


Alex terhenyak sesaat. Sejak mengikrarkan menjalin hubungan baru kali ini Resty memanggilnya sayang.


Gadis itu seakan tak hirau dengan ekspresi Alex, ia terlalu asyik menikmati sarapan nasi goreng buatan pria itu.


Cup.


Tiba-tiba saja Alex menyambar pipi gadis itu dengan kecupan gemasnya. Membuat Resty terdiam sesaat, dan saling bertatap mata cukup intens.


"Aku sayaaaaang sekali sama kamu." Alex mengucapkannya sambil menoel nakal pada pipi gadis itu.


"Sudah tahu." Gadis itu menyahut manyun.


Alex hanya tersenyum kecil. Ia menatap netra gadis itu lebih dalam lagi.


"Setelah ini kita keluar yuk?" ajak Alex.


"Kemana?"


"Kemana saja."


"Aah, nggak asyik, nggak ada tujuan."


Resty menyendokkan lagi nasi ke mulutnya.


"Dari pada di rumah nggak ngapa-ngapain." Alex ikutan menyendok nasi ke mulutnya.

__ADS_1


"Mending di rumah lah. Dari pada hanya muter-muter nggak ada tujuan, males banget!"


"Tapi jujur aku takut, Sayang."


"Takut?"


Alex mengangguk.


"Aku takut kalau seharian berdua di rumah ini imanku entar nggak kuat gimana? Kamu mau jamin?" ujarnya santai, sambil sengaja mengerlingkan tatapannya ke tubuh Resty.


Resty terhenyak, kedua tangannya spontan menyilang didada menutupi area bola kembarnya dengan sorot mata yang melotot.


"Kamu meresahkan!" ucap Resty, tiba-tiba merasa was was dengan tatapan kekasihnya itu.


"Makanya ayo kita keluar." Alex terus membujuknya.


Resty masih terdiam. Tujuan kedatangannya ke rumah eyang Asih memang sambil liburan. Ia pun seketika teringat dengan satu tempat wisata air terjun yang tempatnya tidak begitu jauh dari kampung sebelah. Mungkin lebih baik pergi ke tempat itu saja menurutnya, walau sebenarnya hari ini ia sedikit mager ingin merebah manja seharian.


"Kalau kita keluar, trus yang jaga rumah siapa?" tanya Resty apa adanya.


"Keluarnya sebentar saja. Sekiranya eyang datang kita juga sudah ada disini." ujarnya meyakinkan.


"Mm.. Baiklah." Resty langsung mengiyakan, demi terhindar dari serangan meresahkan dari kekasihnya itu.


Lalu mereka berdua kembali menikmati sarapan nasi gorengnya yang sudah berangsur dingin rasanya.


Beberapa saat setelah mereka bersih-bersih diri, mereka pun sudah siap untuk jalan-jalan ke wisata air terjun yang Resty bilang tadi. Meski gadis itu sedikit lupa dengan jalan menuju ke tempat itu, tetapi semua itu bisa ditanya ke orang-orang nanti.


"Yakin mau naik motor ini?" Resty memandang ragu pada motor tua yang dipake Alex.


"Mau pake mana lagi, adanya cuma ini." sahut Alex.


"Iya sih. Tapi entar nggak rewel kan mesinnya? Entar kayak kemarin lagi."


"Pokoknya beres. Mesin dan lainnya kemarin sudah dicek semua sama kang montir."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Alex, akhirnya Resty naik motor itu juga dan tanpa sungkan lagi langsung melingkarkan tangannya dipinggang Alex begitu sudah nyaman duduk di jok belakang pria itu.


Alex melajukan motor itu dengan raut yang sangat berbinar. Dasar motor tua, maka lajunya pun tidak bisa cepat seperti jenis motor jaman sekarang. Meski terkesan sedikit lambat, tetapi mereka berdua sangat menikmati perjalanan ini.


Setelah bertanya ke beberapa orang dimana arah yang tepat menuju wisata air terjun itu, akhirnya mereka pun sampai juga ditempat tujuan. Meski sebelumnya sempat ada drama nyasar, tetapi semua terbayarkan oleh pemandangan alam yang membentang didepan mata.


Mereka berdua seketika dibuat takjub oleh keindahan dari Sang maha pencipta. Derasnya bunyi air terjun yang jatuh, membuat suasana khas bunyi alam yang klasik semakin mempesona.


Rasanya kurang seru jika berwisata di air tetapi tubuh tidak basah. Resty sengaja memancing candaan dengan Alex sambil menyipratkan sedikit air ke tubuh pria itu.


Tak mau kalah mereka berdua akhirnya sama-sama main air. Hingga terlupa kalau saat ini tak satu pun dari mereka yang membawa pakaian ganti.


"Sudah cukup. Ayo pulang." ajak Resty, sudah mulai sedikit gemetar akibat kedinginan air khas pegunungan itu.


Pria itu langsung setuju. Ia juga merasa sedikit kedinginan seperti yang dirasa Resty. Segera keduanya menaiki motornya lagi, karena hari juga sudah hampir sore.


Perjalanan pulang mereka dirasa lebih lama dibanding saat berangkat tadi. Hingga kemudian Alex berhenti sejenak karena merasa sepertinya mereka tersesat dan salah arah pulang.


Meyakini benar-benar telah kesasar, Alex terus berusaha mencari jalan lain yang rupanya mereka masih berputar-putar dijalan yang sama.


"Fix! Kita tersesat." seru Resty.


Alex hanya bergeming. Ia terus memfokuskan diri mengingat-ingat jalan arah pulang yang tadi. Keberadaan air terjun yang memang berada di dusun pedalaman, dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok dan bercabang, membuat siapapun yang baru pertama datang ke tempat ini merasa kebingungan seperti Alex.


Cuaca sore ini menjadi lebih petang dari biasanya. Mendung tebal tiba-tiba menyelimuti langit sore ini. Ibarat pepatah sudah jatuh masih tertimpa tangga. Hujan mengguyur deras, motor kehabisan bahan bakar. Benar-benar definisi apes yang sebenarnya.


Alex dan Resty terpaksa menepi mencari tempat berteduh dari derasnya air hujan yang turun lengkap dengan gemuruhnya. Seperti mendapat kuwalat, keduanya tiba-tiba merasa bersalah karena saat berangkat tadi tidak memberi kabar kepada eyang Asih. Mereka tidak lupa, tetapi memang sengaja, karena takut tidak diberi ijin oleh eyang Asih jika berpamitan.


"Sayang, maaf ya.." ucap Alex, merasa tidak enak hati telah membuat gadisnya tersesat karena kecerobohannya yang lupa mengingat jalan pulang.


Resty tak menyahut, tetapi senyum kecilnya terulas hangat kepada Alex.


Angin kencang membuat ranting-ranting kecil berjatuhan. Derasnya air hujan yang turun membuat tubuh mereka semakin basah. Alex melihat ke sekitar. Tak jauh dari mereka berada ia melihat ada sebuah gubuk kecil.


"Kita kesana yuk..." ajak Alex sambil menggandeng tangan Resty dengan erat.

__ADS_1


*


__ADS_2