
"A-apa? Hamil?"
Resty tertegun sesaat. Sungguh ia sangat kaget saat pegawai apotik itu menebak dirinya sedang hamil. Bagaimana mungkin bisa hamil, sedang ia rasa sudah rutin meminum pil KB setiap hari.
"Tapi saya rutin minumnya loh, Mbak?" Resty masih berusaha mengelaknya.
"Itu hanya kemungkinan saja, Mbak. Santai saja," ucap pegawai itu sambil tersenyum tipis.
"Iih... Si Mbak becandanya nggak lucu!" Resty ikut tertawa garing. Setelah merasa kena prank oleh pegawai itu.
"Masih pengantin baru ya?" Malah pegawai perempuan yang berusia lebih dari tiga puluh tahunan itu menggoda Resty lagi.
Sambil tersenyum kikuk Resty mengangguk. "Sudah mau sebulan, Mbak."
"Kenapa harus KB? Masih muda loh? Kalau saya pribadi suka jadi mama muda. Besarnya besok kita bisa jalan beriringan sama anak seperti kakak adik."
Keadaan yang kebetulan sepi pembeli membuat Resty dan pegawai itu semakin enjoy bertukar cerita.
"Saya masih kuliah, Mbak. Belum siap hamil." seru Resty.
"Saya dulu hamil pas lagi kuliah juga. Suami saya juga sama, sama-sama masih kuliah. Tapi itu seru loh. Sekarang anak saya sudah remaja mau SMA." Si pegawai itu malah ikutan curhat.
Tetapi Resty hanya tersenyum tipis, tak bisa menimpali apa-apa lagi. Mungkin itu keputusan si mbak sama suaminya, tetapi Resty memiliki keputusan juga yang sudah disetujui oleh Alex tentunya.
Alex ikut menyusul Resty ke dalam apotik itu. Merasa khawatir karena Resty lama tak kunjung keluar.
"Itu suami saya, Mbak." tunjuk Resty pada Alex yang berjalan mendekatinya.
Pegawai itu hanya tersenyum kecil sebagai wujud ikut menyapa Alex.
"Lama banget, Yang?" Raut wajah Alex kentara gelisah.
"Ini lagi sharing aja sama mbak--" Resty memicingkan mata membaca name tag pada dada kiri pegawai itu.
"Mbak Wulan."
Pegawai yang bernama Wulan itu tersenyum mengangguk.
"Sudah dapat yang dibeli?" tanya Alex lagi.
"Sudah. Nih.." Resty menunjukkan pil KB yang berbeda merk dari yang sebelumnya.
Melihat ekspresi Alex yang kurang mood, maka Resty kemudian pamit kepada mbak Wulan. Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari apotik itu. Tetapi langkah kaki Resty berhenti seketika setelah melihat orang penjual rujak manis tak jauh dari apotik itu.
"Kenapa, Yang?" sapa Alex lagi karena istrinya itu urung membuka pintu mobilnya.
"Sepertinya itu enak." tunjuk Resty pada penjual rujak manis itu.
"Mau beli?"
Resty langsung mengangguk semangat.
"Jangan ah! Perut kamu lagi error, jangan malah makan yang masam-masam, yang ada tambah sakit mau?"
"Tapi aku pingin..." Mimik wajah Resty seketika murung.
"Besok-besok kalau sudah baikan beli."
Setelah mengucapkan itu Alex masuk lebih dulu ke mobil, langsung duduk dibelakang kemudi, dan menekan klaksonnya agar Resty ikut masuk ke mobil.
Wanita itu memang menurut dan kemudian masuk ke mobilnya. Tetapi suara bantingan pintu mobilnya yang berbunyi keras menandakan jika saat ini ia sedang merajuk.
Braaakk!!!
Dan Alex hanya bisa menekan kesabarannya dengan menghela nafasnya. Andai istrinya itu tidak sedang bermasalah dengan perutnya, tentu ia tidak akan melarangnya. Mengingat tadi saat muntah-muntah membuatnya merasa sangat kasihan. Entah kenapa dengan yang terjadi pada istrinya itu. Yang pasti untuk saat ini wanita itu terlihat sudah baik-baik saja.
__ADS_1
Lagian kenapa pula harus pake acara ngambek. Padahal cuma masalah tidak dibolehkan membeli aneka buah masam yang identik dengan bumbu kacang dan gula merah itu. Tetapi Alex terus berusaha tidak menghiraukan. Walau sejujurnya wajah istrinya kali ini sudah bertekuk masam dan membuang muka keluar jendela.
Pria itu kembali melajukan mobilnya. Mencari penjual rujak cingur yang diminta Resty sebelumnya. Tetapi tetap saja tidak menemukan adanya tanda-tanda warung yang menjual makanan itu. Membuat Alex sedikit frustasi karena merasa jenuh hanya putar-putar tak ada hasil.
"Jadi mau makan rujak cingur?" tanya Alex berusaha tetap lembut walau istrinya itu sedang memunggunginya.
"Pulang!" sahutnya singkat dan jelas.
"Fix! Beneran ngambek. Duh...." batin Alex bermonolog resah.
"Biar aku hubungi Cello dan Ryan. Mau minta tolong siapa tahu didaerah rumah mereka ada penjual rujak cingur," usul Alex memberi solusi.
"Pulang!"
Dan lagi, Resty hanya menyahut meminta pulang.
Alex menghela nafasnya lagi. Lalu ia memilih menepikan mobilnya setelah menemukan tempat yang aman.
"Sayang..." Alex menarik lengan Resty agar mau menoleh kepadanya.
Tetapi Resty tetap saja tak mau menoleh, membuat pria itu menjadi gemas seketika.
