
Setelah puas menikmati semangkuk berdua es buah jumbo yang Alex dan Resty beli, mereka berdua tak lantas segera pulang. Suasana ramai khas kota yang kebetulan banyak nangkring para pemuda juga disana, membuat mereka memutuskan untuk sekedar duduk sejenak di kursi panjang yang memang banyak tersedia disana.
Sebenarnya Resty sendiri sudah mulai gugup, sebab ia berencana malam ini akan menjawab ungkapan rasa suka Alex padanya. Berbalik dengan yang dirasa Alex. Pria itu sedari tadi sangat sumringah. Bisa berdua berlama-lama dengan gadis pujaannya siapa yang tidak betah. Bila perlu tidak pulang pun Alex bersedia dengan senang hati.
Selama mereka duduk di kursi panjang itu, belum ada percakapan lagi diantara keduanya. Sama-sama terdiam dengan suara hati masing-masing. Posisi mereka duduk sedikit berjarak, tetapi bukan Alex namanya jika ia tidak memiliki modus terselubung agar bisa mendekap gadis manis disebelahnya.
"Res, sini deh. Tuh, dibahumu ada apanya?" sapa Alex, mulai mengecoh gadisnya.
Spontan Resty menoleh ke bahunya yang ditunjuk Alex. Bisa jadi ada hewan kecil atau apalah itu yang hinggap, karena saat ini mereka duduk dibawah pohon yang cukup lebat.
Alex segera menggeser duduknya. Tak membuang waktu ia pun segera merangkulkan tangannya dibahu Resty. Seketika gadis itu terhenyak. Baru sadar jika sedang dimodusin oleh pria itu.
Resty hanya bergeming. Mulutnya terkatup rapat seperti tak bisa mengeluarkan kata penolakan darinya. Entahlah, makin kesini rasanya ia juga menyukai pria itu. Akan tetapi ia sadar diri, bahwa ia tak boleh memberinya harapan disaat dirinya sedang dijodohkan dengan pria lain.
"Rasanya aku nggak pingin pulang deh." seru Alex, saat menyadari Resty tidak menolak didekapnya.
"Aku nggak pernah nyangka kalau malam ini aku bisa berada disini sama kamu." ucapnya lagi, sambil menatap lekat pada netra Resty.
"Makasih ya, buat malam indah ini."
Sudut bibir Alex tersenyum riang. Rasa bahagia itu telah memenuhi ruang hatinya yang hampa. Dan gadis itu tertunduk lagi, mencoba menghindar dari tatapan Alex yang mengandung busur panah asmara kepadanya.
"Lex.." sapa Resty kemudian.
"Hem?"
"Aku mau bicara sesuatu."
"Bicaralah."
Alex melonggarkan jaraknya, agar bisa dengan jelas bertatapan dengan Resty. Jemari Resty saling memilin, terlihat betapa ia gugup saat ini.
Perlahan Alex meraih tangan itu, membawanya dalam genggamannya yang hangat.
Resty mendongakkan wajahnya. Meski tak tega menghancurkan perasaannya, tetapi semua ini harus dikatakan. Sebelum semuanya semakin larut dan semakin sulit untuk diungkapkan.
Gadis itu manarik pelan tangannya dari genggaman Alex. Melihatnya demikian, Alex pun mulai curiga tentang apa yang akan dibicarakan Resty setelah ini. Semoga saja tidak mengecewakan. Itulah doa yang tersemat dalam lubuk hati Alex.
"Aku sudah dijodohkan sama papa." ungkapnya, yang membuat pria itu langsung terhenyak.
"Maaf." Resty menggeser jaraknya, sedikit menjauh dari jangkauan pria itu.
Alex masih bergeming. Kedua netranya masih menghunus kepada gadis yang telah menjawab balasan rasa sukanya. Meski ini terdengar menyakitkan, tetapi inilah jawabannya.
__ADS_1
Sejenak mereka masih saling terdiam. Alex sendiri mencermati jari tangan Resty. Tidak ada cincin melingkar dijarinya. Apakah ini sekedar alasan untuk bisa menolak perasaannya?
Alex meraih tangan kiri Resty. "Tidak ada cincin. Katanya sudah dijodohkan?" tanyanya kemudian.
"Memang masih calon tunangan." Resty menarik pelan tangannya.
"Ooh... masih calon."
Resty melirik kecil pada pria yang terlihat enjoy walau sudah ditolak menjadi pacarnya. Padahal sebenarnya dalam hati Alex sendiri sudah tersayat-sayat akibat mendengar pengakuan gadisnya yang telah disiapkan calon pendamping oleh orangtuanya.
Pantas saja saat itu papa Resty mengucap rasa syukur saat pernah ditanyakan tentang bagaimana perasaan Alex. Dan kini Alex baru menyadari makna kata itu.
"Kamu menyukainya?" tanya Alex kemudian.
"Hah?" Resty yang sempat melamun, tak langsung paham dengan pertanyaan Alex.
"Kamu suka sama calon tunanganmu itu?"
"Mm... Aku--"
Tentu saja Resty tak bisa mengaku kalau sebenarnya ia tidak suka dengan calonnya yang sampai sekarangpun masih belum saling bertemu. Apalagi sebenarnya hatinya itu menyukai Alex, hanya terhalang perjodohan itu lah yang membuat Resty harus menekan perasaannya sendiri.
