
Kenzo lekas pulang dari kantor begitu diberitahu Sisil jika Alex dan Resty pulang. Kesempatan untuk bisa makan malam bersama bagi mereka cukup langka mengingat kesibukannya yang cukup padat.
Sedangkan Alex dan Resty memilih menikmati salad buah sebagai pengganjal perut sebelum makan malam menjelang. Tetapi meski Resty tadi berseru lapar, rupanya wanita itu memakan salad buahnya dengan sedikit minat. Seperti tiada berselera sama sekali.
"Kok nggak selera gitu, Yang?"
"Nggak papa," balasnya sambil mengaduk-ngaduk salad buah yang ada didepannya.
"Nggak enak ya?"
"Enak kok, cuma lagi nggak naffsu aja," balasnya yang otomatis tangan Alex langsung menempel di kening Resty, mencoba mengecek kondisi suhu tubuh istrinya itu.
"Nggak panas. Kamu beneran nggak papa, Yang?"
Resty hanya mengangguk kecil.
"Sini aku suapin kamu. Ak..." Resty berinisiatif menyendoki salad itu ke mulut Alex, hingga berulang-ulang hal itu ia lakukan.
"Udah cukup, Yang. Sekarang gantian kamu yang makan. Ak.." Alex mencoba menyuapi Resty juga, tetapi istrinya itu langsung menggeleng dan mendorong pelan tangan Alex.
"Aku agak eneg, Yang," serunya tiba-tiba.
Alex meletakkan semangkuk salad buah itu ke meja didekatnya, lalu memperhatikan wajah Resty lebih dalam lagi sambil sesekali menempelkan tangannya pada kening dan pipi Resty.
"Apa karena telat makan, Yang?" tanyanya, takut-takut istrinya itu punya riwayat maag yang tidak boleh telat makan.
Resty hanya menghedikkan bahunya pertanda entah. Sebenarnya ia merasa tubuhnya sedikit tidak enak, seperti gejala masuk angin, tetapi wanita itu masih mencoba kuat dan baik-baik saja demi bisa makan malam bersama mertua. Selagi itu masih bisa ditahan, Resty rasa semua baik-baik saja.
"Eh, kalian," sapa papa Kenzo saat melihat kedua anaknya tengah duduk santai di ruang keluarga.
"Sudah pulang, Pa?" Resty bertanya, sembari berjalan mendekat untuk bersalaman dengan papa mertuanya itu, disusul Alex juga.
"Iya, denger ada kalian disini papa langsung pulang," ucapnya begitu bersemangat.
"Ya sudah, papa ke kamar dulu," pamitnya kemudian.
Alex dan Resty sama-sama tersenyum kecil. Sekilas Alex melirik jam di ponselnya telah menunjukkan waktu sholat maghrib. Maka kemudian pria itu mengajak Resty untuk sholat bersama lagi.
Tiga rokaat itu mereka lakukan dengan khusyuk. Seusai melantunkan doa yang mereka panjatkan, Resty terlihat tak bersemangat. Ia hanya duduk selonjoran tanpa mau melepas mukenahnya.
__ADS_1
Alex yang memperhatikan adanya perubahan pada diri Resty langsung mendekat dan meraih kepala Resty untuk bersandar di dadanya.
"Kayaknya aku masuk angin deh, Yang," seru Resty kemudian.
"Bisa jadi," sahut Alex.
Ia pun memaklumi jika Resty bisa masuk angin juga karena ulahnya. Berendam cukup lama di kamar mandi sambil ninuninu disana, siapa lagi yang patut disalahkan jika bukan karena Alex.
"Maaf ya, karena kelamaan di kamar mandi tadi kamu jadi begini." Alex membelai kepala Resty dengan begitu lembut.
Resty hanya bergeming. Matanya ia pejamkan di dada bidang suaminya itu begitu tenang. Rasanya sangat hangat tidur di sana. Dan Alex semakin memeluk tubuh istrinya itu agar lebih nyaman dalam dekapannya. Andai tidak ada ketukan pintu berbunyi, mungkin keduanya akan terus begini saja.
"Aku buka dulu, Yang." Alex beranjak untuk membuka pintu. Sedangkan Resty segera melepas mukenahnya kemudian melipatnya dengan rapih.
Rupanya bibi Siti yang datang untuk mengajak mereka untuk makan malam.
"Tuan sama Nyonya sudah nunggu, Den," ucapnya, yang kemudian segera pergi lagi setelah mengatakan itu.
Alex hanya mengangguk dan menutup pintunya lagi. Kemudian kembali kepada Resty yang telah selesai merapikan perlengkapan sholat mereka tadi.
"Ayo, Yang," ajak Alex seketika.
"Biarpun nggak selera tetap harus makan, biar masuk anginnya minggat." Alex merangkul pundak Resty, menuntunnya untuk keluar kamar bersama.
Di lantai bawah itu, tepatnya diruang makan Kenzo dan Sisil sudah menunggu kedatangan mereka. Kedua orangtua itu sangat senang sekali setelah memiliki keluarga baru yang mereka harapkan bisa memiliki dampak positif untuk Alex. Apalagi saat melihat tampilan Alex yang masih melekat dengan kain sarung yang dipakainya, membuat Kenzo dan Sisil semakin melebarkan senyumnya.