"Ayolah... Coba kompromi sama kesehatan badan kamu. Sayang kan lagi sakit, masih mual kan, aku nggak tega lihat kamu muntah-muntah kayak tadi. Tolong mengertilah..."
Alex meraih tangan Resty. Mengusap lembut pada punggung tangan istrinya itu.
"Aku janji, nanti kalau beneran sudah enakan pasti aku belikan."
Mirip seperti merayu bocah yang lagi ngambek karena tidak dibelikan mainan, seperti itulah usaha Alex merayu istrinya saat ini.
Karena Resty tetap membungkam akhirnya Alex menyalakan mesin mobilnya lagi.
"Beneran mau pulang?" tanyanya lagi, takut-takut sampai rumah nanti berubah pikiran lagi.
Walau sedang sebal pada Alex, tetapi akhirnya Resty mengangguk juga.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pulang. Sekitar dua puluh menitan akhirnya mereka sampai lagi di rumah. Resty langsung keluar dari mobil begitu saja. Segera ia melangkah menuju dapur. Mengacak-acak isi kulkas untuk bisa ia makan saat ini, tetapi tak ada yang membuatnya berselera.
"Cari apa, Mbak?" tanya mak Asna.
Resty menoleh dengan raut muka yang masih sama, cemberut.
"Mak, tolong buatkan aku telur ceplok," ucapnya sambil menyerahkan sebutir telur ke tangan mak Asna.
Walau sebenarnya tak minat makan telur tetapi sudah tidak ada pilihan lain yang mudah untuk dimasak sekarang juga.
"Apa mau mak bikinin yang lain mungkin, Mbak?"
"Sudah itu saja, Mak."
"Siap, Mbak."
Lalu mak Asna segera mengerjakan tugasnya, dan Resty memilih duduk menunggu di ruang makan sambil memainkan ponselnya tiada minat apa yang mau dilihat.
Terlihat Alex mendekat kepada Resty sambil bertelponan entah dengan siapa.
"Oke, makasih, Yan."
Alex menyudahi telponnya, lalu ikut duduk bersebelahan dengan Resty.
"Sayang, di daerah rumah Ryan ada penjual rujak cingur," ucap Alex memberi tahu.
"Sudah nggak pingin," sahutnya tak bergairah. Tetapi sudah tidak begitu cemberut seperti tadi.
"Ya sudah. Paling tidak kita tahu dimana orang yang jual itu. Siapa tahu besok-besok kamu pingin lagi, kan gampang."
__ADS_1
Resty bergeming saja. Kemudian datang lah mak Asna sambil membawa telur ceplok permintaan Resty itu.
"Cuma makan itu saja?"
Tentu Alex kepikiran lagi. Istrinya itu benar-benar seperti hilang selera makan. Buktinya saat ini hanya memotong-motong telur itu menggunakan sendoknya hingga jadi berkeping-keping tanpa minat memakannya.
"Aku suapin ya?" Alex langsung mengambil piring dan sendok yang dipegang Resty.
Wanita itu menurut saja saat Alex dengan sabarnya menyuapinya. Tetapi mungkin karena perutnya belum benar-benar pulih, membuat wanita itu menggeleng tak mau.
"Tinggal sedikit loh, ayo satu suapan lagi, Yang."
"Nggak mau." Resty sampai menggeleng-geleng kepala sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
Kemudian Alex meletakkan piring yang masih berisi separuh dari yang dimakan Resty itu ke meja didekatnya. Tangannya terulur untuk membelai pipi istrinya begitu sayang.
"Periksa ke dokter ya? Atau aku panggilkan dokter Hasan kesini? Sepertinya kamu butuh vitamin. Nggak biasanya kamu sakit seperti ini."
"Aku mau tidur saja. Sepertinya aku hanya butuh istirahat cukup, pasti nanti sembuh sendiri."
Dari ucapannya itu pertanda Resty tidak berkenan untuk memeriksakan diri ke dokter.
Resty berdiri dari tempatnya. Tetapi ia kembali menoleh kepada Alex yang masih belum beranjak.
"Temenin," pintanya sambil menarik tangan Alex agar mau menemaninya ke kamar.
Pria itu masih tercengang. Sudah tidak marah lagi rupanya.
"Ayooo...."
Alex mengulas senyum riangnya. Perempuan memang kadang susah ditebak. Semenit bisa marah, semenit lagi berubah manja seperti yang dilakukan Resty saat ini.
Sambil bergandengan tangan mereka menaiki satu persatu undakan tangga penghubung lantai atas menuju kamar mereka berada.
Tiba saat mereka sudah masuk di kamarnya, Resty langsung naik ke kasurnya.
"Sayang..."
Tangan Resty melambai-lambai memanggil Alex yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Sini, temenin aku tidur," serunya.
Tunggu? Apakah ini kode untuk ninuninu? Batin Alex mulai GR.
Tetapi kemudian pria itu menurut saja dan ikut berbaring disamping istrinya.
Seketika Resty langsung memeluk erat pada tubuh Alex. Wajahnya ia benamkan pada dada bidang suaminya, bagai ingin menghirup wangi tubuh khas suaminya.
"Jangan begini, geli, Yang," ucap Alex karena wajah Resty terus saja mengendus-ngendus pada dadanya.
"Aku suka wanginya," ucap Resty kemudian.
"Tumben? Padahal memang setiap hari pake parfum ini kamu nggak pernah muji apa-apa."
"Tapi wangi yang ini beda."
"Beda apanya?"
Alex sampai ikut-ikutan menghirup pada bagian lengannya sendiri.
"Beda karena kecampur sama bau keringat kamu. Aku suka!"
"Hah?"
Aneh!
__ADS_1
*