Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 58


__ADS_3

Resty langsung menelpon Ika, begitu papanya sudah berangkat ke kantor. Gadis itu sudah tak sabar ingin segera memberitahu Ika mengenai liburan bareng yang digadang-gadang akan seru bila bersama Ika.


"Hallo, Resty." sapa Ika, begitu sambungan video call dari Resty ia jawab.


"Ka, liburan bareng yuk ke rumah eyangku?" ajaknya tanpa basa basi lagi.


"Pingin banget, tapi--"


Terdengar suara keramaian seperti bunyi kendaraan yang melintas.


"Kamu lagi di mana, Ka?"


"Dijalan." sahutnya tak bergairah.


"Gimana gimana? Besok kita berangkat, kamu ready nggak? Masalah lain-lainnya aku tanggung semua. Kamu tinggal terima beres saja." Resty sangat menggebu-gebu.


"Sorry..." suara Ika terdengar sayu.


"Aku nggak bisa ,Res." lanjutnya, semakin bertambah mellow.


"Yaaaah.... Kenapa, Ka?" Resty ikutan lemas.


"Ada saudara dari mama yang meninggal di Tegal."


"Innalillahi... Aku turut berduka cita, Ka." spontan Resty menyahut, walau sebenarnya masih ada hal yang ingin Ika sampaikan lagi.


"Hem," Ika hanya bergumam.


"Nggak papa deh, liburannya aku tunda. Aku akan tunggu kamu sampe balik." tambah Resty, masih mengharapkan bisa liburan bersama besti nya.


"Nggak perlu, Res." tolak Ika, dengan nada lembut.


"Mumpung liburan jadi mama aku minta aku tetap di sana, biar bisa bantu-bantu. Katanya biar sekalian tahu cara kerja wanita yang sebenarnya seperti apa. Rasanya udah nggak betah duluan, tapi mau gimana lagi? Kalau nyonya besar sudah memerintah, pantang ditolak. Ujung-ujungnya pasti akan bilang kuwalat. Nyebelin!"


Ika yang saat ini sedang berada dalam mobil, ia hanya bisa melirik jengah pada mamanya yang kebetulan duduk tepat didepannya. Dan sang mama hanya memilih diam, tanpa menimpali apapun walau dirinya sedang diomongkan kepada teman karib anaknya.


"Iiiih, serem amat mamamu, Ka?"


Resty sampai membekap mulutnya sendiri, karena keceplosan mengatai didepan mamanya Ika.


"Hem, begitu lah." sahut Ika.


"Heh, dasar anak tak tau bersyukur! Mama begini nih biar kamu tahu mengurus rumah seperti apa? Entar kalau misal jodoh kamu tiba-tiba datang tapi kamu masih belum tahu apa-apa, apa kata mertuamu? Citra mama yang jelek, Ka. Dikiranya mama nggak bisa didik anak perempuan." Mama Ika ikut mengomel.


Meski terkadang galak, tetapi seorang mama itu punya cara tersendiri untuk mendidik anak-anaknya, terlebih mendidik anak perempuan. Walau begitu, sejatinya tiada seorang mama yang tak sayang dengan anaknya. Hanya terkadang seorang anak salah mengartikan kedisiplinan yang sang mama ajarkan.


"Sudah dulu ya, Res." Ika segera menyudahi telponnya, begitu melihat aura mamanya yang tidak mengenakkan.


Ting.

__ADS_1


Sebuah chat masuk untuk Ika dari Resty.


"Menikah sama papaku saja, Ka."


"Pasti aman dari omelan mertua."


"Kamu nggak mesti sibuk ngurusin rumah."


"Semua akan ditangani sama asisten rumah."


"Gimana?"😁


Ika hanya bergeming. Tanpa bisa membalas, walau hati sebenarnya berteriak mauuuuuu......


***


Selepas Tommy selesai meeting dengan seseorang yang menjadi rekan bisnisnya, ia pun segera pulang. Tetapi rupanya perjalanan pulangnya terpaksa putar arah setelah mendapat ajakan pertemuan dari Zayn.


Beberapa saat kemudian Tommy sudah tiba disebuah restoran yang mana Zayn sudah menunggunya di sana. Pria itu segera mendekat dan duduk didepan sang sahabat sejati sedari jaman kuliah dulu.


"Ada apa, Zayn?" tanya Tommy to the point.


Zayn menyeringai tipis. "Minum dulu, keburu amat. Baru juga sampai."


Zayn meminum kopi caramel yang sudah ada di mejanya, begitu pun dengan Tommy.


"Aku sudah janji sama Resty mau segera pulang." ucap Tommy lagi.


"Resty ada ngomong nggak sama kamu?" Zayn langsung menanyakan perihal yang akan ia bicarakan kepada Tommy.