"Alhamdulillah, anak mama sholeh sekali," ucap Sisil setulusnya, tetapi bagi Alex terdengar sindiran yang bertolak belakang dengannya yang masih jauh dari istilah anak sholeh.
Dan Alex hanya bisa menyeringai sembari menggaruk-garuk tengkuknya. Tepatnya bingung mau menjaeab apa. Lalu segera menarik kursi untuk Resty, kemudian ia pun ikut duduk tepat disamping Resty duduk.
"Waah, ada apa ini kok masak besar?" seloroh Alex merasa takjub demi melihat bebagai olahan menu istimewa tersaji didepannya.
"Demi kamu sama menantu kesayangan mama pastinya," sahut Sisil.
"Duh, jadi nggak sabar mau makan. Kamu mau yang mana, Yang?" tawar Alex kepada Resty.
Wanita itu terlihat kebingungan mau memilih yang mana untuk ia makan. Andai sedang tidak eneg, semuanya itu terlihat menggugah selera.
"Ayo dimakan. Lex, ambilin dong. Romantis sama istri," seru Kenzo, tetapi ia pun juga mengambilkan sesendok udang bumbu balado kesukaan Sisil ke piring istrinya.
__ADS_1
Alex hanya tersenyum tipis. Pemandangan seperti ini sebelumnya sangat langka ia dapatkan dari kedua orangtuanya. Dulu mereka kerap kali saling bersikap dingin, seperti tak pernah menganggap saling ada. Tetapi seiring berjalannya waktu, Kenzo dan Sisil perlahan berubah akhir-akhir ini. Apalagi setelah Sisil menyetujui hubungan Alex dengan Resty yang notabebe Resty adalah anak dari mantan terindahnya, saat itu pula Kenzo semakin yakin dengan perasaannya yang selama ini masih abu-abu kepada Sisil, berubah menjadi nyata dengan warna-warni yang begitu indah bagi cinta mereka yang terbilang lambat bersemi.
"Sedikit saja, Yang. Segini sudah cukup," ucap Resty saat Alex menyendokkan menu yang sama seperti kesukaan mamanya ke piring Resty.
"Sebenarnya perempuan sih yang harus melayani suami, tetapi nggak salah juga kan mereka gantian layani istri seperti ini," seloroh Sisil yang mendapat respon kekehan kecil dari Kenzo.
"Salah gitu?" tanyanya, sedikit heran dengan kekehan suaminya yang nggak berhenti.
"Nggak. Ibu negara nggak pernah salah," balasnya, yang seketika Alex dan Resty ikut terkekeh kecil, tetapi Sisil hanya cemberut saja sambil memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Kemudian mereka pun menikmati makan malamnya dengan nikmat, tetapi tidak dengan Resty yang hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa minat.
"Resty kenapa, Nak?" tanya Sisil. "Masakannya nggak suka? Mau ambil yang lain?"
"Suka kok, Ma." sahutnya, lalu kemudian menyendokkan makanannya itu ke mulut.
Belum sempat tertelan masih ada dalam kunyahan, rasanya sudah eneg duluan. Tetapi Resty masih berusaha tetap baik-baik saja demi tidak merusak suasana makan malam yang terasa hangat ini. Bersyukurnya dengan susah payah akhirnya bisa ditelan juga dengan bantuan air minum yang ditengguknya sedikit demi sedikit.
"Oh ya, Lex. Setelah ini kamu tinggal disini saja," usul Kenzo disela-sela aktifitas makan malam itu.
"Aku lihat entar aja, Pa. Masih belum sempat omongin ini juga sama Resty," sahutnya sambil melirik kecil kepada istrinya.
"Tinggal disini saja ya, Nak. Di rumah ini tambah sepi kalau Alex nggak tinggal disini." Sisil ikut merayu. Tetapi Resty hanya menanggapi dengan tersenyum entah.
"Kalau di rumah kamu kan sudah ada papa kamu sama istrinya, palingan nggak lama lagi bakal rame juga sama adanya dede bayi dari istrinya itu." lanjut Sisil.
"Nah, benar tuh!" Kenzo ikut meyakinkan. Namanya juga Tommy baru menikah dengan gadis muda, tentunya paling tidak mereka akan nambah anak lagi dari pernikahan itu menurut Kenzo.
Alex terdiam tak bisa menjawab apa-apa. Sekali lagi ia melirik kepada istrinya yang terlihat gelisah. Keningnya sedikit berkeringat. Membuat Alex seketika menghentikan aktifitas makannya begitu saja.
"Sayang nggak pa-pa?" tanyanya panik.
Resty lekas menggeleng. Tetapi telapak tangannya segera membungkam mulutnya sendiri. Lalu Resty segera mendorong kursinya ke belakang. Sedikit berlarian kecil menuju arah dapur karena perutnya semakin terasa bergejolak dan sulit untuk ditahan lagi.
Huwweek...
Suara itu jelas terdengar ditelinga mereka. Seketika Kenzo dan Sisil menyorot tajam kepada Alex yang hanya tercengang bagai tersangka kasus utama.
"Alex?"
__ADS_1
*