
"Yu, kamu bisa nggak mijit bentar?" tanya Eyang, saat gadis muda itu sudah selesai berberes di meja makan.
"Bisa dong. Ibu tunggu saja di kamar, entar Ayu nyusul kalau sudah cuci piring." jawab Ayu, sangat bersemangat.
"Bukan aku yang mau pijat, tapi cucuku Resty."
"Ooh..." Ayu manggut-manggut sambil melirik kepada Resty yang masih anteng duduk di kursi makan.
Sesaat keduanya saling melempar senyum hangat. Dan dari situlah Ayu merasa kalau cucu eyang Asih yang berasal dari kota itu tidak ada indikasi sombong bin judes.
"Mau pijat sekarang apa tunggu sebentar lagi, Mbak?" sapa Ayu, mulai mengakrabkan diri kepada Resty.
"Terserah kamu. Seleluasanya kamu saja, Yu." Resty menyahut ramah.
"Sekarang saja. Kalau tunggu nanti entar tambah malam. Kamu dan Ayu nanti nggak bisa cepat istirahat." ucap eyang Asih, ikut memberi usul bagaimana enaknya buat mereka.
"Boleh sih, lagian aku sudah agak ngantuk." Mulut Resty sesekali ikut menguap, efek kelelahan perjalanan cukup jauh tadi.
"Kalau begitu ayo." Ayu urung mencuci piringnya. Apalagi sang majikan juga memberinya kelonggaran untuk lanjut mencuci piringnya besok pagi saja.
Resty dan Ayu berjalan beriringan masuk ke kamar yang ditempati Resty. Sesampainya didalam Resty segera mengganti pakaiannya diruang ganti agar bila nanti ketiduran saat dipijat Ayu ia tak perlu bangun lagi untuk ganti baju tidur.
Sedangkan Ayu tetap menunggunya sambil duduk ditepi ranjang berukuran cukup besar itu.
"Yang dipijit cuma bagian kaki aja ya, Yu." sapa Resty, saat sudah keluar dari ruang ganti.
Mata Ayu sempat tertegun saat melihat gaya pakaian Resty ketika hendak tidur. Meski bukan sejenis pakaian dinas khusus wanita atau lingeri, tetapi dengan hanya mengenakan celana super pendek dipadu dengan kaos tipis yang juga bagian dadanya muncul dua titik yang menonjol karena bebas dari kain penjeratnya, tentu membuat Ayu tercengang sendiri.
"Beginikah cara anak kota kalau mau tidur?" benak Ayu berkata heran.
Sebab memang baru pertama inilah ia disuguhkan pemandangan begini. Kebanyakan gadis di kampung ini pasti akan malu jika harus berpakaian seperti itu, walau hanya untuk tidur.
Seketika Ayu teringat dengan Deden. Ia menjadi gelisah sendiri, membayangkan andai Deden tak sengaja melihat cucu majikannya berpenampilan seperti ini, apa iya Deden akan kuat iman? Seketika pula muncul keberanian dibenak Ayu, agar bisa melindungi Deden dari godaan meresahkan seperti Resty.
"Ayu." tegur Resty, karena ia sudah tengkurap tetapi Ayu masih terlihat bengong.
__ADS_1
"Eh, iya, Mbak. Maaf tadi ngelamun. Hehe..."
Tangan lihai Ayu sudah mendarat di kaki bening Resty. Dalam hati Ayu dibuat terpesona dengan kemulusan yang dimiliki Resty.
"Kamu betah kerja disini, Yu?" Resty memulai percakapannya, supaya tidak terkesan dingin sehingga keduanya bisa semakin kenal.
"Betah sekali dong, Mbak." sahut Ayu, masih dengan piawainya memijat kaki Resty.
"Semakin betah lagi setelah ada Deden ya, Yu?" goda Resty, bertujuan agar kegiatan pijat memijatnya tak terasa bagai air mengalir.
Ayu terkekeh. "Mbak tahu saja. Hehe..."
"Deden nya cakep ya, Yu?"
"Cakep sekali dong. Orang kampung sini bilangnya kayak artis Korea, matanya agak sipit tapi ganteng sekali." puji Ayu, begitu sumringah.
"Wah, jadi penasaran kayak apa gantengnya Deden." ucap Resty sekenanya.