"Kok nggak jawab? Dipaksa ya?" Alex semakin kepo dengan gelagat Resty yang mulai resah.
"Aku nggak bohong soal perjodohan itu." ucap Resty. Mereka kembali saling bertatapan penuh arti.
Sejenak Alex menghela nafas beratnya. Ia menghindar lebih dulu dari tatapan mata Resty yang membuatnya semakin sulit untuk merelakan.
"Sebenarnya dari awal aku sudah feeling setelah papa kamu berbicara saat itu. Tapi-- ya sudah lah."
Lagi-lagi Alex menghembus nafas beratnya. Mencoba mengeluarkan rasa sesak itu, walau tak semudah seperti yang dibayangkan. Sudut matanya mulai mengembun, tak kuat hati menghadapi rasa hati yang terluka. Apalagi dirinya kini sedang jauh dengan keluarga, semakin membuat perasaan bertambah mellow.
"Ayo, aku Antar kamu pulang, Res."
Alex sudah berdiri. Tetapi ia tidak berani menoleh kepada Resty yang masih duduk bagai enggan untuk beranjak.
"Resty." Alex menyapanya lagi, masih dengan posisinya yang memunggungi gadis itu.
Resty pun mulai berdiri. Gemuruh didadanya ikut sesak merasakan hatinya yang entah. Beginikah rasanya mencintai namun tak bisa saling memiliki?
Perlahan Alex menoleh kepada Resty yang rupanya sedang menatapnya dalam-dalam. Spontan pria itu menarik tubuh Resty ke dalam pelukannya. Memeluk dengan begitu erat, sebagai pelukan terakhir darinya.
Dengan begini Alex semakin mantap untuk mengikuti pak Saleh ke kampung halamannya. Rasanya sudah tidak ada yang perlu dipikirkan, selain hanya berusaha mengubur rasa itu dalam-dalam. Walau rasanya sangat sulit untuk dilakukan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Resty." bisik Alex, dengan suaranya yang mulai serak.
"Aku juga cinta kamu." batin Resty yang menjawab.
Keduanya masih saling berpelukan. Bahkan kini kedua tangan Resty turut melingkar, bagai menyambut pelukan itu. Tak peduli banyak pasang mata yang menyorot mereka berdua. Yang mereka rasa saat ini hanyalah rasa kecewa pada diri sendiri.
Buru-buru Alex menyeka air matanya yang sempat menetes tanpa permisi. Lalu kemudian melepas pelukan itu, walau sebenarnya tak rela hati untuk melepasnya.
Pria itu menggenggam tangan Resty begitu erat, menuntunnya kembali ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka. Hingga sampai Resty sudah duduk didalam mobil itu, Alex melajukannya lagi dengan suasana yang seketika hening.
Butuh waktu sekitar lebih dari setengah jam agar Resty tiba dirumahnya. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi begitu melihat kondisi jalan yang cukup lenggang. Meski Resty sedikit takut saat Alex kebut-kebutan, tetapi ia tak berani menegurnya.
Hingga kemudian mobil itu telah tiba didepan pagar tinggi rumah Resty. Alex menepikannya, tetapi mulut keduanya masih terkunci untuk saling diam.
"Terimakasih, Lex, sudah mengantarku pulang." seru Resty pada akhirnya.
Dan Alex hanya mengangguk lemah.
"Setelah ini, ku mohon kita tetap saling kenal seperti biasa." pinta Resty. Karena kebanyakan dari mereka yang sudah ditolak cintanya memilih saling berjauhan dan nyaris seperti tidak saling mengenal. Resty sendiri tak mau hal itu terjadi padanya dan Alex.
Alex tak menyahut apa-apa.
"Maaf, Lex." tangan Resty terulur untuk menyentuh lengan Alex, semakin merasa bersalah kepadanya.
Alex menatapnya dalam-dalam. Andai ia bisa berterus terang tentang rencananya yang akan ikut pak Saleh, mungkin semuanya ini tak akan sesedih ini. Sebenarnya Alex tak mau jauh dari Resty, meski gadis itu telah menolaknya. Sebab ia sendiri mengerti, bahwa mencintai tidak selalu harus saling memiliki.
Wajah Alex mendekat perlahan. Sama sekali Resty tak menghindarinya. Hingga sampai kecupan hangat itu mendarat di kening Resty, gadis itu malah menerimanya dengan memejamkan kedua matanya.
Alex melepas kecupannya yang bertahan lama dikening mulus Resty. Bibirnya tersungging tipis saat menyadari gadis itu tidak menolak dicium. Andai ia mau rakus, bisa saja ia mencicipi bibir ranum Resty saat ini juga.
"Salam sama papa kamu. Maaf, aku tidak bisa anter sampe dalam." ucap Alex, sambil mengusap pelan pipi Resty dengan jarinya.
Gadis yang sudah merona itu hanya bisa mengangguk tanpa bisa bersuara lagi. Entahlah, ia sendiri sudah menolaknya, tetapi tubuhnya seakan tak menolak saat dicium pria itu.
"Good night, Resty."
Alex melambaikan tangannya saat Resty sudah turun dari mobilnya.
"Good night." balasnya lembut.
"Sampai bertemu lagi. Dan entah itu kapan." batin Alex bersuara saat perlahan Resty mulai beranjak masuk ke dalam rumahnya.
*
__ADS_1