
"Kita mau kemana, Lex?" tanya Resty, saat mereka hanya berjalan bagai tak tentu arah di jalanan ibukota.
"Menurut kamu enaknya kemana?" Pria itu bertanya balik. Sungguh definisi gabut yang sebenarnya, hingga mereka benar-benar hanya berkeliling tanpa tujuan yang jelas.
"Iih, kok malah balik nanya. Kalau tahu cuma muter-muter nggak jelas gini mending tidur di rumah." gerutu Resty.
"Ayuuk..." Alex menanggapinya langsung, tentu sekedar candaan, kalaupun dianggap beneran, anggap saja bonus. Haha....
"Auuww..." Alex meringis kecil saat cubitan Resty mendarat dipinggangnya.
"Makin hari kamu makin mesum deh." timpalnya gemas sendiri dengan polah kekasihnya itu.
"Mesum apaan? Perasaan aku nggak ada pernah mesumin kamu deh.." Tentu untuk yang satu ini Alex sengaja menggodanya. Kejadian kemarin malam masih melekat indah dibenaknya. Sungguh sebuah kenangan termanis yang tak mungkin mudah ia lupakan.
"Aduh... Aduh... Ampun, Sayang..."
Kedua kalinya Alex meringis kesakitan saat Resty mencubitnya lagi berulang-ulang. Sebenarnya gadis itu tidak segalak itu, hanya saja ketika teringat kembali akan peristiwa malam itu sungguh ia sangat malu kenapa bisa berbuat begitu.
Alex menghentikan laju motornya ketika sampai disebuah taman kota yang cukup rindang bila dibuat bersantai. Mereka segera turun dari motornya untuk kemudian duduk santai diatas rerumputan hijau yang tumbuh subur. Awalnya mereka hanya duduk bersejajar. Tetapi setelah melihat Resty menselonjorkan kakinya, Alex tak mau membuang kesempatan. Pria itu segera merebahkan diri dan langsung menjadikan paha Resty sebagai bantalnya.
"Sayang," sapanya sambil menatap lekat pada netra kekasihnya itu.
Resty hanya tersenyum sebagai sahutannya. Sedangkan jemari tangannya tidak diam, dengan santai sambil memainkan rambut Alex yang berwarna hitam pekat.
"Kita kawin lari yuk?" ajaknya tanpa filter lagi.
Resty terhenyak sesaat.
"Apaan sih?" balasnya, pura-pura tidak paham.
"Ya kawin lari. Masa nggak paham?"
"Iya, aku tahu. Tapi buat apa?"
"Buat mereka biar tahu kalau aku sangat serius sama kamu." ujar Alex, semakin menggebu.
"Mereka itu kan papa mama kamu. Kalau papa aku mah santai." balas Resty, lebih santai.
"Jadi beneran kamu nggak mau aku ajak kawin lari?" Sepertinya Alex sudah tekad bulat. Seandainya Resty mengiyakan pasti langsung gaskeun tanpa tolah-toleh lagi.
Resty menggeleng. Tetapi senyum kecilnya tak pernah surut dari bibirnya.
Alex bangkit untuk duduk lagi. Sesaat ia menatap intens kepada Resty, yang kemudian seringai kecilnya turut terbit dibibirnya.
__ADS_1
"Sayang, dirambut kamu ada hewan kecilnya." serunya tiba-tiba.
Resty bergerak resah sambil memegangi rambutnya. Tetapi pria itu lekas menarik bahunya, seakan-akan mau mengambilkan hewan kecil yang tentu hanya modusnya saja.
Saat gadis itu lengah pria itu dengan cepat mendaratkan kecupan singkatnya dibibir ranum milik Resty.
"Alex," Resty terhenyak kaget, tetapi ia tak bisa marah kepada ulah usil kekasihnya itu.
Pria itu hanya nyengir tak bersalah. Saat pria itu mau mencobanya sekali lagi, Resty sudah hafal gelagatnya.
"Ini tempat umum, Lex." ucapnya, sambil mendorong gemas bahu Alex.
"Kalau begitu ayo kita cari tempat sepi." selorohnya tiba-tiba, yang membuat gadis itu bertambah gemas ingin menimpuk kekasihnya yang entah sejak kapan jadi mesum dengannya.
Saat wajah gadis itu masih cemberut karena ulahnya, Alex malah semakin ingin bermanja-manja dengannya. Wajahnya mulai mengendus nakal dibahu kekasihnya, membuat Resty seketika meremang aneh akibat terpaan hembusan nafasnya yang dekat.
"Jangan begini, Lex. Kamu semakin meresahkan!" Resty mendorong pelan wajah Alex dari bahunya.
