
Malam kembali menyapa. Setelah sore tadi eyang Asih berbicara hal yang sangat serius dengan Alex, pria itu pun berpikir sendiri dengan apa yang dibicarakan oleh eyang Asih. Bahkan pria itu sampai melewati makan malam bersama sebab pikiran yang terlampau pening. Bukan masalah tidak dapat restu dari eyang Asih, melainkan wanita tua itu menyuruhnya untuk mengundang kedua orangtua Alex datang ke rumah ini secepatnya.
Meski sebenarnya eyang Asih sudah tahu jika kedua orangtua Alex berada di luar negeri karena sebuah masalah yang menyangkut perusahaannya, tetapi eyang sangat mengharapkan mama papa Alex segera datang sebagai bukti keseriusan pria itu kepada Resty.
Merasa terdesak pria itu pun terpaksa mengaktifkan kembali ponselnya yang selama ini sengaja tidak diaktifkan. Ponsel itu sengaja Alex simpan dalam tas ransel yang ia bawa saat datang ke rumah ini.
Setelah selesai mengaktifkan muncullah beberapa panggilan tak terjawab dari mama papanya, serta tante Ara dan Ziyyan, yang sudah tidak terhitung jumlah panggilannya itu. Bahkan beberapa pesan singkat dari Ziyyan yang menanyai keberadaannya itu sengaja Alex abaikan saat ini.
Walau masih ragu akhirnya Alex mendial nomor mamanya, dan tak perlu menunggu lama sang mama langsung menjawab panggilannya.
"Mama," seru Alex, dengan suara seraknya.
Terus terang pria itu sangat rindu dengan sosok mamanya itu. Merindukan belaian kasih sayang darinya yang tanpa terasa kedua mata pria itu sudah mengembun begitu saja.
"Alex? Kamu benar Alex anak mama kan?" tanya Sisil, masih tidak yakin kalau yang menelponnya adalah Alex.
"Iya, Ma." Pria itu terus berusaha menyeka airmatanya, agar tidak menimbulkan tanda tanya besar bila ia ketahuan sedang menangis.
"Kita VC saja, Sayang."
Buru-buru Alex mengatur nafasnya dan membersihkan matanya yang sedikit berair setelah mamanya mengajak video call. Setelah telpon itu beralih menjadi video call, mereka saling mengulas senyum hangatnya. Apalagi ternyata mamanya tidak sedang sendiri, rupanya juga ada papa Kenzo yang ikut nongol dilayar itu.
"Hallo, Pa," sapa Alex sambil melambai tangannya dengan tersenyum riang.
"Hai juga, Lex. Bagaimana kabarmu, Nak? Papa sama mama sangat rindu. Kamu sehat?"
Alex mengangguk berkali-kali.
"Kamu bahagia, Nak?" tanya Kenzo ingin memastikan, yang seharusnya pertanyaan itu tak harus dilontarkan dengan kondisi yang terjadi sekarang.
Alex mengangguk lagi. Demi apapun ia sangat bahagia saat ini. Melihat langsung kedua orangtuanya terlihat lebih dekat dari sebelumnya, otomatis membuat pria itu merasa bahagia luar biasa.
"Aku sayang kalian. Aku rindu papa mama. Kapan kalian pulang?"
__ADS_1
"Secepatnya kami usahakan segera pulang, Sayang," balas Sisil.
"Kapan?" Alex mendesaknya, demi mendapat jawaban yang pasti.
"kamu bantu doa saja supaya urusan kita cepat selesai." Kenzo ikut berbicara.
Padahal sebenarnya perusahaan keluarga Alex tidak kenapa-napa. Bahkan mereka berada di Jepang itu demi melebarkan sayap bisnisnya di sana. Drama yang mereka buat dengan membohongi Alex tentang perusahaannya itu, ternyata ada banyak hikmah baik yang terjadi kepada Alex. Bahkan saat ini saja kedua orangtua Alex telah merencanakan jadwal pulangnya, tetapi mereka masih merahasiakannya dan berencana akan memberi Alex surprise dengan kedatangannya.
"Sayang, kamu sedang tidak ada masalah kan?" Sisil bertanya curiga, setelah sekilas mendapati wajah Alex yang berubah sendu.
"Ada," sahutnya lemas.
"Apa lagi yang kamu lakukan, Lex?" Kenzo langsung mencercanya. Ia langsung beranggapan sang anak masih belum berubah dari kebiasaan buruknya sebagai berandal kampus.