Tommy hanya menggeleng tak tahu menahu. Selama dua hari belakangan Resty hanya sibuk mengurusnya di rumah sakit. Dan memang Zayn tidak tahu jika dirinya sempat dirawat di rumah sakit.


"Baiklah, aku akan langsung pada pokoknya saja. Karena sepertinya kamu benar-benar terburu pulang." ucap Zayn pada akhirnya.


"Katakan saja, Zayn. Apakah itu sangat penting?"


Zayn hanya mengangguk.


Dan Tommy terdiam sambil menunggu Zayn berbicara lagi.


"Ziyyan dan Resty sama-sama sepakat untuk tidak melanjutkan perjodohan yang kita rencanakan." tutur Zayn.


Tommy mulai mengernyitkan kening. Walau ada sedikit rasa kecewa, tetapi ia harus mendengar dulu apa alasan dibalik batalnya rencana baik ini.


"Kemarin mereka berdua bertemu kan?"


Tommy masih bergeming.


"Dari sana, mereka membicarakannya dan memutuskan untuk tidak melanjutkan."

__ADS_1


"Kamu tahu dari siapa?"


"Ziyyan yang bilang. Anakku itu sangat terbuka sama aku, Tom. Apapun yang ia alami, ia pasti cerita padaku dulu dibanding kepada bundanya."


"Apa alasan mereka menolak perjodohan ini?"


"Ziyyan bilang karena Resty sudah menyukai orang lain."


"Resty bilang begitu?" Tommy bertanya tak percaya.


Zayn kembali mengangguk.


Pria mana yang Resty sukai itu? Mungkinkah pria yang bernama Alex itu?


"Aku kira jika memang begitu, mungkin lebih baik dibatalkan saja demi kebaikan anak-anak kita, Tom. Memaksakan kehendak tetapi akhirnya tidak membuat anak kita bahagia, ku rasa aku tidak tega berbuat begitu pada anakku sendiri."


"Tunggu." Tommy menghela nafasnya sejenak.


"Jadi semua ini batal hanya karena anakku sudah menyukai orang lain?" Tommy masih tetap tak percaya, walau diawal sudah sempat dijelaskan.


"Aku juga yakin kalau Ziyyan juga sedang suka orang lain. Karena kalau Ziyyan memang menyukai Resty, tentu saat itu juga ia langsung uring-uringan karena patah hati."


Zayn memang mencium gelagat berbeda dari Ziyyan. Belakangan ini putra sulungnya itu sering ketahuan senyum-senyum sendiri sambil berbalas chat yang entah dengan siapa. Apalagi jika diteliti Ziyyan terlalu sering pamit pergi ke sebuah asrama yang tempatnya tak begitu jauh dengan sekolah Ziana.


Setelah mendengar penjelasan Zayn padanya, Tommy hanya bisa pasrah dengan keputusan akhir itu. Walau sangat disayangkan, tetapi semoga ke depannya Resty dan Ziyyan akan menemukan jodoh terbaiknya.


"Kira-kira kamu sudah tahu siapa yang disukai Resty?"


Zayn sengaja bertanya begitu karena ia hanya ingin mendengar bagaimana pendapat Tommy mengenai Alex.


"Dia tidak bilang. Cuma memang ada sih beberapa waktu kemarin sering main ke rumah." terang Tommy.


"Siapa namanya?"


"Alex."


"Fix!" batin Zayn meyakinkan.


Ternyata apa yang dikatakan Ara tentang Alex itu memang benar. Dan beruntungnya rencana ini secepatnya gagal, sebelum hal ini diketahui oleh Ziyyan.


"Seandainya benar pria itu yang disukai Resty, apa pendapatmu, Tom?" Pertanyaan Zayn semakin intens, sayangnya Tommy tak menyadari jika ia sedang dipancing olehnya.


Tommy berpikir sejenak. Dilihat dari segi penampilan antara Ziyyan dan Alex, Tommy lebih memilih Ziyyan yang selalu rapih dan sopan. Tetapi ia tahu, jika tampilan luar seseorang bukan menjadi jaminan isi hati orang itu. Maka tak sepatutnya ia berburuk sangka kepada Alex sebelum mengenalinya dulu.


"Aku harus pulang, Zayn." pamitnya seketika.


"Hei, kamu masih belum jawab pertanyaanku?" Zayn mencegah Tommy yang sudah beranjak berdiri ditempat.


"Itu apa kata Resty. Aku sendiri tidak yakin lelaki mana yang disukai Resty sekarang." ujar Tommy kemudian.

__ADS_1


Zayn hanya tersenyum tipis. Lalu kemudian mereka pun saling berpisah lagi, dengan kesepakatan akhir akan tetap bersahabat walau rencana perjodohan kedua anaknya telah gagal.


*


__ADS_2