"Ayo kita pulang," serunya kemudian.
Alex menghentikan kegiatan menduselnya. Wajahnya terangkat untuk menatap wajah Resty yang tidak cemberut lagi.
"Belum ada sehari sudah mau pulang." tolaknya, lalu kemudian ia merubah duduknya dengan benar.
"Dari tadi nomor ini nelpon aku, tapi aku biarkan. Aku nggak berani jawab, takut itu dari orang rumah kamu." tuturnya, sambil menunjukkan nomor telpon asing itu kepada Alex.
"Biarin aja, jangan dihiraukan. Paling cuma nomor nyasar, atau bisa penipuan saja kan?" Alex sengaja berkilah.
"Bisa jadi. Tapi benar kamu nggak tahu ini nomor telpon siapa?"
Alex kembali menggeleng.
Kemudian pria itu beranjak berdiri. Tangannya terulur untuk mengajak gadisnya berdiri dari tempat itu.
"Kita cari minum, yuk?"
Resty langsung menggeleng.
"Atau gimana kalau aku ajak kamu main ke apartemen abang aku?"
Seketika kening Resty berkerut resah. Mendadak pikirannya jadi parno setelah peristiwa di gubuk itu.
"Santai, Sayang. Aku nggak bakalan apa-apain kamu. Jadi jangan negatif thinking dulu, atau entar malah jadi kenyataan." ujarnya, seakan begitu senang menggoda Resty sehingga gadisnya itu cemberut lagi.
__ADS_1
"Mau aku cubit lagi, hem?" selorohnya bertambah gemas.
"Eh, nggak mau lah. Maunya tuh dicium sini." balasnya, sambil menunjuk bibirnya sendiri.
"Dasar mesum!" umpatnya gemas.
Sungguh Resty baru tahu jika Alex bisa semesum ini bahasannya. Apakah saat bersama Donita ia juga begitu dulu? Aah, kenapa tiba-tiba jadi teringat Donita?
"Sayang, dengerin aku deh. Dari sana itu langkah awal kita. Abangku itu cukup bisa ditangguhkan kalau sewaktu-waktu butuh bantuan buat ngadepin mama. Gimana, Yang? Mau ya? Masa iya kamu tega biarin aku berkorban sendiri demi memperjuangkan cinta kita. Nggak lama kok ke sananya. Kalau nggak betah atau entar merasa boring, kita bisa lanjut keluar lagi kemana gitu..." Alex terus mencoba meyakinkannya.
"Abang kamu itu sudah punya istri kan?" tanya Resty, setelah merasa memang butuh dukungan dari pihak keluarga Alex yang lain demi hubungannya kedepannya.
Alex menggeleng. "Belum."
"Ooh.. Pasti sudah duda, iya nggak?" terka Resty lagi. Karena menurutnya orang yang biasanya bisa ditangguhkan di keluarga itu pasti orang yang sudah cukup matang, mapan dan dewasa.
"Belum, abangku masih bujang. Tapi katanya otewe halal juga setahun lagi."
Mendadak Resty was was lagi. Berkunjung ke apartemen yang hanya dihuni pria tak beristri, ditambah bermain ke sana juga bersama dengan Alex, siapa yang tak merasa resah coba?
"Ayo lah, Sayang.." rengek Alex kepada Resty.
"Ini juga sebagai bukti kalau aku sangat serius sama kamu, dengan mengenalkan kamu kepada saudaraku yang lain." lanjutnya, penuh harap.
Dilihat dari sorot netra Alex, sama sekali tidak menemukan mode candaan darinya. Maka akhirnya Resty pun mengangguk setuju, tentu dengan syarat jika kemudian Alex melanggar dari janjinya untuk berbuat mesum dengannya, maka ancamannya adalah putus hubungan. Walau sebenarnya itu hanya gertakan mulut, karena sebenarnya gadis itu tidak mau putus dengannya walau hanya sekedar membayangkan.
Kemudian mereka pun segera beranjak dari tempat itu. Motor Alex kembali melaju dengan pesat di jalanan ibukota.
"Sayang, gimana kondisi perusahaan keluarga kamu?" tanya Resty, saat mereka masih berada diperjalanan.
"Sudah membaik," sahutnya singkat.
"Alhamdulillah.."
*
Hai hai...
Malam ini othor duble up ya, buat ganti kemarin yang kosong.
Jangan lupa selalu tekan like dan juga tinggalkan komentar kalian biar othor tambah semangat up nya.
Salam sayang buat kalian😘
__ADS_1
Terimakasih all...
*