"Masalah apa, Lex?" Nada suara Sisil masih terkontrol lembut.
"Masalah hati!" jawab pria itu apa adanya.
Sisil tercenung seketika. Sedangkan Kenzo malah langsung terkekeh seorang diri. Bapak satu anak itu sangat yakin jika masalah hati yang dimaksud Alex itu pasti masalah perempuan.
"Jadi kapan pastinya mama papa pulang?" tanya Alex sekali lagi.
"Tunggu nanti dulu, Sayang. Tolong bersabarlah," seru Sisil.
Alex tertunduk sambil menggaruk kepalanya frustasi. Tak seharusnya ia mendesak kedua orangtuanya segera pulang, padahal ia tahu saat ini mereka sedang kesulitan.
"Begitu kami pulang, papa janji akan mengurus masalah hatimu itu. Suruh saja masalah hatimu itu sabar menunggu."
"Kamu bicara apa sih?" tanya Sisil kepada Kenzo, lalu pria itu membisiki Sisil dengan maksud perkataannya itu.
Kedua mata Sisil membola lebar setelah tahu maksud ucapan Kenzo. Wanita itu menyorot tajam kepada Alex yang hanya tertegun seperti tak paham apa-apa.
"Alex, kamu tidak sedang menghamili anak orang kan?" Sisil langsung bertanya sesuai isi kepalanya yang muncul seketika.
__ADS_1
Alex langsung menggeleng kepala. "Tidak, Ma! Mama apaan sih main tuduh anak sendiri kayak gitu?"
"Kali aja kamu menghamili pacar kamu, makanya kamu mendesak kami segera pulang." Sisil menyahut santai.
"Astaga, Mama. Istighfar, Ma! Mama main buruk sangka saja sama anak sendiri," sungut Alex, jadi sedikit dongkol telah dituduh seperti itu.
Tok tok tok...
Suara ketukan dari pintu kamar Alex berbunyi. Lekas pria itu pamit menyudahi telponnya karena takut yang datang itu mengetahui dirinya sedang bertelponan dengan mama papanya.
Setelah menyimpan kembali handphone nya ke tempat semula, kemudian pria itu beranjak membuka pintu kamarnya. Terlihat Resty yang datang sambil membawa sepiring menu makan malam untuk Alex.
"Sudah tidur ya?" sapa Resty, setelah meneliti mata Alex yang sedikit sembab.
"Belum," sahutnya singkat.
"Tadi kamu nggak makan malam, makanya aku bawa ini buat kamu." Resty menyerahkan makanan yang dibawanya itu, dan Alex menerimanya dengan senang.
Sebenarnya Alex tidak begitu lapar dan masih bisa ditahan sampai besok pagi. Tetapi demi menghargai sang kekasih yang rela membawanya dengan segala perhatiannya itu, Alex pun memilih akan memakannya sambil duduk santai di teras samping dapur sekalian melipir mencari udara sejuk angin malam.
"Terimakasih. Jadi makin sayang deh diperhatiin kayak gini," ucapnya sambil tersenyum lebar.
Resty hanya tersenyum simpul. Gadis itu terus mengekori kemana Alex pergi. Duo sejoli yang lagi hangat-hangatnya dilanda cinta itu, tentu tak mau saling berjauhan walau hanya seujung kuku, begitulah perumpamaannya.
Setelah mereka berdua sudah duduk di atas dipan bambu yang sengaja diletakkan di teras samping dapur itu, Alex masuk lagi ke dapur untuk mencuci tangannya sekalian mengambil air minum untuknya.
Saat ini mereka duduk saling berhadapan. Sebelum Alex menyuapkan nasi itu ke mulutnya, pria itu lebih dulu bermaksud menyuapi Resty langsung dengan tangannya.
"Makan sepiring berdua begini akan tambah nikmat kalau bareng pacar tersayang. Aak..."
Walau masih malu akhirnya Resty membuka mulutnya, menerima dengan senang suapan penuh kasih dari pria didepannya itu. Bergantian mereka makan saling bersuapan. Tak lagi menghiraukan sepasang mata yang diam-diam mengintai pergerakan mereka saat ini.
"Ya ampun! Makin kesini mereka semakin meresahkan. Secepatnya aku harus memberitahu Tommy. Biar sekalian mereka dinikahkan secepatnya."
__ADS_1
*