Ayu pun terdiam sejenak. Diam-diam ia meneliti lagi tubuh molek milik cucu majikannya itu.
"Tapi mas Deden hanya milik Ayu loh, Mbak. Jangan ada yang berani mengganggunya, atau kalau mau berurusan sama Ayu, ayok!"
Resty hanya merespon dengan terkekeh, karena merasa lucu dengan sikap posesif darinya. Meski Resty sendiri juga paham kalau yang diancam oleh Ayu adalah dirinya.
Sesaat mereka kembali mengobrol tentang hal lainnya. Sedikit menukar cerita dari keduanya yang masih lebih dominan Ayu yang bersuara. Gadis itu seperti tak pernah bosan menceritakan Deden sang pujaan hatinya kepada Resty.
"Sudah cukup, Yu." Resty meminta Ayu menyudahi pijatnya.
"Kamu cepat tidur sana. Aku juga mau tidur." ucapnya, setelah merasa benar-benar mengantuk.
"Baik, Mbak." sahut Ayu, lantas ia pun segera keluar dari kamar itu.
Resty merubah posisi tubuhnya menjadi telentang. Rasa lelah yang sedari tadi dirasa, membuatnya cepat terbuai dalam mimpi malamnya yang panjang.
Waktu pun lekas merambat naik menjadi semakin larut. Tetapi kegiatan tidur Resty terpaksa terganggu karena tiba-tiba merasakan perutnya bergejolak. Rasa mules yang mendera membuatnya terpaksa bangun untuk menuntaskan hajatnya di kamar mandi.
__ADS_1
Cukup lama gadis itu masih berada di kamar mandi. Efek kekenyangan makan kuah bersantan, membuat perutnya tidak bisa dikompromi. Hingga kemudian Resty memilih keluar dari kamar untuk mengambil air hangat di dapur. Siapa tahu setelah meminumnya perutnya akan merasa lebih baik.
Gadis itu menuang air panas dari dispenser, lalu beranjak akan duduk di kursi meja makan. Tetapi belum sempat ia duduk, ia merasakan ada yang aneh. Sesekali ia menoleh ke sekitar, keadaan tetap sepi senyap hanya ada dirinya seorang.
Perlahan ia pun mulai duduk di kursi itu dengan perasaan yang mulai tak tenang. Ia meniup-niup air itu dulu agar sedikit menjadi hangat, sebelum meminumnya.
Sraakk....
Spontan Resty menoleh ke arah sumber suara dibelakangnya. Tetap tidak ada siapapun.
"Masa tikus sih?" gumamnya sendiri, sambil menoleh lagi ke arah dapur yang dirasa mencurigakan.
Sesaat gadis itu menenggak sedikit minumannya, karena masih terasa sedikit panas maka ia pun beranjak lagi ke dapur untuk sekedar mengambil piring kecil sebagai tempat menuang air itu.
Samar-samar kedua matanya seperti menangkap ada sosok bayangan orang yang bersembunyi di dapur itu. Perasaannya pun bertambah takut dan gelisah. Apalagi ini sudah larut, siapa orang yang berani masuk ke rumah ini jika bukan maling menurutnya.
Mencoba sok berani, Resty memilih tak beranjak dari tempatnya. Ia sengaja tidak menoleh lagi ke belakang, karena ingin menunggu apa yang akan terjadi setelah ini. Tangannya sudah siap memegang spatula sebagai ancang-ancang perlindungan dirinya yang ia anggap cukup untuk menjadi senjatanya.
Sekelibat bayangan itu melintas samar. Resty sudah siap mau menoleh ke belakangnya. Dengan segenap tenaga yang sudah ia kumpulkan, ia pun bersiap melayangkan pukulannya kepada sosok orang yang memang benar juga berada di sana.
"Mau maling kau ya!" Hardik Resty seketika.
Mmmmpph....
Mmmmppph....
Mulut Resty sengaja ditutup oleh tangan orang itu dari belakang, agar tidak menimbulkan suara bising yang nanti bisa membangunkan orang rumah. Tetapi gadis itu terus saja berusaha memberontak sebisanya.
Karena Resty terus melawan dengan akan memukulkan spatula itu, akhirnya orang mencurigakan itu melepas bungkamannya.
"Res, ini aku!" ucapnya kemudian.
Deg.
*
__ADS_1